Kekristenan Jinak

Di seluruh dunia, agaknya tidak ada hari besar agama semeriah Natal. Orang non-Kristen pun tak jarang turut merayakan semaraknya. Di Indonesia, mal-mal sering memasang pohon Natal besar-besar dan dekorasi Natal lainnya pada bulan Desember, padahal pengunjungnya mayoritas non-Kristen. Kasir dan pramusaji non-Kristen pun memakai topi Sinterklas.

Itu mungkin terjadi karena Natal sering disimbolkan dengan hal-hal yang dipandang menyenangkan dan/atau netral secara agama, seperti Sinterklas, salju, kado, dan pohon. Mungkin juga itu terjadi karena pada hari Natal, orang-orang merayakan “kasih,” sebagaimana tertulis: “Karena begitu besar kasih Allah sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal …” (Yoh 3:16a). Ateis sekalipun menyukai konsep “kasih,” bukan?

Namun, Natal bukan melulu tentang kasih. Natal juga menyingkapkan kebinasaaan manusia akibat dosa. Yesus lahir “supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal” (Yoh 3:16b). Natal terjadi dalam sejarah dengan sebuah latar belakang yang suram: Allah yang adil akan membinasakan semua manusia berdosa.

Jadi, merayakan kasih Allah semata pada masa Natal, tetapi mengesampingkan keadilan-Nya, pada hakikatnya menjinakkan Natal. Dan menjinakkan Natal—salah satu titik fokal iman Kristen—berarti menjinakkan kekristenan. Akibatnya, lahirlah kekristenan jinak, yang secara berlebihan mengobral kasih, bahkan kepada dosa. Kekristenan jinak ini berdampak buruk kepada berbagai lapisan kehidupan orang Kristen.

Dalam lapisan teologis-apologetis, misalnya, kekristenan jinak menjadi senjata makan tuan yang dimanfaatkan kaum ateis-agnostis. Mereka berargumen, “Jika Allah memang kasih, mengapa masih ada penderitaan?” Kekristenan jinak kesulitan menjawab pertanyaan ini karena hanya fasih mewartakan kasih Allah tapi gagap menerangkan keadilan Allah dalam penderitaan dan kebinasaan manusia.

Dalam lapisan kesalehan pribadi, kekristenan jinak membuat kita lupa bahwa tadinya kita harus binasa. Kita jadi memandang enteng kasih Allah. Keselamatan seolah-olah sudah sewajarnya kita miliki. Ajaran Kristen “keselamatan hanya karena anugerah”1 disalahgunakan sebagai tameng pembenaran untuk hidup seenaknya.

Dalam lapisan hubungan sosial, kekristenan jinak membuat kita terlampau membolehkan perilaku berdosa. Demi “kasih,” kita enggan menegur dosa sesama kita, padahal dalam keberdosaannya mereka bisa saja binasa. Kita takut dianggap “menghakimi.” Tak heran, gereja-gereja di dunia Barat—penjunjung tinggi kebebasan manusia—membolehkan pasangan sejenis menikah.

Mimbar-mimbar gereja turut menjinakkan kekristenan. Pengkhotbah-pengkhotbah makin jarang menegur dosa sekeras dan setulus Jonathan Edwards dengan khotbah seperti “Pendosa-pendosa di Tangan Allah yang Murka.”2 Banyak pendeta megagereja zaman sekarang—terlepas dari hal-hal benar dan baik yang mereka ajarkan—justru bergaya “motivator” dengan topik-topik yang sedap didengar semua orang seperti “Rahasia Sukses Tanpa Upaya” atau “Allah Ingin Anda Kaya.”

Tetapi kekristenan jinak tidak digagas oleh Yesus Kristus.

Yesus, perwujudan tertinggi kasih Allah itu, memang sering digambarkan sebagai sosok yang lembut, murah hati, dan mudah berbelaskasihan. Tetapi Yesus juga sosok yang menjungkirbalikkan lapak-lapak pedagang di Bait Allah dengan penuh murka (Luk. 19:45), mencela pemuka-pemuka agama yang munafik (Mat. 23:13-33), dan menyebut murid terdekat-Nya sendiri sebagai iblis karena berusaha menghalangi misi-Nya (Mat. 16:23).

Yesus, Raja Damai itu, berkata, “Jangan kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk membawa damai di atas bumi; Aku datang bukan untuk membawa damai, melainkan pedang. Sebab Aku datang untuk memisahkan orang dari ayahnya, anak perempuan dari ibunya, menantu perempuan dari ibu mertuanya …” (Mat. 10:34-35).

Yesus tidak jinak. Meski mengasihi orang berdosa, Ia terlalu adil dan kudus untuk mengobral kasih dan mendiamkan dosa. Di sinilah sebetulnya letak keagungan sejati Natal. Yesus yang adil dan kudus itu justru rela lahir di dunia untuk dibinasakan dan ditimpa murka Allah sebagai ganti kita yang najis.

Seandainya Yesus jinak terhadap dosa, Ia tidak berbeda dengan orang berdosa: sama-sama pantas binasa karena gagal memenuhi standar keadilan dan kekudusan Allah. Yesus yang demikian tak layak menjadi juruselamat. Kelahiran-Nya pun tak perlu dirayakan.

Maka Natal—dan kekristenan—sejati bukan melulu tentang kasih. Mari bangkitkan kembali kekristenan yang (juga) adil dan kudus. Berhentilah menjinakkannya.

(Tulisan ini dilansir di Komunitas Ubi edisi Desember 2015 dengan tajuk “Bukan Melulu Tentang Kasih.”)

Catatan

1 Ajaran ini tersebar dalam Alkitab, salah satunya di Efesus 2:8-9, “Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu jangan ada orang yang memegahkan diri.”

2 Dalam bahasa aslinya, khotbah ini berjudul Sinners in the Hands of an Angry God. Berlawanan dengan pendeta-pendeta “motivator,” Edwards menyampaikan khotbah ini dengan gaya yang cenderung membosankan. Intonasinya datar dan matanya terpaku pada naskah. Namun, bahkan sebelum ia selesai berkhotbah, banyak hadirin dilawat Roh Kudus sehingga meraung-raung dan berteriak, “Apa yang harus aku lakukan untuk selamat?” Khotbah tersebut bisa dilihat di situs University of Nebraska – Lincoln. <http://digitalcommons.unl.edu/cgi/viewcontent.cgi?article=1053&context=etas&gt;.

About Latest Posts

Kekeluargaan (Tanpa) Menggerogoti Keprofesionalan

avatar penjenang kombi

Oleh Victor Samuel

“Makan tidak makan, yang penting kumpul,” demikian kata peribahasa Jawa.1 Peribahasa ini menggambarkan budaya kekeluargaan bangsa Indonesia yang mementingkan kebersamaan (“kumpul”) di atas urusan perut. Tentunya pandangan itu bernilai luhur. Dengannya kita menjadi bangsa yang ramah dan suka menolong.

Namun, peribahasa itu bisa juga menjadi sindiran untuk orang yang lebih suka “kumpul-kumpul” daripada bekerja—mencari “makan.” Jika ini yang terjadi, budaya kekeluargaan justru menggerogoti keprofesionalan. Contoh-contohnya mudah ditemui baik di perusahaan maupun di pemerintahan.

Seorang bawahan, misalnya, enggan mengkritik kebijakan atasan demi keloyalan. Seorang karyawan ogah melaporkan ketidakdisiplinan rekannya atas nama kesetiakawanan. Seorang pejabat, meskipun terusik hati nuraninya, bungkam terhadap tradisi suap-menyuap yang sudah menjadi semacam kesepakatan antarkolega.

Keloyalan, kesetiakawanan, kesepakatan, dan hal-hal bernuansa kekeluargaan lainnya sering menjadi pembenaran bagi perilaku-perilaku yang menggerogoti keprofesionalan. Akibatnya berbahaya.

Pertama, mutu kerja melempem. Seorang atasan, tanpa masukan kritis dari bawahan, bisa mengambil putusan yang lemah. Seorang rekan kerja, tanpa dikritik…

Lihat pos aslinya 551 kata lagi

A volcanic breakfast, Mt. Bromo (Indonesia Part 1)

That was fun.

avatar A reluctant wanderlustA reluctant wanderlust

This was in February 2013. My master thesis was in Indonesia and I was in Pasuruan, East Java collecting field data. During one of the weekends, me and Victor Samuel (working on a similar project) decided to visit Mt. Bromo. Mt. Bromo is an active volcano and had an eruption as recently as 2011. As it was only 50 km away, we decided to hire a taxi and visit. Victor was Indonesian, no problems whatsoever during the whole trip.

On the day, we left before 0500 and the taxi picked us up at our hotel in Pasuruan. The idea was to capture the sunrise from another peak overlooking the mountains. The taxi, after an hour long journey, dropped us off near Penanjakan at a parking lot. We then climbed up to a hill. There was already a sizable crowd awaiting at the top of the mountain. As it was…

Lihat pos aslinya 659 kata lagi

Natal dan Pencitraan

Hari ini istilah “pencitraan” terdengar sumbang di kuping kita. Bagi kita, pencitraan hanyalah akal bulus para politisi. Menjelang tahun pemilihan, kita semakin curiga mendengar kata-kata manis dan melihat pertunjukan mendadak-merakyat yang mereka tebar. “Ah,” gumam kita ketus, “paling-paling pencitraan.”

Istilah “pencitraan” memang populer belakangan ini, namun idenya tidak baru. Dua ribu tahun lalu, Allah pun melakukan pencitraan. Baca terus.

Review: Sustainable Energy – Without the Hot Air

Sustainable Energy - Without the Hot Air
Sustainable Energy – Without the Hot Air by David J.C. MacKay
My rating: 5 of 5 stars

We’ve heard the buzz of energy saving. “Plugging off your unused charger can save the planet,” says a green-colored poster in your town. Or your colleague bragged, “I became veggie because of scientific reason: energy and carbon footprint.” Then questions might have popped in your head. “Is it true? Can all those things save the world? Or are they just another hoax made up by environmental hippies?”

We’ve also heard conflicting claims from experts within the energy debates. “All we need are renewables,” says environmentalist A; “nuclear is inevitable,” says physicist B; “we must produce more oil,” says politician C—leaving us puzzled.

David J.C Mackay—engineering professor in the University of Cambridge and scientific adviser to the United Kingdom—has brought numbers into the debate. “Renewable resources are ‘huge,’” he wrote, “but our energy consumption is also ‘huge.’ To compare ‘huge’ things with each other, we need numbers, not adjectives.” He repetitively underlined his key message: we need a plan that adds up—factually. And he guided us on how we can construct one. Read more…

Kaki Beralas “Bhinneka Tunggal Ika”

Kemajemukan budaya di Nusantara disemarakkan oleh masuknya budaya Hindu-Budha yang bercampur dengan kebudayaan pribumi. Lalu masuk juga pedagang Arab, diikuti pedagang Persia, Gujarat, dan Cina, yang bukan saja membawa dagangan, tetapi juga pengaruh budaya. Masyarakat Indonesia menjadi terbiasa menerima dan menyerap unsur-unsur kebudayaan baru, berkelindan dengan kebudayaan lama, menjadikan Nusantara “kuali penyerbukan silang-budaya.”1

Dalam pertautan antar budaya itu, sistem kerajaan Hindu-Budha maupun Islam menjadi pengikat antar suku. “Suku itu dalam bahasa Jawa artinya sikil, kaki,” demikian Sukarno mengumpamakan kesatuan suku-suku Nusantara. “Jadi bangsa Indonesia banyak kakinya. Ada kaki Jawa, kaki Sunda, kaki Sumatera, kaki Irian, kaki Dayak, kaki Bali, kaki Sumba, kaki peranakan Tionghoa… kaki daripada satu tubuh, tubuh bangsa Indonesia.”2 Baca lebih lanjut

Mendapati Dia setia: perenungan pasca-RSB 2013

Logo RSB: Loving God Makes Me Loving You

Setelah dua tahun lepas dari pelayanan siswa, Allah memberikanku kado yang manis melalui RSB 2013, mempertontonkan di depan mataku sendiri kesetiaan-Nya yang besar bagiku dan bagi pelayanan siswa di Bandung. Oleh rahmat dan kesetiaan-Nya yang besar, aku yang jatuh bangun dalam mengikuti Dia dibuatnya takjub melalui hal-hal berikut.

1. RSB berkembang dalam banyak segi.

Bertema Loving God Makes Me Loving You, pesan yang disampaikan kepada siswa lebih utuh dibanding RSB sebelumnya: Jadi Murid? Hayu Atuh! Cinta kepada Tuhan yang diejawantahkan dalam kerinduan untuk mengenal Dia lebih lagi seharusnya berdampak dalam cinta kepada sesama dan kerinduan untuk bersekutu. Apa lagi hal-hal yang kusyukuri? Baca terus.

Perkuliahan Pencipta Pejuang

Melihat perjuangan para tokoh bangsa pendahulu kita, tentu kita berharap ada lebih banyak lagi pemuda-pemudi sekarang yang seperti mereka: cerdas berpikir dan berani bertindak demi kemajuan bangsa. Untuk itu, kita jangan lupa bahwa merekalah para mahasiswa Indonesia di masa awal; mereka pernah duduk di bangku-bangku kuliah. Jadi, kalau ingin “mengklon” mereka, kita perlu melihat cara perkuliahan zaman itu membentuk mereka.

Dalam banyak segi, sebenarnya perkuliahan zaman sekarang lebih baik karena telah mengalami berbagai perbaikan. Lalu apa masalahnya? Baca seterusnya.

Resensi: Hei, Kata Tuhan, “Beranakcuculah”!: Asmara dan Keluarga dalam Terang Mandat Sosial Alkitab

Hei, Kata Tuhan: "Beranakcuculah"!
Hei, Kata Tuhan, “Beranakcuculah”!: Asmara dan Keluarga dalam Terang Mandat Sosial Alkitab by Sam Tumanggor
My rating: 4 of 5 stars

Seperti biasanya, pemikiran Sam Tumanggor selalu mandiri, mencerahkan, dan Alkitabiah. Belum pernah ada buku tentang hubungan asmara yang semendarat ini dengan konteks Indonesia. Sam, dengan gaya yang tajam sekaligus humoris, menyoroti betapa pemuda-pemudi Kristen seringkali justru mempersulit diri dalam Taurat-taurat baru dalam berasmara, dan cenderung mengabaikan perintah Tuhan yang gamblang, jelas, dan agung: Beranakcuculah.

Namun, pembahasan buku ini tidak dipusatkan pada prinsip-prinsip dasar pacaran Kristen. Ada baiknya pemahaman mendasar dalam berasmara dipahami terlebih dahulu sebelum membaca buku ini, seperti pentingnya mencari pasangan yang seiman, bahayanya pacaran hanya untuk menyenangkan perasaan, dan pentingnya kedewasaan. Dengan begitu, banyak poin dalam buku ini pun jadi bening.

Ya, aku mendorong supaya setiap pemuda-pemudi Kristen di seluruh Indonesia membaca buku bagus ini!

Lihat semua resensi saya

Paris tanpa penyesalan

Pagi itu aku bergegas ke Eindhoven, namun Paris adalah tujuan akhirku. Ya, aku menikmati akhir pekan itu di Paris bersama kawan-kawanku yang kukenal melalui retret GRII di Eropa. Selain kami ingin reuni, memang aku belum pernah menginjakkan kaki ini di Kota Cahaya milik Prancis itu. (Eindhoven adalah Kota Cahaya di Belanda.) Pada akhirnya, aku sama sekali tidak menyesal, justru bersyukur, mengeluarkan biaya pesawat dan bus hanya untuk dua hari di kota yang memanjakan mata itu.

Baca selengkapnya