It has been a long time…end of 2012 is coming…and we’re back…well I’m back
Edge of Darkness – Officer Involved…Yeah Right

No spoiler for sure, bisa di lihat pula di trailernya, Edge of Darkness bermula pada Emma Craven yang ditembak mati didepan ayahnya, Tom Craven (Mel Gibson) tanpa sebab yang jelas. Kisah selanjutnya kejar-kejaran, sedikit action sana-sini, intinya adalah aksi pembalasan dendam seorang ayah yang celakanya buat sang bandit adalah seorang veteran polisi.
Mel is back…hmm after 7 years! Sayangnya mungkin disini bukanlah penampilan terbaiknya setelah sekian lama. Di tangan seorang Martin Campbell, performancenya cukup menyakinkan sebagai ayah yang stress atas kehilangan putrinya, too bad it is not outstanding…biasa aja. Agak sedikit menyesalkan kurangnya screen time untuk menangkap kesedihan Craver setelah kematian putrinya, membuat gw merasa filmnya kehilangan hampir separuh soul yang seharusnya. Yaa yaa…walaupun ada bagian di film yang “berusaha” untuk menjelaskan hal ini.
Edge of Darkness has hit and miss moments. Ray Winstone adalah scene stealer, walaupun akhirnya eksekusi karakter di bagian ending agak-agak berasa ‘hmm…whatt?!’. Sedikit-sedikit mengingatkan gw pada History of Violence atau Death Sentence. Jangan salah, this movie could not be compared to Taken. Taken lebih straight-forward, lebih popcorn, lebih menghibur ketimbang Edge of Darkness. Sebenarnya premis berdasarkan BBC series ini tidak buruk, masalahnya terletak pada script William Monohan (mendapat oscar atas script yang ‘tidak terlalu bagus’ lewat the Departed, compared to its original, Infernal Affairs…yeahh). It’s so predictable. Setengah bagian terakhir berasa tersendat-sendat dan membosankan. Saat filmnya mencoba untuk kelihatan lebih smart, lebih complicated, it falls flat. Unfortunately, sometimes thriller needs a twist, and Edge of Darkness offers nothing. No suprise at all…..7/10
Filed under Movie Review
Nine – Page One Page Zero
Dari seorang Rob Marshall (sutradara Chicago, Memoirs of a Geisha) lahirlah drama musikal, dengan design dan sinematografi cantik, yang membawa Daniel Day Lewis, Nicole Kidman, Kate Hudson, Marion Cotillard, Penelope Cruz, Judi Dench, Fergie dan Sophia Loren dalam satu frame, ohh well, lebih tepatnya Day Lewis dengan salah satu dari aktris bergantian. Nine diadaptasi dari pemenang Tony Award berjudul sama, “Nine” sekaligus remake dari film Italia arahan Federico Fellini “8 1/2”.
Roma, 1965, Guido Contini (Daniel Day Lewis) adalah sutradara terkenal dalam industri sinema Italia, yang belakangan mulai kehilangan “keberuntungannya” karena telah berturut-turut menghasilkan 2 karya terakhirnya yang gagal. Atas dasar reputasinya, Guido masih diberikan kepercayaan untuk memproduksi sebuah film besar yang sayangnya tidak ada satupun orang yang tahu isi film itu, tidak produser, tidak artis, bahkan Guido sendiri. Nine adalah kisah pelarian Guido untuk menemukan talentanya kembali, melalui wanita-wanita disekelilingnya termasuk istrinya Louisa (Cotillard), simpanannya Carla (Cruz), seorang wartawan fashionista yang mencari ketenaran Stephanie (Hudson), bintang utama filmnya Claudia (Kidman) dan wanita dari kenangan masa kecilnya Saragina (Fergie).
Sulit. Terus terang tidaklah mudah memberikan penilaian kepada Nine. Seluruh cast keliatan sekali effortnya masing-masing, di luar Fergie, gw lumayan surprised melihat Cruz, Kidman, Hudson atau Cottilard bernyanyi dan menari. They sing and dance beautifully, walaupun tampil dalam screen time yang tidak signifikan. A solid performance from Daniel Day Lewis, not spectacular, tapi cukup menyakinkan. Penelope Cruz tampil sangat menarik, she delivers a very sexy…and provocative solo. Kate Hudson mencuri perhatian dalam “Cinema Italiano”, sangat energetic, catchy, well, it’s eye candy for sure. Nicole Kidman classy, tidak mengherankan, walaupun aksen yang berubah cukup mengganggu, tidak buruk tapi cukup mengecewakan. Di luar semua itu, tampil paling cemerlang adalah Marion Cotillard, she stands out among others by giving heartfelt and emotional performance.
Di luar cast yang tampil menawan, well each of the casts is just a star. Nine hampir tidak memberikan kesempatan pada gw untuk connect dengan karakter-karakter yang ada, untuk bisa menikmati filmnya secara utuh. One of my biggest criticisms of the film is the plot. Ibarat menatap sebuah pemandangan yang indah dari sebuah jendela, cantik tapi lama kelamaan kelihatan membosankan, flownya tidak mengalir. Pretty boring. Kadang gw merasa kalo filmnya terlalu berusaha keras untuk tampil secantik, stylish dan se-art mungkin.
Overall, Nine is visually stunning and truly one of the sexiest movies I have ever seen, but the script could have been better…..7.5/10
Filed under Movie Review
Did You Hear About The Morgans – An Epic Fail Romcom
Meryl (Sarah Jessica Parker) dan Paul Morgan (Hugh Grant) adalah pasangan ‘suami-istri’ yang sukses dalam karir tapi bermasalah dengan pernikahan mereka. Disaat Paul berusaha memperbaiki hubungannya dengan Meryl, tanpa di sengaja mereka menjadi saksi atas pembunuhan seorang gembong senjata. Dari kota besar yang serba gemerlap, pihak kepolisian harus menyertakan mereka pada program pelindungan saksi, mengasingkan mereka ke sebuah kota kecil, Wyoming. Di kota kecil ini, Meryl dan Paul berusaha untuk ‘bertahan hidup’ sekaligus bonus memperbaiki hubungan mereka.
Ini adalah film tentang pentingnya komunikasi dan memaafkan. Jangan salah, Did You Hear About the Morgans is not thriller movie, genrenya masuk komedi romantis, romcom. Premis yang sebenarnya cukup menarik, walaupun tidak original, dengan dukungan cast yang menjanjikan, too bad I wish they had a better script. Oh-em-ji, scriptnya buruk…sangat buruk. Joke-joke Morgans berasa melempem, chemistry SJP dan Hugh Grantpun kerasa ‘mati’. SJP tetaplah SJP, Hugh Grant tetaplah Hugh Grant, berasa nonton mereka dalam karakter-karakter di film sebelumnya, intonasi dan akting yang serupa dalam setting yang berbeda. Boring and predictable.
Overall, despite a couple of funny moments, Morgans does not deserve to be seen in theaters, plain and simple….4/10
Filed under Movie Review
Hari Untuk Amanda – Sebuah Pilihan Antara Apa Yang Kita Mau Atau Apa Yang Kita Butuhkan
“Selama ini aku selalu nyoba jadi orang yang kamu mau, tapi itu kayaknya nggak pernah cukup”
Sepuluh hari lagi Amanda (Fanny Fabriana) dan Dodi (Reza Rahardian) akan menikah. Di tengah persiapan menuju hari-H, di tengah kepusingan Amanda mempersiapkan segalanya, sementara Dodi sibuk dengan pekerjaannya, hadir Hari (Oka Antara), mantan pacar Amanda. Merasa mulai terganggu oleh “ulah-ulah” Hari, akhirnya Amanda memaksa mantan pacarnya ini untuk menemani dirinya selama satu hari untuk mengantarkan undangan pernikahan, tujuannya adalah untuk menyadarkan bahwa pernikahan ini sangat penting bagi Amanda.
Hari Untuk Amanda adalah kisah satu hari tentang sebuah pilihan, tentang sebuah komitmen. Surprise. Surprise. Film ini kerasa sangat real, dewasa dan tidak klise seperti kebanyakan drama romantis Indonesia yang lain. Bottom line-nya, It was a very good romantic drama, eksekusi yang rapi dan plot yang flownya lancar bertutur. Di luar ritme film yang sedikit berasa turun saat menjelang klimaks, saat Amanda mulai luluh dan berbunga-bunga dengan sikap Hari, film ini memiliki keistimewaan yaitu meletakkan hal-hal yang sangat sederhana namun dengan banyak emosi yang bermain di setiap scenenya sehingga menempatkannya sebagai film dengan plot yang cukup original. Angga Dwimas Sasangko, the director, menempatkan scene-scene dengan topangan dialog-dialog komedi, kadang romantis dan menyentuh bercampur-aduk tiap menitnya, sweet and entertaining, tapi nggak cemen.
The acting is wonderful, especially from the two leads. Duo Fanny – Oka punya chemistry yang cukup kuat, convincing and genuine. Dalam satu hari perjalanan Amanda – Hari, kita diajak tertawa oleh tingkah Hari yang easy-going, agak gombal dan nekat, berbanding terbalik dengan Amanda yang cenderung emosional. Sampai saat kita di bawa ke penghujung cerita, tidaklah terlalu penting apakah Amanda akan memilih Hari atau kembali kepada Dodi, pilihan antara apa yang dia mau atau apa yang dia butuhkan. Hal yang lebih penting adalah Hari Untuk Amanda punya unsur-unsur yang menjadikan sebuah film enak untuk ditonton, bahkan mungkin juga berhasil menjadi sebuah film yang personal ceritanya untuk sebagian penonton.
Overall, Hari Untuk Amanda is a thoughtful film about love. An impressive film that shouldn’t be missed……8/10
Filed under Movie Review
Rumah Dara (Aka Macabre) – Slasher yang Kick-Ass Buatan Anak Negeri
Release Date : January 22, 2010
Rumah Dara adalah kisah Adjie dan Astrid, pasangan suami-istri muda, bersama dengan Ladya, adik Adjie, serta 3 orang teman baiknya, yaitu Eko, Jimmy dan Alam, dalam perjalanan dari Bandung menuju Airport untuk mengantar Adjie dan Astrid yang akan menetap di Australia. Perjalanan mereka terhenti ketika mereka memberikan tumpangan kepada seorang perempuan asing, Maya, yang akan membawa mereka ke rumahnya dan bertemu dengan ibu Maya, Dara dan saudara laki-lakinya, Adam. Keputusan mereka memberikan tumpangan malam ini harus mereka sesali karena setelahnya mereka harus berjuang untuk dapat tetap hidup dan keluar dari rumah itu.
Macabre buat gw adalah film yg sangat linear, tidak ribet, atau intinya straight to the point. Terus-terang, bagian awal opening berasa terbata-bata penuturannya, nggak terlalu mengalir. Akan tetapi, setelah masuk scene-scene perkenalan Dara dan anak-anaknya, permainan kekuatan filmnya baru dimulai, pace-nya jauh lebih ok dari bagian awal. Appertizer, main course dan desert disajikan tidak cuma cantik tapi kita juga dibuat terkejut atas rasa yang ditawarkan, kadar gore yang akan sulit ditemukan di film lokal yang sudah lolos dr guntingan LSF.
Trio Danish-Imelda-Arifin tampil cemerlang, so into their characters, karakterisasinya dapet, feelnya kena. Makin ke belakang, intensenya akting mereka (termasuk Julie Estelle, protagonis Ladya) naik terus-menerus. I was cheering and clapping for some ‘payback’ scenes . Danish diawal-awal kehadirannya mungkin terlalu komikal buat gw, tapi makin ke belakang, transisi emosi dia sampai ke layer yang cukup mengerikan. Overall, I have so much fun with Macabre…definately, a must see movie….8.5/10
Filed under Movie Review
Sepuluh Film Indonesia Terbaik Tahun 2009
Setelah Top 10 Movies of 2009, sekarang berdasarkan basis yang sama, gw memberanikan diri menyusun 10 besar film Indonesia terbaik tahun ini dari sekitar 89 + 1 (satu film yaitu Rumah Dara baru akan beredar di bulan Januari 2010) judul film yang beredar sepanjang tahun.
10. Bukan Cinta Biasa
Bukan Cinta Biasa adalah satu film yang mencuri perhatian gw tahun ini. Cerita mengenai hubungan ayah dan anak dalam kemasan yang menarik, segar sekaligus mengharukan, membuat film ini menjadi film yang tidak biasa.
9. Heartbreak.com
Premis yang unik adalah kunci keunggulan film bergenre drama-komedi-romantis ini. Kemasannya tetaplah cute, funny dan tentu saja menghibur ala romcom yang lain, tapi film ini melewati ekspektasi gw karena di eksekusi dengan rapi.
8. Merantau
Dari sebuah genre film yang lama tidak disentuh oleh film maker Indonesia, Gareth Evans melahirkan sebuah film martial arts yang eye candy. Film ini menjadi lengkap oleh kehadiran legenda Christine Hakim yang tampil singkat tapi sangat emosional.
7. Cin(t)a
Cin(t)a berbicara mengenai kekuatan sebuah script yang dibungkus dalam sebuah cerita mengenai percintaan dua orang remaja berbeda latar belakang. Hanya cukup menghadirkan dua orang pemain dengan dialog-dialog yang cerdas, dan film menjadi sangat menarik dan kita hampir melupakan kekurangan pada unsur-unsur teknis.
6. Emak Ingin Naik Haji
Atik Kanser dan Reza Rahadian membangun film produksi Mizan, Emak Ingin Naik Haji, menjadi film yang sederhana, tidak bertele-tele dan murahan ala sinetron-sinetron yang hanya menjual air mata dengan emosi yang terlalu meletup-letup. Film ini mengalir wajar, treatment yang harusnya juga berlaku untuk semua film drama.
5. Rumah Dara (Macabre – International Title)
Film slasher lokal dengan kualitas tidak memalukan. Macabre adalah pencapaian paling tinggi sineas film Indonesia, bahwa film Indonesia pun dapat memiliki production value yang setara dengan karya luar. Menegangkan sekaligus fun menyaksikan Julie Estelle beradu jiwa dan raga dengan Danish dalam scene-scene yang berdarah-darah.
4. Sang Pemimpi
Pendekatan Sang Pemimpi yang berasa lebih real, merupakan peningkatan pengolahan cerita dari prekuelnya, Laskar Pelangi. Mungkin penonton masih mengeluhkan editing yang tidak bersih, tapi harusnya semua sepakat bahwa perjuangan anak-anak Belitong dalam meraih mimpinya berbalut dengan kecintaan akan figur ayah adalah cerita yang sangat universal dan menyentuh.
3. King
Bulu tangkis adalah olahraga yang sangat lekat dengan masyarakat Indonesia, dan King di bawah bendera produksi Alenia, adalah sebuah pembuktian kalau film maker Indonesia juga sanggup membuat film olahraga yang baik. Katakanlah King memang tidak sebaik Denias, tapi harus diakui bahwa film ini adalah satu dari sedikit film Indonesia yang memiliki kualitas yang baik.
2. Pintu Terlarang (the Forbidden Door – International Title)
Ini adalah adaptasi dari sebuah novel yang…sorry to say…biasa aja, tidak istimewa menurut pendapat gw. Berbanding terbalik dengan novelnya, Pintu Terlarang adalah sebuah film yang cantik di hampir semua sisi. Kredit luar biasa untuk pemain yang tampil cemerlang, set yang memukau, scoring yang inovatif dan tentu saja script yang cerdas.
1. Garuda di Dadaku
Kisah seorang anak kecil yang memiliki mimpi menjadi seorang pemain sepakbola hebat adalah sebuah teladan yang harus ditonton oleh seluruh anak Indonesia. Apa istimewa Garuda di Dadaku garapan Ifa Isfansyah dibanding film lain? Garuda di Dadaku sangat mengejutkan karena ternyata lancar dalam bercerita. Singkat kata ini adalah film yang paling baik eksekusinya tahun ini.
Filed under Others
This is My Top 10 Movies of 2009
Penilaian atas sebuah film sangat kental dengan unsur subyektivitas dari penulisnya, seorang penikmat film yang memiliki latar belakang, preferensi dan pengalaman yang berbeda. Atas dasar preferensi tersebutlah, gw memberanikan diri menyusun 10 film paling brilian, paling baik dan tentu saja paling menghibur tahun ini.
1o. The Hurt Locker
Perlu dua kali menonton buat gw untuk bisa memahami betapa unik dan menariknya film arahan Kathryn Bigelow ini, realistis sekaligus puitis. Tidak ada antagonis, tidak ada action yang menggelegar. Nuansa intense dan suspense secara nyata dibentuk rapi dari awal hingga akhir. Banyak unsur-unsur yang sangat emosional di film ini yang membuka mata gw, The Hurt Locker adalah film yang cemerlang karena memiliki story telling yang baik.
9. District 9
Neill Blomkamp membawa District 9 sebagai film sci-fi yang kelam sekaligus sangat realistis. Keseluruhan film menjadi sebuah film yang tidak hanya menghibur tapi juga berani mengambil risiko pada plot dan cerita yang berbeda. Seandainya dikemudian hari, semua film maker Hollywood memperlakukan USD 30 juta seperti layaknya Blomkamp menerapkannya pada District 9, gw optimis kita bakal menemui film-film yang menghibur tapi tetap orisinal di masa yang akan datang.
8. Avatar
James Cameron is back. Avatar jelas adalah pemenang untuk film dengan production value paling tinggi tahun ini. James Cameron menempatkan Avatar pada generasi baru, generasi film yang diciptakannya, generasi tentang bagaimana sebuah film menggunakan teknologi pada kapasitas yang sangat maksimal.
7. Invictus
Ini adalah kisah seorang Nelson Mandela, presiden Afrika Selatan, yang menggunakan tim rugby nasional yang sedang bertanding di kejuaraan dunia untuk menyatukan negaranya setelah didera bertahun-tahun oleh masalah diskriminasi. Di tangan seorang Clint Eastwood, kita seperti tidak sedang di paksa untuk menikmati sepotong steak yang digosipkan oleh teman kita kalau rasanya sangat lezat. Surprisingly, lancar bertutur dan tidak berusaha tampil berat. Ini adalah sebuah film materi Oscar yang ditopang oleh akting kuat Morgan Freeman.
6. Coraline
Coraline adalah film animasi adaptasi paling brilian tahun ini, plain and simple. Secara material, film ini punya plot yang tidak sembarang, cenderung gelap yang mungkin sedikit menakutkan untuk anak kecil tapi memukau secara keseluruhan. Cantik, menyeramkan sekaligus punya production yang rapi. Such a visual masterpiece.
5. An Education
Kisah romantis remaja perempuan cantik dan pintar berusia 16 tahun yang bermimpi hidup bahagia dengan serorang pria lebih tua adalah plot yang generik. An Education adalah contoh film yang memiliki plot biasa tapi dieksekusi dengan sangat baik. Carey Mulligan tampil bersinar, sangat menawan baik secara fisik maupun acting.
4. Inglourious Basterds
Style tetaplah ala Quentin Tarantino, tapi Inglourious Basterds adalah sebuah pencapaian Tarantino atas sebuah film tanpa bau hal-hal yang bersifat klise. Tidak sebaik Pulp Fiction, tapi scene-scene panjang dengan dialog-dialog yang penuh telah berhasil dengan cerdik membangun sebuah kerangka cerita yang suspenseful dan intense. Pesan gw buat Academy of Motion Picture Arts and Sciences (AMPAS, komite penjurian Oscar) tahun ini, “Don’t you dare ignore Christoph Waltz!”
3. 500 Days of Summer
Di saat hampir semua film romantis hanya berasa ‘sweet like a candy’, 500 Days of Summer adalah film yang cantik tapi tetap berpondasi pada sesuatu hal yang berasa real. Saat film usai dan credit title bergulir, sebagian dari kita mungkin akan berkata ‘Heyy, ini kisah gw banget yaa’.
2. Departures
Film buatan tahun 2008 dan mulai terkenal sejak menjadi pemenang Best Foreign Language di Oscar 2009, tidak hanya memiliki scene-scene dan scoring yang sangat menyentuh, tapi sekaligus membuktikan alangkah cakapnya Yojiro Takita (sutradara Okuribito) dalam menyusun sebuah cerita yang universal tanpa kehilangan aroma dan ciri khas negara pembuatnya.
1. Up
Up adalah sebuah pembuktian bahwa Pixar adalah sebuah nama untuk setiap film animasi yang sulit untuk menjadi film yang biasa. Dramatisasi kisah romantis Carl Fredricksen dan Ellie adalah bagian paling cerdas dan paling menyentuh tahun ini. Singkat cerita, kita tidak memerlukan waktu 30 menit, 1 jam maupun 1,5 jam untuk jatuh cinta dengan film ini. Up adalah sebuah pencapaian Pixar setelah Finding Nemo atau Wall-E yang juga mengharu-biru.
Filed under Others
Sherlock Holmes – This is Ritchie’s
Sherlock Holmes (Robert Downey Jr) dan sidekicknya, Dr. Watson (Jude Law) terlibat dalam perseteruan dengan the black-magic guy, Lord Blackwood. Sherlock Holmes, karakter detektif imajinasi Sir Arthur Conan Doyle di akhir abad 19, di tangan Guy Ritchie menjelma menjadi Sherlock Holmes yang lebih hardcore dan sarkastik. Style Guy Ritchie menempatkan Sherlock Holmes menjadi sebuah film yang lebih acceptable oleh penonton masa kini.
Set dan scoring adalah dua hal yang sangat menonjol di film ini, the Hans Zimmer’s score was wonderful. Treatment Ritchie pada saat menjelaskan Holmes’ mindset adalah hal yang sangat fresh untuk dikonsumsi oleh penonton. Though it was good but I felt that it was a little bit too long. Di awal dan pertengahan, it did drag a bit though, kerasa kalau pacing dan flownya tidak terlalu rapi.
Karakterisasi keseluruhan, terutama Holmes dan Watson, kerasa lebih light. Gaya detektif Holmes lebih masuk ketika dia mulai menjelaskan isi kepalanya. SH adalah ibarat show tunggal Robert Downey Jr. meskipun Jude Law dan Rachel McAdams tidaklah tampil memalukan. Gw kasih kredit untuk chemistry antara Watson dan Holmes karena chemistry keduanya adalah highlight yang penting di film ini. Khusus untuk Adams, she is gorgeous, tapi gw ngerasa bagian Irene Adler dipresentasikan dengan buruk, bukan disebabkan oleh kegagalan Adams dalam berakting tapi lebih kepada pengolahan script untuk karakter Adler yang tidak tajam.
Overall, this movie was entertaining but nothing more or less…bukan tipe Sherlock Holmes yang sudah kita kenal…..7.5/10
Filed under Movie Review
Avatar : Sky is the Limit for Mr. Cameron
Avatar adalah kisah Jake Sully, seorang marinir lumpuh, dalam sebuah misi infiltrasi Na’ vi, koloni yang di hidup di planet Pandora. Saat Jake belajar untuk memahami menjadi seorang Na’vi, perasaannya akan menempatkan dia dan orang-orang sekelilingnya dalam keadaan bahaya.
About the movie…where to begin? Well…Avatar is a ‘must see’ movie yg nge-set benchmark teknologi yang digunakan oleh sebuah film ke standar yang lebih tinggi lagi. Mungkin untuk sebagian orang, 30-40 menit awal membutuhkan sedikit kesabaran…tapi setelah itu, well…sky is the limit for James Cameron. His attention to detail is incredible! Durasi yang lumayan panjang hampir tidak menjadi masalah karena pacenya dipertahankan konsisten dan excitement-nya berasa terus sampai klimaks, sampai akhir.
Secara visual, gw bisa bilang mungkin ini film dgn CGI paling bersih…production value and visual effects were groundbreaking…istilah gw ‘KERASA MAHALNYA’! Editingnya juga cakep banget, peralihan scene-scenenya mulus. Action sequences? Jangan ditanya…JUARA KELAS!! Performance of casts are good, and I love watching Sigourney Weaver…dia tampil menyakinkan dan ngeblend sm karakternya.
Apa film ini begitu sempurna? Hmm…mungkin kritikus wannabe bakal komplain soal plot…to be honest, it’s lack of original story. Secara basic, Avatar mungkin punya konsep yg generik…let’s say, it’s kinda Pocahontas…or a little bit Dances with Wolves…or I felt the Last Samurai…but I was not bothered at all…percaya sama gw, it won’t ruin your mind blowing experience!
Overall, apakah Avatar adalah revolusi dibidang cinema? Ummm…no…but still, Avatar is such a movie experience to be remembered…..9.5/10
Filed under Movie Review
























