Bismillahirrahmanirrahim.
Assalamu’alaikum Wr. Wb.,
Sudah lama rasanya tidak menulis isu-isu yang sedang hangat di masyarakat. Acara demonstrasi 4 November 2016 inilah yang membuat saya ingin berbagi pendapat. Demonstrasi ini meresahkan banyak orang. Bukan tanpa bukti saya menulis ini., kantor saya saja sudah mengeluarkan security alert, contoh lain, teman-teman adik saya yang keturunan Chinese (maaf, tidak bermaksud SARA), bahkan berniat untuk meminta izin agar jadwal seminar keprofesian yang seharusnya diadakan setiap Jum’at di daerah Kuningan untuk ditiadakan dan diganti ke hari lain, karena takut ada apa-apa, seminimal-minimalnya macet parah. Mengganggu ketertiban umum.
Sikap saya sribadi, sebagai umat muslim aliran selow dan cerdas ceria di Indonesia, dalam memutuskan sesuatu yang berkaitan dengan agama dalam hal isu kebangsaan, biasanya saya selalu melihat sikap dari dua golongan terbesar yang menjaga keutuhan NKRI sedari dulu, Muhammadiyah dan Nahdhatul Ulama (NU). Dua organisasi yang didirikan dari kedua ulama jagoan saya, Sang Pencerah Kyai Haji Ahmad Dahlan dan Hadrotus Syeikh Kyai Haji Hasyim Asy’ari.
Epic-nya, kedua golongan ini sepakat, bahwa tidak boleh ada atribut keduanya dalam demo nanti , seperti yang dilansir detik.com, 30 Oktober 2016, berdasarkan ucapan Pak Haedar Nashir dan Pak Said Aqil Siradj. Alhamdulillah, Indonesia masih diberkahi Allah SWT dengan adanya dua organisasi hebat ini.
Muhammadiyah sendiri tampaknya sudah sangat yakin dengan sikapnya ini, bahkan dalam acara
“Mata Najwa” yang tayang Rabu, 2 November 2016, Sekretaris Umum PP Muhammadiyah, Dr. H. Abdul Mu’ti, M.Ed, memantapkan bahwa Muhammadiyah, seperti yang sebelum-sebelumnya, akan banyak fokus menangani hal-hal sosial, Pak Mu’ti menyebutkan untuk fokus membantu banjir di Garut ketimbang ikut memusingkan masalah demo. Subhanallah. Biasanya, jika para pimpinan Muhammadiyah sudah menentukan sikap, anggota Muhammadiyah yang memiliki rasa ta’dhim yang tinggi, akan langsung setuju dan menghormati keputusan organisasinya.
Namun hal itu mungkin akan sulit terjadi di masa sekarang ini pada organisasi hebat yang satu lagi, Nahdhatul Ulama. Dinamika yang ada di dalam tubuh NU akhir-akhir ini memang cukup luar biasa, tiba-tiba muncul golongan yang mengaku NU Garis Lurus lah, NU pro Gus Dur, NU pro Idrus Ramli, NU pro Said Aqil Siradj, NU sekaligus FPI, NU pro Habaib, dan lain sebagainya. Konflik internal yang timbul menjadi lebih ramai dibandingkan NU di masa yang lalu. Walaupun Ketua JATMAN, Habib Lutfi, sudah mengatakan, bahwa sedari dulu, NU ya tetap NU, NU yang didirikan KH. Hasyim Asy’ari.
Rumitnya bagi saya dalam menyampaikan pendapat dalam tulisan ini adalah, saya tidak bisa mengutip kata-kata para pentolan penjaga perdamaian di Indonesia dari dua organisasi tersebut, seperti Emha Ainun Nadjib (Cak Nun) ataupun KH. Mustofa Bisri (Gus Mus). Karena, jika saya menyampaikan pendapat berdasarkan pendapat dan sikap beliau berdua yang menurut sebagian kelompok adalah “sekedar budayawan”, pertama akan banyak alasan seperti “Ah, mereka itu bukan ulama, mereka itu liberal, sekuler, Syi’ah, antek asing!”, atau tuduhan lainnya. Ya, mereka yang menuduh seperti ini mayoritas adalah mereka juga yang menghina ulama sekelas Prof. Quraish Shihab. Kedua, saya akan dicap memiliki fitur auto-sekuler, auto-liberal, auto-Syi’ah, auto-Yahudi, dan lain sebagainya dalam diri saya.
Sebelum saya menyampaikan sikap dan pendapat saya, perlu rasanya saya membahas tentang FPI, organisasi yang paling vokal dalam mendukung demonstrasi 4 November 2016 ini. Harus diakui, FPI secara kultur lebih dekat dengan NU daripada ke Muhammadiyah. Tak jarang anggota FPI dan NU beririsan. Walaupun seperti itu, konflik di dalamnya bukan main ribetnya. Secara mudah, dalam hubungan NU dan FPI dapat diklasifikasikan sebagai golongan yang pro kepada Gus Dur (juga biasanya mendukung KH. Said Aqil Siradj dan Gus Mus), versus golongan yang pro kepada Habib Rizieq (biasanya mengaku sebagai NU Garis Lurus dan biasanya sering mengatakan Gus Dur, KH. Said Aqil Siradj, dan Gus Mus sebagai agen liberal ataupun antek Syi’ah).
Muhammadiyah dan anggotanya sudah jelas sikapnya. Tinggal sikap dari NU dan anggotanya yang terpecah menjadi dua golongan yang saya sebut di atas. Dengan adanya dua golongan yang masing-masing memiliki jutaan simpatisan, perlulah bagi mereka untuk mendengar satu pendapat/perintah/sikap dari orang yang dihormati kedua golongan tersebut. Harus ada sosok yang sangat dihormati tidak hanya dari golongan NU pro Gus Dur dan KH. Said Aqil Siradj saja, tetapi juga sosok yang di hormati Habib Rizieq dan kelompoknya.
Itulah beliau, Habib Umar bin Hafiz.
Alhamdulillah, Senin, 31 Oktober 2016 kemarin, saya berkesempatan datang ke Istiqlal untuk mendengar ceramah beliau. Mayoritas isi acaranya sebenarnya adalah sholawatan dan memuji nama Kanjeng Nabi Muhammad SAW, tapi menjadi begitu istimewa, karena Habib Umar datang.
Gelar beliau ini tidak main-main, Guru Mulia.
Tapi sebelumnya, mungkin banyak yang bertanya-tanya, siapakah Guru Mulia Habib Umar bin Hafiz ini?
Hmm.. Bagaimana saya menjelaskannya ya. Jika dilihat dari banyaknya tokoh yang datang kemarin, sebut saja mulai dari ketua PWNU Jawa Barat, Habib-Habib Majelis Rasululllah SAW yang punya jutaan pengikut, Ustadz Arifin Ilham, Ustadz Yusuf Mansyur, hingga Panglima TNI Republik Indonesia, Jend. Gatot Nurmantyo, dapat kita ketahui bahwa beliau ini bukan orang sembarangan.
Bukan, mereka datang bukan sebagai kapasitas pembicara yang satu panggung dengam Guru Mulia. Nama-nama besar yang saya sebutkan adalah para pecinta beliau. Semua yang datang ingin mengambil berkah dari beliau. Habib Umar bin Hafiz ini orang yang tangannya dicium berulang kali oleh Jend. Gatot Nurmantyo, Ustadz Yusuf Mansyur, dan Ustadz Arifin Ilham, bahkan Ustadz Yusuf Mansyur sampai menangis saat mencium tangannya.
Anda tahu Presiden negara Chechnya, Ramzan Kadyrov, salah satu presiden muslim terkuat di dunia, mencium tangan siapa? Habib Ali Al Jifri.
Siapa Habib Ali Al Jifri ini? Yes, beliau yang punya jutaan pengikut di dunia ini adalah murid sekaligus orang yang denga tawadhu mencium tangan Guru Mulia Habib Umar bin Hafiz dalam setiap kesempatan mereka bertemu.
Singkat cerita, beliau adalah guru dari para guru dari para guru dari para gurunya umat Islam di dunia ini di zaman sekarang.
Berkali-kali Ustadz Arifin Ilham dalam kesempatan kemarin, saat dipersilakan memberi sambutan oleh Habib Umar, berkata “Kita, Indonesia pada umumnya, dan yang datang ke Istiqlal malam ini, harus banyak bersyukur kepada Allah SWT. Habib Umar dapat berada di tengah-tengah kita yang hina ini.”
Agenda saya sendiri datang ke Istiqlal kemarin selain mengharap barokahnya, dalam hati menunggu-nunggu, semoga Habib Umar memberikan sikapnya terkait tanggal 4 November 2016 ini. Bukan apa-apa, tahun 2008 yang lalu juga tadinya akan sempat ada demo untuk membubarkan Ahmadiyah. Namun dulu, Habib Umar lewat Habib Munzir (pendiri Majelis Rasulullah yang memiliki jutaan pengikut) berkata,
“Sampaikan pada kyai-kyai kita dan para ulama kita dan semua orang-orang yang mengenalku, katakan bahwa Umar mengatakan hal ini, untuk menarik diri, “la yatada’u biha lil-amr” mundur dari segala acara seperti itu. Tugas kita adalah “ittaqullah wa da’wah ilallah la ghaira dzalik” tugas kita adalah taqwa kepada Allah dan memperluas dakwah Allah Swt., tidak lebih dari itu dari gerakan-gerakan muslimin.
Demikian intruksi langsung dari beliau. Oleh sebab itu saya mohon hadirin-hadirat menahan diri untuk berangkat, acara apapun mengatasnamakan demo atau unjuk rasa. Jadi mereka yang akan berangkat saya harap jangan pakai atribut Majelis Rasulullah Saw., jangan sampai terlihat ada bendera Majelis Rasulullah Saw.”
Pssst. And, just like that. Damai langsung. Tidak ada yang berani membantah.
Nah, Senin kemarin ini sebenarnya, saya deg-degan pake banget. Bukan apa-apa, dari dulu saya selalu berpatokan kepada sikap Muhammadiyah dan NU dalam kaitannya dengan keagamaan dalam berkebangsaan, dan saya belum pernah dikecewakan hingga tulisan ini dibuat. Lihatlah sikap MUI, NU, dan Muhammadiyah yang mengatakan bahwa benar, mereka setuju bahwa Ahok harus diproses berdasarkan koridor hukum di Indonesia, dan ketuanya mengatakan tidak boleh ada atribut kedua golongan ini dalam demo nanti.
Tapi, bagaimana kalau Habib Umar menyatakan mendukung 100% demo nanti?
Kedua, kenapa saya deg-degan banget, adalah karena beliau ini merupakan orang yang dipuji oleh ulama-ulama kelas atas dunia, “Jika ingin melihat akhlak Rasulullah Muhammad SAW, lihatlah pada diri Habib Umar bin Hafiz”. Saya selalu membayangkan Kanjeng Nabi sebagai sosok manusia yang paling halus dan paling bijak yang pernah lahir di dunia ini. Bagaimana kalau Habib Umar yang dikatakan sebagai manusia yang memiliki akhlak paling mirip dengan Rasulullah SAW di masa sekarang ini, mendukung demonstrasi 4 November 2016 nanti? Apakah dengan saya yang tidak ikut berdemo 4 November 2016 ini menjadi orang yang tidak mau mengikuti seruan ulama pewaris Nabi?
Guru Mulia Habib Umar bin Hafiz ini adalah orang yang jika berkata sesuatu, jutaan orang akan langsung mengikuti kata-katanya. No questions asked. Semua sudah tahu dan tidak perlu kau tanya berdasarkan ayat Qur’an dan Hadits shahih yang mana beliau berpendapat. Cobalah sebutkan satu hadits, dan beliau akan menjelaskan sanad dari beliau yang bersambung dari siapa dari siapa dari siapa, hingga sanadnya bersambung hingga Rasulullah SAW. Oleh karena itu, saat mencari guru dalam belajar Islam, carilah guru yang memiliki sanad, jangan sekedar dari ustadz-ustadzan, mudah mengafirkan orang nantinya. Na’udzubillah.
Oleh karena itu, jika saja beliau waktu di Istiqlal berkata dengan berapi-api “Tegakkan agama Allah SWT dan jangan pernah menunda untuk berbuat baik!”, maka bahkan saya tidak yakin Ahok masih dapat tidur di rumahnya malam itu. Besar kemungkinan ribuan orang dari Istiqlal malam itu akan langsung bergerak ke rumah Ahok.
Tapi, Subhanallah, memang ada alasan kuat mengapa beliau dijuluki Guru Mulia.
Saya sudah deg-degan saat sekitar pukul 22.30 setelah menyampaikan ceramah, beliau mulai berkata,
وجدنا تساؤلات عند كثير من أهل أندونسيا هل نخرج في مظاهرة أو لا نخرج؟
“Telah sampai kepada kami banyak pertanyaan dari masyarakat Indonesia, “Apakah kami sebaiknya turut serta berdemonstrasi ataukah tidak?”
Long pause.
Semua mendengarkan dengan ta’dhim sembari menunggu kalimat selanjutnya dari beliau.
Beliau menjelaskan dengan tenang. Biar saya copy link terjemah resmi nasihat beliau, karena beliau berpesan tidak boleh dipotong sedikitpun pendapat beliau untuk kepentingan pribadi :
https://www.facebook.com/FM.fiqhmenjawab/posts/1123803984369542:0
Bagi anda yang malas untuk melihat isi nasihat beliau yang cukup panjang, silakan lihat kesimpulan yang saya tulis dibawah ini terkait demo 4 November 20116. Tapi menurut saya, tetap baca link di atas karena takut saya salah menyimpulkannya dan tentu saja akan lebih baik anda menafsirkan sendiri nasihat beliau terkait isu ini.
Kesimpulan Nasihat Habib Umar bin Hafiz menurut saya pribadi:
- Demonstrasi atau tidak demonstrasi, keduanya tidak dilarang oleh syariat.
- Demonstrasi atau tidak demonstrasi haruslah mengikuti ketentuan syariat dan aturan pemerintah yang berlaku di negara tersebut.
- Jangan ada dampak negatif kepada agama maupun negara yang menimbulkan perpecahan serta permusuhan diantara sesama umat Islam.
- Apapun yang telah dijamin oleh undang-undang negara terkait kebebasan masyarakat untuk menyampaikan aspirasi mereka, harus dilakukan dengan cara yang damai yang tidak menimbulkan kehancuran dan kerusakan di negeri itu.
- Umat Islam agar tidak mencaci sesembahan orang kafir agar orang kafir tidak membalas dengan mencaci Allah Yang Maha Benar.
- Yang ikut demonstrasi tidak boleh melakukan penganiayaan terhadap orang lain, baik anak kecil maupun orang dewasa. Atau merusak sesuatu yang tidak boleh dirusak. Sebagaimana tidak diperkenankan juga untuk mencaci orang-orang yang tidak ikut berdemonstrasi.
- Adapun orang-orang yang tidak berdemonstrasi juga tidak diperbolehkan mencaci orang yang berdemonstrasi. Dan hendaklah kedua belah pihak menyadari bahwa mereka mempunyai prinsip dan landasan yang sama. Hanya saja cara mengungkapkannya berbeda. Karena memiliki pandangan dan pertimbangan yang berbeda.”
- Pemerintah tidak boleh untuk mengekang kebebasan rakyatnya dalam mengekspresikan aspirasi mereka dengan menggunakan kekerasan tanpa alasan yang benar, atau menyakiti orang yang berdemonstrasi tersebut. Begitu pula tidak diperbolehkan bagi mereka yang berdemonstrasi untuk saling menyakiti diantara mereka. Ataupun menghujat pihak pemerintah.
- Jika yang demontrasi malah menimbulkan kebencian dan permusuhan diantara sesama umat Islam, serta memunculkan cacian terhadap orang yang tidak berdemonstrasi dan berprasangka buruk terhadap agama mereka tanpa bukti nyata, maka lebih baik bagi kalian untuk tidak keluar berdemonstrasi demi menjaga kebaikan kaum Muslimin sehingga tidak menimbulkan keburukan dan penistaan.”
- Juga kepada mereka yang tidak turut berdemonstrasi apabila mereka mencaci orang-orang yang berdemonstrasi sehingga menimbulkan permusuhan, perpecahan dan pertengkaran (diantara kaum Muslimin), maka lebih baik bagi kalian untuk turut berdemonstrasi tanpa mencaci orang lain dan tidak menimbulkan dampak buruk.”
- “Dan kami sampaikan kepada mereka yang turut berdemonstrasi dengan cara yang santun dan damai serta tidak menimbulkan permusuhan dan penistaan, “Bagimu ijtihadmu dan niatmu, dan semua itu kembalinya kepada Allah Swt.”
Allahu Akbar. Takbir dan sholawat bergema dimana-mana. Merinding saya. Seumur hidup baru sekali saya mengalami momen seperti itu, ribuan orang bertakbir dan bersholawat bersamaan.
Jadi inti tulisan saya kali ini adalah, kepada NU dan FPI, ikuti dawuh Guru Mulia, demo ataupun tidak demo sama-sama tidak melanggar syariat. Yang demo monggo, harus damai, tidak menimbulkan perpecahan, tidak mengina sesembahan orang lain, tidak merusak, tidak menganiaya, tidak mencaci, dan tidak menghina yang tidak demo. Begitupun yang tidak demo, lebih baik berdo’a dan tidak menghina yang berdemo.
Kepada Habib Rizieq dan anggota FPI, jika kalian memanas-manasi orang untuk berdemo dan berbuat keonaran dan memecah belah persatuan Indonesia. Ketahuilah bahwa kalian menyelesihi Guru Mulia kalian, Habib Umar bin Hafiz, yang berarti kalian justru sedang menyakiti hati Rasulullah SAW dan tidak sedang membela agama Allah SWT.
Terakhir, ada kisah menarik yang dapat dihubungkan dengan kasus Ahok ini.
Di dalam riwayat, Usamah ibn Zaid menuturkan, “Rasulullah saw. mengutus kami untuk memerangi kaum musyrik dan kami tiba di al-Haraqat dekat Juhainah di pagi hari. Dalam pertempuran itu aku menangkap seorang musyrik dan saat aku hendak menebas lehernya, ia mengucapkan la ilaha illallah, namun aku tetap membunuhnya. Aku merasa bersalah dan kemudian kulaporkan peristiwa ini kepada Rasulullah saw. Rasulullah bertanya, “Ia telah mengucapkan la ilaha illallah dan kau tetap membunuhnya?”
Aku menjawab, “Wahai Rasulullah, ia mengucapkan kalimat itu hanya untuk menyelamatkan dirinya dari pedangku.”
“Apakah engkau telah mengetahui isi hatinya? Bagaimana kau bisa yakin apakah ia tulus atau tidak?”
Dalam hadits dikatakan,
“Sesungguhnya aku tidak diutus untuk mengorek-ngorek isi hati manusia” (Bukhari)
Tak seorang pun, yang tahu isi hati. Bahkan Nabi SAW sendiri tak mengetahui isi hati tiap-tiap umatnya secara pasti. Islam sendiri tidak bisa menghukumi persoalan hati. Ia terletak dalam dan hanya Allah ta’ala yang mampu menjangkaunya. Itulah sebab mengapa Nabi saw. kemudian memarahi Usamah ibn Zaid yang padahal sudah dianggap seperti cucu sendiri. Ia sering berada dalam pangkuan beliau sejak masih amat kecil.
Tanpa ada maksud membela Ahok yang omongannya memang kasar, serampangan, tidak elegan, dan sering kali menyinggung perasaan hati umat Islam dalam kasus kali ini(tentu saja, wahai Ahok, bagaimana kamu mau ngomongin tafsir Al Maidah ayat 51 sih, boro-boro ulama, agamanya Islam juga bukan. Lha wong yang orang Islam aja ga boleh sembarang orang yang menafisrkan ayat) . Namun saat Ahok sudah meminta maaf dan klarifikasi bahwa tidak ada maksud sama sekali untuk menistakan Al-Qur’an, dan kalian tetap keukeuh bahwa maksud hatinya Ahok itu pasti menghina Qur’an, apakah kalian merasa diutus untuk mengorek isi hati manusia? Tidak malukah dirimu pada Kanjeng Rasulullah SAW?
Maka saksikanlah, aku tidak pergi berdemo, aku tak peduli kalian panggil Muslim Cicak dengan tafsiran kisah Nabi Ibrahim yang kalian tafsirkan untuk kepentingan dalam kasus demo ini. Yang kuikuti adalah Guru Mulia Habib Umar bin Hafiz, yang memperbolehkan demo ataupun tidak demo asal jangan saling mencaci, ulama yang sanadnya berhubung sampai ke Rasulullah Muhammad SAW, bukan kalian yang sama-sama belajar engineering denganku, yang belajar agama dari google dan disela-sela ujian Matematika Teknik.
Wassalamu’alaikum Wr.Wb.
Yang kalian caci sebagai Muslim Cicak,
Muhammad Syauqy Nailul Author
Bekasi, 3 November 2016.