Seperti berjalan di sebuah jalan yg ujungnya adalah jurang. Terus berjalan sambil menanti, apakah diam lalu berputar arah, atau berjalan sampai ujung lalu terjun ke dalam jurang.
YANG TERLUPAKAN
Mereka hadir, tapi tak terlihat. Mereka berbicara, tapi tak terdengar. Mereka ada tapi tak satu pun peduli. Mereka yang memiliki harapan tinggi melebihi keadaan yang terjadi pada hidupnya. Mereka yang tidak tahu apa-apa dituntut untuk bisa bertahan dengan segala keterbatasan yang ada. Yang mereka tahu adalah bekerja keras tanpa kenal lelah. Terkadang mereka menjadi alat bagi beberapa oknum yang tidak bertanggung jawab. Sedangkan disamping itu mereka memiliki hak yang sama dengan yang lain. Pernahkah anda melihat guratan wajah mereka yang kelelahan? Pernahkah muncul rasa di hati untuk melakukan sebuah tindakan ketika melihat mereka di jalan?
Sebagian orang yang tidak peduli tidak akan pernah bisa melihat guratan wajah mereka yang kelelahan, sebagian orang merasa iba lalu hanya bisa terdiam memandangi mereka yang berlalu-lalang menawarkan barang atau jasa dan sebagian orang yang tergerak hatinya tanpa berpikir lama mereka melakukan sebuah tindakan untuk membantunya. Kita bisa memilih mau menjadi sebagian orang yang mana. Manusia memang selalu dihadapkan dengan berbagai pilihan. Sama seperti mereka yang pada akhirnya memilih untuk berhenti sekolah demi membantu orang tua untuk mencari nafkah, berhenti sekolah karena keterbatasan biaya dan harus turun ke jalanan demi mempertahankan hidup. Sebuah pilihan yang mau tidak mau mereka harus ambil. Pilihan yang pahit namun harus mereka jalani dengan hati yang lapang.
Dalam hati mereka berteriak, dalam diam mereka menangis dan setiap keringat yang menetes merupakan sebuah tanda bahwa mereka berjuang demi bertahan hidup. Terlintas di benak mereka sebuah keinginan untuk kembali bersekolah atau menikmati bangku sekolah untuk pertama kalinya. Tapi apa daya, kebanyakan orang tidak peduli dan para pemegang amanat negara terlalu sibuk dengan urusan kantung pribadinya. Sedangkan mereka merupakan generasi muda yang akan mempertahankan negara dan meneruskan roda kehidupan negara ini. Generasi muda yang jika mereka menggunakan seluruh kemampuannya, akan menjadi sebuah senjata bagi kemajuan negara ini. Namun sungguh sangat disayangkan ketika banyak generasi muda yang diberi kesempatan untuk memegang amanat penjadi pelajar justru tidak digunakan dengan baik. Padahal di luar sana banyak anak-anak yang putus harapan, sekolah dan cita-cita yang sangat ingin menggunakan kesempatan itu. Karena sejatinya, menjadi pelajar yang baik dengan nilai dan prestasi yang baik bukan hanya sekedar untuk menghargai orang tua, namun untuk menghargai mereka yang putus sekolah.
Ditulis saat masih mengenakan seragam putih-abu.
My Senior High School
Hari ini adalah hari dimana KBM berakhir. Menjadi seorang siswa kelas 12 tidaklah mudah. Dihadapkan dengan berbagai macam tekanan. Mulai dari kejenuhan saat belajar, diterori berbagai macam tugas dari berbagai macam mapel (mata pelajaran), terbayang-bayang UN dan SNMPTN, bingung mau meneruskan ke univ mana dan jurusan apa, hingga berbagai macam masalah diluar urusan sekolah yang harus dihadapi oleh siswa-siswa yang berpredikat calon mahasiswa ini. Saya, dan termasuk mereka yang berada didalamnya selalu dirasuki rasa ingin cepat lulus dan kuliah. Jenuh dengan rutinitas yang ada membuat kami merasakan capek yang luar biasa sehingga rasa itu masuk ke dalam jiwa raga kami yang butuh sedikit waktu istirahat. Namun hari ini, saya merasakan perasaan yang lain. Saya merasa sedih ketika membayangkan diri ini berdiri di atas lapangan untuk mengikuti upacara kelulusan. Teringat akan tiga tahun yang tidak singkat yang saya jalani selama di dunia putih abu-abu ini.
Pada awalnya ketika saya masuk ke SMAN 12 Bandung, saya menangis kecewa akibat tidak bisa masuk ke sekolah favorit yang saya impikan sejak kelas 2 SMP. Menangis seperti anak kecil yang menyesal akan permen yang hendak dijilatnya jatuh ke permukaan tanah. Rasa kesal dan kecewa yang mengarungi perasaan saya pada saat itu. Hari demi hari, bulan demi bulan, saya mencoba bersekolah dengan perasaan yang bebas. Sekitar 20% saya baru bisa menerima sekolah ini dengan ikhlas, sisanya entah kemana. Tahun pertama saya mengikuti seleksi organisasi sekolah (OSIS) dan alhamdulillah saya lolos dan menjadi pengurus OSIS di sekolah ini. Bertemu teman baru dan menjalin keakraban dengan sesama pengurus membuat saya menambah kadar keikhlasan saya untuk bersekolah di 12 menjadi 35%. Sisanya saya masih diiming-iming oleh masa putih biru di SMPN 13 Bandung. Setahun kemudian setelah saya memiliki keluarga kecil di OSIS, dan menjalin persahabatan dengan orang-orang sederhana yang luar biasa, kadar itu pun bertambah menjadi 50%. Mungkin karena karakter saya yang senang jika mempunyai teman atau sahabat baru, saya menjadi mudah untuk mempunyai banyak teman, Pada awalnya, teman-teman di 12 ini jauh berbeda dengan teman-teman saya yang berada di SMP. Sangat jauh. Teman-teman SMP yang notaben-nya perempuan-perempuan cantik yang memiliki pergaulan luas dan selera bergaul yang cukup tinggi dan laki-laki yang berparas lebih dari standarisasi ketampanan seorang cowok dengan selera bergaul yang cukup tinggi juga. Dan saya menjadi salah satu diantara mereka. Namun, hal itu tidak menutupi saya bergaul atau berteman dengan teman-teman yang lain. Jadi saya bergaul dengan siapa saja dan dengan selera bergaul yang bermacam-macam. Hal ini sangat menolong saya ketika berada di 12. Teman-teman SMA saya notaben-nya orang-orang yang sederhana, meskipun ada sebagian kelompok yang sama dengan teman-teman SMP saya. Walaupun pada awalnya saya kaget, tapi dari orang-orang sederhana itu lah saya banyak belajar. Belajar tentang hal-hal yang pada saat SMP tidak saya dapatkan. Hingga menginjak tahun kedua saya mulai merasa sedikit nyaman untuk bersekolah disini.
Puncak kenyamanan saya bersekolah disini adalah saat menginjak kelas 12. Berawal dari nggak mau masuk kelas 12 ipa 1 karena nggak ada temen yang begitu deket banget. Tapi makin kesini saya salah. Justru, sekarang saya bersyukur banget jadi murid 12 ipa 1. Karena mereka sekarang kadar keikhlasan saya menjadi 100%! Tawa, canda, rasa berbagi dan masih banyak yang bikin saya cinta sama kelas ini. Baru kali pertama nemuin kelas se-rame dan se-kompak kelas ipas ini (Ipa Sosial) hahaha. Kelas yang banyak guru nyerah untuk ngajar disini. Kelas 12 bukannya insaf malah menjadi-jadi kalian tehya… Walaupun emang kompaknya nggak kompak bgt tapi so far kompaknya kita ngalir kaya air nggak maksain. Dan… teruntuk BULBA! So much love for you guys, laugh, share stories, and all that we shared is something that i won’t forget. Rizka, Fathur, Iqbal, Vidi, Hafiel, Gian, Sausan. There’s no words can describe how glad i’m to having you guys! Oiya, dan juga untuk Aldi, Panji, Mbe. Three Muskeeter-nya tami yang super duper menyebalkan tapi lucu! Untuk Eggy, Ricky, Alif, Edwin. Kalian, cs nya tami yang ah! Kieu pisan. Mwah! Juga untuk Gihan (Aki) terimakasih udah sabar dengerin curhatan tami yang super geje dan makasih udah sabar ngadepin tami yang suka nangis tiba-tiba. Hehehe. Untuk anak2 12 ipa 1, semuanya! Big LOVE for you mwah!!!
Nggak lupa juga untuk yang diluar kelas. Sara, Shafira, NSP, Lintang, Aliya, Elysa, Miranty, Miranda, Tiorafi, M.Iqbal, Fenisa, Mutia, Beuteng, Dimdim, Abun, Wahyu, Niki, Nabila, OSIS’35, Refa, Fida, Puput, Bibin, Ugi, Alfan, dan masih banyak lagi. Thank you very much to being best friends for me, I love you guys!
Entah setahun atau 6 bulan lagi, hari-hari saya tanpa kalian kayak gimana. Tapi yang pasti saya pasti bakal kangen kalian semua. Dan pasti suatu saat nanti kita ketemu lagi dengan kesuksesan kita masing2 ya. Pasti.
Beneath The Stars
Hitam. Gelap. Hampa. Itu yang aku rasakan saat melihat kerangka jenazah Papa untuk pertama dan terakhir kalinya. Kerangka yang menyelimuti jasad seseorang yang sudah aku anggap sebagai malaikat penjaga di dunia. Orang yang mengajariku untuk pandai matematika, menceritakan tentang sejarah Indonesia, mengingatkanku untuk selalu mencintai tanah air dan orang yang selalu menjadi tempat cerita tentang laki-laki yang datang untuk memberikan warna dalam hidupku. Entah bagaimana jadinya jika aku tanpamu, Pah. Semenjak perceraian itu terjadi enam belas tahun yang lalu, hanya kau satu-satu nya yang aku punya. Hanya kau yang menjadi tombak dalam hidupku. Dan Tuhan memanggilmu dengan sangat cepat. Tidakkah kau ingin melihat senyuman satu-satunya anak gadismu ketika menggunakan kebaya putih dengan menggandeng seorang laki-laki yang diyakini sebagai teman hidupnya, Pah? Lalu bagaimana hidupku bila kau tak ada?
Batinku berkecamuk keras. Jantungku berdegup lebih kencang, dan dadaku sesak karena lantunan isak tangis yang tidak berhenti sejak aku mendengar kabar buruk itu. Tidak ada yang lebih menyakitkan selain melihat orang yang paling kamu sayangi tertidur pulas dan kamu pun tahu bahwa dia tidak akan pernah terbangun lagi. Dadaku semakin sesak tatkala aku melihat Papa dimasukkan ke dalam tempat peristirahatannya yang terakhir. Aku berteriak memanggil nama Papa di dalam hati, aku tidak rela. Tidak. Seketika badanku tidak kuat lagi untuk menopang, mataku penuh dengan air mata, dan kepalaku pusing sekali. Pandangan akan orang-orang yang disekelilingku mulai mengabur dan seketika semuanya gelap.
“Gita, Gita … bangun nak!”
Aku mendengar suara suara yang memanggil namaku dengan nada khawatir. Aku membuka mata pelan-pelan. Paman beserta istrinya juga Pakde Rama menggoyangkan tubuhku sembari memanggil-manggil namaku.
“Alhamdulillah … kamu sudah sadar Git,” kata Pakde Rama seraya mengelus dadanya.
“Sudah, sekarang kamu makan lalu istirahat ya,” kata Bibi Lina.
Aku mengangguk, tidak bisa bersuara. Kepalaku masih pusing dan badanku pun masih saja lemas. Terlihat di raut wajah mereka lelah, khawatir dan takut aku kenapa-kenapa. Aku jadi merasa tidak enak karena sudah sangat merepotkan Paman, Bibi dan Pakde Rama.
Matahari menampakkan cahaya nya dengan sangat berani hari ini. Sangat panas, namun di Taman ini aku merasa sejuk. Bunga-bunga berwarna merah dan kuning menghiasi bagian Barat, pohon-pohon dengan gagahnya berdiri di samping taman dan anak-anak kecil yang bermain dengan sangat lucunya membuat Taman ini menjadi indah. Ah, Bandung memang jawaranya kota Kembang. Gumamku dalam hati.
Aku merasa lebih baik sekarang, badanku sudah kembali kuat untuk dibawa jalan-jalan. Pakde Rama menasehatiku untuk tidak berlarut-larut dalam kesedihan. Aku berusaha, dengan cara jalan-jalan keliling kota Bandung. Semoga saja bisa membuatku menjadi Gita yang ceria seperti biasanya. Seolah tak mau menyia-nyiakan kesejukan Taman ini, aku menarik nafas dalam-dalam lalu membuangnya dengan pelan. Aku merasa sedikit lebih tenang sekarang.
Tiba-tiba aku merasa ada benturan kecil tepat di kakiku. Aku menengok kebawah, dan ternyata itu bola yang dimainkan oleh anak-anak di sebrangku.
“Teh, punten pang alungkeun bola na..” kata salah seorang anak laki-laki yang menggunakan jersey timnas Indonesia.
Tanpa tunggu apa-apa lagi, aku langsung melempar bola itu ke sebrang. Tapi…
DUKKK!
Bola yang ku lempar tadi mengenai kepala seorang laki-laki berkaus hitam dengan tulisan The Beatles, grup band legendaris dari Inggris yang sangat terkenal, dan menggunakan topi abu-abu.
“Siapa nih yang ngelempar bola ini ke gue!?” tanya laki-laki itu.
Mampus. Siang-siang bolong begini aku sudah terkena masalah. Aku bingung antara mengaku atau kabur saja. Tapi aku teringat kata Papa, kalau kita melakukan sesuatu apapun itu bentuknya, kita harus bertanggung jawab. Aku menghela nafas.
“Maaf … barusan yang ngelempar bola itu … sa-saya,” jawabku berusaha tenang.
Laki-laki itu membalik ke belakang. Melihatku dari atas lalu ke bawah dengan serius. Wajahnya entah mengapa sangat familiar bagiku, mata belo dengan pupil berwarna coklat, hidung mancung seperti keturunan Belanda tapi masih berwajah orang Indonesia pada umumnya, lalu badannya yang tinggi sekitar 173cm dan rambutnya yang agak cepak dengan bantuan gel. Dan satu lagi, sepertinya laki-laki ini orang Jakarta.
“Maaf-maaf … kepala gue pusing nih!” protes laki-laki itu.
“Aduh mas, sekali lagi saya minta maaf … apa perlu saya bawa ke puskesmas?” tanyaku khawatir.
Laki-laki itu melihatku lagi. Tapi kali ini tidak melihat dari atas ke bawah, ia melihat mukaku. Mukaku yang bingung dan polos.
“Mas? Emang muka gue ada tampang mas-mas apa!?” kata laki-laki itu sambil mengunyah permen karet.
Darahku mulai naik.
“Gue kan udah minta maaf baik-baik, lagi pula gue kan nggak sengaja. Tadi gue mau ngelempar bola ini ke anak laki-laki itu, tapi lo tiba-tiba lewat. Jadi.. bukan salah gue sepenuhnya dong!” cetusku.
Alis laki-laki itu bertemu.
“Kok jadi lo yang marah sih? Harusnya gue dong yang marah-marah.”
Kali ini aku naik pitam.
“Terserah lo mau maafin apa enggak, yang penting gue udah minta maaf. Permisi.” kataku lukas dan tegas.
Aku berjalan dengan cepat meninggalkan taman. Baru kali ini aku bertemu makhluk seperti laki-laki itu. Ingin rasanya tadi itu membuat mukanya seperti rujak. Errrgh!
***
“Udah pulang Git?”
Aku kaget saat sedang menulis diary, tiba-tiba Pakde Rama membuka pintu lalu duduk disampingku. Dengan cepat dan tangkas, aku sembunyikan buku bersampul ben 10 itu. Karena kaget, aku hanya menjawab pertanyaan Pakde Rama dengan sebuah senyuman dan anggukan kepala.
“Itu apa Git yang kamu sembunyikan?” tanya Pakde Rama pelan.
Ternyata Pakde Rama menyadari aku menyembunyikan sesuatu.
“Bukan apa-apa kok Pakde, ini … cuma buku diary nya Gita..” jawabku jujur.
Pakde Rama mengangguk pelan. “Lalu, bagaimana harimu hari ini?” Pakde Rama bertanya lagi.
“Hm … hari ini awalnya baik-baik saja Pakde, tapi semuanya jadi rusak. Yang tadinya seneng jadi kesel gara-gara satu laki-laki rese. Erggh!” jawabku sambil meremas bantal yang ada di atas pahaku.
Raut muka Pakde Rama berubah menjadi bingung dan ingin tahu. “Memangnya apa yang terjadi?”
Lagi-lagi aku naik darah. Dan kuceritakan semua kejadian yang menyangkut laki-laki itu. Aku menceritakan kejadian itu dengan nada dan gerakan yang berapi-api. Ingin kubuat laki-laki itu seperti… tempe mendoan!
Sedangkan Pakde Rama hanya tersenyum lalu tertawa ketika mendengarkanku bercerita dengan meletup-letupnya.
“Jadi begitu ceritanya … awas jangan terlalu benci sama laki-laki itu, nanti kamu malah jadi suka beneran loh Git,”
“Ih Pakde Rama ini gimana sih, malah ngeledekin Gita … lagi pula laki-laki itu kan nggak Gita kenal, jadi nggak akan mungkin bisa ketemu lagi.” kataku protes.
“Ya sudah sekarang waktunya kamu tidur, ini sudah jam 11 malam … ndak baik loh anak perempuan begadang,” kata Pakde Rama lembut.
Aku tersenyum lalu mengangguk pelan. “Oh iya Pakde, kira-kira Papa lagi apa ya sekarang?” tanyaku sambil melihat langit atap kamar.
Pakde Rama mengusap rambutku lalu berkata lembut, “Papa mu sekarang pasti sudah tenang disana Git, dia pengen lihat kamu bahagia walaupun tanpa beliau … jadi kamu ndak boleh sedih terus ya, nanti Papa mu disana juga ikutan sedih..”
Aku menahan air mata yang hendak keluar dari mataku. Berharap semoga Papa bahagia disana dan tidak perlu khawatir akan diriku. Pa, Gita kangen banget sama Papa. Tenang disana ya Pa, Gita akan selalu doain Papa disini.
“Iya Pakde, Gita nggak akan sedih terus kok … kasihan fans-fans Gita, nanti mereka malah jadi ikutan sedih,” kataku terkekeh.
“Kamu ini narsisnya tidak pernah hilang ya … sudah sana tidur, jangan lupa sebelum tidur kamu berdoa supaya tidurmu nyenyak,”
“Siap Pakde Rama! Selamat malam Pakde…”
“Iyo selamat malam juga ya Git…”
***
Kota Kembang terasa lebih dingin dari biasanya. Dingin yang menusuk tulang membuat bibirku menggetar. Secangkir susu panas yang aku genggam dengan tangan kanan membuatku sedikit terasa hangat. Aku lupa untuk membawa payung, alhasil aku kehujanan. Aku lupa kalo bulan ini adalah bulan Desember, bulannya musim hujan. Untung saja Tita mengajak bertemu di kedai kopi yang tak jauh dari komplek rumahku. Ku lihat sekeliling ruangan, banyak orang sibuk dengan aktifitasnya. Ada pemilik kedai yang sedang melayani para pelanggan. Seorang bapak-bapak yang sibuk dengan laptopnya, orang-orang penikmat kopi yang menikmati kopi buatan Danu anak pemilik kedai ini dan pastinya Danu temanku sejak SMP yang sibuk membuat kopi dengan coffee maker nya.
Sudah hampir setengah jam aku menunggu. Kemana sih Tita? Katanya aku nggak boleh telat, eh ini malah yang bikin janji yang telat. Huh. Gumamku dalam hati. Karena bosan menunggu, aku mengeluarkan sebuah novel sejarah karangan Pramoedya Ananta Toer yang berjudul Bumi Manusia. Novel yang menceritakan kisah Minke sebagai Pribumi di masa penjajahan dan kisahnya bersama Annelies juga Nyai Ontosoroh yang membuatku terpesona akan tulisan-tulisan sang pengarang.
Ketika sedang asik membaca, tiba-tiba Tita menepuk bahuku dan membuatku kaget. “Ta, lo kebiasaan deh suka ngagetin gue tiba-tiba!” protesku.
Tita terkekeh. “Double sori deh buat lo, sori buat ngagetin lo tadi sama sori gue datengnya telat,” kata Tita dengan dua jari telunjuk dan manis berbentuk huruf V.
“Nggak ada sori buat lo, gue udah hampi setengah jam lebih disini … lo kemana dulu sih?”
“Kita udah sahabatan lima tahun dan lo nggak ngasih gue sori? Jahat bener lo sama gue Git … tadi itu gue nunggu sepupu gue dulu yang dari Jakarta,”
“Lo bareng sepupu lo?”
Tita mengangguk.
“Kok lo nggak bilang-bilang sama gue sih lo sama sepupu, terus sepupu lo mana?”
“Lo udah kayak ibu-ibu arisan deh ngomel terus Git, sepupu gue lagi parkirin mobil dulu.”
“Sialan lo Ta!” tawaku pecah.
Lalu aku memesankan Tita kopi dan menggoda Tita yang diam-diam suka dengan Danu. Sesekali aku tertawa melihat Tita mencoba mencuri-curi pandang ke arah Danu yang sibuk membuat kopi untuk para pengunjung. Sahabatku yang satu ini memang setia, dia setia menyukai Danu sejak SMP tapi sampai sekarang tidak pernah sedikit pun Danu tahu akan perasaanya.
“Nah ini dia orangnya, lo kok lama banget markirnya Gi?” tanya Tita.
Aku berbalik badan melihat laki-laki dengan mata belo dan pupil berwarna coklat, berhidung mancung, juga menggunakan kaos hitam polos membuat badannya terlihat dan tingginya kurang lebih 173cm. Tunggu dulu, sepertinya aku pernah melihat orang ini. Dan ternyata…
“Lo!?” tanyaku dengan wajah yang kaget.
Laki-laki itu tersenyum sinis.
“Ta, jadi ini sepupu lo?”
“Iya Git, emangnya kenapa? Kalian udah saling kenal?” tanya Tita yang bingung melihat kami berdua.
“Engga, waktu itu sahabat lo ini lempar bola ke gue sampe gue pusing,” kata laki-laki yang mukanya ingin aku buat seperti rujak.
“Gue kan nggak sengaja, itu juga salah lo tiba-tiba lewat di depan gue,” ketusku.
“Kok gue sih yang salah? Harusnya lo tanggung jawab, kalo gue kenapa-kenapa gimana?”
Aku baru saja mau membalas tapi Tita memotong. “Udah deh jangan berantem gitu kayak anak kecil tau nggak … sini Gi lo duduk,”
Aku memilih diam saja daripada laki-laki itu membuat darahku naik dua kali lipat.
“Daripada berantem nggak jelas dan diem-diem kayak gini … lebih baik lo berdua kenalan dulu,”
Walaupun kesal bukan main, tapi apa daya. Tidak enak juga kalau bertengkar seperti ini. “Gita,” ucapku seraya mengulurkan tangan.
Laki-laki itu melihat tanganku sambil mengunyah permen karetnya. “Gio.” katanya lalu menjabat tanganku.
“Nah, lebih enak kan kalo kayak gini…” ucap Tita sambil tersenyum jahil.
Karena aku sudah lama tidak bertemu Tita, aku dan Tita bercerita seperti biasanya. Kami menceritakan seputar artis luar negeri, teman-teman SMP dan SMA, juga tentang perkuliahan kami yang baru berjalan satu semester.
Sesekali aku melihat Gio yang duduk di hadapanku dan mulai kesal karena tidak mengerti dengan topik pembicaraan antara aku dan Tita. Dia mengalihkannya dengan sibuk bermain game di handphone nya.
“Git, bentar ya gue ke toilet dulu … biasa panggilan alam,” Tita memegang perutnya lalu terkekeh.
“Kebiasaan deh lo Ta, udah sana sana…”
Hanya keheningan yang terjadi diantara aku dan Gio. Tidak ada yang berani berbicara duluan untuk sekedar basa-basi. Apa daya aku kembali membaca novel yang tadi sedang kubaca. Lagi-lagi refleksku bergerak untuk melihat Gio. Entah mengapa mata Gio begitu sangat familiar bagiku. Ah, mungkin itu hanya perasaanku saja. Merasa sedang diperhatikan, Gio melepaskan pandangannya dari handphone yang sedang ia genggam. Mata kami bertemu.
“Kenapa lo ngeliatin gue kayak gitu?”
Aku menengok ke kiri dan kanan. “Lo ngomong sama gue?”
“Iya lah, siapa lagi orang yang gue kenal disini selain lo? Oh gue tau, lo pasti naksir sama gue ya?” tanyanya dengan mengunyah permen karet.
“Nggak usah kepedean deh, gue ngeliatin lo itu cuma heran kenapa ada orang yang nyebelin kayak lo.”
“Tuhkan ngaku juga lo ngeliatin gue, udah deh gausah bohong … gue tahu kok lo naksir sama gue,”
Demi gunung pencakar langit, orang yang ada dihadapanku ini benar-benar membuatku naik darah. “Ter-se-rah lo deh…” kataku pasrah tidak mau cari ribut.
“Aduh, baru gue tinggal sebentar udah akrab aja nih.” goda Tita.
“Akrab darimana, sahabat lo ini jutek banget Ta kayak singa keselek tiang,”
Alisku bertemu. Ingin ku balas tapi demi ketentraman kedai kopi milik Danu ini aku memilih untuk diam.
“Eh iya Git, barusan Mama gue nelfon dan minta gue buat nyusul ke butik tante gue yang ada di sebrang kedai ini … kayanya gue nggak bisa lama-lama deh ngobrol sama lo,”
“Ketemu baru aja bentar … Ta, lo tega bener sama gue,”
“Soriii banget, Mama tadi nelfon nya juga mendadak … tenang aja, lo dianter pulang sama Gio kok.”
“Eh Ta…” belum selesai Gio berbicara, Tita memotong pembicaraan Gio dengan melototinya.
“Iya-iya gue anterin pulang sahabat lo yang jutek ini,”
“Oke deh kalo gitu gue pergi dulu ya, next time kita harus ngobrol lagi … dadah Gitaku sayang!” Tita mencium pipiku, melambaikan tangan lalu pergi menghilang.
Aku kembali membaca. Berusaha untuk menetralkan rasa kesal yang daritadi menganggu. Selama sepuluh menit kami terdiam. “Eh iya, soal yang bola itu gue sekali lagi minta maaf ya,”
Gio melihatku lama. “Hm … gue maafin lo dengan satu syarat,”
“Apa?”
“Malam tahun baru besok, lo harus nemenin gue ke sebuah tempat,”
“Kemana?”
“Udah deh nggak usah bawel, pokonya gue jemput lo jam lima sore ya.”
“Iya-iya,”
“Sekarang gue anterin lo pulang.”
Sepanjang perjalanan, aku lebih banyak berbicara. Manusia super aneh disampingku ini sudah tidak menyebalkan seperti sebelumnya. Kami berdiskusi tentang perkuliahan, Indonesia, buku, dan novel sejarah yang sedang aku baca. Ternyata Gio juga menyukai novel tersebut. Dia menyukai bagian dimana Minke tertangkap basah menuliskan empat tulisan dengan nama pena Max Tollenaar. Hal itu membuat Juffrouw Magda Peters kagum pada muridnya yang satu itu. Tak ku sangka orang menyebalkan seperti Gio suka pada karangan-karangan Pram. Ternyata memang benar kita tidak boleh menilai orang dari luarnya saja. Malam ini, aku menemukan teman baru yang cukup menyenangkan.
**
Anak-anak kecil di sepanjang jalan sudah ribut meniupkan trompet. Euforia menjelang perayaan tahun baru kali ini lebih besar ketimbang tahun lalu. Mungkin karena tahun ini banyak sekali anak-anak dari kecil hingga remaja yang berkumpul untuk merayakan tahun baru di car free night. Dari tempat duduk disamping supir ini aku bisa melihat langit begitu indah dengan ditemani jutaan bintang. Tapi sayangnya, hanya sebentar aku bisa melihat bintang-bintang itu. Gio menutup mataku dengan kain hitam agar aku tidak bisa menebak kemana ia membawaku pergi. Orang ini benar-benar menjengkelkan. Untuk menghilangkan kesal, lebih baik aku tidur saja sepanjang jalan.
“Git … Git, bangun. Kita udah nyampe nih,” kata Gio membangunkanku.
Gio membukakan pintu ku lalu menggoyongku keluar dari mobil. Aku berjalan perlahan sesuai yang Gio perintahkan. Gio membukakan kain hitam yang menempel di mataku pelan-pelan. Terlihat sangat gelap pada awal membuka mata. Tapi lama-lama terlihat lampu-lampu terang diberbagai rumah, jalan, bahkan gedung. Aku takjub bahwa itu adalah pemandangan kota kembang di malam hari.
“Gi … ini…” ucapku setengah berbisik.
“Iya, ini bukit Moko Git. Tempat yang dari sebulan lalu pengen kamu datengin,”
Dari bukit Moko ini, aku melihat keseluruhan kota Bandung. Cantik sekali pemandangannya. Malam tahun baru kali ini, tanpa Papa. Untuk pertama kalinya. Biasanya disetiap pergantian tahun, aku dan Papa selalu memandangi langit hitam bertaburkan bintang-bintang. Berbincang-bincang mengenai apa yang sudah dilakukan di tahun sebelumnya dan apa yang ingin dilakukan di tahun berikutnya. Andai saja ada Papa disini…
Air mataku tiba-tiba jatuh tanpa permisi. Seolah tak kuasa membendung kesedihan yang sering ku tahan. Langsung aku menunduk agar Gio tidak melihat aku menangis.
Bintang di langit
Gelisah menanti hari kan pagi
Begitu pula rasa di hatiku
Gelisah menanti cintamu
Oh kasih
Kau taburkan sebuah misteri
Di diri yang terlanjur
Hati t’lah terbuai mimpi
Oh kasih
Kunanti kaya cinta hatimu
Walaupun kau s’lalu membisu
Kau bisu, kau s’lalu bisu….
Aku berbalik kebelakang. Melihat Gio memegang gitar dan melantunkan serta menyanyikan lagu Kasmaran yang dibawakan oleh Vina Panduwinata. Buru-buru aku menyeka air mata yang ada di pipiku. Gio menyanyikan lagu itu dengan sangat indah. Begitu indah. Dan merdu. Aku tersenyum tak kuasa menahan rasa senang di hatiku.
“Nah, gitu dong senyum jangan murung aja … nanti kamu cepet tua loh Git,”
Kamu? Sejak kapan Gio memanggilku dengan sebutan kamu. Dan sejak kapan pula anak tengil itu bersikap manis dihadapanku. Orang ini memang aneh. Tapi tunggu dulu. Kalung dan lagu itu…
“Gi, sejak kapan kamu pakai kalung itu?” tanyaku serius.
Gio memegang kalung sederhana berbahan benang tali dan ada bulatan hijau dengan tulisan huruf I. “Oh kalung ini? Ini kalung dari aku kecil waktu kelas dua SD Git,”
Kalung itu. Kalung yang pernah aku kasih pada anak laki-laki yang sudah ku anggap sebagai sahabatku sejak TK. Tapi anak laki-laki itu telah pindah ke Amerika bersama orang tua nya. Dan kalung itu aku beri di hari terakhir kami bertemu. Anak laki-laki itu bernama Nino.
Ku keluarkan kalung yang sama dari leherku. Kalung yang aku pakai berbeda huruf dengan yang dimiliki Gio. Bedanya, kalung yang ku pakai berinisial huruf N. Gio kaget bukan main saat ku tunjukan kalung yang ku punya.
“I-ita!?”
“Ka-kamu Nino?”
Ku rasakan hembusan nafas Gio disamping telingaku. Degup jantungnya sama dengan degup jantungku. Aku pelan-pelan membalas pelukannya. Sebelas tahun lamanya tidak bertemu. Sungguh ajaib hidup ini. Aku bertemu kembali dengan anak laki-laki yang amat ku sayang pada waktu itu.
“Ta, akhirnya aku ketemu kamu juga. Sebelas tahun lamanya Ta, kalung ini nggak pernah aku lepas. Setiap hari aku selalu berharap bisa ketemu kamu, sampai akhirnya aku pulang ke Bandung untuk cari kamu. Tapi setiap hari itu pula usahaku sia-sia.”
“Nino, setiap pergantian tahun dibawah bintang-bintang aku selalu berdoa untuk bisa ketemu kamu. Ketemu kamu Gionino…” aku berbisik pelan dibahu Gio. Lagi-lagi air mataku tak bisa ku tahan.
Sebelas tahun yang lalu, malam itu pada pergantian tahun 2003, Nino mengajakku naik ke atas atap rumah untuk melihat bintang-bintang seperti yang biasa kami lakukan. Saat itu, hari terakhir aku bertemu Nino. Kami tiduran di atas atap lalu menghitung bintang bersama. Sesuai janji, kami memberikan kenang-kenangan satu sama lain. Kami bertukar kalung yang kami beli di sebuah gerobak mainan. Aku mengalungkan kalung berinisial huruf I di leher Gio, lalu Gio mengalungkan kalungnya yang berinisial huruf N ke leherku.
Dan lagu itu, lagu yang barusan Gio nyanyikan untukku adalah lagu yang sering kami dengar pada waktu kecil. Papa ku sangat menyukai lagu Kasmaran yang dibawakan oleh Vina Panduwinata sehingga kami pun ikut menyukainya.
Gio melepaskan pelukannya. “Ta, masih inget sama janji aku yang dulu?” tanya Gio seraya memegang pipiku.
Aku mengangguk pelan.
“Mulai sekarang sesuai janji pinky swear dulu, aku akan selalu jagain kamu Ta. Dan nggak akan pernah ninggalin kamu lagi.”
“Janji?” kataku sambil menyeka air mata yang ada di pipi.
“Janji,”
Jari kelingking kami bertemu untuk kedua kalinya.
“Tapi tunggu dulu, kenapa kamu ajak aku kesini?” tanyaku.
Gio berjalan mendekati ujung bukit, lalu berbaring disana. Aku pun ikut berbaring disampingnya.
“Jadi, waktu pertama kali ketemu kamu di taman itu … aku suka sama kamu Ta, itu kenapa kamu bisa ketemu aku di kedai kopi itu. Aku liat di hp nya Tita ada foto kamu, langsung deh aku mohon-mohon supaya bisa ketemu kamu, dan syarat permintaan maaf itu … cuma modus supaya aku bisa deket sama kamu,” Gio terkekeh.
Aku mencubit perut Gio. “Ih dasar ya nyebelin, malah bilang aku yang naksir duluan!” kataku protes.
“Duluan? Berarti…”
Sebelum Gio meneruskan kalimatnya, aku membungkam mulutnya dengan tangan kananku. Aku tahu Gio mengerti maksudku, maka dari itu ku bungkam mulutnya.
Tawa Gio pecah. Lalu ia bangun dan duduk di hadapanku. “Di bawah bintang-bintang ini, aku janji sama Om Jaka yang udah tenang di alam sana untuk selalu jagain anak gadisnya dan nggak akan pernah ninggalin anaknya yang bawel ini, selamanya.” Ucap Gio pelan. Lalu Gio mengecup keningku untuk yang kedua kalinya.
Malam ini begitu indahnya. Dan begitu ajaib. Aku sudah tidak merasa sedih lagi. Karena Gio akan selalu ada untukku, untuk menjagaku selepas kepergian Papa. Terdengar suara kembang api bersautan.
“Selamat tahun baru 2014…” ucapku berbisik.
Cerita Gadis Kecil
Kota Kembang terasa lebih dingin dari biasanya. Dingin yang menusuk tulang membuat bibirku bergetar. Secangkir susu panas yang ku genggam dengan tangan kanan membuatku sedikit terasa hangat. Aku dapat bernafas lega karena hari yang ku tunggu akhirnya datang juga. Hari dimana anak-anak sekolah merayakan kemenanganya, karena dapat bersahabat lebih lama dengan kasur dan terhindar dari jenuhnya belajar di sekolah. Tidak hanya itu, biasanya hari ini dimanfaatkan orang untuk bertamasya dengan keluarga. Namun aku tidak mempunyai rencana apapun bersama keluarga. Aku hanya ingin memanfaatkan hari ini dengan membaca novel yang baru saja aku beli seminggu yang lalu. Novel karya Iwan Setyawan dengan judul 9 Summers 10 Auntums yang telah terbit pada akhir bulan tahun 2011 lalu. Menurut salah satu host sebuah acara tv, novel ini segar dan inspiratif. Aku semakin penasaran. Kusimpan secangkir susu panas di atas meja samping rak buku kamarku. Lalu ku buka halaman pertama. Dan aku pun tenggelam oleh cerita dalam novel itu.
Aku membuka halaman demi halaman. Mencoba mencerna setiap kata yang terangkai dengan indah. Dan memaknai rangkaian-rangkaian yang tersusun dengan sempurna. Tiba-tiba terjadi sesuatu yang jatuh dari mataku. Tetesan demi tetesan membasahi pipiku yang merah. Novel ini mengingatkanku akan sesuatu yang sudah ku alami. Sesuatu yang pahit namun harus selalu terasa manis. Kenangan masa lalu yang tak pernah diinginkan oleh setiap anak di penjuru dunia. Membayangkan kembali kenangan masa lalu butuh sebuah keberanian. Banyak lembar ingatan yang tak berani ku sentuh, karena melankoli yang muncul bisa meledak dan tak ada kekuatan dalam diriku untuk meredamnya.
“Ami kangen ibu,” kalimat itu yang terlintas di dalam hatiku. Tak terhitung berapa banyak kalimat itu ku ucapkan dalam hati. Tak terbendung berapa banyak air mata yang ku teteskan pada saat mengucapkan kalimat tersebut. Aku membuka lembaran – lembaran kenangan di masa lalu. Ketika aku berumur dua tahun, aku menjadi anak broken home. Dimana pada saat itu aku tidak tahu apapun dan tidak dapat memilih untuk mau hidup dengan siapapun. Namun pada akhirnya dengan keputusan bersama, aku hidup dengan keluarga Papa. Waktu pun terus berlalu hingga umurku menginjak lima tahun.
“Ami pengen dianterin sama mamah yang muda, nggak mau yang tua!” ucapku saat nenek mengantarku pergi ke sebuah Taman Kanak-kanak. Betapa polosnya aku saat itu melihat teman-teman se- usiaku diantar oleh ibu-ibu yang masih muda. Sedangkan aku diantar oleh nenek. Nenek hanya terdiam dan menitihkan air mata melihat kepolosan diriku pada saat itu. Namun kejadian ini tidak akan terulang lagi. Karena telah datang sesosok wanita yang telah merubah kehidupanku. Menjadi lebih indah dan berwarna.
Seorang wanita yang papah nikahkan ketika aku berumur enam tahun. Dan telah menjadi ibu tiriku. “Ami mau manggil tante apa?” tanyanya seusai menikah dengan papah. “Kan mama udah ada, jadi Ami panggil Ibu aja ya” jawabku pada saat itu. Sungguh terdengar aneh bagiku. Saat dimana aku memiliki Ibu baru. Namun aku menikmati hari-hariku bersama keluarga kecil yang baru. Hanya ada aku, Papa dan Ibu tiriku. Betapa bahagianya ketika aku bisa merasakan hangatnya sebuah keluarga yang lengkap. Merasakan sentuhan kasih sayang seorang Ibu yang tidak pernah aku alami sejak aku berumur dua tahun. Ibu berusaha untuk menjadi ibu yang terbaik untukku. Mengajariku banyak hal. Mendidik aku agar selalu meminta maaf jika mempunyai salah pada orang lain. Membacakan cerita apapun yang aku inginkan sebelum tidur. Aku masih ingat ketika sedang berbelanja buku di Gramedia aku ingin membeli suatu buku cerita tentang mengenal Nabi&Rasul tetapi Ibu tidak membelikanya.
“Bu, Ami mau buku ini yang ada tasnya” kataku sambil mengambil tas yang berisikan buku cerita itu ke hadapan ibu. “Kita kesini kan buat beli alat tulis untuk tahun ajaran baru, Ami kan sekarang udah naik kelas dua jadi butuh buku tulis. Itu kan buku cerita, jadi entar aja ya kalo kita kesini lagi Ibu pasti beliin buat Ami” ucap Ibu lembut. “Oke Bu, kalo kita kesini lagi Ibu belinya yang kaya gini ya yang ada tasnya!” ucapku bersemangat dengan menunjukan sekumpulan buku cerita yang terbungkus rapi dengan tas berselendang berwarna biru tua. Ibu dan Papa selalu mengajarkan bahwa aku harus mendahulukan kebutuhan ketimbang keinginan. Masih banyak hal-hal yang Ibu ajarkan ketika aku masih kecil.
Waktu terus berlalu hingga aku berumur delapan tahun. Aku merasa menjadi anak yang sempurna karena aku mempunyai keluarga kecil. Bahagia karena mendapatkan sebuah kasih sayang yang belum pernah aku dapatkan sebelumnya. Tapi Allah berkata lain, aku harus melanjutkan kehidupanku seperti dulu lagi. Hanya ada aku juga Papa. Allah hanya meminjamkanku keluarga kecil yang selalu ku impikan. Ketika aku berumur delapan tahun ini aku harus menerima kenyataan yang pahit. Ibu dan Papa berpisah secara baik-baik. Betapa kecewanya aku pada saat itu. Kembali lagi menjadi anak broken home yang memimpikan sebuah keluarga yang indah. Hingga pada akhirnya di sebuah acara keluarga, banyak kakak dan adik nenek yang saling tunjuk untuk memberitahukanku bahwa ibu dan papah sudah berpisah. Dan yang berani melakukanya adalah kakak nenek yang paling besar yang kupanggil Uwa. “Ami, sekarang tinggal sama nenek lagi ya. Soalnya Papa sama Ibu udah pisah jadi yang ngurusin Ami sementara Nenek. Ami nggak apa apa kan?” tanya Uwa dengan hati-hati. “Iya Ami gak apa-apa ko” jawabku singkat karena malas tidak mau membahas hal itu lebih lanjut lagi. Pada saat itu memang aku masih kecil, tapi jauh sebelum keluarga besar mengetahui hal itu aku sudah tahu terlebih dahulu. Aku selalu mengerti apa yang diucapkan atau dibicarakan keluarga jika membahas masalah. Mereka begitu santai ketika aku sedang asyik menonton kartun di ruang tengah dan mereka membicarakan hal-hal yang sepatutnya belum aku mengerti. Tapi sayang aku mengerti apa yang mereka ucapkan. Sedih, namun harus selalu ku tutupi apapun itu bentuknya. “Ami gak boleh nangis. Inget kata Ibu, Ami gak boleh cengeng!” ucapku dalam hati. Namun apa daya, umurku masih kecil hingga air mata sedikit demi sedikit menetes dan membasahi pipiku yang terlihat tembem. Lalu aku pergi ke kamar dan menangis. Aku tidak mau orang lain melihatku menangis. Lalu ku usapkan semua air mata yang menetes, keluar kamar dengan sebuah senyuman. Menahan gejolak rasa ingin berteriak dan menangis. Tapi aku tidak mau orang lain melihat Ami yang gembul menangis.
Di umur delapan tahun itu aku memulai hidup tanpa seorang ibu lagi. Tidak ada yang membacakan cerita yang aku inginkan, mengajaku ke Gramedia, dan memberiku sebuah sentuhan kasih sayang seorang ibu. Setelah berpisah dari Papa, Ibu kembali ke Kota kelahiran yaitu Padang. Dan pada saat itu juga aku hanya bisa berkomunikasi dengan Ibu melalui telepon. Ingin rasanya memeluk Ibu walau hanya beberapa menit. Ingin melihat senyuman seseorang yang telah menanamkan bibit –bibit kebaikan ketika aku kecil walau itu untuk terakhir kalinya. Aku berharap suatu saat nanti dapat bertemu Ibu dengan cita-cita yang sudah aku gapai. Menunjukan hasil dari apa yang Ibu tanam walau hanya dua tahun. Kini Ami kecil tumbuh lebih dewasa sebelum umurnya. Menutupi kesedihan dengan sebuah senyuman. Berharap Ibu akan tersenyum seperti Ami kecil tersenyum, dan bahagia dengan siapapun Ibu berada.
Dari umur sekecil itu aku belajar tegar. Belajar menerima sebuah keadaan walau prosesnya tidaklah cepat. Aku bersyukur karena Allah pernah memberikanku kesempatan untuk merasakan sebuah keluarga kecil. Dan telah mengirimkanku seorang wanita yang hebat yang dapat mengubah hidupku. Kini aku memiliki dua wanita hebat yang ada di dalam hidupku yaitu Mama dan Ibu. Aku tahu di dunia ini tidak ada yang sempurna. Hidupku memang tidak sempurna, tapi aku yakin sang pencipta akan memberikanku apa yang aku butuhkan, bukan kesempurnaan. Dengan bertambahnya umur, aku semakin memaknai hidup. Berusaha berdiri diatas kaki ku sendiri. Hidup dengan secercah harapan dan beribu mimpi untuk direalisasikan. Percaya bahwa jika kita berusaha keras kita akan menggapai harapan dan mimpi itu.
Pada akhirnya, ini hanyalah satu dari sekian fase, yang akan segera terhapus oleh fase-fase berikutnya. Sebuah kenangan yang telah menjadi abu, dan menjelma bagaikan bayangan yang abu-abu. Aku menyimpan novel tersebut ke dalam rak buku. Lalu ku ambil secangkir susu yang masih hangat. Meneguk susu hangat membuatku merasa lebih baik. Kupandangi langit sore yang sedang meneteskan butiran air hujan. Sama seperti ku, tersenyum namun menitihkan air mata. Berharap langit akan tersenyum walaupun hujan turun.
“Dari Bumi tempatnya berpijak, anak manusia itu berharap suatu hari nanti akan bertemu dengan Andromeda dan Orion. Tidak ada yang perlu disesali, karena ia telah belajar banyak hal dari kehidupan luar angkasa.”
Windy Utami Dewi, Andromeda
“Setelah ia bertemu dengan Andromeda dan Orion, ia belajar banyak tentang hidup. Memahami sebuah perasaan, hingga pada akhirnya ia sadar bahwa tidak ada sebuah kebetulan. Semua sudah ada yang mengatur. Lalu anak manusia itu tersenyum memikirkan semuanya.”
Windy Utami D, Andromeda
“Kehidupan luar angkasa kini tinggal menjadi kenangan bagi anak manusia itu. Ia ingat ketika duduk di lintasan planet dekat langit Utara Pegasus, ia berfikir, untuk apa aku disini? Dan mengapa aku bisa berada disini?”
Windy Utami D, Andomeda
“Anak manusia itu kembali hidup di planet yang ia cintai, Bumi. Ia berbisik pelan, selamat tinggal angkasa. Selamat tinggal Andromeda dan Orion. Aku akan sangat merindukan kalian disini, di tempat aku berpijak sekarang…”
Windy Utami D, Andromeda
“Banyak kerikil-kerikil kecil hingga besar yang sudah anak manusia itu hadapi. Puluhan hantaman kerikil masih ia hadapi. Namun kini, kekuatannya telah hilang. Ia telah rapuh. Bahkan ia ditelan rasa kelelahan. Hingga pada akhirnya, anak manusia itu kembali ke bumi dan menutup ceritanya di angkasa bersama Andromeda dan Orion.”
Windy Utami D, Andromeda