I think you’d like this story: “Sweet Enemy” by ana-sue on Wattpad http://my.w.tt/UiNb/KK1dft0BIu
TORMENTED
Written By Sufyan Assauri & Ana Sue
[Note: Cerpen ini memakai dua sudut pandang, POV 1 dan POV 3, baca dengan teliti karena jika ada yang terlewat maka sulit untuk dipahami.]
Grey memandangi sebuah foto di dalam bingkai tua digenggamannya. Bingkai berwarna coklat, pinggirannya sudah terkelupas cukup banyak, belum lagi kaca yang buram, meski sudah dibersihkan tetap saja seperti itu, bingkai itu dulunya tak seperti itu, Grey membelinya dalam keadaan bagus hanya saja dengan kondisi apartemen yang kurang layak, dengan beberapa sisi langit-langit yang terkadang sering bocor saja hujan besar, cucuran air yang merambat pelan di tembok—di mana bingkai tua itu terpasang—memasuki sela-sela bingkai membuat rusak foto di dalamnya, setidaknya Grey masih bisa melihat wajah siapa yang di dalam sana.
Grey menggeser tubuhnya, membuat kursi kayu yang didudukinya berderit, menggema di dalam ruangan, sebuah kamar dengan perabotan seadanya, cat berwarna krem yang mulai pudar, lantai keramik yang retak di beberapa sisi, serta sebuah spring bed tanpa seprei, agak landai di sisi kiri, sepertinya bagain itu yang sering ditiduri Grey, karena di sisi lainnya begitu terasa dingin, seolah tak pernah lagi disentuh.
Dia masih ingat, meski ruangan brengsek itu tak senyaman hotel berbintang lima, tapi ada beberapa kisah yang membuatnya tersenyum jika mengingatnya. Dulu beberapa tahun yang lalu … Marga—bekas kekasihnya—pernah bersamanya, tidur bersama di satu ranjang, melepaskan malam-malam mereka dengan cerita yang sulit diungkap dengan kata-kata. Grey mencintai gadis itu, tapi … Marga … dia selalu tak pernah puas.
***
“Grey, kau tahu?” Marga menarik napas di tengah isak tangisnya, wajahnya yang biasa terbalut make up, kini terlihat pucat, “aku selalu memimpikan pesta pernikahan yang indah. Teman-temanku, teman-teman kita, keluarga kita, semua orang terpana dan tak akan pernah melupakan pesta termewah yang pernah mereka hadiri.”
Marga, gadis itu tengah terbuai sendiri dengan impian-impian mustahilnya. Grey hanya bisa menarik napas menyadari dengan pekerjaannya sekarang ini, dia merasa sepuluh tahun atau empat puluh tahun lagi dia mengumpulkan uang pun tak akan cukup memenuhi keinginan sang kekasih.
“Grey, kenapa kau diam saja?” Tangan halus Marga mengguncang bahu Grey. Dia menyingkap selimut, mengambil posisi duduk. Kepalanya dibenamkan di atas lutut. Dia menangis.
“Kau salah orang, Marga. Bukan aku yang kau cari,” ujar Grey seraya menenggelamkan wajah di telapak tangannya.
*****
Aku tahu mungkin aku tak pantas baginya. Tidak, tidak, bagaimana bisa tidak pantas setelah semuanya kuberikan padanya; uang, jiwaku, bahkan raga usang yang mungkin baginya tak layak untuk bercumbu dengannya.
Kautahu … aku memberikan segalanya pada gadis itu! Aku biarkan para lelaki juga wanita yang memakai jasaku, menyentuhku dalam nafsu erotis mereka, kautahu hanya untuk apa?! Hanya agar gadis itu bisa mendapatkan segala keinginannya.
Tapi apa yang kudapat? Aku tak dapat apa-apa selain rasa sakit yang perlahan menggerogoti, menimbulkan lubang yang semakin menganga di hati. Pun harga diri yang harusnya kujunjung tinggi sebagai seutuhnya lelaki, kini tak dapat kutemukan lagi di dalam diri ini.
Apa kau pikir aku salah, saat sesuatu yang gelap dalam diriku berusaha memberontak. Ingin mencari kepuasan lain, kepuasan yang tak pernah kudapat selama ini.
Malam itu, seorang wanita kaya istri seorang pejabat. Aku rasa dia wanita yang cukup dominan dalam keluarga, terlihat dari bagaimana caranya menguasaiku. Dia terlihat tak peduli padaku, baginya aku hanya mesin yang berfungsi membantunya mencapai kepuasan birahi.
Entah kenapa, hasrat terpendamku yang lain muncul kepermukaan, meluap begitu besar. Wanita ini, dia berhasil memancingnya. Malam itu, aku mendapatkan kepuasan yang selama ini kucari. Dia menggeliat begitu liar, irama nafasnya yang terengah begitu kunikmati. Bahkan, dia masih tampak begitu lelap ketika kutinggalkan dia sendirian di kamar. Marga sudah menjemputku.
***
Dia pergi lagi. Seperti malam-malam sebelumnya, meninggalkan sisa-sisa kenikmatan di kasur, seprei, bahkan tubuhku.
Jujur saja, aku sudah cukup bosan mendengarkan dirinya. Alih-alih dia mengatakan melakukan semuanya untukku, demi diriku, agar kami bisa menikah. Sampai kapan aku harus menunggu?
Kalian tahu? Dia pernah menjual tubuhku pada seorang pengusaha restoran terkenal di Detroit. Dia melakukan penawaran berjam-jam di sebuah bar. Mereka berdua tertawa terbahak-bahak, seperti kesurupan.
Di dalam sebuah kamar hotel yang cukup besar, pengusaha itu memilih sebuah kamar dengan bayaran dua ratus dollar semalam, fasilitas yang ada cukup mewah. Dia tak langsung menerkamku seperti singa kelaparan. Ruangan itu dibuatnya remang dengan hanya menyalakan lampu yang berada di atas nakas tempat tidur. Dia mengajakku bercakap-cakap di balkon, tetapi tangannya tak berhenti menggerayangi setiap lekuk tubuhku. Oh Tuhan aku merasa jijik, aku tak pernah disentuh oleh siapapun selain Grey!
Aku mengerti kenapa Grey melakukan ini, tagihan telpon, listrik, bahkan tagihan sewa ruangan kami belum terbayar, uang yang Grey dapat masih belum cukup untuk melunasi semuanya. Aku biarkan dia menjualku, aku mengerti semua kesulitan keuangan yang sedang kami hadapi. Aku melakukannya karena aku mencintainya.
Rasanya sakit, seperti kau berusaha mengiris dikit demi sedikit tubuhmu dan kau biarkan luka-luka itu menganga, dan kautaburi air asam di atasnya, itu yang kurasakan ketika pria bertubuh gempal dengan bulu dada yang begitu lebat, menyentuh tubuhku dan memaksa mendorong tubuhnya ke dalam tubuhku. Aku jijik!
“Coba kaulihat, seseorang menyaksikannya,” ujar lelaki gempal sembari terengah, dia menunjuk ke arah pintu.
Grey?!
Dia di sana ikut menyaksikan segalanya, dia menonton tubuhku terikat dan dipecut dari segala arah. Tubuhku sakit! Wajahku terasa panas akibat tamparan pria gila ini. Kedua mataku memerah berkaca-kaca, bibirku lebam, gemetar, aku tak mampu mengucapkan sepatah kata untuk meminta pertolongan, kau … di sana, menyaksikan segalanya.
“G-Grey,” ujarku pelan seraya menatapnya berusaha menggerakkan bibir semampuku. Aku yakin bibirku terluka parah, setelah perlakuan pria bertubuh gempal itu padaku. Dia hanya menatapku dengan tatapan kosong, tak ada ekspresi berarti sama sekali. Demi uang lima ratus dollar, kau biarkan binatang ini menjajahku, kau biarkan harga diriku terluka, tapi … Aku melakukannya untukmu, untuk kita.
****
Di balik pintu ini, dengan perasaan tersayat aku merelakanmu disentuh pria lain. Tak pernah siapapun dari kita berdua menginginkan semua ini terjadi. Tak ada seorang pria pun yang tak tersakiti dan marah melihat wanitanya diperlakukan bak seekor binatang jalang.
Ingin rasanya aku masuk ke dalam, merebut pecut, dan cambuk itu dari tangan si keparat. Tapi aku tak bisa, itu maumu. Kau yang menginginkan ini. Uang yang kita dapat dari pria itu untukmu bukan untukku.
****
Seperti seorang germo profesional aku mendatangi pengusaha restoran terkenal di Detroit. Dia beberapa hari lalu pernah mengaku tertarik padamu, menginginkan untuk memiliki tubuhmu. Aku naik pitam, emosi meledak-ledak tak bisa tertahan. Pria laknat itu menawar seorang wanita kepada pacarnya sendiri, Keparat!
Tapi kau datang menenangkanku, membawaku pergi dari tempat itu. Kita berbincang soal keinginan pria itu dan tawaran tak sopannya kepadamu. Matamu berbinar, ketika kubilang dia menawarmu lima ratus dollar. Kau bilang, itu untuk kita, untuk pernikahan kita. Kau tahu, kau telah menyakitiku, sekali lagi.
Kuturuti kemauanmu, aku menghubungi pengusaha restoran itu dan mengatur janji untuk bertemu. Aku kesampingkan harga diriku, sekali lagi. Berjam-jam kami berbincang, aku tertawa mendengar ocehannya, tawa palsu yang luar biasa tersamarkan. Menjerit hati ini, semua ini kulakukan untukmu, untuk impian tak masuk akalmu.
“Jadi, sudah deal? Kau rela kekasihmu kutiduri dan kuperlakukan semauku?” Oh … jijik sekali melihatnya tersenyum seraya memerlihatkan gigi emas yang terpasang menggantikan gigi taring miliknya, rasanya aku benar-benar ingin menghadiahkan bogem mentah ke wajahnya.
“Yeah, deal. Tapi …, aku melakukannya karena dia yang memintaku untuk menyetujui rencana gila ini, jika bukan karena dia yang memaksaku, maka aku tak akan pernah menurutinya. Aku … tidak akan pernah menjual tubuh kekasihku sendiri, meski—“
“Grey … sudah cukup basa-basinya. Ini uangmu, ambil dan pulanglah!”
Lelaki itu membayarkan sejumlah uang, kemudian berlalu dari hadapanku. Kau puas, Marga? Ini yang kau inginkan, bukan?
****
Wanita-wanita serta pria-pria menyimpang, yang meniduri Grey begitu bodoh dan polos, terpikat dengan mudah oleh ketampanan dan tubuh berotot serta kekar milik Grey. Mereka bahkan tak sadar jika di balik semuanya, seorang iblis menanti mereka. Aku menyaksikan mereka bercumbu. Aku tak cemburu? Tentu saja tidak, itu yang aku inginkan, uang!
Kautahu, Grey itu terkadang begitu bodoh, dengan mudahnya percaya jika aku mencintainya, hanya bermodalkan airmata, dia selalu luluh dan kembali tunduk padaku. Huh … bertahun-tahun bersamanya, sedikit membosankan, jika saja aku tak membutuhkan uang, uang, dan uang, mungkin aku sudah lama meninggalkannya, melacurkan diriku di Park Avenue, di mana sebuah rumah bordir terkemuka sering mencari gadis-gadis cantik untuk dijual di sana melayani nafsu birahi pria-pria hidung belang yang mudah ditipu daya dengan bayaran sangat tinggi. Tapi … satu hal yang membuatku tak bisa lari darinya, tak ada yang bisa melawan stamina dan ketangguhannya di ranjang, bahkan bisa membuatmu lupa daratan.
Beberapa bulan ini, sepertinya Grey mulai menikmati permainan baru yang kuberikan sebagai sentuhan akhir ketika dia dan para pembeli kenikmatan itu hampir selesai bercumbu. Aku … membunuh mereka di depan mata Grey, awalnya Grey terkejut. Hahaha … lucu sekali, melihatnya ketakutan, tapi setelah kujelaskan, sepertinya dia mengerti, dan semakin menikmatinya. Tunggu …, kalian pasti akan bertanya untuk apa aku melakukannya? Tentu saja untuk mengambil seluruh isi dompet, perhiasan, dan barang lainnya, bodoh! Uang seratus atau dua ratus tak cukup membiayai kebutuhanku!
Oh, sudah jam satu malam, Grey belum pulang. Peduli setan, setidaknya nanti jika dia pulang, dia akan membawa uang lebih untukku. Malam ini saja, aku malas membunuh mereka. Biarkan mereka menikmati kebebasan mereka, uangku masih cukup untuk beberapa hari ke depan. Kalian tanya, apa polisi tak curiga dengan serentetan kejadian pembunuhan yang terjadi? Tentu saja mereka curiga, pertanyaan kalian terlalu aneh. Mana ada pembunuh selamanya bisa bebas! Tapi …, sekalipun nanti tertangkap, aku tak peduli, setidaknya sudah cukup aku bersenang-senang karena ….
“Kau … sejak kapan?”
“Sejak kau menulis dari halaman pertama, aku sudah membacanya. Aku sudah pulang sejak tadi, tetapi kau tak sadar karena aku membuka pintu apartemen dengan sangat pelan, aku tak ingin kau mengetahuinya. Aku hanya ingin tahu, seberapa besar kau menghargai aku. Kaukira, aku tak pernah membaca isi dari buku harian milikmu? Kau pikir aku terlalu masa bodoh dan mempercayaimu begitu saja? Awalnya memang aku mempercayaimu sepenuh hati, berusaha mengabulkan segalanya, bahkan memberikan harga diriku pada mereka, budak-budak haus nafsu. Aku membiarkanmu membunuh mereka di depan mataku, melucuti harta mereka, aku tak pernah melarangmu, karena aku berpikir, kau akan bahagia. Aku berusaha memberikan kebahagiaan padamu. Tapi malam ini, Sayang, aku sudah tak kuat, kita akhiri saja permainan ini.”
“Tidak, kau tidak akan membunuhku!”
Mata Grey lain dari biasanya, menyalang, berkilat, seolah iblis sedang menguasainya. Tidak, ini tak bisa dibiarkan aku—
“Pisau yang biasa kau gunakan sudah tak ada di laci,” Grey mengangkat satu tangannya. Pisau itu sudah berpindah padanya?!
“Kau tidak akan mungkin membunuhku!”
“Semuanya mungkin terjadi.” Masih dengan kalem dia menjawab setiap kalimatku. “Kemarilah, Sayang.”
****
Sekarang, biar aku yang menyelesaikan semua kisah yang ditulis Marga. Semuanya sudah berakhir, beberapa menit lagi, polisi akan menemukan dan menangkapku. Aku membunuhnya, aku membunuh Marga, aku membunuh gadis yang kucintai. Semua sama sekali tak ada dalam rencanaku untuk membunuhnya, tapi … dadaku merasa sakit membaca semua curhatan yang ditulisnya ke dalam buku harian. Sebenarnya, pisau lipat itu tak sengaja terbawa olehku. Kait yang ada pada pisau lipat tersangkut pada kunci motor yang kumasukkan ke dalam tas, aku sama sekali tak tahu jika aku membawa pisau lipat tersebut.
Maafkan aku, Marga. Aku bukan pria yang baik untukmu, iblismu tampaknya bertekuk lutut padaku. Tapi …, aku berjanji kenangan kita tak akan pernah kulupakan. Well, suara kasak-kusuk sudah terdengar di depan pintu, aku yakin para polisi sudah menjemputku. Tubuhmu masih sama indahnya seperti sebelumnya, masih sangat seksi, tapi … aku sudah tak tertarik lagi, aku tak mau bersetubuh dengan mayat.
Terdengar suara pintu dibuka dengan sebuah tendangan, sepertinya polisi-polisi itu sudah siap membawaku menuju perjalanan hidupku yang baru, bukan lagi sebagai seorang pelacur laki-laki, aku akan menyandang predikat baru ‘PEMBUNUH’, ya itu yang akan kusandang setelah ini.
“Berdiri! Angkat kedua tanganmu, kemudian merapat di tembok!”
Selamat tinggal, Marga. Tapi aku berjanji, aku akan kembali ke apartemen ini, aku akan menyuruh pengelola apartemen untuk tak menyewakannya kepada yang lain. Tentu saja dia akan mendengarkanku, karena sudah pasti kamar ini akan disegel oleh polisi, jadi tak akan ada yang mau menyewa setelahnya, selain aku. Kautahu … sampai saat ini pun, aku masih mencintaimu.
-Tamat-
Senja Terakhir Di Legian
Today 08.30 AMSudah bangun? Apakah burung-burung sudah memanggilmu dengan kicauannya, membuat kedua mata yang terlelap kembali terbuka? Lusa … aku akan ke sana, menemuimu, mencoba mengingatkanmu tentang kita. Mencoba menceritakan kembali kisah yang lalu, agar kau mampu berlalu dari masa lalu. Kau ingat, selama biru masih sama, perasaan ini pun selalu bersamamu.
Today 17.45 PMAku sudah di Pantai Peti Tenget, kemarilah, aku menunggumu. Seperti janjiku, aku akan membiarkanmu menagih segala janjiku kepadamu. Aku ingin memberi kehangatan untuk hatimu, aku ingin mengulang kembali memori yang lalu, mungkin belum terlambat …. Oh ya, aku ingin melihatmu tersenyum bukan termenung dengan segala lamunan sia-sia, tak kubiarkan kau mengingat yang lain selain kehadiranku.
*News.com, seorang gadis tewas tertabrak sepeda motor yang melaju dengan kencang tepat di depan Pura Sanggah, sekitar pukul 08.30 WITA. Sampai berita ini diturunkan, tak ada satu pun sanak saudara yang mengunjungi kamar mayat di Rumah Sakit XXX. Kepolisian masih mengusut lebih lanjut, dan mencari informasi sanak keluarga dari gadis tersebut.
Pelit Ih!
Pagi ini sempet bikin gue dar-ting. Badan lagi gak enak; meriang, pilek, dan mual. Gue sms dong manager gue.
Bu, ijin masuk siang ya, mau ke dokter minta obat.
Message sent
Nunggu sepuluh sampai lima belas menit gak dibales, gue telpon.
“Bu, saya ijin masuk siang, mau ke dokter.”
“Lha ntar toko sapa yang jaga? Masa cuma satu orang, harus ada dua pagi, dua siang, apa gak bisa kamu masuk dulu, nunggu anak siang, ntar baru ke dokter pas anak siang dateng?”
“Mana bisa, Bu. Ntar kalo saya pingsan?”
“Emang mau masuk jem berapa?”
“Abis dari dokter saya langsung ke toko.”
Klik … Tuuut… Tuuut
Oke telepon dimatiin.
Dalem ati, gue berasa kayak kerja ama Belanda, ini ijin lho, Bu, daripada gue absen ntar dipotong uang makan, apa kagak lebih merana? Hadeh … Kayak nggak pernah atit aja cih, Bu?
Hah … Gue lagi jengkel!
*curhat sambil duduk nunggu giliran dipanggil bidan buat minta obat*
Sang Pengelana Malam – 1 (Bacanya jangan serius amat kale!)
Hari ke dua di Bali, gue berada di daerah Kelan, tinggal bertiga bareng sama reader gue plus suaminya nyang chubby, but she damn love him! At least that is what she told me, kebenaran hanya milik produser dan sutradara.
Di hari ke dua ini, gue berasa kayak cacing disiram garem, belingsatan. Gak bisa diem, secara nengok dompet, oh no! Duit gue … 😥 cuma tinggal tiga puluh rebu. But … Emang dasar gue udah terbiasa dengan muka badak gue, makan gratis, tidur gratis, dibelin rokok iklas nerima, ditawarin ke alfamart and dibelanjain gue gak mau bikin sakit ati dengan nolak, so … gue terima semua dengan lapang dada. Lagian siapa yang nolak gretongan?
Iseng-iseng gue instal aplikasi Tinder, alih-alih biar keren gitu, ke Bali dapet bule.
Sejam ….
Dua jam ….
Nothing happen.
And then saat gue mulai ngantuk, muncullah notipikasi, ada bule nyang nyapa gue. (Yeaaay! Ada bule yang ngechat!)
Bule ini sebut aja namanya Ujang, oke … Si Mang Ujang ini ngajak gue hang out, gue iyain dong, karena waktu itu bertepatan si Pembaca gue yang namanya Okta lagi mau berusaha bikin dede, so … Gue diultimatum.
“An, loe pegi gih sejam apa dua jam, laki gue mau nyangkul bentar, loe pake noh motor gue, keliling Kuta kek, keliling bandara, apa loe puterin dah tuh bunderan di deket patung kuda daerah Tuban, jangan balik sebelum laki gue kelar.” Dengan gayanya bekacak pinggang, rambut naik ke atas, mata berkilat-kilat (gue jadi ngebayangin Ursula di filem Little Mermaid XD )
” Lha … Duit bensinnya?”
“Tenang, bensin full.”
“Anu … Duit rokok?”
“Selow, ngutang aja di warung Bu Ira.” (Warung Bu Ira depan kosan doi)
“Anu … Enghhh … Kalau gue laper?”
“Santai, loe mangap aja pas bawa motor, ntar juga kenyang.”
Nah ini, dikata gue balon kali ye. Yo wes lah, akhirnya dengan perasaan hampa dan serasa ditusuk-tusuk (Ciyeee … Lebay), gue pergi dengan tangan kosong menghadapi keganasan malam di Bali.
Gue pergi naik gojek, kenapa? Lha iya, mau gue nyasar ape, gue pan kagak tau jalan! Ntar kalau aku ilang, Papa bisa cedih!
Oke lanjut …motor gue tinggal, gojek dipesenin sama si Okta, kenapa dipesenin? Sumfah … Gue kagak ngarti pake tuh aplikasi! Gue aja baru tau tentang gojek pas ada di Bali, hari itu gue baru tau! Gue norak? Biarin amat … Gue gak terbiasa ama aplikasi canggih gitu (kuota gue cuma isi nyang 600Mb donlod aplikasi mulu ntar gue makan apa? Gak nyambung? Embeeeer!)
Well, finally my gojek datang … Gue pasang senyum menggoda (menggoda dompet kali aja digratisin gitu)
“Daerah Pecatu ya, Pak.”
“Iya, Mbak.”
“Pecatu sebelah mana Kelan, Pak?”
“Eh … 25Km, Mbak.”
Ngek … 25Km? Wadowww … Gue kira deket. Okelah akhirnya gojek pun berjalan menembus kegelapan malam. Seorang satria berjaket hijau kehitaman, membonceng seorang putri nelangsa, menuju ke tujuan, bertemu bule.
Jalan yang dilewatin sepi bingit! Mirip tempat jin buang hajat. Pu’un kafuk di mana-mana, lampu kagak ada, ini gue mau ketemu bule apa raja demit ya?
Lanjutannya besok ye … Ane ngantuk 💔
I’m Lost Without You — Ana Sue
“Jika nanti aku bertemu denganmu, aku ingin merebahkan kepalaku di dadamu, memelukmu dengan erat,” ujar Ana dengan lembut kepada kekasihnya di telepon. Entah sudah tahun ke berapa mereka tak bertemu, sangat lama, mungkin setahun, dua tahun atau lebih, dia sendiri tak mau mengingatnya. Jarak begitu senang membunuh perasaan keduanya, membuat mereka saling menyakiti dalam cinta […]
melalui I’m Lost Without You — Ana Sue
Si Ana(k) Ilang :'(
Kalo diinget-inget napa gue bisa nyampe terdampar di pulaunya para dewa a.k.a Bali a.k.a Pulau Dewata, gak usah nanya mending. Rasanya … Oh bagai sejuta kenangan pait bin getir.
Sebenernya, gak niat tuh buat migrasi ke mari. Ya apa mau dikata, berhubung gak ada yang bisa nebak nasib gue, dan sampelah gue di sini.
Awalnya gue ke mari cuma buat nenangin diri, sumfah … Itu doang alesannya.
Yakin nggak ada yang laen?
Kagak! Itu doang …
Ya … Kayaknye itu doang.
Tapi dibalik batu ada udang, ya … Gak gitu juga sih alesannya.
Kalo bisa nangis darah, gue nangis darah inget perjuangan gue bisa bertahan idup sampe hari ini. Gue kemari bukan tanpa alasan, karena cinta gak butuh alasan, kan? (Ini ngawur, bacanya lewatin aja XD)
Gue kemari karena gue dikhianatin, kepercayaan gue disia-sia–nggak ada hubungan ama cinta ye–bikin gue sempet perustasi!
Tanggal 30 bulan 09 tahun 2015, pukul (lupa jamnya), seinget gue, gue ngejogrok di Bandara SoeTa dengan kofer gede, tas ransel, dan sambil duduk di bangku terus nyalain sebatang rokok, merenungi nasib. Gue sempet mikir, “Gue kayaknya gila kali ya? Gue nggak kenal-kenal sapa-sapa, Vroh! Di Bali loe mau ngapain?”
Embeeer! Emang di Bali gue kenal sapa coba? Kagak ada! Berdasarkan modal percaya dengan keteguhan hati, gue menerima tawaran salah satu pembaca cerpen-cerpen dan buku-buku gue buat hengkang dari Jakarta dan ditawarin tinggal di rumah dia. Kagak nolak? Ye kagaklah, namanya gue lagi galau, perustasi, dehidrasi, dan si-si-si yang lain, gue terima aja tawaran dia.
Pokoknya malem gue tiba di Bandara Ngurah Rai, gue turun dari pesawat sambil nyalain tablet nyang udah sekarat batrenya, gue sempet panik, pulsa kagak gablek, konter gak ada, dan kuota gue sekarat! Gue coba kontek si pembaca gue nyang nyuruh gue ke Bali, gue kontek dia pake BBM Call. Eh … Nyambung sodara-sodara!
Dia rupanya udeh nyampe dan nunggu gue di Solaria, tapi gue ogah nyamperin ke sana, kan ceritanya gue letih, lelah, lesu, lemah, dan lunglai. Gue suruh dia sama lakinya nyamperin gue.
Ketemulah kami … Dan kami saling berpelukan.
“Berpelukaaaan!”
“Loe kata Teletubbies!”
Oke, gak ada acara pelukan sih. Cuma nyengir-nyengiran, gue perkenalin diri ke lakinya, dan dia pun ngajak gue sementara tinggal di kosan dia. Coba loe tau kosan dia kagak ada kamarnya 😥
Iya akhirnya gue tinggal di kosan dia dan lakinya untuk dua minggu. Kebayang gak loe, mereka lagi ehem-ehem, gue yang tidur di kasur bawah belagak budek kagak denger apa-apa sambil nahan iler? Huaaa … pengen (pengen kabur maksudnya!)
Well, dia emang pembaca yang budiman, bersedia nampung gue, seorang penulis curhatan yang curhatannya sering dibaca di pacebuk sama di buku, dengan geratis. Itu cuma sepenggal kisah … Kelanjutan idup gue di Bali setelahnya bikin gue pingin kabur pulang, tapi apa daya gue gak punya duit!
I’m Lost Without You
“Jika nanti aku bertemu denganmu, aku ingin merebahkan kepalaku di dadamu, memelukmu dengan erat,” ujar Ana dengan lembut kepada kekasihnya di telepon. Entah sudah tahun ke berapa mereka tak bertemu, sangat lama, mungkin setahun, dua tahun atau lebih, dia sendiri tak mau mengingatnya. Jarak begitu senang membunuh perasaan keduanya, membuat mereka saling menyakiti dalam cinta yang begitu indah.
Garrett terdiam, kemudian berdehem, “Biarkan aku mendekapmu erat, sangat erat saat kau melakukannya. Pastikan kau melakukannya seperti dulu saat … aku masih berada di sana bersamamu, aku ingin kau membentangkan kedua kakimu saat berada di pangkuan dan duduk menghadap wajahku, sehingga aku bisa menikmati tatapan yang lama kurindukan, lalu kau meletakkan satu tanganmu, melingkar di leherku, satu tanganmu lagi meluruh menyentuh dadaku ketika kau menyandarkan kepalamu di bahuku, aku merindukan semua kenangan itu, Ann.” Garrett menyentuh satu kaleng bir yang tak lagi dingin, hanya untuk menghangatkan tubuhnya yang terasa menggigil di tengah musim dingin. Garrett terdiam sejenak, membiarkan satu teguk bir membasuh tenggorokannya.
Ana mengubah posisinya, dia mengempaskan tubuhnya di atas kasur, ada rasa bahagia melihat wajah Garrett di layar ponsel. Merasa begitu dekat, sangat dekat, seolah … tak ada permainan jarak di antara keduanya. “Bagaimana jika saat itu aku tertidur di atas pangkuanmu? Apa kau—“
“Sayang, apa aku pernah memarahimu saat kau tertidur di atas pangkuanku? Tidak, tidak pernah. Apa kau ingat, malam itu?” Garrett menarik napas panjang, kemudian mengembuskannya. Suasana Detroit malam itu begitu tenang. Kota di mana dia dibesarkan, dengan segala hiruk pikuknya. Kota besar—meski tak sebesar new York, tapi di kota inilah kenangan-kenangan tersimpan dengan rapi dan menunggu untuk kembali dirasakan, “kau pernah tertidur, apa kau ingat ketika aku berdiri secara perlahan, aku tak ingin kau terbangun, aku berjalan dengan sangat pelan menuju tempat tidur kita, meletakkanmu dengan lembut. Kau tertidur dengan sangat nyenyak, aku tak ingin membangunkanmu, aku merebahkan diriku di sampingmu, perlahan aku memainkan jari-jariku di rambutmu, menatapmu, karena tak ada yang bisa mengunci hatiku seperti kau melakukannya padaku, Ann. Saat itu aku berpikir, betapa aku mencintaimu, betapa aku beruntung memiliki dirimu, aku tak akan pernah menyia-nyiakanmu, tidak sedikit pun terbesit di dalam pikiranku,” Garrett masih teringat kenangan beberapa tahun yang lalu sebelum akhirnya lautan kembali memisahkan keduanya.
Ana tak mampu berucap apa pun, terlalu sakit mengingatnya. Seandainya saja dia bisa berlari dari semua kenyataan hidup, dan meninggalkan apa yang sekarang sedang dijalaninya. “Aku masih ingat semuanya, masih ingat …, Garrett. Semua itu adalah saat-saat yang sempurna.” Ana berguling-guling di atas kasur, meraih sebuah bantal dan mendekapnya dengan saat erat kemudian mengggigit-gigit kecil bagian ujungnya. “Hahaha, apa kau masih malas mandi saat libur kerja?” tanya Ana meledek Garrett.
Garrett tertawa terbahak-bahak, rupanya kekasihnya masih ingat kebiasaan buruknya. Ya, ya, dia paling malas untuk mandi saat libur kerja. Garrett beringsut dari tempat tidur dan beranjak berjalan menuju sebuah meja rias yang berada di kamarnya—meja rias itu diletakkan kakak perempuannya di sana—sambil memandangi wajahnya. “Apa kau akan mencintaiku selamanya?” tanya Garrett sambil mengarahkan layar telepon ke arah kaca besar di hadapannya.
“Tentu saja, selamanya. Aku tak akan membiarkan siapa pun membawamu pergi dariku, karena—“
“Ssshhht …,”—Garrett meletakkan jari telunjuknya di layar telepon, terlihat wajah Ana di sana—“tak akan ada yang mampu membawaku pergi, karena … kau telah mengunci mati hatiku. Jangan berpikir yang tidak-tidak, saat nanti kita kembali bertemu, aku akan selalu menganggapnya sebagai yang pertama, karena saat pertama kali kita bertemu setelah sekian lama aku menahan untuk menyatukan diri kita, aku sangat bahagia, dan aku selalu ingin mengulang kebahagiaan itu, selamanya. Jadi selamanya aku akan mengganggap pertemuan kita nanti adalah pertemuan yang pertama, tak pernah ada yang terakhir karena aku tak mau perasaan itu berakhir.”
Ana tersenyum, kali ini tatapannya berubah sendu dan sayu. Hati itu terasa sakit, sangat sakit, kau tak mampu mendekap, mengecup keningnya, membisikkan kalimat-kalimat indah secara langsung di telinganya, saat kau merindukannya setengah mati. Yang kau mampu hanya membayangkan, menciptakan bayangan yang seolah nyata berada di hadapanmu, tapi … ketika kau mendekat dan berusaha meraihnya, bayangan itu menghilang, menguar bersama debu-debu malam entah ke mana. Ana menutupi wajahnya dengan bantal kemudian berkata, “Aku … membutuhkanmu.”
“Apa? Apa yang barusan kaukatakan, Ann?” tanya Garrett, rupanya suara Ana tak jelas terdengar. “Coba kauulangi?”
“Aku membutuhkanmu,” ujar Ana sekali lagi, masih dengan wajah tertutup bantal.
“Huummm, aku juga membutuhkanmu, selalu. Kau adalah kebutuhanku, yang kuinginkan, dan—“
“Aku ingin bersamamu tanpa terpisah oleh jarak sialan ini!”
“Hahaha, gadis bodoh. Bukankah, kau selalu bersamaku?”
“Maksudmu?”
“Hatimu ada padaku, jadi … kau selalu ada bersamaku. Apa kau meragukannya?”
“Ahhh, kenapa aku melupakannya,” jawab Ana sambil tersenyum di balik bantal, kemudian dia menampakkan wajahnya, “sebaiknya kau mandi sekarang.”
Upsss! Hari ini hari Minggu, ya dia libur, dan Ana sudah bisa menebak jika Garrett akan malas untuk bermain air di kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. “Jika aku tak mau?”
“Awww, sebaiknya kau mandi. Jika kau tak mandi aku tak akan memberitahumu sebuah kejutan.”
Tunggu! Sebuah kejutan? Kejutan apa? Sepertinya ada yang ingin disampaikan Ana padanya. “Wait … kejutan apa?”
“Sebaiknya kau matikan teleponmu, karena biaya teleponku akan membengkak. Aku—“
“Maksudmu? Bukankah aku sudah sering meneleponmu, kenapa baru sekarang mengatakannya?”
“Karena, kau melakukan international call dan aku akan kena roaming!” jawab Ana. Ana menutup mulutnya, dan berusaha menahan tawanya yang sebentar lagi akan meledak. “Sayang, jemput aku besok di Magnuson Hotel, besok pagi. Jangan lupa ya.” Kali ini Ana benar-benar tak bisa menahan tawanya.
Garrett membuka pintu kamar dan beranjak keluar, dilihatnya tak ada siapa pun di dalam rumah, keponakan, kakak perempuan dan suaminya sepertinya sedang pergi. Garrett mendekati sofa dan kembali merebahkan tubuhnya, diangkatnya tinggi-tinggi handphone yang berada di genggamannya, “Apa maksudmu?”
“Aku sudah berada di Magnuson Hotel, di Detroit, dekat bandara sejak kemarin malam. Aku …, aku memenuhi janjiku, kali ini adalah pertemuan pertamaku untukmu, di tempatmu. Aku tak bisa jauh darimu, jadi—“
Garrett menunggu kalimat selanjutnya yang akan keluar dari mulut Ana. Tapi lama Ana terdiam, tak mengeluarkan sepatah kata pun. “Are you okay, Babe?”
“Jadi … kau tak perlu menunggu lagi, jemput aku, besok. Aku membutuhkanmu untuk membuatku tertidur di pangkuanmu lagi.”
KELAR
Curhat Dulu Ah
Saat Loe Ngerasa Paling Merana Sedunia
Gue sebenarnya orang yang males buat curhat, tapi semenjak kepindahan gue ke Bali, gue merasa jadi orang paling ngenes sejagat raya.
Kebayang gak apa-apa sendiri, kayak lagu dangdut; makan ya makan sendiri, tidur ya tidur sendiri, ngomong pun ngomong sendiri (mungkin gue mulai gila). Tapi apa mau dikata, gue emang sendiri di sini … 😦
Kalau gue gak curhat, berasa kayak orang yang lagi nahan kentut, mules, dan kudu segera dienyahkan rasa yang melilit di perut, nah … Yang gue rasain sekarang ‘n maybe seterusnya, gue kayak lagi nahan boker, sumfah! Rasanya gak karu-karuan.
Moga-moga aja loe gak pada baca 😩

