hallo mentemen… siapa pembaca disini yang umurnya udah setua si ummi? tosssss dulu lah. ada yang anaknya udah sama-sama 3 kayak si aku? tossssss lagi… siapa yang mengalami kayak gini? yang satu bawa botol ke sekolah, botolnya ketinggalan. besok harus bawa lagi… duh duh duh…
hehehe sekarang marketplace mah banyak banget yak yang udah nyediain botol-botol lucuk gitu buat ke sekulah…
temen-temen ada yang mau kembaran kayak punya anakku yang kedua nggak? bisa nih beli di link berikut yah…
ada yang warna biru buat anak-anak laki-laki, ada yang unyu pink buat yang perempuan…
takdir. kadang membawa kita tinggal di sebuah tempat yang bahkan tidak kita inginkan. kota yang bagi sebagian orang adalah mimpi dan tujuan. tapi tidak dengan saya. sampai sekarang ada sebagian diri yang bisa dibilang belum bisa berdamai kalau tidak ingin dibilang kurang bersyukur. iya, di antara segelintir orang yang masih harus tidur di gerobak di pinggir jalan, saya harus banyak-banyak bersyukur bisa tidur nyaman di atas kasur empuk, bisa makan enak, dan sederet karunia lainnya. kota yang tidak pernah ada dalam deretan daftar kota yang ingin saya tinggali. tapi, demikianlah takdir.
takdir. mungkin tanpa disadari adalah bagian dari doa yang dikabulkan. yang bahkan setelah dikabulkan pun kita tak tahu, sanggup atau tidak. kadang tidak pernah kita tahu, seperti apa kita menjalani hari-hari ke depan. yang kita tahu hanya hari-hari yang telah berlalu. yang kadang meninggalkan banyak sesal dan tanya. tapi tak kuasa bahkan untuk sekedar bertanya, karena demikianlah takdir. yang kadang ketika ketika kita bertanya “kenapa saya?” kemudian Sang Maha Kuasa berkata “kenapa tidak?”
“mudah-mudahan ada kebaikan”
di setiap takdir yang mungkin membuat hati tidak nyaman.
proses, progress… seringkali kita nggak sabar dengan yang namanya proses.seringkali menyerah.seringkali ingin marah. karena, tertarik membandingkan dengan orang lain. iya bagus mungkin membandingkan dengan orang lain. mungkin menginspirasi, tapi kadang kita lupa, proses setiap manusia tidaklah sama. kenapa tidak coba membandingkan dengan diri kita kemarin? itu nampak lebih fair dan nggak membuat beban.
bukankah, proses setiap orang tidak sama? progressnya ada yang cepat, ada yang lambat…
yang harus kita pastikan, adalah… setiap hari kita berniat dan berusaha untuk lebih baik… dan banyak berdoa, semoga Allah karuniakan akhir yang baik pula…
Ke akhirat lah, Pulang Kampung kita sebenarnya, Asal kita dari surga, maka tak rindukah kita kembali ke sana? kalau mudik di dunia saja kita banyak persiapan, bekal, yang ditata… maka, sudah sejauh mana bekal menuju akhirat kita? (dirangkum dari berbagai kajian)
“1 hari di akhirat = 1000 tahun di dunia“
it means, itu berarti, kita ini hidup dunia cuman 1,5 jam akhirat : singkatttttt yow.
Itu yang pernah saya dapatkan ketika anak saya belajar tentang perbandingan waktu di dunia di akhirat.
Ada beberapa corat-coret saya yang berkaitan dengan mudik akhirat dan mudik dunia tersebut, semoga ada pelajarannya yaaah:
Hal senada yang saya rasakan kalau lagi mudik, entah kenapa, waktu di kampung halaman terasa berjalan begitu cepat. Secara siklus waktu harian sebenernya nampak melambat, karena di Jawa Timur waktu subuh jauh lebih cepat sekitar 1/2 jam.. Jadi waktu pagi terasa lebih panjang.. Biasanya kami pulang kampung antara 2 – 3 minggu, persiapannya bisa 2 minggu sebelumnya sendiri. Pas menjalani pulang kampungnya lah cepet amat… Udah baliknya hari-hari jadi terasa lammmaaaaaaaaa… 1 hari di perantauan itu beneran rasanya kek bertahun-tahunnnnn gitu… (katakan saya lebay, nggakpapa…) Ada yang ngerasa kayak saya nggak?
Persiapan = Bekal Untuk mudik di dunia aja, banyak sekali bekal yang disiapkan… Sampe saya tulis biasanya, mulai jaman masih jomblo kuliah dulu. Apalagi sekarang udah beranak pinak. Maka, selalu menjadi renungan buat saya, jangan lupa juga berbekal menuju akhirat. Kehidupan kita yang singkat di dunia ini, tempat berbekal menuju akhirat. Kalo kata suami sayah sama anak-anak “dunia ini adalah tempat kita mencari pahala. pahalanya buat apa? buat nanti dituker jadi tiket masuk surga. Allah menciptakan dunia ini tempat kita mencari sebaaaanyak-banyak pahala…” Apalagi kalau bulan Ramadhan yang kami bilang sama anak-anak sama dengan bulan bonus… Bayangkan… Kebaikan yang kita lakukan di bulan Ramadhan ini Allah kali lipatkan nilainya bisa sampai 700 x lipat loh… cring cring cring cring.. Makanya, hati-hati niatnya, luruskan lagi, beribadahnya buat apa? Pastikan buat Allah aja yah…
Umur manusia sekarang pendek, gimana dong? Naaaah di antara hikmah lailatul qodar ini nihhhh yang pernah saya dapat kajiannya… Umatnya Nabi Muhammad itu pendek, tak jauh dari Nabinya… Yaaa sekitar 63 tahun, kalau lebih itu bonus. Makanya, Allah turunkan, malam lailatul qodar di setiap bulan spesial bulan Ramadhan yang kata Allah pahalanya seperti 1000 bulan (ini kalau dihitung sekitar 83 tahun). Ini untuk memperpanjang umur ibadah Umatnya Nabi Muhammad. Naaah 10 hari terakhir Ramadhannya semoga kita maksimalkan yaaa… Apa ajah yang kita bisa. Terutama mohon ampunannya Allah.
Terakhir, terkait cara mudik. Ada yang kek saya harus menempuh beratus-ratus kilometer menuju kampung halaman, jauh, susah. Ada pula yang gampang aja untuk ketemu orang tua, tinggal motoran misalnya. Tangsel-Jember itu kalau kata peta di gugelmep 971 kilometer. Kalau ditempuh perjalanan darat yaaa sekitar 16-17 jam kalau santai ya bisa 18-20 jam. Aseli mbayanginnya aja capek.. Perjalanan yang nggak mudah. Mudah-mudahan. Cara kita kembali ke Allah itu ya seperti yang selalu kita baca dalam doa seusai sholat, Allah karuniakan kemudahan dan husnul khotimah di akhir kehidupan kita. Aamiin….
Mudah-mudahan ada manfaatnya yaa..
Hampir Liburan Sekolah ya,
terakhir jargon sayah,
mudiklah, selagi ada kampung halamannya.. eh yang utama mah, berbakti kepada kedua orang tua, selagi ada orang tua masih ada…
Dan orang-orang (Anshar) yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka mencintai orang yang berhijrah ke tempat mereka. Dan mereka tidak menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin); dan mereka mengutamakan (Muhajirin), atas dirinya sendiri, meskipun mereka juga memerlukan. Dan siapa yang dijaga dirinya dari kekikiran, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung
Mereka… Memberi meski mereka sendiri butuh…
Mereka merelakan rumah mereka, istri mereka, kebun mereka untuk dibagi dengan saudaranya…
Semua itu, karena, iman…
Sejauh mana kita mencontoh mereka?
sedikit dari Tadabbur QS Al Hasyr oleh Ustadz Aminudin
Hari Perkiraan Lahir masih sekitaran awal Oktober tanggal 2. 2 anak sebelumnya lahir di kisaran 39 minggu, kira-kira kalau di kalender 24 September.
[sekitar jam 10 pagi tanggal 9-9-2021] Qodarullah pecah ketuban di usia kehamilan 36 minggu 6 hari jam 10 an pagi. Saya lagi duduk makan jeruk dan cemilan, lalu ada yang blubbbb gtu. Kayak ada sesuatu yang ketusuk terus pecah lalu rembeslah air ketuban. Rasa yang sama waktu bukaan 8 melahirkan anak kedua (kalau di kelahiran anak pertama ketuban dipecahkan saat bukaan lengkap oleh dokter). Sebuah pengalaman pembuka melahirkan yang berbeda dengan dua kakaknya. Dulu kata mama pas ngelahirin adek ketiga pecah ketuban duluan juga dan sekitaran sejam kemudian melahirkan. Terbayang itu, saya buru-buru ke RS. Ternyata kejadian pecah ketuban bisa ditunggu hingga 12 jam kemudian setelah saya tanyakan kepada bidan yang bertugas. Saya kebayangnya ketuban itu kan kayak tempat berenangnya bayi ya, kalau nggak ada ketuban gimana ya, jadi pasti ada rentang waktu yang bisa ditoleransi untuk ditungggu setelah ketuban pecah… Ketika baru pecah ketuban itu belum ada rasa mules, cek bukaan: bukaan 2. Tapi beberapa hari sebelumnya, sekitaran 2 atau 3 hari sebelumnya saya memang udah merasa mules-mules tapi belom teratur alias hilang timbul. Udah pasrah, bisa lahir normal alhamdulillaah, kalopun harus SC saya terima. Akan melahirkan di masa pandemi berarti kita harus dites dulu, di RS saya melahirkan, tes swab antigen dan antibodi untuk ibu yang melahirkan, dan swab antigen untuk pendamping, alhamdulillaah kami negatif, sempat kepikiran gimana yaa kalau kami kenapa-napa. Tapi yawdah, memang ya, hal-hal yamg belum terjadi itu memang nggak untuk dipikirkan. Kita harus percaya, ada Allah yang mengatur urusan kita dengan sangat rapih. Pecah ketuban duluan berarti kita harus meminimalisir gerakan, soalnya gerak dikit berasa ada yang mengalir begitu…
Hilmi new born – Hilmi almost 6 m
[sekitar jam 11] Sekitaran sejam setelah di IGD RS barulah gelombang cinta itu datang. Mules-mules teratur mulai 10 menit sekali, lalu 5 menit sekali.
[Sekitar Jam 12-1 siang] Setelah itu saya pindah ke ruang bersalin. Di ruang bersalin mules mulai meningkat setiap 3-4 menit sekali… Tapi dicek masih bukaan 3 katanya. Dan kepala masih jauh samar-samar saya dengar kata bidan jaga. MasyaAllah dan mulesnya lebih waw sekali… Saya sampai komen ke suami : “ya Allah udah mules banget segini masih bukaan 3, ya Allah.. ” Dalam hati ini tuh udah kayak bukaan besar 7 atau 8 rasanya… Sabar, tahannnn…Nikmati rasa sakitnya yang kalo waktu itu rasanya nggak tahan tapi banyakin baca-baca segala macem…(terus sekarang udah lupa rasa sakitnya hehehe). Alhamdulillah jam 13.45 akhirnya bayi laki-laki ini lahir ke dunia… Kami beri nama ia “Ahmad Hilmi Attaqi” Dipangggilnya Hilmi…
Kata ayahnya yang memberi nama:
Artinya : Orang bertaqwa, terpuji akhlaqnya yang sabar dan tawakal
Debuan ammet yee ini blog.. Gak ada yang pengen diceritain karena kayak kurang bahan juga untuk layak posting. Mostly kegiatan masih banyak dihabiskan gelundang-gelundung rebahan di rumah. Awal 2021, saya hamil lagi. Setelah sebelumnya Maret 2020 sempat BO lalu dikuret. Hamil lagi setelah pernah nggak jadi itu rasanya lebih banyak pasrahnya terserah Allah deh ngasihnya gimana, yang terpenting semoga sehat sempurna. Udah nggak terlalu mikir laki-laki apa perempuan yaa… Lebih was-was dan khawatir juga, bakalan sampe lahir nggak ya… Tapi lagi-lagi, Allah Sebaik-baik Pembuat Rencana. Tugas kita cuman pasrah, tawakkal. Sempat mudik juga waktu hamil muda sekitar 8 mingguan, alhamdulillaah gempor tapi sehat. Bepergian di masa pandemi ekstra yaa persiapannya. Ya pake masker, selalu pake hand sanitizer / cuci tangan kalau habis pegang-pegang barang terutama di outdoor. Jadi selama 2021 ini yaa hari-hari saya banyaknya diisi dengan menikmati kehamilan keempat yang agak rewel ini. Akhirnya ngerasain juga gimana jadi bumil yang mabok. Mabok tanpa sebab yang jelas gitu. Bisa tiba-tiba huwek aja,,. Bisa karena bau-bauan, atau kena angin, atau ada yang nyangkut di tenggorokan, atau apa aja lah. Kabar baiknya, saya bisa relatif aman berpuasa di bulan Ramadhan tanpa cairan ketuban berkurang. Biasanya, selalu bermasalah dengan cairan ketuban ini waktu hamil Kakak Nailah dan Nafisah. Caranya, puasa selang-seling, apalagi kalau dirasa misal puasa hari ini udah lemesss banget. Berarti besoknya nggak puasa. Ini lebih efektif daripada maksa puasa terus dari awal tapi begitu cek ke dokter disuruh batal puasa karena ketuban berkurang. Lha jaman hamil kk Nailah hutang ampe setengahnya sekitar 15 harian kali. Ini kemarin hutang 9 hari dan alhamdulillaah udah dicicil bayar jadi lunas deh. Yaa persiapan, ntaran jadi busui belum tau si bayi bisa diajak puasa apa enggak kan… Tapi ya balik lagi sama kondisi masing-masing, jangan terlalu memaksakan kalau dirasa lemes, keliyengan, perut jadi tegang, ambil aja keringanannya… Gimana rasanya hamil di tengah pandemi? Kalau boleh milih sih pengennya saat aman nggak ada pandemi ya. Jujur engap banget harus maskeran kalau pergi keluar rumah. Dan banyakan khawatirnya. Pasrahnya mesti lebih kenceng lagi. Sekarang, usia kehamilan saya menuju 36 minggu. Kira-kira 3-4 minggu lagi menuju due date. Mudah-mudahan pandemi udah mereda ya nanti pas saya lahiran.. Doain yaa semoga lancar dan dimudahkan. Aamiin
When I studied at the university, I used this term to describe about relationship of some people who always spend time together like hang out, study club, eat, walking around or just haha hihi together, I called them a “geng“. In my faculty that most of them were girls there were so many “colony”. But, actually this term was not right 100%. Usually we called colony for some bacterias that alike. And I saw in a “geng” not always same kind of people (introvert vs extrovert, maybe white and black, or different ethnic group like javanese and sundanese, different religion, or other difference). But the truth they were humans all. Same alike yeah. How about me? I had a small colony if I can said some kind of that. Just 2 or 3 persons maybe but sometimes I just went away alone. Hmm, most of my time was alone I thought. But it didn’t mean I didn’t join the organization. I joined some organization so I could say I have a lot of friends. But maybe not best friend hehehe. I had a bad story about best friend. When I was about 9 years, I thought someone that often played with me was my best friend. But when I asked her, “Who is your best friend?” She didn’t mention my name. Broken heart. So sad. Actually, in high school I had some of best friend. But at the university I met all new persons, so it took time for me to find out a best friend. Another sad story, I lost a moment when we took a picture with the dean of faculty and all my friend in my bachelor graduation. Hahaha no body looked for me. Forget it lah. I can laugh for it now. 😀
Okay, until now I think it was difficult for me to have a fixed “geng“. In many chances, I change to one “geng” into other “geng”. Hmmm, I see my 9 years daughter recently have a new “geng” in our housing called N.I.N.L ( this is front font name of each girl in that group wkwkwk). It’s so good. Better than me. Hahaha. How about my husband? I think as an introvert person he needs a hard effort to find a geng. He had a “geng” in high school. But after work as an employee I see him yaaa just not really a “geng”. Actually after married, we often spend time as a family than our “geng”. But I think as a couple in many years, we need to have other “geng” beside our family geng. It’s okay to spend time with our friends but I prefer like a geng of bapak-bapak, or “emak-emak piknik di rumah saja karena kurang piknik”, or “camping family” or “family gathering”. Why? Yaaa we need other world I think, in order too avoid bored relationship. But hey, don’t interpret in negative thinking yaa. This geng must be supporting positive effect. Like today, my husband finally looked for bike mountain for gowes, Hahaha after about 11 years marriage. Ya ya ya, lets see. How often will he go gowes??? Wkekekekek.