
BACKGROUND
Setiap permasalahan membutuhkan teori, gagasan, tindakan, aksi atau penelaahan, agar permasalahan tersebut berhenti sebagai permasalahan dan berubah menjadi sesuatu yang tidak perlu dipertanyakan lagi. Teori dan gagasan merupakan solusi tentative terhadap permasalahan itu, maka harus ada kritik dan ditemukan kesalahannya dalam ilmu pengetahuan. Kritik ilmiah harus mengandalkan peralatan logika deduktif dengan menggunakan prinsip kontradiktif dan pernyataan kontradiktif salah satunya pasti salah.
Kritik dapat tertuju pada teori, kontradiksi antar teori yang digunakan dan pada penyataan mengenai fakta tertentu, misal jika melihat sepuluh angsa putih tanpa melihat angsa berwarna hitam, boleh disimpulkan semua angsa berwarna putih?boleh saja, hal ini menunjukan bahwa fakta yang sudah terbukti benar belum bisa dijadikan teori sepanjang tidak mampu bertahan atas berbagai kritik yang disampaikan berdasarkan metode tertentu. Penjelasan ilmiah akan selalu berlandaskan pada teori tertentu, pernyataan, gagasan, aksi, yang memiliki ciri keberlakukannya secara terbatas dan kebenarannya dapat diuji kembali dengan metode tertentu serta bersifat akumulatif.
Pemahaman yang mendalam tentang makna dari sebuah paradigm adalah merupakan cara berfikir “filosofis’ seperti yang di kutip dalam buku “Sturcture of Scientific Revolutions” karangan filosuf Amerika Thomas Kuhn (1962). Kata ini memiliki etiologinya dalam bahasa Yunani yang artinya “pola”. Dalam penelitian pendidikan, istilah paradigma digunakan untuk menggambarkan ‘pandangan dunia’ peneliti (Mackenzie & Knipe, 2006). Perspektif ini merupakah hasil pemikiran secara bersama agar dapat memaknai informasi dan intepretasi data, sehingga menurut Lather (1986) paradigm penelitian secara inhern mencerminkan kepercayaan peneliti.
Pandangan konseptual ini selain dapat mengintepretasikan hasil, juga dapat menentukan metoda dan bagaimana data akan dianalisis sesuai kasus penelitian yang akan dilakukan. Menurut Guba dan Lincoln (1994) paradigm sebagai seperangkat keyakinan dalam men-investigasi atau meneliti, demikian juga yang disampaikan Densin dan Lincoln (2000) pakar penelitian kualitatif mendefinisikan bahwa paradigm sebagai kontruksi manusia yang berhubungan dengan prinsip asal peneliti dalam membangun makna dalam sebuah data. Keberadaan paradigm dalam penelitian sangat berpengaruh karena memberikan keyakinan dalam disiplin ilmu tertentu dan mempengaruhi apa yang harusnya di kaji, bagaimana hal tersebut harus dikaji dan bagaimana hasil penelitian harus ditafsirkan. Selain dari pada itu paradigm memberi tahu bagaimana sebuah makna akan dibangun dari data yang akan dikumpulkan, berdasarakan pengalaman pribadi. Melalui paradigm yang di dalamnya terdiri dari elemen epistemology, ontology, methodology dan axiology, penelitian yang akan ditegakkan akan dibimbing oleh asumsi, kepercayaan, norma dan nilai-nilai dari paradigm yang dipilih
PROBLEM FORMULATION
- Apa definisi Critical Paradgm dan tokoh dibelakangnya?
- Apa saja Dimensi Critical Paradigm dilihat dari aspek (ontology, epistemology, methodology dan axiology)?
- Apa aplikasi Critical Paradgm terhadap riset?
- Apa saja contoh penerapannya?
PURPOSES
- Mengetahui definisi critical paradgmn dan tokoh di belakangnya
- Mengetahui Dimensi Critical Paradigm melalui elemen (ontology, epistemology, methodology dan axiology)
- Mengetahui aplikasi Critical paradgmn terhadap riset
- Mengetahui contoh penerapannya
DISSCUSION Understanding the Critical Paradigm and the figure behind it
Paradigm kritis lahir sebagai koreksi dari pandangan konstruktivisma yang kurang sensitive pada proses produksi dan reproduksi makna yang terjadi secara historis maupun institusional. Analisis teori kritis tidak berpusat pada kebenaran atau ketidakbenaran sebuat struktur tata bahasan, symbol, atau proses penafsiran seperti pada konstruktivisme. Paradigm kritis sangat berperan dalam rangka menyadarkan dan memberikan perenungan tentang moralitas ilmu dan penelitian social. Karena tori sangat berpengaruh terhadap praktek perubahan social, maka paradigm ilmu merupakan factor penting dalam menentukan arah perubahan social ke depan.
Dasar pengertian “Kritis” dalam teori kritis ditemukan sejak jaman Renaisans (1350-1600), ada pergeseran pemikiran yang merupakan babak awal dimulainya abad rasionalitas modern. Pergeseran ditandai dengan terbukanya masyarakat untuk menggunakan akal rasionalnya untuk menyuarakan pikiran kritis, abad mitos telah diganti menjadi abad logos. Pengertian kritik dalam kaitan dengan teori kritis diinspirasi oleh beberapa tokoh di Frankfrut Jerman, makna kritis diilhami oleh Immanuel Kant, Hegel, Karl Marx dan Sigmund Freud, dimana mereka mengembangkan pilar dasar dan pondasi paradigm ini.
Immanuel kant menguji sahih tidaknya klaim-klaim pengetahuan tanpa prasangka dan dilakukan oleh rasio belaka. Sementara Hegel mendefinisikan kritik sebagai refleksi diri atas rintangan, tenakanan dan kontradiksi yang menghambat proses pembentukan diri menjadi sadar atau refleksi atas asal-usul kesadaran.
Karl Marx mendefinsikan kritik sebagai praksis revolusioner yang dilakukan kaum proletariat atau perjuangan kelas, dia juga mengemansipasi diri dari semua bentuk penindasan. Sementara itu Freud mendefinisikan refleksi baik dari individu maupun masyarakat atas konlik psikis.
Dimensions in the Critical Paradigm
Dimensi Ontology dalam Paradigma Kritis
Suatu cara berfikir manusia mulai mengambil jarak dengan lingkungannya serta mengamati dan mengkotak-kotakan lalu melepaskan diri dari keterikatan dengan kekuatan-kekuatan alami (naturalistik) yang membelenggunya, dengan cara itu manusia mampu mengamati dirinnya sendiri bahkan menjadi penonton terhadap hidupnya sendiri. Dengan demikian manusia memahami daya-daya kekuatan yang menggerakan alam dan memahami dirinya sendiri. Adanya semangat pembebasan mengembalikan rasa harga diri, fungsinya memahami dunia transeden sebagai sesuatu yang ada, dalam renungan ontologis manusia mengambil jarak terhadap segala sesuatu yang mengitarinya, melalui pemahaman tersebut dapat dibuktikan adanya sesuatu kekuasan yang lebih tinggi. Berkembang kepastian memalui pemahaman tentang hukum-hukum abadi (ilmu pengetahuan) yang sistematik dan dapat dikontrol
Dimensi ontologis paradigm kritis memiliki pengertian bahwa realitas tidak bias dilihat sebagai apa adanya, hal ini merupakan hasil pandang dari kontrusi sejarah manusia yang didalamnya selalu hadir banyak kepentingan. Anggapan masyarakat sebagai sekumpulan manusia yang dibangun kemanusiaannya melalui pemahaman historis progresif terhadap proses dan struktur sosialnya. Realitas terbangun dari berbagai kontradiksi yang hadir di masyarakat artinya ilmu social kritis selalu memahami bahwa teori tidak bias dilepaskan dari praksis sehingga perlunya sebuah ilmu yang mampu untuk membongkar realitas semu yang seringkali membuat manusia menjadi tidak bebas sebagai manusia sejati.
Dimensi Epistemology dalam paradigm Kritis
Epistemologi dalam bahasa Yunani di mana kata episteme, berarti pengetahuan. Sederhananya, dalam penelitian, epistemologi digunakan untuk menggambarkan bagaimana kita mengetahui sesuatu; bagaimana kita mengetahui kebenaran atau kenyataan; atau seperti yang dikatakan Cooksey dan McDonald (2011), apa yang dianggap sebagai pengetahuan di dunia. Ini berkaitan dengan dasar-dasar pengetahuan, dan bagaimana hal itu dapat diperoleh, bagaimana hal itu dapat dikomunikasikan kepada manusia lain. Ini berfokus pada sifat pengetahuan dan pemahaman manusia. Sebagai peneliti mampu mengetahuinya sehingga dapat memperluas, dan memperdalam pemahaman dan refleksi yang membantu penyadaran bagi masyarakat.
Schwandt (1997) mendefinisikannya sebagai studi tentang sifat pengetahuan dan pembenaran. Sedangkan mungkin dapat diperdebatkan apakah ada yang namanya ‘kebenaran’ (Davidson, 2000), jika kita mengambil bukti faktual sebagai kebenaran, maka epistemologi membantu dalam mengajukan pertanyaan faktual, seperti bagaimana kita mengetahui kebenaran? Apa yang dianggap sebagai pengetahuan? Ini adalah pertanyaan yang sangat penting karena salah satu kriteria penilaian penelitian tingkat tinggi adalah kontribusinya terhadap pengetahuan karena pada dasarnya ditentukan secara normative oleh kepentingan teknis.
Dalam mencoba mengartikulasikan jawaban atas pertanyaan di atas, dapat mengambil dari empat sumber pengetahuan. Sumber-sumber tersebut adalah pengetahuan intuitif, pengetahuan otoritatif, pengetahuan logis, dan pengetahuan empiris (Slavin, 1984). Jika mengandalkan bentuk pengetahuan seperti keyakinan, keyakinan, dan intuisi, maka dasar epistemologis dari penelitian adalah pengetahuan intuitif. Jika mengandalkan data yang dikumpulkan dari orang yang tahu, buku, pemimpin dalam organisasi, maka epistemologi Anda didasarkan pada pengetahuan otoritatif. Jika menekankan akal sebagai jalan paling pasti untuk mengetahui kebenaran, maka pendekatan ini disebut epistemologi rasionalis atau pengetahuan logis. Di sisi lain, jika menekankan pada pemahaman bahwa pengetahuan paling baik berasal dari pengalaman indera, dan fakta objektif yang dapat dibuktikan, maka pendekatan condong ke epistemologi empiris. Epistemologi penting karena, ini membantu untuk membangun keyakinan dan memengaruhi cara dalam mengungkap pengetahuan dalam konteks sosial yang akan di selidiki.
Rasionalitas teknologis saat ini merupakan konsumsi umum masyarakat modern. Paradigm kritis ini berusaha menjelaskan fakta dalam rangka emansipasi terhadap kondisi masyarakat yang memiliki capaian akhir sebuah perubahan
Dimensi Methodology dalam paradigm Kritis
Pendekatan teoritis kritis cenderung mengandalkan metode dialogis, metode yang menggabungkan observasi dan wawancara dengan pendekatan yang mendorong percakapan dan refleksi. Dialog reflektif ini memungkinkan peneliti dan peserta untuk mempertanyakan keadaan ‘alami’. Ini adalah cara untuk mengklaim kembali konflik dan ketegangan. Para ahli teori kritis tidak hanya mencoba menggambarkan situasi dari sudut pandang tertentu atau serangkaian nilai (mis. Kebutuhan akan otonomi atau demokrasi yang lebih besar dalam lingkungan tertentu), tetapi juga berusaha mengubah situasi. Ahli teori kritis biasanya melakukan ini dengan memulai dengan asumsi tentang apa yang baik (misalnya otonomi, demokrasi) dan meminta orang-orang dalam kelompok sosial, budaya atau organisasi untuk merenungkan dan mempertanyakan pengalaman mereka saat ini berkaitan dengan nilai-nilai yang diidentifikasi (misalnya Sejauh mana apakah mereka pekerja mandiri?)
Pada dimensi ini lebih menitik beratkan pada kualitas proses daripada hasil. Dalam tingkatan teknis, kualitas penelitian kritis tidak harus dimulai dengan pembuatan proposal penelitian. Istilah metode pendekatan partisipatoris atau pendekatan kritis emansipatoris sangat umum dalam dimensi ini. Karakteristik dari metodologi pendekatan partisipatoris :
- Berasumsi bahwa masyarakat mempunyai kamampuan yang luhur untuk menciptakan pengetahuan
- Identifikasi kebutuhan komunitas, memperbesar kesadaran tentang hambatan, analisa penyebab masalah, rumusan implementasi solusi yang koheren
- Peneliti secara sadar dimasukan dalam alasan penyebab atau faktor yang termasuk dalam bagian penelitian
- Didasarkan pada proses dialektis anta peneliti dan komunitas
- Penelitian ini merupakan pendekatan pemecahan masalah. Hingga mampu memobilisasi potensi individu yang kreatif
- Modal utama riset ini adalah potensinya untuk menciptakan pengetahuan kerjasama yang dekat antara penelitia dan komunitas
Dimensi Axiology dalam paradigm Kritis
Menurut Habermas, teori kritis selanjutnya disebut teori dengan maksud praksis. Kata praksis dalam bahasa Yunani mengandung pengertian ‘Pembebasan’. Masyarakat yang sudah mengalami emansipasi akan mampu merealisasikan kedewasaan warganya. Tujuan dari emansipasi selalu erat dengan bagaimana komunikasi mampu menjadi jembatan dan alat dialog yang membebaskan
Paradigm ini menolak peran intelektual sebagai arsitektur social yang berjarak dengan komunitas. Dasar asumsinya dalam ilmu social, bukan sekedar memahami ketidakadilan dalam distribusi kekuasaan dan distribusi sumber daya, melainkan berupaya untuk membantu menciptakan kesamaan dan emansipasi dalam kehidupan. Selain dari itu pendekatan ini memiliki keterikatan moral untuk mengkritik status quo dan membangun masyarakat yang lebih adil
Application of critical paradigm to research
Apabila memperhatikan karakteristik dari dimensi Methodology dalam paradigm Kritis (Critical paradigm), Istilah metode pendekatan partisipatoris atau pendekatan kritis emansipatoris lebih cocok dalam menghadapi suatu permasalahan penelitian.
National Health Service (NHS) merekomendasikan Action research sebagai komponen utama pembangunan dalam spectrum Penelitian dan Pengembangan khususnya inovasi, meningkatkan layanan kesehatan, mengembangkan pengetahuan praktisi secara partisipatif.
Strategi dalam Action research banyak digunakan dalam bidang pendidikan, manajemen, ilmu social, keperawatan, kesehatan jiwa dan penelitian feminis. Penelitian tindakan adalah studi tentang situasi social yang dilakukan oleh mereka yang terlibat dalam situasi untuk meningkatkan praktik dan kualitas pemahaman. Penelitian tindakan juga disebut sebagai penelitian tindakan partisipatif (PAR), AR Emansipatoris, action science, action inquiry dan empowerment evaluation. Dalam praktik promosi kesehatan istilah ini dikembangkan menjadi Community Reflective Action Research (CRAR), dimana praktik ini menuntut keterlibatan peneliti secara pribadi dengan yang diteliti, umpan balik, agenda emansipatori, dan critical inquiry tentang kebijakan dan praktik yang telah ditetapkannya. Secara sistematis AR mengumpulkan data penelitian tentang sistem/praktik yang sedang berlangsung terhadap beberapa tujuan, kebutuhan, mengubah variabel yang dipilih sesuai dengan data dan asumsi sistem sesuai fungsinya berdasarkan kerangka kerja reflektif. WHO menyatakan bahwa penelitian tindakan adalah pendekatan yang sangat baik dalam mengevaluasi program promosi kesehatan.
Pemahaman epistemologi dalam paradigm kritis sebagai bentuk dari penalaran (induktif) sangat relevan ketika bekerja dalam kelompok populasi atau masyarakat yang tidak memiliki akses terhadap pelayanan kesehatan (friere, 1972; warner, 1998). Sebagai anggota masyarakat kapasitas pasien secara kritis mencerminkan pada factor-faktor seperti kemiskinan, kesehatan yang buruk, buta huruf dan ketidakadilan social, dimana hal-hal tersebut yang membuat mereka mengambil tidakan emansipatoris dalam kontek kehidupan komunitas. Keadaan kolaboratif didasarkan pada epistemologi yang tidak hanya menghargai pengetahuan tradisional dan pengalaman dari masyarakat, tetapi juga pemahaman bagaimana perspektif mereka telah dibentuk oleh sejarah.
CONCLUSION
- Berdasarkan penulisan makalah tentang Critical Paradigmn dapat disimpulkan sebagai berikut :
- Positivism dan interperetivism adalah paradigma penelitian kuantitatif, sementara critical orientation dan poststructurialism adalah paradigma penelitian kualitatif.
- Paradigma dibentuk oleh pertanyaan-pertanyaan epistemologi (asal mula ilmu pengetahuan), ontologi (asal mula eksistensi) dan metodologi (cara mendapatkan pengetahuan) (Gough, 2000).
- Critical paradigm berasal dari critical theory, yang dicetuskan oleh George Hegel di abad ke18, Karl Marx pada abad ke19, dan Paulo Freire di abad dua puluhan.
- Paradigma kritis pada dasarnya adalah paradigma ilmu pengetahuan yang meletakkan epistemologi kritik Marxisme dalam seluruh metodologi penelitiannya
- Asumsi dasar dalam paradigma kritis berkaitan dengan keyakinan bahwa ada kekuatan laten dalam masyarakat yang begitu berkuasa mengontrol proses masyarakat. Ini berarti paradigma kritis melihat adanya “realitas” di balik kontrol masyarakat
- Pengkonstruksian suatu realitas (realism historis) pada Paradigma kritikal itu dipegaruhi oleh waktu dan faktor kesejarahan dan kekuatan-kekuatan sosial, budaya, ekonomi, politik, etnik, gender dan media yang bersangkutan.
- Paradigma kritis lahir sebagai koreksi dari pandangan kontruktivisme yang kurang sensitif pada proses produksi dan reproduksi makna yang terjadi secara historis maupun intitusional, dan tidak berpusat pada kebenaran atau ketidakbenaran sebuah struktur tata bahasa, simbol, atau proses penafsiran seperti pada konstruktivisme.
Secara Ontologis teori kritis ini menilai objek atau realitas secara kritis (Critical Realism). Secara Metodologis teori kritis menggunakan pendekatan dialog, dengan transformasi untuk menemukan kebenaran atas relaitas yang hakiki. Secara Epistemologis teori kritis ini antara pengamat dengan realitas merupakan suatu hal yang tidak bisa dipisahkan (konsep subjektivitas). Secara Axiologis teori kritis ini berupaya agar dapat membantu menciptakan kesamaan/keadilan dan emansipasi dalam kehidupan di masyarakat
Demikian sekilas tulisan ini dibuat, jika bermanfaat silahkan digunakan dengan bijaksana, jika tidak sesuai mohon maaf karena keterbatasan penulis. Terimakasih