Gundono dan Wayang yang Tak Selesai
Di tangan Slamet Gundono, wayang adalah ihwal yang tak selesai. Selalu saja ada improvisasi yang kadang edan kadang nakal, lucu, juga politis, yang menyertai pertunjukan-pertunjukan wayang Gundono. Barangkali, kita akan menyimak paradoks: sebagaimana seni tradisi lainnya, wayang sebenarnya telah dibeku-bakukan oleh seperangkat pakem yang selama ratusan tahun terus dilestarikan dan enggan dilanggar. Tapi di tangan Gundono, wayang adalah sesuatu yang cair, plastis, dan tak punya demarkasi.
Ki Slamet Gundono
Slamet Gundono, harus diakui sebagai dalang muda yang kreatif. Sebagai pengagum Ki Nartosabdho (alm), ia ingin menjadi dalang wayang kulit yang bergaya klasik. Kemampuan dan karakter vokalnya cukup bagus, bahkan bisa disebut reinkarnasinya Ki Narto. Soal olah gerak boneka wayang alias sabet juga standar.
Hanya, dia kalah dalam persaingan antar-dalang. Lobi dan jaringan dengan konsumen dan broker sudah dikuasai dalang-dalang mainstream, yaitu Ki Manteb Sudharsono dan Ki Anom Suroto untuk gaya Surakarta dan Ki Hadi Sugito untuk gaya Yogyakarta. Karena itulah, ia mengembangkan gaya pertunjukan sendiri, seperti wayang suket yang boneka wayangnya terbuat dari rumput atau wayang gremeng yang dimainkan tanpa boneka wayang kulit. Nyatanya, dia sukses dengan hasil eksplorasi kreatifnya. Baik ditilik secara eksistensialis maupun dari sudut pandang ekonomis.
Sepatu Genderuwo
TETES embun yang bergelayut di ujung-ujung rumput seketika buyar tersapu langkah kaki seorang ibu muda yang trengginas. Dewi Maerah, wanita itu, memaksa kakinya melangkah lebar menuju ujung gang tempat penjual nasi bungkus.
Saat nasi sudah di tangan, Dewi Maerah cepat kembali menuju dapur. Sebuah panci penuh air diletakkan di atas tungku panas. Dia berpacu dengan waktu sebelum Basudewa bangun dan segera berangkat berburu. Benar juga, Basudewa bangun saat semuanya sudah terhidang.
”Dinda May, sepatu Kanda dah kering kan? Semalam Kanda mimpi dapat sepatu baru,” ujar Basudewa sambil nyeruput kopi. Jawaban Dewi Maerah tenggelam di antara gerojokan air mandi. ”Akang jangan, apaan sich Kang, malu atuh. Sepatu noh di tempat biasa,” jawab Dewi Maerah sembari sekuat tenaga menahan pintu yang coba didobrak Basudewa.
Jamu Kembang Kunir Wangi
MATAHARI baru saja masuk ke peraduannya. Puluhan kalong keluar menyambut senjakala yang baru saja datang. Sementara itu, warga Karang Kadempel bergegas menyiapkan kenduri malam itu. Nyala oncor bergoyang-goyang halus memandu jalan menuju rumah Semar.
Di rumah Semar, Lurah Karang Kadempel itu, satu-dua ibu-ibu bergantian mengisi puluhan gelas yang ditata di atas meja besar bertaplak sederhana. Gelas itu diisi ramuan khusus.
Diawali kedatangan Pandawa, berturut-turut kesatria Ngamarta memasuki pelataran rumah Semar. Malam itu, sesepuh punakawan itu memang sedang bikin slametan. Acaranya ujub syukur lantaran Semar tak sengaja menemukan ramuan tradisional kuno, yaitu Jamu Kembang Kunir Wangi. Bahan jamu itu tumbuh di antara bukit para dewa dan para raksasa.
Iklan Anak
MUSYAWARAH besar (mubes) partai besar, seperti Partai Ciplukan, Partai Gubuk Penceng, dan Partai Endas Glundung, dilaksanakan di jantung Kota Ngamarta. Mubes itu bertempat di utara Sungai Cilinglung yang baunya kayak jengkol karena polusi parah.
Sudah beberapa hari ini, mobil-mobil mewah petinggi partai berderet di tepi sungai yang airnya hitam kayak rawon itu. Penguasa partai, mulai utusan pusat hingga utusan kelas kampung, tak ketinggalan hadir. Mulai Mrs Baladewa Alfayed sampai Dul Jonni juga datang.
Mubes itu mengagendakan pembahasan iklan kampanye yang spektakuler. Sebab, sudah beberapa kali Partai Ciplukan selalu gagal menyedot perhatian publik. Malah, hasil perolehan suara di lapangan selalu jeblok karena iklan yang tidak cerdas. Akhirnya, hasil mubes secara bulat menyatakan bahwa seluruh partai bisa menghalalkan segala cara dalam berkampanye.
Hukum Penabur
KELUARGA Semar selalu dididik bekerja keras dan berbuat baik pada siapa pun. Terutama Bagong. Meski tubuhnya mblendhuk-lemu linthu, dia suka menolong dan baik hati. Namun, entah kenapa, pagi ini suasana hatinya berubah. Itu terlihat saat tangannya asyik mencuci piring di dekat sumur belakang rumah.
”Busyet, dah. Membosankan. Lagi-lagi khotbah kebaikan mulu. Kagak ada lainnya. Moo! Makan tuh kebaikan!” seru Bagong mengomentari Semar yang sedang mandi.
”Ngger, kita ini kawula alit. Jangan mimpi cepat panen besar seperti Gatotkaca, Wiyasa, atau Kresna,” timpal Semar. Bagong tambah mbesengut. Klontang..krompyang..tang! Beberapa peranti makan dari seng sengaja ditendang Bagong sambil ngeloyor pergi tancap gas sepeda onthel (eh, emang sepeda onthel ada gasnya? Gimana sih dalangnya?)
Hikayat Bom Rumah
RERIMBUNAN pohon, air mancur, dan sesekali celoteh gelatik juga poksay membuat istana kerajaan Ngastina seakan asri dan nyaman. Padahal, di salah satu ruangan dengan penjagaan ketat, asap putih pekat keluar dari sela bibir Duryudana. Di seberang meja, Dursasana mengerutkan dahinya. Sengkuni njengkerung, tubuhnya seolah rata dengan kursi yang didudukinya.
”Kepriben bae, Duryudana must be numero uno,” celoteh Dursasana. ”Pasti! Kalaisme kudu tembus semua lapisan,” tambah Duryudana. Sengkuni hanya diam, menerawang jauh. Imaginasinya mengingatkan kembali pada kegagalan yang sudah-sudah. Dan kata kuncinya tinggal: Lenyapkan target utama penghalang! Dan itu tak lain, Pandawa Lima yang kukuh dengan cinta dan kemerdekaan.
Gunung Kekuasaan
PULUHAN burung penguin salju silih berganti bersiutan di lereng Zety, sekitar 5 kilometer menjelang puncak Himalaya. Burung-burung itu terusik, seperti ketenangan lereng gunung yang tiba-tiba berubah menjadi badai magnet. Tampak Semar dan Togog saling berhadapan dan adu kepastian. Sedangkan Batara Guru menonton dalam posisi siap duel.
Mereka bertiga memperebutkan siapa yang paling sakti untuk jadi presiden di dunia wayang.Semar dan Togog tampak tancap gas. Semar memakai ketapel batu berisi mantra kuncung yang menyebarkan magnet getaran gaib. Sedangkan Togog memakai gaman tulup beracun yang membuat langit menjadi gelap. Jerit kesakitan dan percik darah burung penguin yang terkena efek pertarungan memerahkan salju pegunungan Himalaya. Kejam. Batara Guru yang juga tak luput dari efek pertarungan maha dahsyat itu langsung salto. Dia mencoba melindungi penguin dari kepunahan.
Gubernur Awang-Uwung
TETES embun pagi masih menggelayut manja di pucuk hijau dedaunan. Di keheningan pagi itu, Semar membalik-balik halaman koran pagi. Yang dipelototi Lurah Karang Kedempel itu adalah halaman Opik (Opini Kita). Ki Lurah yang badannya ginuk-ginuk itu terus mengernyitkan dahi tatkala membaca ulasan Manikmaya tentang dana 269 miliar untuk pilgub putaran kedua.
Setelah membaca, Semar tersenyum dikulum. ”Banyak yang berminat jadi pejabat. Tapi, mereka lupa belajar pada binatang,” katanya. Bagong yang sedang ndeprok sambil mengintip iklan bioskop di koran kontan tertarik. ”Maksud loe primen, Daddy?” tanya Bagong.
Geger Pornografi
”Mom, kita harus singkirkan tradisi komunitas kita yang selalu semrawut dalam berpakaian. Itu cara celamat dari aturan undang-undang pornografi,” kata Dewasrani, anak lanang Durga yang baru pulang dari Kahyangan Jonggring Salaka. Kahyangan, tempat persemayaman para dewa yang berkuasa, kini sedang punya gawe. Yaitu, penyusunan undang-undang pornografi. Undang-undang itu terkesan memaksakan kehendak tanpa rembugan dengan khalayak wayang.
Durga hanya tersenyum mendengarnya. Ya, Dewasrani sedang panik. Sebab, anak buah ibunya, demit, setan, gendruwo, suka berdandan sekenanya. Ambil contoh, Non Rara Gembluk yang tubuhnya terlalu seksi. Pakai apa saja tetap hot. Ada lagi Om Buta Rambut Geni. Penutup auratnya minim sekali. Sebab, api di kepalanya selalu membakar apa saya yang melekat di tubuh. Dewasrani mengusulkan agar dua orang itu dijadikan uji coba sebelum undang-undang pornografi disahkan. Mereka harus diuji tes kesopanan pada Prof Kamajaya, si jago etika.
