Sekarang gue mau cerita tentang spesialisasi yang gue ambil. Yaitu Urologi, suatu cabang ilmu bedah yang sudah memiliki sistem pendidikan langsung Sp1 (tidak perlu spesialis bedah umum terlebih dahulu).
Urologi tuh apa sih? Intinya sih dokter perkencingan (plus andrologi). Mulai dari diagnosis, terapi medika mentosa hingga pembedahan tercakup semua. Paling sering penyakit batu saluran kemih, prostat, dan kawan-kawannya (trauma, onkologi, dll).
Gue mungkin bakal cerita banyak ttg Urologi UI.
Ujian masuk jaman gue (Juli 2015) terdiri dari tes kesehatan umum, tes mata (buta warna, stereoskopi, lapang pandang), ujian tulis, bahasa inggris, dan wawancara. Cuma sejak 2017 kalo ga salah udah mulai ada ujian TPA yang diselenggarakan oleh UI Pusat.
Penerimaan tiap angkatan bervariasi, 5-8 orang. Dengan 2-3 orang dari tiap angkatan akan dikirim untuk pendidikan Urologi di Medan (chief balik ke Jakarta, sertifikat lulus dari UI).
Residensi Urologi di FKUI lama pendidikannya 5 tahun (10 semester). Dengan pembagian 1 semester kuliah-kuliah magister (filsafat, biokim, biomol, statistik, dll.). Kemudian Pendidikan Bedah Dasar 2 semester (Digestif, Toraks+Vaskular, Plastik, Ortho, Onkologi, IGD, Anestesi, Bedah Anak). Kemudian 7 Semester pendidikan Urologi (Urologi dasar dan urologi lanjut).
Biaya pendidikan?
Uang masuk 15 juta dan semesteran 7,5 juta. Total untuk biaya pendidikan sekitar 90 juta (sampai selesai). Di dalamnya ga ada lagi pungutan-pungutan ataupun sumbangan. Secara umum senioritas di Urologi bukan yang kejam masalah finansial (harus bayarin makan senior dkk.).
Center urologi pun di Indonesia belum banyak. Pendidikan Urologi baru dibuka di 5 tempat, yaitu: Jakarta, Surabaya, Bandung, Jogja, dan Malang. Jumlahnya pun belum banyak, sampai dengan saat ini jumlah urolog di Indonesia belum 400 orang.
Cerita awal
Setelah selesai internship gue langsung daftar magang di departemen urologi sebagai asisten penelitian. Di sana gue terpapar dengan lingkungan kerja departemen, operasinya, dan tetek bengek administrasi (mostly kerjanya magang itu paperworks). Gue magang selama hampir 2 tahun. Ya, selama itu. Alesannya karena waktu itu gue mau nyiapin nikahan dulu.
Kenapa magang?
Tujuan gue magang itu awalnya pengen memastikan gimana sih secara kasat mata bentuk urologi. Karena ini pilihan karir seumur hidup, ga mungkin dong gue menjalani pekerjaan yang ternyata ga gue suka seumur hidup. Alahmdulillah sih dari keilmuan dan suasana lingkungan kerjanya, gue cocok.
Kenapa Urologi?
Kalo mau lebih jelas ada video youtube tentang “Why Urology” di youtube (link). Kira-kira gambaran urologi di Amerika mirip-mirip lah. Urolog dianggap sebagai “bunch of happy surgeon”.
Secara keilmuan, Urologi sangat menarik (paling ga buat gue). Karena bisa dibilang perfect combination antara medical and surgical. Ilmunya dapet, bedahnya dapet.
Alasan lain, gue orangnya males berdiri lama, selain kaki gue yg emang flat-foot, ternyata durasi operasi Urologi itu rata-rata ga lebih dari 1 jam. Sebagian besarpun operasi urologi tuh duduk! Hahaha. Kemudian untuk timbal baliknya juga lumayan, karena operasi urologi dianggap operasi khusus (gue juga baru tau setelah magang, jd emg bukan motivasi utama).
Kemudian urologi bukan tipe hit-and-run surgeon, artinya lo bisa berintaksi dengan pasien dalam jangka panjang. Konsultasi poliklinik pun cukup banyak. Jadi buat gue yang seneng ngobrol sih suka dengan ilmu ini.
Panggilan cito? Urologi termasuk cabang bedah dengan angka gawat darurat yang relatif tidak banyak. Sehingga bisa tidur tenang lah. Kalau pun bener-bener emergency biasanya juga dikirim kle center yang urologinya 24 jam (yang ada residennya) :p.
Dulu pilihan gue pas lulus itu memang udah mengerucut ke surgikal atau dunia bedah. Pilihan gue saat itu adalah Urologi, Ortho, Mata (yes, mata), dan Bedah Umum.
Nyesel ga pilih urologi? alhamdulillah gak sama sekali.





























