Kilas Balik 2012 M

Leave a comment

Last day in 2012 M

Sekedar me-review perjalanan di tahun 2012 M ini. Ada beberapa yang (alhamdulillah, dgn izin ALLAH) bisa dilaksanakan, namun ada juga yang masih belum terlaksana dan mudah2an bisa terlaksana di tahun 2013 M mendatang.

# Januari 2012 : mulai berjualan beras organik, ( https://uraharjo.wordpress.com/2012/01/30/sebuah-ikhtiarusaha-bernama-rumahbila/ ), dengan media promosi menggunakan facebook dan twitter. Untuk omzet, alhamdulillah, turun naik :-), sempat bagus di bulan Februari-Maret, lalu turun seiring dengan adanya kesibukan pindahan rumah dan pindahan tempat “nyangkul”.

# akhir Februari 2012 : me-luluskan diri dari salah satu perusahaan “managed service”, dan melanjutkan ke salah satu partner dari perusahaan database

# akhir Maret 2012 : me-luluskan diri dari perusahaan partner tsb, dan kembali join ke salah satu perusahaan vendor yang terbesar di dunia, (www.ibm.com), hingga sekarang

# Juli 2012 : saatnya untuk “keluar” dari Berlan, lalu pindah ke Jatikramat, Pondok Gede Bekasi, dan mulai mencicil rumah 🙂

# Agustus 2012 : alhamdulillah, dengan izin ALLAH, istri kembali hamil, untuk anak ke-4 🙂

# Oktober 2012 : beli domain baru, untuk kelanjutan jualan beras organik, http://www.rumah-bila.com

# December 2012 : pembagian raport untuk kakak Bila, alhamdulillah, meski ia anak baru di sekolahnya, namun untuk nilainya cukup bagus. ia punya cita2 mau jadi Dokter :).

Atas segala pencapaian2, yang telah ALLAH berikan, saya hanya bisa bersyukur kepada ALLAH dan ini adalah yang terbaik dari ALLAH untuk saya dan keluarga

Senin, 31 Dec 2012, 4:35 pm

 

 

JumpStarT Solaris using SUnWjet

1 Comment

I made this, after a long time not touch with Solaris :-), also in order to i will not forget the HOW-TO of Jumpstart

# Instructions for setup Jumpstart using SUNWjet
=================================================
1. Package add the JET framework and other modules you require
on to the prospective JumpStart server.

pkgadd -d SUNWjet.pkg JetEISCD JetSDS JetVXVM

or we just add the package only SUNWjet

2. Edit /opt/SUNWjet/etc/jumpStart.conf so that the media locations etc
are sensible for the server

N.B. The default root password is ‘newroot’

4. Set up the Solaris media for the JumpStart

4.1. If you have a Solaris image on the host already, use
‘add_solaris_location’

4.2. If you do not have a Solaris image on the host, use
‘copy_solaris_media’

==>> copy_solaris_media -d target_directory -n name_solaris media_cdrom

example :
copy_solaris_media -d /export/install/sparc -n sol10 /cdrom/solaris_10

==>> add_solaris_location 10_(type_of_solaris) target_directory

example :
add_solaris_location 10 /export/install/sparc

5. If you want an EIS CD build for the client, copy the eis-cd
patches etc to the server using ‘copy_eiscd’

==>> 5.a. Edit file dfstab, in dir /etc/dfs

put line :
share -F nfs -o ro,anon=0 -d “name_dir” target_directory_media

example :
share -F nfs -o ro,anon=0 -d “solaris” /export/install/sparc

> run command :
shareall
share

> restart nfs service :
svcadm restart nfs/server

verify with command : share

6. Create a template for the client using
‘make_template <clientname>’

==>> make_template name_server_client
example :
make_template server02

7. Edit the template in /opt/SUNWjet/Templates/<clientname>

check with the mac-address of client, and add it to that file

base_config_ClientArch=sun4u
base_config_ClientEther=0:3:ba:a8:70:83 ==>> ethernet client
base_config_ClientOS=10

how to check the mac-address at client from “ok prompt” :
ok devalias ==>> list the ethernet devices
ok cd net
ok .properties

==>> verify the mac-address

8. Set up the server to jumpStart the client using
‘make_client <clientname>’

==>> make_client name_server_client
example :
make_client server02

==>> the result should be “PASSED”

9. JumpStart the client using
** Sparc
‘ok boot net – install – w’
** X86/64
Select PXE boot

Bergerak…

Leave a comment

Bergerak, maju, berjalan, melangkah hingga pada suatu titik henti
jika pada saatnya.
Saat yang tepat, saat yang terkadang, kita sendiri tidak merasa
bahwa itu adalah saat yang tepat.
Setelah kita berhenti sejenak, lalu melihat lagi langkah tsb,
baru kita mengetahui begitu sayangnya Sang Maha Pencipta, ALLAH SWT
kepada kita dengan menempatkan kita pada saat yang tepat
Bergeraklah dengan keyakinan, ALLAH akan selalu bersama kita
Akan membantu kita melalui cara-Nya sendiri
Lalu teruslah bergerak dengan membawa nilai positif dalam
hati, pikiran dan emosi, agar kita mendapatkan yang terbaik
dalam perjalanan

*sumur batu, 20022012,00:45*
*H-2,25022012*

Man Shabara Zhafira !! (Siapa yang Bersabar, maka ia akan Beruntung)

Leave a comment

Man Shabara Zhafira
(Siapa yang bersabar, maka ia akan Beruntung)

Mantra kedua, yang diusung oleh si penulis untuk menjadi tema dalam
bukunya Ranah 3 Warna. Mantra pertama adalah Man Jadda Wa jada
Tulisan di bawah ini, diambil dari bagian akhir buku ranah 3 warna
(ahmad fuadi). Tulisan yang merupakan pesan dari Kiai Rais, pemimpin
salah satu pondok pesantren dimana si penulis pernah belajar di
pesantren tsb. dan rasanya sayang jika tulisan ini dilewatkan begitu
saja. selain itu juga, tulisan ini cukup dalam dan bermakna
buat siapa saja, buat diri saya sendiri, dan juga nanti untuk
anak2 saya.

seperti ini tulisan atau pesan dari kiai rais :

anak-anakku …

akan tiba masa ketika kalian dihadang badai dalam hidup. bisa badai
di luar diri kalian, bisa badai di dalam diri kalian. hadapilah dengan
tabah dan sabar, jangan lari. badai pasti akan berlalu

anak-anakku …

badai paling dahsyat dalam sejarah manusia adalah badai jiwa, badai
rohani, badai hati. inilah badai dalam perjalanan menemukan dirinya
yang sejati. inilah badai yang bisa membongkar dan mengempaskan iman,
logika, kepercayaan diri dan tujuan hidup. akibat badai ini bisa lebih
hebat dari badai ragawi. menangilah bagai rohani dengan iman dan sabar,
kalian akan menjinakkan dunia akhirat.

anak-anakku …

bila badai datang. hadapi dengan iman dan sabar. laut tenang ada untuk
dinikmati dan disyukuri. sebaliknya laut badai ada untuk ditaklukkan,
bukan ditangisi. bukankah karakter pelaut andal ditatah oleh badai yang
silih berganti ketika melintas lautan tak bertepi ?

 

catatan tambahan :

karakter adalah sesuatu yang bisa kita buat/bentuk, menjadi seperti apa
karakter itu, tergantung dari diri kita, ketika kita menerima dan
menghadapi ujian-ujian yang dibentangkan di hadapan kita. dan ujian itu
adalah sebagai HADIAH dari sang pencipta (ALLAH SWT) buat kita

sebuah sisi yang berbeda…

Leave a comment

mendapatkan artikel ini dari milis yang saya ikuti.  mudah2an bermanfaat, dengan melihat sisi lain dari kelebihan dan kekurangan yang ada pada anak kita, karena pada dasarnya tiap-tiap anak unik dan mereka pintar, terkadang kita sebagai orang tua, yg bisa jadi belum menemukan sisi itu pada anak kita.

 

========================

Aku ingin menjadi orang yang bertepuk tangan di tepi jalan

Di kelasnya ada 50 orang murid, setiap kali ujian, anak perempuanku tetap
mendapat ranking ke-23. Lambat laun membuat dia mendapatkan nama panggilan
dengan nomor ini, dia juga menjadi murid kualitas menengah yang
sesungguhnya. Sebagai orangtua, kami merasa nama panggilan ini kurang enak
didengar, namun anak kami ternyata menerimanya dengan senang hati. Suamiku
mengeluhkan ke padaku, setiap kali ada kegiatan di perusahaannya atau
pertemuan alumni sekolahnya, setiap orang selalu memuji-muji “Superman
cilik” di rumah masing-masing, sedangkan dia hanya bisa menjadi pendengar
saja.

Anak keluarga orang, bukan saja memiliki nilai sekolah yang menonjol, juga
memiliki banyak keahlian khusus. Sedangkan anak nomor 23 di keluarga kami
tidak memiliki sesuatu pun untuk ditonjolkan. Dari itu, setiap kali suamiku
menonton penampilan anak-anak berbakat luar biasa dalam acara televisi,
timbul keirian dalam hatinya sampai matanya bersinar-sinar. Kemudian ketika
dia membaca sebuah berita tentang seorang anak berusia 9 tahun yang masuk
perguruan tinggi, dia bertanya dengan hati pilu kepada anak kami: Anakku,
kenapa kamu tidak terlahir sebagai anak dengan kepandaian luar biasa? Anak
kami menjawab: Itu karena ayah juga bukan seorang ayah dengan kepandaian
luar biasa. Suamiku menjadi tidak bisa berkata apa-apa lagi, saya tanpa
tertahankan tertawa sendiri.

Pada pertengahan musim gugur, semua sanak keluarga berkumpul bersama untuk
merayakannya, sehingga memenuhi satu ruangan besar di restoran. Topik
pembicaraan semua orang perlahan-lahan mulai beralih kepada anak
masing-masing. Dalam kemeriahan suasana, anak-anak ditanyakan apakah
cita-cita mereka di masa mendatang? Ada yang menjawab akan menjadi pemain
piano, bintang film atau politikus, tiada seorang pun yang terlihat takut
mengutarakannya di depan orang banyak, bahkan anak perempuan berusia 4�
tahun juga menyatakan kelak akan menjadi seorang pembawa acara di televisi,
semua orang bertepuk tangan mendengarnya. Anak perempuan kami yang berusia
15 tahun terlihat sibuk sekali sedang membantu anak-anak kecil lainnya
makan. Semua orang mendadak teringat kalau hanya dia yang belum
mengutarakan cita-citanya kelak. Di bawah desakan orang banyak, akhirnya
dia menjawab dengan sungguh-sungguh: Kelak ketika aku dewasa, cita-cita
pertamaku adalah menjadi seorang guru TK, memandu anak-anak menyanyi,
menari dan bermain-main. Demi menunjukkan kesopanan, semua orang tetap
memberikan pujian, kemudian menanyakan akan cita-cita keduanya. Dia
menjawab dengan besar hati: Saya ingin menjadi seorang ibu, mengenakan kain
celemek bergambar Doraemon dan memasak di dapur, kemudian membacakan cerita
untuk anak-anakku dan membawa mereka ke teras rumah untuk melihat
bintang-bintang. Semua sanak keluarga tertegun dibuatnya, saling pandang
tanpa tahu akan berkata apa lagi. Raut muka suamiku menjadi canggung sekali.

Sepulangnya ke rumah, suamiku mengeluhkan ke padaku, apakah aku akan
membiarkan anak perempuan kami kelak menjadi guru TK? Apakah kami tetap
akan membiarkannya menjadi murid kualitas menengah? Sebetulnya, kami juga
telah berusaha banyak. Demi meningkatkan nilai sekolahnya, kami pernah
mencarikan guru les pribadi dan mendaftarkannya di tempat bimbingan
belajar, juga membelikan berbagai materi belajar untuknya. Anak kami juga
sangat penurut, dia tidak membaca komik lagi, tidak ikut kelas origami
lagi, tidur bermalas-malasan di akhir minggu juga tidak dilakukan lagi.
Bagai seekor burung kecil yang kelelahan, dia ikut les belajar sambung
menyambung, buku pelajaran dan buku latihan dikerjakan tanpa henti. Namun
biar bagaimana pun dia tetap seorang anak-anak, tubuhnya tidak bisa
bertahan lagi dan terserang flu berat. Biar sedang diinfus dan terbaring di
ranjang, dia tetap bersikeras mengerjakan tugas pelajaran, akhirnya dia
terserang radang paru-paru. Setelah sembuh, wajahnya terlihat kurus banyak.
Akan tetapi ternyata hasil ujian semesternya membuat kami tidak tahu mau
tertawa atau menangis, tetap saja nomor 23.

Kemudian, kami juga mencoba untuk memberikan penambah gizi dan rangsangan
hadiah, setelah berulang-ulang menjalaninya, ternyata wajah anak
perempuanku semakin pucat saja. Apalagi, setiap kali akan ujian, dia mulai
tidak bisa makan dan tidak bisa tidur, terus mencucurkan keringat dingin,
terakhir hasil ujiannya malah menjadi nomor 33 yang mengejutkan kami. Aku
dan suamiku secara diam-diam melepaskan aksi menarik bibit ke atas demi
membantunya tumbuh ini. Dia kembali pada jam belajar dan istirahatnya yang
normal, kami mengembalikan haknya untuk membaca komik, mengijinkannya untuk
berlangganan majalah “Humor anak-anak” dan sejenisnya, sehingga rumah kami
menjadi tenteram kembali. Kami memang sangat sayang pada anak kami ini,
namun kami sungguh tidak mengerti akan nilai sekolahnya.

Pada akhir minggu, teman-teman sekerja pergi rekreasi bersama. Semua orang
mempersiapkan lauk terbaik dari masing-masing, dengan membawa serta suami
dan anak untuk piknik. Sepanjang perjalanan penuh dengan tawa dan guyonan,
ada anak yang bernyanyi, ada juga yang memperagakan karya seni pendek. Anak
kami tiada keahlian khusus, hanya terus bertepuk tangan dengan gembira. Dia
sering kali lari ke belakang untuk menjaga bahan makanan. Merapikan kembali
kotak makanan yang terlihat agak miring, mengetatkan tutup botol yang
longgar atau mengelap jus sayuran yang bocor ke luar. Dia sibuk sekali
bagaikan seorang pengurus rumah tangga cilik.

Ketika makan terjadi satu kejadian di luar dugaan. Ada dua orang anak
lelaki, satunya adalah bakat matematika, satunya lagi adalah ahli bahasa
Inggeris. Kedua anak ini secara bersamaan menjepit sebuah kue beras ketan
di atas piring, tiada seorang pun yang mau melepaskannya, juga tidak mau
membaginya. Walau banyak makanan enak terus dihidangkan, mereka sama sekali
tidak mau peduli. Orang dewasa terus membujuk mereka, namun tidak ada
hasilnya. Terakhir anak kami yang menyelesaikan masalah sulit ini dengan
cara sederhana yaitu lempar koin untuk menentukan siapa yang menang.

Ketika pulang, jalanan macat dan anak-anak mulai terlihat gelisah. Anakku
terus membuat guyonan dan membuat orang-orang semobil tertawa tanpa henti.
Tangannya juga tidak pernah berhenti, dia mengguntingkan banyak bentuk
binatang kecil dari kotak bekas tempat makanan, membuat anak-anak ini terus
memberi pujian. Sampai ketika turun dari mobil bus, setiap orang
mendapatkan guntingan kertas hewan shio masing-masing. Ketika mendengar
anak-anak terus berterima kasih, tanpa tertahankan pada wajah suamiku
timbul senyum bangga.

Sehabis ujian semester, aku menerima telpon dari wali kelas anakku.
Pertama-tama mendapatkan kabar kalau nilai sekolah anakku tetap kualitas
menengah. Namun dia mengatakan ada satu hal aneh yang hendak
diberitahukannya, hal yang pertama kali ditemukannya selama 30 tahun
mengajar. Dalam ujian bahasa ada sebuah soal tambahan, yaitu siapa teman
sekelas yang paling kamu kagumi dan alasannya. Selain anakku, semua teman
sekelasnya menuliskan nama anakku.

Alasannya sangat banyak: antusias membantu orang, sangat memegang janji,
tidak mudah marah, enak berteman, dan lain-lain, paling banyak ditulis
adalah optimis dan humoris. Wali kelasnya mengatakan banyak usul agar dia
dijadikan ketua kelas saja. Dia memberi pujian: Anak anda ini, walau nilai
sekolahnya biasa-biasa saja, namun kalau bertingkah laku terhadap orang,
benar-benar nomor satu.

Saya berguyon pada anakku, kamu sudah mau jadi pahlawan. Anakku yang sedang
merajut selendang leher terlebih menundukkan kepalanya dan berpikir
sebentar, dia lalu menjawab dengan sungguh-sungguh: �Guru pernah mengatakan
sebuah pepatah, ketika pahlawan lewat, harus ada orang yang bertepuk tangan
di tepi jalan.� Dia pelan-pelan melanjutkan: �Ibu, aku tidak mau jadi
pahlawan, aku ingin jadi orang yang bertepuk tangan di tepi jalan.� Aku
terkejut mendengarnya dan mengamatinya dengan seksama.

Dia tetap diam sambil merajut benang wolnya, benang warna merah muda
dipilinnya bolak balik di jarum bambu, sepertinya waktu yang berjalan di
tangannya mengeluarkan kuncup bunga. Dalam hatiku terasa hangat seketika.
Pada ketika itu, hatiku tergugah oleh anak perempuan yang tidak ingin
menjadi pahlawan ini. Di dunia ini ada berapa banyak orang yang
bercita-cita ingin menjadi pahlawan, namun akhirnya menjadi seorang biasa
di dunia fana ini. Jika berada dalam kondisi sehat, jika hidup dengan
bahagia, jika tidak ada rasa bersalah dalam hati, mengapa anak-anak kita
tidak boleh menjadi seorang biasa yang baik hati dan jujur.

Jika anakku besar nanti, dia pasti akan menjadi seorang isteri yang berbudi
luhur, seorang ibu yang lemah lembut, bahkan menjadi seorang teman kerja
yang suka membantu, tetangga yang ramah dan baik. Apalagi dia mendapatkan
ranking 23 dari 50 orang murid di kelasnya, kenapa kami masih tidak merasa
senang dan tidak merasa puas? Masih ingin dirinya lebih hebat dari orang
lain dan lebih menonjol lagi? Lalu bagaimana dengan sisa 27 orang anak-anak
di belakang anakku? Jika kami adalah orangtua mereka, bagaimana perasaan
kami?

***
Anakmu bukan milikmu.
Mereka putra putri sang Hidup yang rindu pada diri sendiri,
Lewat engkau mereka lahir, namun tidak dari engkau,
Mereka ada padamu, tapi bukan hakmu.
Berikan mereka kasih sayangmu, tapi jangan sodorkan bentuk pikiranmu,
Sebab mereka ada alam pikiran tersendiri.
Patut kau berikan rumah untuk raganya,
Tapi tidak untuk jiwanya,
Sebab jiwa mereka adalah penghuni rumah masa depan, yang tiada dapat kau
kunjungi sekalipun dalam mimpi.
Kau boleh berusaha menyerupai mereka,
Namun jangan membuat mereka menyerupaimu
Sebab kehidupan tidak pernah berjalan mundur,
Pun tidak tenggelam di masa lampau.
Kaulah busur, dan anak-anakmulah Anak panah yang meluncur.
Sang Pemanah Maha Tahu sasaran bidikan keabadian.
Dia merentangmu dengan kekuasaan-Nya,
Hingga anak panah itu melesat, jauh serta cepat.
Meliuklah dengan suka cita dalam rentangan tangan Sang Pemanah,
Sebab Dia mengasihi anak-anak panah yang melesat laksana kilat
Sebagaimana pula dikasihiNya busur yang mantap.

Khail Gibran <http://www.facebook.com/rodiyangibran&gt;

 

sebuah ikhtiar/usaha bernama “RUMAHBILA”

Leave a comment

rumahbila
==========

rumahbila hanyalah sebuah nama, yang terdiri dari kata “rumah” dan “bila”
(nama panggilan untuk anak pertama saya). nama ini akhirnya saya pilih dan
gunakan sebagai sebuah ikhtiar saya untuk mulai melangkah dalam dunia
enterpreneur, dunia bisnis, dunia dagang secara serius di awal tahun 2012.
sesuai dengan salah satu resolusi saya di tahun ini, adalah saya
mulai menjalankan bisnis saya sendiri

ini adalah ke-2 kali saya ‘terjun’ di dunia enterpreneur secara serius.
pertama, pada saat akhir tahun 1998, bersama sahabat-sahabat terbaik saya,
kami mendirikan tempat service komputer, dan hal inilah yang menyebabkan
akhirnya saya ‘nyemplung’ dalam dunia IT. dan yang ke-2 adalah dengan RUMAHBILA ini.

sebuah langkah awal, saat ini, RUMAHBILA menjadi re-seller dari produsen beras
organik O-RICE. Website dari O-RICE ada di http://www.o-rice.com,
dimana produk dari O-RICE iniberhasil menjadi pemenang dari
“SHELL LIVEWIRE 2008”.

Adapun produk beras organik O-RICE yang kami jual di RUMAHBILA ini adalah :

– beras PANDAN WANGI (pulen wangi) = 13000 / kg

– beras BATANG LEMBANG (super pulen) = 13000 / kg

– beras MENTIK WANGI (super wangi) = 15000 / kg

– beras MERAH = 15000 / kg

– beras HITAM = 23000 / kg

Harga di atas belum termasuk ongkos kirim,

Dalam rangka promosi maka kami membebaskan biaya pengiriman untuk
pemesanan minimal 15 kg, di wilayah Jakarta

Untuk pemesanan, silakan menghubungi :
021 – 41690204
0838 – 94640989

gtalk = untungr
ym = izzah76
skype = untung.raharjo

tips memasak si beras merah

1 Comment

tips masak beras merah

heh, beras apaan nih, beras kok merah warnanya ?
heh..beras apaan tuh ? aneh
enak gak rasanya tuh beras ?
dan lain..lain…pertanyaannya…

pertanyaan2 seperti itu juga yang pernah saya ajukan, pada saat pertama kali mengetahui adanya beras merah.
karena sejak kecil kita sudah terbiasa memakan beras berwarna putih, jadi ketika melihat pertama kali
ada beras merah, rasanya…aneh..:-)

lalu pertanyaan berikutnya adalah, bagaimana cara masaknya ?
awalnya pun, saya dan istri belum mengetahui cara masaknya. pertama kali masak, hasilnya rasanya seperti
nasi pera (masak nasi yang kurang air) :-). lalu…searching…dan datang ke tempat produsennya langsung
dari beras organik o-rice, bertanya langsung.
akhirnya dapatlah petunjuk bagaimana cara memasak beras merah agar enak dimakan seperti beras putih.

tahapannya seperti ini :

1. cuci beras sampai bersih, klo saya biasanya saya bilas/cuci sampai 3 kali.

2. lalu rendam berasnya dalam air, selama kira2 30 menit sebelum masuk rice cooker.

3. setelah 30 menit, masukkan beras ke dalam rice cooker, dengan jumlah air yang lebih banyak 2 kali dari kita masak beras putih. karena memang beras merah membutuhkan air yang lebih banyak.

4. bisa juga, kita mencampur beras merah dengan beras putih, perbandingan beras merah 2: beras putih 1, agar rasa beras  merahnya lebih enak dan agak pulen 🙂

5. tunggu sampai matang, baru boleh dimakan/dicicipi, klo blom matang, jangan dibuka dulu rice cookernya 🙂 dan tunggu    adem makannya

jadi selamat mencoba dan menikmati beras merahnya

*sumur batu, 23012012,00:40*

pertanyaan Haidar !

3 Comments

pertanyaan haidar…

ya…ini mengenai pertanyaan dari haidar.

nama lengkapnya haidar zahri fathurrahman (2 thn 5 bulan), anak ke-3 kami.
fotonya bisa dilihat di bawah artikel ini :-).
dalam keseharian, sering kali terlontar pertanyaan-pertanyaan yang berasal
darinya. anything, everything..segala nya.
ia akan bertanya segalanya kepada kami (saya, bundanya dan kakaknya,
kakak bila). pertanyaannya mudah. namun menjawabnya yang tidak mudah.
membutuhkan seni tersendiri, membuat sebuah jawaban yang bisa diterima
oleh pikirannya (anak umur 2 thn 5 bulan).

salah satu contohnya di bawah ini

gini ceritanya :

tadi pagi, saya membaca koran kompas, duduk dengan serius, membaca dan melihat gambar dari koran tsb. lalu, haidar pun menghampiri saya, ikut membolak-balik koran tsb. kebetulan tema hari ini adalah tentang perayaan imlek, maka otomatis koran pun dipenuhi oleh gambar-gambar yang berkaitan dengan imlek.

pertanyaan pertama dari haidar, setelah melihat gambar adanya lampion yang digantung di halaman depan.
haidar : itu apahan ? (*apahan=apaan, sudah dikasih tahu yang benar, selalu balik lagi ke “apahan“*)
saya : oh, itu lampu
haidar : *diam*, itu dimana?
saya : *masih blom sempat jawab*
haidar : *jawab sendiri* oh, pasar
saya : eh, iya itu dipasar, tuh kan banyak lampu dipasang

selanjutnya, saya meneruskan baca koran, dan haidar lanjut membolak-balikan bagian koran yang lain.

pertanyaan kedua datang (ini salah satu pertanyaan maut nya)
haidar : itu apahan ? *setelah melihat gambar mirip rumah, sebenarnya adalah gambar klenteng*
saya : itu rumah
haidar : rumah apahan ?
saya : he?..oh, rumah ibadah..
haidar : …#@..ibadah apahan ?
saya : ???…@#$@#$5…ya..ibadah…kaya sholat, sembahyang..
haidar : *gak puas*, ibadah apahan ??
saya : …#$223$@#………..

waduh, bingung saya, mau ngasih jawaban apa dan gimana….agar bisa dimengerti dan menangkap jawaban yang saya berikan.
nah..ini salah satu bagian tersulit buat saya. yaitu mengolah kata dan bahasa dengan baik, agar  bisa memberikan kepuasan kepada anak saya, haidar, yang berumur 2 tahun 5 bulan. dan ini tantangannya buat kami, saya dan istri, berbahasa dan berpikir sesuai dengan umur haidar sekarang. mungkin akan mudah jawabannya bila ia sudah
bersekolah minimal SD.

seandainya jawaban saya seperti : “ibadah buat orang tiongkok/cina, yang berbeda dengan ibadahnya orang muslim,
mereka punya cara sendiri, seperti…bla…bla…bla..”, tapi apa mungkin, saya ngasih jawaban spt ini buat haidar :-),
yang ada dia malah bingung dan bengong..:-). akhirnya, saya menggunakan jurus “ngeles”, saya jawab : nanti tanya ke bunda ya. lalu ia pun maen lagi…dan asik lagi dengan dunianya

hal seperti ini, juga kami alami pada saat anak pertama kami (nabila) masih seumuran haidar, namun yang saya ingat,
saat itu, nabila tidak terlalu sering bertanya. beda dengan adiknya, yang sering kali bertanya tentang segala sesuatu
kepada kami, atau kepada kakaknya (nabila), jika ia menemukan sesuatu yang ia anggap baru.

dari beberapa artikel parenting yang pernah saya baca. pertanyaan2 yg diajukan oleh anak kita, adalah sesuatu hal yang
bagus, dan bisa menumbuhkan rasa keingintahuan dari si anak akan sesuatu dan merangsang dia untuk belajar. dan kita sebagai orang tua, dituntut untuk bisa memenuhi rasa keingin-tahuan si anak dan memberikan jawaban yang pas dan tepat sesuai dengan umur si anak.  jadi, ternyata sebagai orang tua pun, kita harus belajar lagi, belajar segala hal, karena pengetahuan pertama si anak, akan diperoleh dari lingkungan terdekatnya, yaitu orang tua, kakak nya…(klo ia punya kakak)

pertanyaan2 seperti di atas dalam sehari-hari, akan keluar secara spontanitas dari haidar, terkadang juga si kakaknya.
jadi ya…kita harus siap-siap menerima segala macam pertanyaan dari mereka dan siap menjawab…sesuai dengan bahasa mereka.

dan…kami menikmati momen-momen seperti ini 🙂

*sumur batu, 23012012,16:10*

detach network interface from bonding in Linux

Leave a comment

Once, i found in some servers, which use bonding in more then 2 network interfaces.  Otherwise, i want to use another port to configure for another IP. Then i had to detached that network interface from bonding. In this example, i just use two interfaces on my “lab”.

Here step  how to detach network interface from Bonding in Linux (Redhat)

1. check the members of bonding :

[root@linux-1 ~]# cat /proc/net/bonding/bond0

Ethernet Channel Bonding Driver: v3.4.0 (October 7, 2008)
Bonding Mode: load balancing (round-robin)
MII Status: up
MII Polling Interval (ms): 0
Up Delay (ms): 0
Down Delay (ms): 0

Slave Interface: eth1
MII Status: up
Link Failure Count: 0
Permanent HW addr: 08:00:27:3e:b2:07

Slave Interface: eth2
MII Status: up
Link Failure Count: 0
Permanent HW addr: 08:00:27:36:5d:09
2. Detach interface eth2

[root@linux-1 ~]# ifenslave -d bond0 eth2

 

3. Verify again the status of bonding

[root@linux-1 ~]# cat /proc/net/bonding/bond0

 

After this, we can configure interface eth2 for another IP


masuk ke server lewat ssh tanpa password (Login through SSH without password)

2 Comments

*sorry, i made it in english 🙂 *
1. create ssh-keygen for the user
[Administrator.jesh-techm-e015] $ ssh-keygen
Generating public/private rsa key pair.
Enter file in which to save the key (/home/Administrator/.ssh/id_rsa):
Created directory ‘/home/Administrator/.ssh’.
Enter passphrase (empty for no passphrase):
Enter same passphrase again:
Your identification has been saved in /home/Administrator/.ssh/id_rsa.
Your public key has been saved in /home/Administrator/.ssh/id_rsa.pub.
2. copy the file id_rsa.pub to the remote server. For copying we can use command scp or ssh-copy-id (in Linux, it  was installed by openssh)
2.a. by command scp
scp id_rsa.pub ip_server_or_hostname:/export/home/uraharjo/.ssh
2.b. using ssh-copy-id (only available in Linux)
ssh-copy-id -i id_rsa.pub ip_server_or_hostname
3. another way, to copy id_rsa.pub, using this command :
cat id_rsa.pub | ssh uraharjo@ip_server_or_hostname “cat >> /export/home/uraharjo/.ssh/authorized_keys”

Older Entries

Design a site like this with WordPress.com
Get started