Posted by: wibi | October 7, 2024

Proyek Kesenian Keluarga

Tema 1 Kelas Sampiung (nama kelas 7 anak pertama kami, Alfie) ini sangat menarik, di mana anak-anak diajak untuk menyelami diri. Neuleuman Kana Diri, nama temanya.

Lebih dalam lagi, selain menyelami ke dalam diri, juga diajak menyelami untuk lebih dekat bersama keluarga dengan adanya Proyek Kesenian Keluarga.

Di proyek ini, masing-masing anak diminta untuk mengajak kolaborasi anggota keluarga dekat untuk membuat suatu karya kesenian. Persiapannya dilakukan selama 2 minggu.

Jenis keseniannya boleh apa saja. 

Ada yang membuat seni lukis bersama Ayahnya.

Ada yang berkolaborasi dengan Uti-nya (Nenek) untuk membuat karya jahitan.

Ada yang menampilkan time travel fotografi Bandung Tempo Doeloe dibandingkan dengan kondisi saat ini.

Ada yang bernyanyi bersama Ayahnya diiringi dengan alat musik drum elektrik yang dibawa ke dalam kelas. Seru.. 

Apalagi membawakan lagu “Creep”-nya Radiohead. Lagu tahun 90-an euy..

Berasa ingat jaman waktu muda dulu hahaha..

Iya, kami para orangtua ternyata sudah tua.. Anak-anak yang sudah beranjak dewasa hehee..

Lalu, ada juga yang membuat sebuah lagu bertemakan keluarga.. dan karya-karya ciamik lainnya dengan nara sumber beragam.

Di tulisan ini, saya akan menceritakan bagaimana Alfie melakukan kolaborasi bersama nara sumber dari keluarga, seorang Vocal Coach, Etnomusicologist-orang yang mempelajari musik-musik etnik dan juga seorang pengajar di Unpar, namanya Rayhan Sudrajat. Akun ig-nya @rayhansudrajat.

Follow ya, suaranya kereen hehhee..

Kami bertiga.. saya, Fera (Ibunya Alfie) dan Alfie, mulai berdiskusi kira-kira siapa yang akan menjadi kolaborator di proyek ini.

Dari beberapa pilihan, pilihan jatuh kepada Om Rayhan-panggilan Alfie ke nara sumber, karena Beliau tinggal di Bandung, dan istrinya Om Rayhan sering berkomunikasi dengan Fera.

Janji pertama kami buat untuk bertemu melalui Zoom terlebih dahulu antara Alfie dan Om Rayhan. Kami hanya curi-curi dengar saja di belakang.

Kami sengaja meminta Alfie yang berkomunikasi langsung dengan Om Rayhan supaya dia belajar bagaimana menyampaikan maksud dan tujuan proyek itu ada. Di sini ilmu komunikasi diasah.

Setelah Alfie menjelaskan latar belakang kenapa proyek ini ada, Om Rayhan meresponnya dengan baik.

Di pertemuan itu, mereka berdua sepakat untuk membuat sebuah lagu bertemakan keluarga. Alfie akan bermain recorder dan Om Rayhan akan mengiringinya dengan gitar. Kenapa recorder? Karena sejak dapat pelajaran bermain recorder di kelas 6, Alfie memang jadi hobby memainkannya setiap hari sehabis mandi pagi.

Janji kedua, melalui zoom lagi karena Alfie dan Om Rayhan sama-sama ada kegiatan, jadi sulit untuk mengatur janji temu secara langsung.

Di sinilah proses pembuatan lirik dan lagunya.

Alfie diminta untuk memainkan recorder dengan nada yang acak secara berulang-ulang. Dari nada acak yang berulang-ulang itu, diambil lah musik yang sekiranya catchy, sambil direkam oleh ponsel agar bisa diulang kembali untuk latihan.

Nah, di sini Alfie sempat lupa untuk mengcopy paste liriknya. Jadi lupa untuk menangkap apa aja ya lirik lagunya itu. Untung setelah diingat-ingat, nyambung lagi, dan masuk ke lagunya.

Di proses pembuatan lagu dan lirik itu, kreatifitas muncul. Kebebasan berekspresi juga terfasilitasi.

.

.

H-1 penampilan, akhirnya Alfie dan Om Rayhan bisa bertemu tatap muka untuk latihan bersama dan rekaman. Kami sekeluarga berkunjung ke rumahnya Om Rayhan dan Alfie masuk ke ruang studionya untuk rekaman di sana. Alat-alatnya lengkap untuk mengambil rekaman musik dan vokal.

.

Hari H penampilan pun tiba.

Sebelum giliran Alfie tampil, narasumber sudah datang lebih dulu dan sempat melihat beberapa penampil lainnya.

Sambil menonton, Om Rayhan nanya-nanya ke saya,

“Mas, itu anak-anak megang kertas kecil dan nulis apa?”

“Oh itu lembar apresiasi dan saran pengembangan”, jawab saya.

Om Rayhan pun tersenyum mendengar jawaban saya.

Memang menarik, anak-anak sudah terbiasa untuk melakukan apresiasi dan saran pengembangan sejak jenjang SD.. ketika menjadi Kapten Kelas, yang berubah tiap minggunya, juga saat presentasi sesuatu.

Ini bagus menurut saya. Anak-anak jadi sudah terbiasa memberikan pujian akan apa hal yang bagus, juga memberikan saran agar penampilan temannya bisa lebih berkembang.

Yang menarik lagi, ada pertanyan lain dari Om Rayhan ke saya, “Mas, apa hal menarik menurut Mas Wibi dari sekolah ini, yang tidak ada di sekolah lain?”.

Saya bilang, “Pendidikan di Sekolah ini, Holistik. Metode pembelajarannya dinamis. Lihat saja, anak-anak di kelas pada nyeker. Belajar di kelasnya pun bisa berubah-ubah posisi duduk. Kadang melingkar, kadang letter U, kadang pake meja, kadang di luar ruang, ngundang nara sumber, nonton film dan lain-lain. Kalau di sekolah pada umumnya, anak-anak hanya duduk di belakang meja mendengarkan guru menjelaskan materi di depan. Dan di sini, anak-anak dibantu untuk bisa memunculkan masing-masing bintangnya, yang berbeda-beda dan unik. Jadi keluar dari Sekolah ini, sudah tahu bintangnya apa.. tidak seperti mesin fotokopi, keluarnya sama semua.”

Om Rayhan pun mengangguk-angguk tersenyum. Oh iya, Om Rayhan ini juga ada rencana menyekolahkan anaknya di Sekolah ini nanti ketika kelas 1 SD. 

.

.

Tibalah giliran Alfie ke depan untuk menampilkan karya kolabirasinya.

Dari nyanyian yang ditampilkan, ada kesan mendalam yang diberikan oleh Kak Hanif-pengajar matematika anak-anak. “Lagunya bagus, vibes keluarganya kerasa banget”, katanya.

Kami sebagai orang tua, ikut terharu juga. Karena memang demikianlah adanya. Kami selalu bersama. Ke mana-mana ya bareng. Kebersamaan itu tergambar sangat pas di dalam lagu itu.

Jadi di proyek ini, ternyata kami dapat bonus, lagu keluarga yang bisa diputar berulang-ulang sebagai anchoring-kalau dalam bahasa NLP- untuk kita selalu bersama, dalam suka maupun duka.

Di kertas apresiasinya, saya pun membaca semua tulisan teman-temannya Alfie. Ada yang menarik komennya. “Gak nyangka, ternyata kamu jago”. Entah jago apa, jago nyanyikah, jago main sulingkah, atau jago bikin lagu. Yang pasti, melalui Proyek Kesenian Keluarga ini, anak-anak diberikan kesempatan untuk memunculkan bakat-bakat lain yang mungkin selama ini belum terfasilitas secara utuh.

Terima kasih banyak untuk sekolahnya anak-anak, yang sudah membuat program pendidikan holistik seperti ini..

Salam super.

Oh ya, dibawah ini saya lampirkan link lagunya. Silahkan didengarkan bersama keluarga ya.. Di mobil seru nyanyi bareng-bareng. Cobain deh.. Hehee..

Posted by: wibi | January 7, 2014

Harga Sebuah Nama

diposting Selasa, 7 Januari 2014

(draft Bandung, 1 Januari 2014)

Awal tahun ini diawali dengan komitmen selama 30 hari untuk menulis di blog yang pernah dibuat sebelumnya dengan tagar #30Tulisan.

Hmm, menarik. Ini tentang komitmen pribadi. Sebagaimana komitmen saya di 2013 untuk tidak membeli celana Jeans Levi’s yang tidak pernah ada sale-nya itu.

Tentang apa ya.. Ahaa, kebetulan, dapet tagihan utk memperpanjang nama domain dari Jasa Penyedia Domain. Ok, langsung deh dibayar tagihan itu. Murah, hanya Rp.95.000 per tahun.

Teringat seorang kawan, yang bukunya lahir dari sebuah blog, dari tulisan-tulisannya, teringat gaya tulisan Sang Pencipta Tokoh LUPUS, Hilman Hariwijaya.

Sayang, nama blog hits-nya lupa diperpanjang. Alhasil, nama domainnya sudah dibeli orang lain, dan ketika akan diperpanjang, sudah keburu dibeli orang lain dan lebih mahal harganya.

Sama seperti halnya nama domain wwwDotLunaMayaDotCom, kalo kita perhatikan, itu isinya kosong. Orang hanya membeli nama domainnya saja, memanfaatkan ketenaran seorang Luna Maya. Mungkin bisa jadi, nama domain itu sengaja terus diperpanjang dari tahun dibuatnya semenjak 2002 sampai sekarang, hanya untuk mem-block, supaya nama domain itu tetap dimiliki oleh dia. Ketika sang punya nama, Luna Maya sendiri ingin memilikinya, bisa jadi harganya selangit. Dan memang itu tujuannya, menjual nama domain itu ke si pemilik nama aslinya dengan harga mahal.

Contoh lain, kita lihat ke belakang tahun 2012, ketika Andik Vermansyah sempat menjadi bintang di ajang Sepakbola AFF. Malam itu juga, nama domain AndikVermansyahDotcom sudah ada yang memiliki. Namun sekarang nama domain itu sudah bisa bebas dimiliki oleh siapa saja.

Itulah harga sebuah nama.

Nah, untuk Anda yang ingin memiliki nama domain dengan nama Anda sendiri, silahkan dicek, apakah sudah ada yang punya atau belum?

Selamat men-check.

Posted by: wibi | January 6, 2014

Admin Grup

Diposting Senin, 6 Januari 2014

(draft Bandung, 3 Januari 2014)

Sejak hari ini, setelah 9 bulan saya menjalankan bisnis 4Life, memberanikan diri untuk menjadi Grup Admin 4Life di bawah organisasi yang saya bangun.

Belajar dari para upline, dari para Admin Grup yang lain.

Mereka semua sama, mewadahi kesamaan dan membuat komunitas yang dibangun akan semakin hidup dan tali silaturahmi tetap terjaga.

Grup 4Life pun saya buat, untuk mewadahi para mitra berbagi informasi, testimoni, jadwal pertemuan, motivasi, training, dan informasi-informasi lain yang bermanfaat.

Tentu, sebagai grup admin, saya tidak bisa membuat semua orang senang. Ada yang gak suka, mungkin karena merasa tidak ada manfaat. Ketika diundang, sejenak langsung left grup. It’s ok. Itu pilihan dia. Dan saya sebagai admin harus menghormati keputusannya juga.

Bahkan ada admin grup lain yang saya ikutin, bertindak tegas dan konsisten. Secara berkala, melakukan absen. Member yang tidak absen, langsung dikeluarkan dari grup. Seru sih acara absen ini hehhee..

Dengan absen, akan menyaring orang-orang yang serius ada di grup. Yang saling berbagi dan mendukung, bukan hanya pasif sebagai pendengar dan penyerap informasi.

Berbagilah, biarkan orang lain tahu dari kita. Jadilah penebar manfaat.

Tantangan lain sebagai grup admin adalah bagaimana membuat diskusi di dalam grup hidup. Obrolan tetap terjaga dan masing-masing member saling bersaut-sautan. Itu akan menghidupkan suasana. Komunikasi pun menjadi semakin erat.

Jika ada waktu, luangkan waku untuk bertemu, kopi darat. Jadi masing-masing member bisa bertemu dan tatap muka.

Bisa jadi, orang yang di grup rajin berkicau, ketika kopi darat, mungkin dia akan lebih diam.. 🙂

Posted by: wibi | April 4, 2013

Sistem Imun, Sistem Pertahanan Tubuh Kita..

Fakta ini saya ceritakan sebagai pertimbangan Saya, Anda dan orang-orang terdekat untuk selalu menjaga kesehatan. Semoga bermanfaat.

 

Ceritanya dimulai bulan Juli 2012.

Ayah, 62 Tahun. Perokok.

Di waktu muda, Ayah saya selalu olahraga, dan gak pernah dirawat di rumah sakit.

Kondisi berat badan Ayah saya turun drastis, dari 67kg turun ke 57kg, 10kg turunnya.

Ibu saya menyarankan untuk periksa ke dokter pertamina.

Dokter pertamina menyarankan untuk segera diperiksakan ke RS Sentosa.

Dirawat di RS Sentosa selama 10 hari.

Di RS Sentosa, diambil cairan dari paru2 dan dari kelenjar limpanya.

Hasil lab, paru-parunya bersih. Namun dari limpomanya ditemukan beberapa benjolan kecil.

Ternyata dari hasil lab, Ayah saya mengidap Kanker Kelenjar Getah Bening (Limpoma).

Dokter pertamina menyarankan untuk dirawat oleh Dokter terbaik, dan dirujuklah ke RS Borromeus.

Di Borromeus di Kemo dan dirawat oleh Dokter Spesialis namanya:

dr. Trinugroho Heri Fajari Sp.PD-KHOM

Internis, Hamatologi, Onkologi.

 

Ayah saya tidak bisa dioperasi, karena benjolannya kecil-kecil dan sudah menyebar.

Maka diputuskanlah untuk menjalani Kemoterapi.

Kemoterapi direncanakan berjalan sebanyak 6 kali, 3 kali Kemo dosisnya masing-masing sepertiga. Jadi total terapi ke RS sebanyak 9 kali.

Ibu saya bolak balik menemani Ayah saya periksa dan terapi Kemo.

Nah di tengah-tengah Kemo, di UGD, Ibu saya ketemu orang yang Ibunya sakit kanker juga. Kanker Serviks.

Dia bilang, Ibunya membaik setelah konsumsi 4Life Transfer Factor Plus.

Begitu Ibu saya pulang ke rumah, Ibu saya meminta saya untuk mencari produk ini.

Oktober 2012, ketemulah saya dengan orang yang mengenalkan produk ini dan saya membeli 3 botol dulu untuk Ayah saya.

Owiya tambahan, sebelum dikenalkan produk ini, Ayah saya sempat konsumsi berbagai produk lain seperti Xam**on* dan Pro**li*.

Nah setelah kenal dengan 4Life Transfer Factor, Ayah saya perubahannya membaik dan cepat.

Ayah saya konsumsi 15 kapsul per hari (3 kali 5).

Hal ini diketahui dari hasil lab.

Sebelum Kemo dicek di Biotest, setelah Kemo dicek juga di Biotest.

Hasil dari Biotest selalu menunjukkan ke arah yang positif.

Kemudian saya membeli produk 4Life lagi. Karena membutuhkan banyak, saya beli langsung 12 botol.

12 botol khusus untuk stok Ayah saya.

Sampai pada 1 Desember 2012, Ayah saya dinyatakan sembuh total dan tumornya tidak ditemukan.

Ini dilihat dari hasil CT Scan. Dokter pun pernah bilang bahwa kalau di-kemo, ada kemungkinan menimbulkan efek samping pada organ-organ tubuh lainnya, dan Alhamdulillah itu tidak terjadi di Ayah saya.

Dokter pun heran dan takjub. Jarang ada orang seperti ini. Setelah 1 Desember 2012 itu, Ayah saya bisa melakukan aktivitas seperti sediakala. Bahkan naik turun tangga gendong cucu (Alfie), masih bisa. Padahal waktu pertama kali Ayah saya memeriksakan diri ke dokter, harus dibantu dengan kursi roda.

Menurut dokter, pasien yang setelah kemoterapi harus bener-bener menjaga pola hidupnya karena kemoterapi menurunkan Sistem Imun Tubuh.

Jadi sebaiknya pasca kemoterapi, pasien dijaga makanannya dan kalau bisa pakai masker kalau pergi ke tempat umum.

Nah, saya merasa Ayah saya lengah dalam menjaga kondisi tubuhnya yang sebetulnya masih lemah akibat kemoterapi.

Ayah saya sempat ke Gasibu sendirian naik angkot, dan pulang ujan2an, bahkan ke pasar tradisional menemani Ibu saya tanpa menggunakan masker.

Juga, sempat dua hari gak minum 4Life Transfer Factor. Begitu minum lagi pun, sempat dikurangi dosisnya menjadi 9 kali sehari (3 kali 3).

Sedangkan sebaiknya, setelah sembuh, masi tetap konsumsi 4Life Transfer Factor dengan dosis tetap selama 6 bulan.

Setelah 6 bulan dosisnya bisa dikurangi, lambat laun sampai ke dosis normal untuk menjaga kesehatan.

Satu setengah bulan kemudian, Ayah saya sakit lagi dan diperiksa ke Dokter.

Awalnya dikira sakit Cikungunya, kemudian dikira Demam Berdarah (Panas Tinggi sampai 41,6 derajat).

Setelah diperiksa lebih lanjut, ternyata Limpomanya kambuh lagi.

Dan perlu menjalani Kemoterapi Tahap kedua. Rencananya akan dijalani selama 4 bulan, perbulan dikemo selama 3 hari.

Selasa, 5 Maret 2013 masuk Borromeus.

Rabu, 6 Maret 2013 dikemo pertama,

Kamis 7 Maret 2013 dikemo kedua, sempat dosis 4Life dinaikkan dosisnya dan tekanan darah naik lagi dari yang sempat turun.

Jumat malam 8 Maret 2013, Ayah saya masuk ICU.

Sabtu, 9 Maret 2013 pukul 07.00, Ayah saya tidak tertolong lagi. Dan menghembuskan nafas terakhirnya di Borromeus.

Tujuan saya menulis tulisan ini, saya ingin membantu semakin banyak orang terutama yang pernah mengalami apa yang pernah dialami Ayah saya.

Semoga dengan informasi ini, kualitas hidup orang yang sakit bisa membaik.

Karena saya merasakan manfaat produk ini, maka saya memutuskan untuk menjadi distributor agar bisa memperoleh harga yang jauh lebih ekonomis.

Sampai sekarang, semua keluarga saya minum untuk jaga kesehatan, termasuk Alfie, putra pertama saya, yang mulai usia 12 bulan, konsumsi ini juga.

Pada saat anggota keluarga merasa gak enak badan, dosisnya dinaikkan.

Silahkan disharing tulisan ini ke semua orang yang sekiranya perlu.

Semangat kawan-kawan.

Tulisan ini juga saya emailkan ke:

Fera istri saya, Kakak saya, dan Adik saya.

Mereka semua mengalami dan mengetahui kronologisnya karena sama-sama mendampingi Almarhum sampai mengantarkan ke liang kuburnya.

quote dari Adik saya :

Ajal memang Alloh yang menentukan. Tapi manusialah yang berusaha untuk merubah takdirnya. Dan keyakinan saya, Alloh pun akan mengerti sebagaimana keras kita berusaha dan segimana besar keinginan kita untuk tetap hidup sehat dan membahagiakan orang-orang sekitar.

Menjaga kesehatan bukan hanya untuk diri sendiri, tapi juga untuk orang-orang sekitar yang sangat sayang sama kita.Dan 4life transfer factor membantu menjaga orang-orang yang kita sayangi untuk bisa menjalani harinya dengan baik, tentunya bersama kita.. :)

-Astrid-

 

disupport penuh oleh www.Agen4Life.com dan www.4LifeBandung.comImage

Posted by: wibi | March 15, 2013

Sang Petualang..

Tasikmalaya, 15 Maret 2013, 18:19 wib

“Sang Petualang sejati selalu menganggap kilatan petir sebagai petunjuk jalan dalam gelapnya hutan belantara..”

Hmm.. Kalimat itu pernah terlontar dari mulut Almarhum Ayah saya, ketika Beliau bercerita bagaimana Beliau memulai karirnya dengan merantau jauh dari orang tua.

Dengan merantau, jiwa petualang kita akan terlatih dan tumbuh. Jiwa mandiri pun demikian.

Di perantauan, kita akan “dipaksa” untuk bisa beradaptasi dengan lingkungan sekitar. Hal itulah yang membuat kita tersadar bahwa kita sebagai makhluk sosial tidak bisa hidup sendirian.

Pada jaman dahulu, Nabi melakukan perantauan dengan istilah berhijrah. Pindah ke tempat lain.

Hijrah tidak bisa kita hindari. Dengan beradaptasilah maka kita akan tetap bertahan. Selamat berhijrah kawan.

Posted by: wibi | March 14, 2013

Produktif Di Manapun Kapanpun

Tasikmalaya, 14 Maret  2013, 08:04 wib

Masih jauh dari tempat saya beraktifitas seperti biasa di Bandung. Saat ini saya masih berada di Tasikmalaya, tempat Ayahanda dimakamkan.

Walaupun jauh, namun pikiran ini tetap ingin bekerja produktif dan aktif. Segala cara saya lakukan. Informasi saya gunakan sebagai bahan untuk produktif.

Ada twitter, instagram, path, email yang saya gunakan sebagai bahan untuk tetap berhubungan dan mengisi otak produktif dan bahkan skype untuk tetap bisa bertatap muka dengan anak dan istri di Bandung.

Beruntung Anda-anda yang berada di era digital ini. Jarak sudah tidak menjadi kendala yang berarti.

Era digital, mempermudah transaksi dan mempermudah cara orang hidup. Manfaatkan dan belajar tiada henti. Karena orang yang berhenti belajar, lambat laun akan mati.

Teringat kalimat filsuf, “Orang yang bertahan hidup bukanlah orang yang kuat, namun orang yang mampu beradaptasi”. Maka, beradaptasilah, bergaullah..

Selamat beraktifitas Kawan.. Perjuanganmu untuk kebahagiaan orang-orang terdekatmu.

Disupport penuh oleh http://www.4LifeBandung.com

Posted by: wibi | March 13, 2013

Tak Usah Berlarut-larut Dalam Kesedihan

Tasikmalaya, 13 Maret 2013, 20:22 wib

Kehilangan memang berat. Namun bagaimanapun, ajal manusia pasti tiba. Kita pun sedang dalam antrian menuju alam kubur.

Sudah hari keempat Ayahanda meninggalkan kami. InsyaAllah Almarhum tenang di alam kubur.

Tugas kita yang masih hidup, teruslah berbuat baik dan mendoakan orang yang sudah mendahului.

Berlarut-larut dalam kesedihan hanya akan membuat sulit hisab Sang Almarhum di alam sana. Ikhlaskanlah, doakanlah, dan teruskanlah kebiasaan-kebiasaan baik Beliau..

Selamat jalan Ayahku, tunggu kami di Surga yaa..

Posted by: wibi | February 28, 2013

Bank Sebagai Sarana Transaksi

Bandung, 28 Februari 2013, 10.15 wib

image

Zaman dulu,gak ada yang namanya bank. Pertukaran barang dilakukan secara barter. Kamu punya apa, saya punya apa, cocok, silahkan ditukar.

Seiring berjalannya waktu, metoda barter mulai ditinggalkan karena dianggap menyulitkan. Bayangkan, saya hanya butuh beras 10kg yang harganya sekitar 200ribuan, dan saya punya 1 ekor sapi yang harganya sekitar 11jutaan. Kalo dibarter begitu saja, tentu saya rugi bukan..

Kemudian muncullah standar baru berupa emas dan perak. Tiap barang dan jasa dinilai dengan logam mulia ini. Permasalahan pun muncul. Kemana2 kita mesti bawa logam mulia ini yang tentu merepotkan dalam hal membawanya.

Sampailah kita pada zaman sekarang, alat tukar berupa uang. Uang kertas, ringan dan mudah dibawa kemana2. Semakin maju zaman, uang pun berubah menjadi sebuah kartu plastik. Entah itu kartu kredit maupun kartu debit.

Bank, ialah salah satu institusi yang dengan berbagai macam kemudahannya memberikan layanan bagi kita untuk melakukan transaksi. Ya, transaksi. Bukan yang lain.

Menabung bagi saya tidak cocok di bank. Menabung itu cocoknya di aset fisik yang nilainya terus naik dibanding inflasi. Syukur-syukur aset fisik itu bisa produktif. Misal rumah yang dikontrakkan atau simpanan emas yang bisa diperjualbelikan.

Benar, bank hanya hanya sebagai alat transaksi, tidak lebih.

Posted by: wibi | February 27, 2013

Bersyukurlah Jika Diingatkan..

Bandung, 27 Februari 2013
16:37 wib

Setiap orang pasti mengalami jatuh sakit. Namun setiap orang juga pasti tidak mau merasakan jatuh sakit.

Sakit terkadang melelahkan, baik bagi penderita maupun bagi orang-orang di sekitarnya.

Namun, dibalik rasa sakit itu, banyak terkandung hikmah. Kita akan merasakan betapa nikmatnya sehat, semakin bersyukur karena sehat itu menyenangkan dan semakin berhati-hati dalam menjaga tubuh.

Tulisan ini ditulis sambil menunggu Ayah saya yang kontrol kesehatan di Borromeus, karena beberap bulan lalu menjalani proses Kemoterapi dari penyakit Kanker Kelenjar Getah Beningnya.

Semoga Papa tetap sehat ya. Cucumu selalu riang bermain bersamamu.. 🙂

Posted by: wibi | September 14, 2011

Mulai lagi..

Bandung, 14 September 2011 06.44 wib

 

Sudah lama jari jemari ini tidak bergerak dalam menuliskan buah pikiran di halaman blog ini..

Seiring banyaknya Suhu yang saya follow di twitter tentang pentingnya kegiatan menulis, maka aktifitas ini akan saya mulai kembali.. Semoga bisa menjadi healing bagi jiwa yang terus bergerak naik turun. Aamiin..

 

Ok, tulisan kali ini tentang pentingnya keberanian dalam bergerak.

 

Kegagalan = Langkah Sukses
Sumber: Resensie.net

Motivasi dari Orang Sukses :

Sukses seringkali datang pada mereka yang berani bertindak,
Dan jarang menghampiri penakut yang tidak berani mengambil konsekuensi.
(Jawaharlal Nehru)

 

Ketahuilah, bahwa setiap orang memiliki rasa takut, baik dia orang biasa, orang sukses, orang besar, prajurit maupun jenderal, rakyat maupun pejabat pemerintah. Yang membedakan hanyalah bagaimana mereka bereaksi saat rasa takut itu muncul. Seorang pemberani membiasakan dirinya melawan rasa takut dan tidak membiarkan rasa takut mengalahkan dirinya, sehingga muncul sifat keberanian sebagai pengganti rasa takut.

Sedangkan kegagalan merupakan langkah-langkah yang mendekatkan kita pada kesuksesan/ keberhasilan. Dari kegagalanlah kita tahu bahwa metode yang kita pakai salah, atau alat yang kita pakai kurang tepat, atau bahkan kemampuan kita yang masih kurang. Kesuksesan semakin dekat karena kita akan menggunakan metode lain, atau mengganti dengan alat yang lebih tepat atau membuat perencanaan yang lebih matang, atau kita perlu menambah kemampuan / skill kita atau langkah-langkah lain yang tentu berpeluang lebih besar untuk berhasil.

Yang membebani lankah awal menuju kesuksesan adalah rasa takut gagal. Semua orang merasakan ketakutan pada kegagalan. Hanya saja bagi seorang cerdas dan bercita-cita kuat, rasa takut gagal itu ia gunakan untuk berhati-hati dan mempersiapkan diri sebelum berusaha sekuat tenanga. Ia tahu perasaan takut gagal harus dikalahkan, karena orang tidak bisa sukses atau berhasil jika tidak bisa mengalahkan ketakutannya pada kegagalan.

Maka jika seseorang merasa takut gagal dan takluk oleh perasaan itu, jangan pernah bermimpi untuk menjadi orang sukses, jangan bermimpi untuk menjadi orang besar, dan janganlah bermimpi tentang hal-hal luar biasa yang bisa ia dapatkan dalam kehidupannya.

Hidup tidak selalu harus naik, adakalanya kita perlu turun. Seperti seorang pendaki gunung yang harus turun gunung dulu sebelum mendaki gunung yang lain.

Semoga Bermanfaat….

Selamat bergerak, selamat mencoba, selamat menuai hasil..

 

Older Posts »

Categories

Design a site like this with WordPress.com
Get started