
Sebuah Refleksi Ringan dari Perkuliahan Pekan Kesembilan Mata Kuliah Sekuritas dan Privasi untuk Pengguna Teknologi di Program Studi Magister Keamanan Siber dan Digital Forensik Universitas Telkom bersama Bapak Yudhistira Nugraha, PhD.
Dalam era digital saat ini, keamanan dan privasi merupakan dua aspek yang sangat penting dalam penggunaan teknologi, khususnya di Indonesia. Tantangan dalam menciptakan keamanan dan privasi yang inklusif memerlukan perhatian khusus terhadap berbagai kelompok masyarakat yang memiliki kebutuhan berbeda, seperti penyandang disabilitas, lanjut usia, dan mereka yang belum melek huruf. Konsep keamanan dan privasi yang inklusif tidak hanya mengenai teknologi yang aman, tetapi juga harus dapat diakses dan digunakan oleh semua orang tanpa terkecuali.
Indonesia, sebagai negara dengan populasi yang sangat beragam, menghadapi tantangan besar dalam menerapkan prinsip-prinsip keamanan dan privasi yang inklusif ini. Salah satu contohnya adalah penyandang disabilitas visual yang memerlukan teknologi screen reader agar dapat mengakses informasi di internet. Di Indonesia, akses terhadap teknologi ini masih sangat terbatas, terutama di daerah-daerah terpencil. Oleh karena itu, penting bagi para desainer dan pengembang untuk memastikan bahwa situs web dan aplikasi yang mereka buat dapat diakses dengan mudah oleh screen reader, dengan menyediakan teks alternatif (“alt text“) pada gambar. Hal ini akan membantu penyandang disabilitas visual untuk memahami konten yang disajikan.
Selain itu, penggunaan video sebagai media informasi juga perlu memperhatikan aksesibilitas bagi penyandang disabilitas pendengaran. Di Indonesia, penyediaan teks atau subtitle pada video masih belum menjadi standar, padahal ini sangat penting agar informasi dapat diakses oleh mereka yang mengalami gangguan pendengaran. Dengan menyediakan teks pada video, kita tidak hanya memastikan inklusivitas, tetapi juga memberikan kesempatan yang sama bagi semua orang untuk memperoleh informasi.
Inklusivitas juga penting dalam desain antarmuka pengguna. Di Indonesia, di mana tingkat melek huruf masih menjadi tantangan, sangat penting untuk membuat antarmuka yang mudah dipahami oleh semua kalangan. Penggunaan ikon yang jelas, penghindaran penggunaan placeholder di dalam kolom isian formulir, dan desain teks dengan kontras tinggi adalah beberapa contoh langkah yang dapat diambil untuk memastikan bahwa teknologi dapat diakses oleh semua orang, termasuk mereka yang memiliki keterbatasan kognitif atau kesulitan dalam membaca.
Anak-Anak dan Lanjut Usia
Kelompok lanjut usia juga menjadi salah satu tantangan dalam menciptakan keamanan dan privasi yang inklusif di Indonesia. Banyak dari mereka yang tidak terbiasa dengan teknologi digital dan sering kali menjadi sasaran penipuan online. Oleh karena itu, penting bagi pengembang teknologi untuk mempertimbangkan kebutuhan pengguna lanjut usia dalam merancang sistem keamanan dan privasi, seperti memberikan panduan yang jelas dan sederhana, serta desain yang intuitif sehingga mereka dapat menggunakan teknologi tanpa merasa kewalahan. Contohnya adalah penggunaan platform media sosial seperti Facebook. Banyak pengguna lanjut usia yang tertarik menggunakan Facebook untuk tetap terhubung dengan keluarga dan teman. Namun, mereka sering kali mengalami kesulitan dalam memahami pengaturan privasi dan keamanan, yang membuat mereka rentan terhadap risiko seperti penipuan dan penyalahgunaan data. Oleh karena itu, fitur-fitur seperti panduan langkah demi langkah dalam pengaturan privasi, notifikasi yang lebih mudah dipahami, dan opsi keamanan yang disederhanakan sangat penting untuk membantu pengguna lanjut usia tetap aman saat menggunakan platform ini.
Selain kelompok lanjut usia, anak-anak di bawah usia 13 tahun juga memerlukan perhatian khusus terkait penggunaan media sosial seperti Facebook, TikTok, dan platform lainnya. Banyak platform media sosial membatasi usia pengguna minimal 13 tahun untuk melindungi anak-anak dari berbagai risiko, seperti eksploitasi, cyberbullying, dan paparan konten yang tidak sesuai. Namun, di Indonesia, banyak anak-anak yang tetap mencoba mengakses platform ini dengan menggunakan informasi palsu. Oleh karena itu, penting bagi orang tua dan pendidik untuk mendampingi anak-anak dalam menggunakan internet, serta memastikan bahwa anak-anak hanya mengakses platform yang sesuai dengan usia mereka. Selain itu, perusahaan teknologi juga perlu memperkuat mekanisme verifikasi usia dan memberikan fitur kontrol orang tua yang lebih efektif, agar penggunaan media sosial oleh anak-anak dapat dilakukan dengan aman dan terkontrol. Edukasi mengenai literasi digital dan risiko penggunaan media sosial juga sangat penting untuk meningkatkan kesadaran anak-anak dan orang tua mengenai pentingnya menjaga privasi dan keamanan di dunia digital.
Selain disabilitas dan usia, budaya juga memainkan peran penting dalam penerapan keamanan dan privasi yang inklusif. Indonesia adalah negara dengan budaya yang sangat beragam, sehingga norma sosial dan tingkat pemahaman mengenai keamanan digital pun bervariasi. Misalnya, di beberapa daerah, masyarakat mungkin tidak memiliki kesadaran yang cukup tentang pentingnya menjaga privasi informasi pribadi. Oleh karena itu, kampanye edukasi yang sesuai dengan konteks budaya setempat sangat diperlukan untuk meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai pentingnya keamanan dan privasi.
Dalam upaya menciptakan keamanan dan privasi yang inklusif di Indonesia, kita perlu mengadopsi pendekatan yang holistik dan berpusat pada pengguna. Ini berarti tidak hanya menyediakan teknologi yang aman, tetapi juga memastikan bahwa teknologi tersebut dapat diakses dan digunakan oleh semua orang, termasuk kelompok-kelompok yang sering kali terpinggirkan. Dengan demikian, kita dapat menciptakan lingkungan digital yang lebih inklusif dan setara bagi seluruh masyarakat Indonesia.

