Suatu sore pada sekira tiga purnama yang lalu, Saenur baru turun dari kebunnya. Istrinya menghembuskan nafas panjang melihatnya masuk ke rumah dengan wajah lesu, seperti telah hapal suasana hati sang suami akhir-akhir ini. Tanaman kakao yang telah bertahun-tahun dipelihara dan menopang nafkah keluarga diserang penyakit. Busuk buah, itulah penyakit yang akhir-akhir ini melanda tanaman kakao dan membuatnya galau. Penyakit ini disebabkan oleh sejenis jamur.[2] Ia menjadi lebih sering datang menyerang buah kakao bersamaan datangnya hujan yang seperti tidak pernah absen akhir-akhir ini. Demikian Bapak … anak ini menuturkan kisahnya dalam sebuah silaturahmi di Balai Desa Salut, Kecamatan Kayangan, Kabupaten Lombok Utara pada akhir bulan lalu.
Lain lagi kisah Jumadil, pria hampir paruh baya yang tinggal di Dusun Sambik Rindang, di bagian hilir Desa Salut. Dusun ini lahannya relatif rata sehingga cocok untuk persawahan. Jumadil merasa musim hujan yang lebih panjang dari biasanya menjadi berkah baginya dan teman-temannya sesama petani padi. Dalam dua tahun terakhir panen di lahannya semakin membaik akibat lancarnya pasokan air. Padahal, dulunya dusun ini selalu kekurangan air sehingga hasil panen dari sawah-sawah tadah hujan selalu kurang.
Demikianlah dua cerita bertolak belakang dari dua petani di desa yang sama akibat perubahan cuaca yang mencolok dalam 2 tahun terakhir. Pada satu sisi, musim hujan berkepanjangan menyebabkan kerugian bagi petani lahan kering (kebun). Curah hujan berlebih meningkatkan kelembaban udara sehingga mendukung perkembangbiakan jamur.[3] Salah satunya yang menginfeksi buah-buah kakao dan menyebabkan penyakit busuk buah. Namun bagi petani sawah, pasokan air yang melimpah sepanjang tahun membuat padi tumbuh subur, panen pun lebih berbobot dari sebelumnya.
Cerita dari Desa Salut ini menyampaikan pesan bahwa cuaca dan musim telah berubah. Menurut warga Salut, memang ada kecenderungan meningkatnya curah hujan pada akhir dasawarsa 2000.[4] Beberapa tanaman perkebunan (buah) seperti Mangga sulit berbuah karena bunganya selalu rontok terkena hujan deras. Perubahan cuaca di Salut ini sesuai dengan prediksi Anomali Cuaca di Indonesia untuk periode 2009-2010. Sejak paruh kedua 2009 hingga paruh pertama 2010 di NTB terjadi kemarau panjang. Dimana-mana terjadi kekeringan dan gagal panen. Lalu pada sekitar paruh kedua 2010 cuaca berbalik yang ditandai dengan curah hujan yang meningkat tajam. Ini juga dapat berdampak tidak baik bagi pertanian, baik tanaman padi maupun tanaman yang tidak membutuhkan banyak air seperti tembakau.
Berubahnya cuaca diyakini telah terjadi baik oleh pakar cuaca maupun petani. Mereka sama-sama memiliki bukti akan hal ini. Dalam pertanian, naik turunnya suhu dan kelembaban udara, juga curah hujan berimplikasi sangat nyata bagi pertumbuhan tanaman dan habitat tumbuhnya. Dalam jangka panjang, perubahan iklim dapat mengakibatkan perubahan yang lebih nyata dan sifatnya menetap. Keberhasilan usaha tani di tengah iklim yang sedang berubah sangat ditentukan oleh penyesuaian yang dilakukan terhadap perubahan cuaca dan pengaruh-pengaruhnya pada agro-ekosistem. Upaya semacam ini dikenal sebagai Adaptasi terhadap Perubahan Iklim.
Uniknya, cuaca ekstrem di Salut berdampak tidak sama terhadap lahan dan komoditi yang beda. Dampak perubahan cuaca bagi lahan perkebunan dan persawahan beda, bahkan bertolak belakang. Keunikan yang kedua, ketika sebagian besar pulau Lombok mengalami kekeringan sepanjang 2009-2010, Desa Salut justru berlimpah hujan. Saat dimana-mana terjadi gagal panen akibat kekeringan, Salut justru merayakan panen padi. Cuaca ekstrem punya dua sisi yang bertolak belakang.
Pada skala yang lebih besar perubahan iklim juga berdampak dua sisi. Konon diramalkan bahwa pertanian di wilayah Asia akan menurun akibat naiknya suhu udara rata-rata dunia. Akan tetapi, Rusia justru diuntungkan karena banyak wilayah negaranya yang tadinya terlalu dingin menjadi bisa ditanami.
Apapun dampak perubahan iklim terhadap pilihan dan tempat hidup kita, penting disadari sejak mula. Ini agar kita mampu memperhitungkan risiko dan mengurangi kerugian. Sebuah penelitian tentang dampak perubahan iklim pada sektor pertanian di Pulau Lombok menyimpulkan kecamatan Kayangan sebagai salah satu wilayah yang berisiko gagal tanam dan gagal panen akibat perubahan iklim.[5] Karena itu, upaya adaptasi sebaiknya segera digagas dan mulai dijalankan sebelum terlambat.***
Mataram, 8 Maret 2011, 23:11 WITA
[1] Oleh-oleh kegiatan Monev di Desa Salut, wilayah program Building Resilience di Kabupaten Lombok Utara, pada 25 Februari 2011.
[2] Jamur Phytophtora palmivera menyebabkan penyakit Busuk Buah pada tanaman Kakao.
[3] Percikan air hujan adalah salah satu media penyebaran spora jamur ini.
[4] Dokumen PCVA Desa Salut oleh Yayasan Koslata.
[5] Kajian Risiko dan Adaptasi Terhadap Perubahan Iklim Pulau Lombok Provinsi Nusa Tenggara Barat. KLH, GTZ, Pemprov NTB, WWF.