Saat pernikahan disebut sebagai penyempurna setengaah agama, mungkin inilah salah satu yang jadi alasannya. Dalam pernikahan, dibutuhkan adanya komunikasi yang intens antara suami-istri. Cara yang paling tepat untuk membangun komunikasi itu adalah dengan hidup bersama, tidak terpi!sah di tempat/kota yang berbeda. Karena saat tinggal terpisah, akan ada rasa sepi di saat-saat tertentu. Keadaan ini dapat menjadi celah masuknya pihak ketiga yang harusnya tidak boleh ada dalam pernikahan. Mungkin awalnya pihak ketiga ini hanya seorang teman lama yang bernostalgia masa sekolah lewat media sosial, namun jika nostalgia itu berlangsung hampir tiap hari, maka akan membuat dua orang teman ini terhanyut dalam kenyamanan sendiri dan mulai lupa bahwa salah satu dari mereka telah memiliki pasangan sah.
Darisini keimanan itu mulai diuji. Yang awalnya alim saja masih mungkin terlena, apalagi yang imannya di tepi sungai, tentu lebih mudah untuk jatuh da tenggelam dalam asiknya bercengkrama mesra dengan orang yang tidak halal baginya. Awalnya mungkin hanya lewat ada medsos, kemudian merasa butuh untuk kopdar. Apa yang dilakukan saat kopdar??? Apapun bisa terjadi, apalagi saat iman mulai lepas dari hati dan akal, maka nafsu syahwatlah yang bekerja. Na’udzubillah min dzalik!
Dan pasangan halal pun tak lagi jd prioritas utama, lbh mengharapkan datangnya telpon/sms/bbm dari “teman lama” ketimbang dari pasangan halalnya. Dan di saat yang sama tapi dari tempat lain, sang pasangan mulai merasakan ada rutinitas yang berbeda dari belahan jiwanya. Timbullah keresahan, kecurigaan, dan prasangka buruk lainnya.
Sikap awal yang ditampakkan untuk meredam prasangka-prasangka itu mungkin adalah berusaha positif thinking. Tapi kalo sang belahan jiwa makin terasa jauh, adakalanya perlu melakukan investigasi lanjut, timbul curiga, kepercayaan yang selama ini digenggam mulai luruh.
Hingga akhirnya dengan caraNya, Allah buka tabir pengkhianatan yang dilakukan sang belahan jiwa. Sakit???? Kecewa??? Merasa dikhianati??? Marah???? Semua adalah reaksi awal yang wajar. Apa yang selanjutnya harus dilakukan??? Inilah yang akan menunjukkan kualitas iman seorang istri/suami yang cinta dan kepercayaannya telah dikhianati.
Pernikahan mempertemukan dua insan yg berbeda isi pikirannya, berbeda latar belakang adat budaya, berbeda karakter, dan perbedaan2 lain. Pernikahan adalah adaptasi dan pembelajaran terus menerus, pernikahan adalah ujian iman, kesabaran, kebijaksanaan, kesetiaan, kepercayaan, amanah, ….
Saat bukti pengkhianatan pasangan tergambar nyata, dunia seakan runtuh tuh tuh. Logika seakan tidak mampu mencerna. Bagaimana tidak, orang yg selama ini dihormati, dijunjung, dinomorsatukan, dilayani dg sebaik-baiknya, dibela meski saat salah, tega menyakiti. Seolah-olah lupa dengan semua yg sudah diberikan oleh pasangannya.
Hanya saja, segala sesuatu tidak terjadi secara kebetulan. Ada hikmah yg ingin Allah tunjukkan dg kejadian buruk semacam ini. Hikmah kesabaran, hikmah iman, hikmah ketaatan, hikmah terhapusnya dosa2 masa lalu, krn sakitnya kaki yg tertusuk duri saja, ada ampunan Allah di sana atas dosa2 hambaNya. Mungkin selama ini ada sifat takabur, kurang bersyukur, ibadah yg kurang ikhlas, atau keburukan-keburukan lain yg sengaja/tidak sengaja kita perbuat.
Maka selanjutnya, yg harus dilakukan adalah introspeksi diri dr kesalahan2 yang telah kita perbuat pada pasangan, pada orangtua, terutama pada Sang Khaliq. Lalu memperbaiki diri, memperbaiki kualitas ibadah, memperbaiki perlakuan terhadap pasangan,memperbaiki hubungan dg keluarga. Yg tidak kalah penting, bicara dari hati ke hati dg pasangan, mencari tau sebab pengkhianatan dan mencari solusi agar tidak ada kejadian yg sama di waktu berikutnya.