

Ngupi outdoor itu “sesuatu” banget, di alam terbuka, menikmati cantiknya bebatuan, gemericik air terjun, duhai jiwaaaaaa….
.
فَبِأَيِّ آَلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ
.
Menurut wikipedia, kopi berasal dari bahasa Arab qahwah yang berarti kekuatan. Ini dikarenakan pada awalnya kopi digunakan sebagai minuman berenergi. Kata qahwah mengalami perubahan menjadi kahveh yang berasal dari bahasa Turki, kemudian menjadi koffie dalam bahasa Belanda. Kata terakhir diserap ke dalam bahasa Indonesia menjadi kopi
.
Para pecinta kopi mengekspresikan perasaan terdalamnya kepada kopi dengan berbagai macam cara. Di antaranya seperti di bawah ini yang saya temukan di filosofi kopi Yogya “Kopi tubruk tuh kopi yang lugu, kopi yang sederhana, tapi kalo kita mengenal dia lebih dalam, dia akan sangat memikat. Kopi tubruk tuh sama sekali tidak mempedulikan penampilan, bikinnya pun gampang tinggal diseduh, tapi tunggu sampe kecium aromanya.” (Ben) 😍
.
Karena banyak temen yang tau kalo saya begitu bersahabat dengan kopi, mereka pada suka bawain kopi sebagai oleh-oleh, mulai dari kopi Gayo Aceh thanks to Irwan Mars, Kopi Bengkulu mokasi Uwan Hardi Vizon dan kopi Lampung, juga kopi dari Sambas syukran mas Astaman Redface yang aromanya luar biasa membuka pikiran untuk tetep smart dan waras. Nah, ini yang penting, WARAS!!! 😎
.
Para peneliti juga mengatakan bahwa mengonsumsi dua cangkir kopi dalam sehari, bagus untuk menjaga dan meningkatkan konsentrasi pikiran. Kafein dalam kopi ternyata juga mengandung antioksidan. Yang dapat membantu tubuh menangkal radikal bebas pemicu kanker, diabetes tipe 2 serta penurunan respon imun
.
Di Payakumbuh ada beberapa tempat pengolahan kopi Arabica dan Robusta, rasanya nikmat sangat. Temen-temen yang mau barter kopi dari daerahnya, hayuuuuuk dengan seneng hati ❤
.
“Coffee: the favorite drink of the civilized world.” — Thomas Jefferson
.

“Di hari ulang tahunmu beri hadiah pada ibumu” adalah kalimat yang disuguhkan Ibuku pada tanggal 5 Mei 1985, sebuah tulisan Taufiq Ismail dalam majalah Ayah Bunda. Sulit bagiku memahami maksud dari kalimat tersebut pada waktu itu, karena aku masih duduk di kelas 5 SD. Yang aku tahu biasanya setiap ulang tahun selalu anak yang merayakannya yang diberi kado. Si anak bisa minta apa saja yang dia inginkan selagi orang tuanya masih mampu untuk memberikannya.
Ternyata Ibuku betul-betul beda dengan para ibu teman-temanku. Beliau menanamkan padaku bahwa sesungguhnya yang harus merayakannya adalah ibu yang telah dengan susah payah berjuang menyabung nyawa antara hidup dan mati, mencucurkan darah sebanyak ratusan cc, untuk melahirkan anak tercinta. Apalagi ibu yang waktu itu sudah berusia 40 tahun waktu melahirkanku. Dapat dibayangkan sakit dan perih yang beliau rasakan. Satu pembelajaran berharga sudah kudapat lagi dari seorang perempuan perkasa.
Sejak ulang tahunku yang ke 12 itu, aku selalu setiap tahun berusaha memberikan kado pada Ibu, sebagai ucapan terima kasih dan rasa syukur sedalam-dalamnya. Pernah aku hanya mampu membelikan Ibu sebuah pisau pengupas kentang. Beliau menerimanya dengan penuh suka cita. Kemanapun pergi, pisau tersebut selalu di bawa Ibu.
Pernah suatu kali Ibu mengunjungiku di Pekanbaru. Waktu akan makan buah sawo, Ibu mengeluarkan pisau pemberianku sekitar 10 tahun yang lalu untuk mengupas kulitnya. Aku kaget, kenapa pisaunya awet sekali? Ternyata bukan karena kualitas pisaunya yang bagus, tapi tangan Ibu yang merawatnya yang luar biasa. Pembelajaran yang mahal aku dapatkan lagi dari seorang Ibu yang penyayang.
Karena kami terpisah oleh jarak, setiap tahun aku selalu mengirimkan kado untuk Ibu melalui paket. Terkadang aku titip saudaraku membelikannya di Padang, dan minta tolong berikan pada Ibu. Tapi hari ini beliau berada di sampingku. Alhamdulillah, ini merupakan sebuah anugerah terindah.
Sekarang umur Ibu 78 tahun, beliau pasti tidak mengharapkan apapun dariku. Melihat cucu-cucu beliau yang tumbuh sehat saja mungkin sudah sebuah kado istimewa bagi Ibu di usia senjanya. Tapi aku tetap akan memberi Ibu kado!
Awalnya aku cukup pusing memikirkan kado apa yang patut kuberikan saat ini. Tapi, begitu melihat kebiasaan Ibu yang tak pernah lepas dari membaca setiap hari, akupun berketetapan untuk memberi beliau sebuah buku. Ya, beliau seorang pembaca sejati. Buku-buku yang ada di rumah secara perlahan sudah di tamatkan Ibu satu persatu. Hari ini sebuah buku akan aku persembahkan untukmu Ibu.
Ya Allah, beri kesehatan dan umur yang bermanfaat untuk Ibu. Semoga beliau sehat, bisa beribadah dengan tenang. Berikanlah kemuliaan hidup dunia akhirat untuk Ibu, seorang perempuan perkasa yang luar biasa, yang tidak pernah putus-putus mengirimkan doanya untukku, yang tidak pernah berhenti memberi nasehat padaku, yang tidak bosan mencintaiku dengan segenap kesalahan yang aku perbuat. Terima kasih Ibu, aku ingin sepertimu…..