Berpindah

kantorJika ikan tidak menemui lagi plankton lezat dalam kawasannya, apa yang dia lakukan?
Jika kawanan gajah liar kesulitan dengan habitatnya yang dirusak manusia, apa yang mereka lakukan?
Jika ulat kehabisan stok daun, apa yang dia lakukan?

Berpindah.
Mungkin saja ikan akan mengikuti arus air, menyebrang ke ujung danau yang lain untuk memenuhi kebutuhan perutnya.
Mungkin saja gajah akan berpindah juga, bisa saja ke arah hutan yang lebih dalam, atau malah ke pemukiman penduduk disekitar hutan. Jadi jangan salahkan kawanan gajah jika mengamuk.
Mungkin saja si ulat akan berpindah ke pohon lain, atau menempel pada manusia untuk di transfer ke tempat yang lebih baik. Dengan harapan dia tidak akan dibunuh oleh manusia sebelum waktunya.

Kejadian yang sama pada saya. Dulu, saya pernah sangat tidak nyaman dengan pekerjaan saya. Jika diibaratkan, datangnya jam 5 sore adalah lonceng kemenangan saya. Pergantian jam menuju jam lima bagi saya waktu itu seperti detik detik menjelang kemerdekaan negara kita, 53 tahun yang lalu. Serasa terlonjak dari kursi kerja. Mengepalkan tinju ke udara. Berlebihan? Ah tidak, mungkin anda belum pernah merasakannya. Bayangkan jika berangkat ke kantor dengan langkah berat dan terseok seok, pasti anda bisa. Akhirnya, bulat keputusan saya, saya akan berpindah. Saya tetapkan hati.

Sekarang semuanya berulang kembali. Saya harus berpindah kantor lagi. Bukan, kali ini kasusnya bukan seperti ikan yang kelaparan, atau seperti gajah yang dirusak habitatnya, atau seperti ulat yang kehabisan daun, atau bukan pula seperti kasus ketidaknyamanan saya. Bukan seperti itu teman. Terusterang saya merasa nyaman sekali bekerja di kantor saya ini. Tim yang solid dan mengerjakan sesuatu yang saya sukai serta digaji tinggi adalah surga bagi para pengangguran. Sekali lagi bukan karena alasan semua itu.

Beberapa waktu lagi saya akan mengenang semuanya. Meja itu, Komputer itu, sapaan khas si pay saat saya datang pagi, sapaan pak Jake, team leader saya, kengototan mbak Ida, sang office manager, kesibukan pak Leonas menerima telepon sana sini, kejudesan Ratih saat dirayu pak Jake. Saya pelan-pelan akan merindukan mereka semua.

Saya belum tahu akan seperti apa kantor baru saya nanti. Akankah saya betah disana?
Saya juga tidak tahu
Tapi setidaknya akan saya coba nikmati..
Kemungkinan disanalah saya akan menghabiskan waktu hidup saya besok dan seterusnya, setiap hari senin sampai jumat, setiap jam dari jam delapan sampai empat sore.
Akan saya coba untuk menikmatinya.

Penjajahan

Sudah beberapa lama ini saya mengamati status messenger seorang teman saya. Sedikit memiriskan kalau saya bilang, begini misalnya:
– Besuck masuck
– Membuka lemburan baru lagi
– Ga punya rumah ya? kok jam segini belum pulang?
– TGIF (Thank’s God It’s Friday)
Mengerti mengapa saya miris kan?

Kemarin akhirnya saya mencoba mengobrol dengannya, secara saya kurang begitu akrab. Akhirnya si A, teman saya yang rajin lembur itu berkata bahwa lemburan-lemburan seperti itu memang sering. Berangkat jam setengah delapan pagi, pulang minimal jam tujuh malam adalah biasa. Bahkan mendapati dia ada di rumah pada hari sabtu dan minggu adalah anugrah.

Saya yang dulu sempat teririkan oleh keberhasilan si A mampu bekerja di industri bergengsi di Indonesia ini pun bungkam. Dua belas jam sehari. Bayangkan. Artinya, setengah dari jam biologisnya dalam sehari berada di pabrik. Sisanya saya kira diisi dengan kelelahan dan tidur karena separuh waktu sisanya ada di waktu malam. apa yang akan saya lakukan jika waktu saya cuma terdedikasikan untuk bekerja dan bekerja dan bekerja? Bahkan liburan pun tidak menjadi haknya.. huff..

Kemudian dalam obrolan lintas maya tersebut saya sedikit tertawa ketika dia bilang, “di sini, di Indonesia ini belum sepenuhnya merdeka, kita masih terjajah. Bukan Jepang, bukan Belanda, tapi Korea.”

Saya pun tersenyum kemudian. Benar juga. Saya rasa penjajahan jaman reformasi sudah berubah dari penyerangan strategi dan senjata menjadi penyerangan menggunakan beberapa lembar kertas kontrak kerja dan sehelai materai. Kalau dulu perjuangan selalu mengorbankan darah dan nyawa, maka sekarang korbannya adalah peluh dan kehangatan keluarga.

Akan jadi apa jika orang tua hanya punya waktu sejam dua jam bertemu dengan anaknya, itupun tidak maksimal karena keduanya sama-sama lelah? Akan jadi apa bila sang anak kehilangan figur yang harusnya menemani mereka setiap saat? Bahkan liburan pun mereka tidak bisa menemani?

Mungkin terlalu cepat saya berbicara tentang keluarga disini? Hmm.. saya rasa tidak juga. Semua orang yang telah mempunyai penghasilan sendiri dan kematangan pikiran tentu akan berpikir ke sana.

Saya mungkin cuma bisa berpendapat demikian. Entah apa jadinya bila saya menjadi seperti itu. Tapi, saya juga tidak menyangkal bahwa tidak ada seorangpun yang mau seperti itu. Tidak ada seorangpun yang mau “terjajah”. Yah, inilah hidup, setiap orang memiliki jalannya masing-masing. Setiap orang bebas memilih rute hidupnya.

Terlalu cepat jika saya menyimpulkan bahwa bekerja adalah siap menjadi terjajah. Tidak semuanya seperti itu. Saya juga tidak memungkiri pekerjaan saya kemudian akan menjadi seperti itu, sangat bisa jadi seperti itu. Apalah itu, akan menjadi seperti apa, yang jelas saya mencoba menikmatinya. Yang bisa saya kerjakan untuk sekarang, saya kerjakan. Simpel. Jikalau saya tidak memungkinkan untuk bersantai-santai seperti ini, ya itulah yang disebut resiko. Sebuah kata yang memenjarakan kebebasan. Mungkin..

Kesiapan

Kesiapan?
Sudah siapkah?
Atau kamu menyembunyikan keengganan di balik ketidaksiapanmu?
Dengan berbagai alasan, tanyakan pada dirimu sendiri..
KAMU SEBENARNYA MAU ATAU TIDAK
Titik.

Angkutan Massal, suatu pagi

Segerombolan muda mudi tertawa terbahak
Pakaian modis menenteng buku dan tas
Di sudut sana ada sang penjaga karcis
Tergenggam erat ditangannya sobekan karcis
Sambil matanya terus siaga
Siapa yang bakal terkena limaribu

Sang mentari menebar jaringnya yang menyengat
para muda mudi itu segera menyingkir
disibakkannya tangan merentang muka
sang pengemis di dekat mereka mengekor

Beberapa anak berbaju lusuh bercanda di seberang
Tidak peduli dengan semuanya
kecuali satu: kereta yang akan lewat
Salah satu anak segera melompat
Memanjat atap kereta, bergabung dengan yang lain

Segera buyar semua lamunan
Segera pudar semua pikiran
Seorang kekasih datang
Tersenyum manis penuh cinta

Itu Hanya Sebuah Cerita

batas

Hanya sebuah cerita.
Saya meyakinkan diri saya sendiri: itu hanya sebuah cerita Di..

Banyak hal yang membuat saya berpikir. Sesudah membaca sebuah cerita –mm.. saya juga tidak yakin itu sebuah blog– I keep telling myself that just a damn short story tough.

Sebuah cerita. Saya kira mungkin itu hanya buah pikiran sang penulis saja. Mungkin. Tapi susahnya kadang sebuah cerita begitu nyata, begitu dekat dengan kita, walaupun saya tidak tahu dunia seperti itu ada. Saya kadang tidak percaya bahwa memang dunia seperti itu ada. Banyak hal yang tidak saya tahu. Banyak kehidupan yang mungkin saya kira tidak ada, ternyata dekat dengan saya. Mungkin mata saya tertutup untuk hal seperti itu.

Atasan saya suatu saat berkata, orang tidak akan tahu rasa pahit jika dia tidak mencoba mencicipinya. Itulah prinsip demokrasi. We never know how dangerous something if our eyes blind.

Begitu kah?
benarkah untuk tahu bahwa racun itu berbahaya, kita harus mencicipinya?
benarkah untuk tahu alkohol itu memabukkan, kita harus mencobanya?
benarkah untuk tahu free sex itu bikin sakit kelamin, kita harus mengikutinya?

Dunia seperti itu mungkin cuma cerita. Setidaknya yang saya persepsikan seperti itu. Bukannya saya tidak mau tahu. Tapi apakah semua orang harus tahu? Tanpa memposisikan siapa yang akan menerima informasi tersebut? Saya kira demokrasi tidak seperti itu. ingin saya mendebat ucapan atasan saya tapi mobil kami sudah mencapai tujuannya, dan kami akan segera turun dan berpisah.

Pembatasan. Mungkin itu solusinya. Saya juga tidak menampik bahwa kadang tulisan saya juga tidak cocok untuk dibaca semua orang. Tapi saya tahu bahwa dengan menggunakan gaya tulis yang lebih banyak kata gantinya akan sulit dipahami oleh anak yang belum dewasa. Mungkin..

Menghindar dari rasa bersalah

Salahkah jika saya tidak membolehkan teman ngambil satu cd kosong milik kantor untuk kepentingannya sendiri?
Patutkah saya melakukannya?

Sayang dan (kemudian) bercinta

bercintaSelarik kata yang selalu berjalan beriringan kah? Apakah dengan (kemudian) bercinta akankah bisa mengekspresikan sebuah ekspresi sayang?

Oke, mungkin bercinta — ee.. seks maksut saya, cuma saya perhalus saja — adalah tahap puncak dalam sebuah hubungan dua manusia yang berlainan jenis. Mungkin akan ada puncak-puncak lain tapi saya menggolongkan tahap bercinta ini dalam K2-nya hubungan manusia. Saya tidak perlu menyebutkan apa K1, toh itu akan membuyarkan inti cerita.

Sekali lagi, jika rasa sayang ini memuncak apakah harus diklimaks-kan dengan bercinta? mungkin pertanyaan saya lebih tepat bagi praktisi hormonal mungkin ya.. Saya juga tidak tahu, tapi yang saya tahu ketika feromon berpadu mungkin terjadi demikian.

Saya tidak berkhotbah karena saya mungkin — hmm.. — juga tidak bisa menghindarinya. Sekali lagi saya tegaskan saya cuma bertanya. Hal ini yang bergelantung di pikiran saya. Bukan sesuatu hal yang aneh bukan?

Jika sayang terus kemudian berpelukan? Begitu?
Jika sayang terus kemudian berciuman?
Jika sayang terus kemudian bercinta?

Dua Kata

rokokSuatu saat datanglah sesosok perempuan dengan bau nafas rokok keluar dari jengkal nafas mulutnya ke tempat kerja kami. Paruh baya. Sesosok wanita metropolitan mungkin. Saya mengiranya begitu. Dari cara bicaranya, dari pergaulannya, dari semua hal yang tampak yang memunculkan sejuta opini di kepala saya yang menasbihkan demikian.

Saya bukan perokok. Saya pernah merokok sekali, sewaktu saya menempuh pendidikan menengah tingkat pertama saya. Waktu itu saya bersama serombongan bis berlibur ke pulau Bali. Andre Hehanusa berkata kepada saya, Bali adalah forget island, pulau tempatnya orang lupa. Mungkin juga benar, karena hanya untuk solidaritas saya melupakan betapa rokok itu adalah racun yang membuat semua orang teradiktasi dengan mudahnya.

Kembali lagi, perempuan itu sesosok baru yang mulai mewarnai ritme kerja di tempat saya bekerja. Dia dan segala tingkah lakunya.

Bukannya saya kemudian membencinya, tapi sebuah pertanyaan terlintas di kepala saya, mengapa harus merokok? Bukannya saya lantas menghakiminya, bahwa dia adalah korban kejahatan pabrik rokok terhadap masyarakat, bukan itu. Bukan pula berusaha mengasihani — untuk bahasa halusnya, padahal tidak mampu untuk melarang — tapi pertanyaan saya lebih menspesifikkan kepada dua kata: perempuan modern dan rokok (oh bukan, maaf, tiga kata).

Saya bukannya sok idealis dengan anjuran yang tercetak di setiap sisi bungkus rokok yang memang cuma sekedar hiasan semata, tanpa ada orang yang peduli dengan makna dibaliknya, dan kemudian saya harus memperingatkan semua orang, termasuk perempuan itu, untuk berhenti merokok, hanya waktu saya akan sia-sia saja mengingat pengkonsumsi racun herbal ini ikut menyokong semua segmen kegiatan masyarakat. Olahraga, musik, beasiswa, sekolah.. sebutkanlah, you named it, they have it all. Sia-sia saja..

Beberapa waktu lalu ada usulan dari suatu majelis untuk menggelontorkan keharaman batang tembakau itu. Sebuah usulan yang kemudian langsung memantul di otak masyarakat, menimbulkan kecaman, sekaligus tanda tanya. Saya kira sia-sia, malah lebih beruntung Perda Rokok yang dibuat pemkot Jakarta, setidaknya perda itu ada. Walaupun tidak pernah ada aksi yang jelas. Setidaknya ada.

Masih tentang dua kata itu (atau tiga, terserah), saya kira screenshotnya pun sudah bisa didapatkan dimanapun. Tidak perlu mencari tempat yang agak tersembunyi, cukup tempat yang agak ramai saja, pasti ada.

Dulu, jika saya berada di keramaian, di bis, di kereta, atau di manapun, saya selalu mencari tempat yang banyak perempuannya. Bukannya saya maniak atau pengen mencari kenalan (oke, aga munafik ya?) tapi alasan saya karena mereka tidak merokok. Tapi sekarang?

Perubahan

Suatu saat teman saya yang baru saja menikah berbicara di depan kami (kami : para manusia yang belum menikah),
“saya besok ga bisa dateng ke kawinannya si x.”
“lho kenapa?”
“berat di ongkos euy”

Kemudian dia bercerita panjang dan lebar. Kami pun termangu. Sebegitu beratnya beban seorang kepala rumah tangga. Akhirnya kami berkesimpulan dalam hati kami sendiri bahwa kami memang sudah sewajarnya dia ga datang untuk pesta itu.

tak seberapa lama kemudian, saya berdiskusi dengan salah satu dari kami, yaitu manusia yang belum menikah itu, mengenai pemakluman yang saya rasakan. Memang dari teman saya itu juga berpendapat demikian. Ya memang sudah sepantasnya.

Perubahan. Saya bukannya mengutip judul album salah satu band yang sedang melejit penjualannya, D’Masiv. Bukan. Bukan itu. Saya meyakini ini adalah perubahan dari salah satu teman saya itu. Fase perubahan pola pikir, fase perubahan tingkah laku. mungkin inilah saat teman saya itu mulai menyikapi hidup lebih serius. Menyikapi anggaran dengan lebih ketat. Menyikapi keperluan yang tidak produktif.

Saya bisa memakluminya. Bukan. Saya harus memakluminya. Suatu saat saya akan seperti itu. Kami ini, para manusia yang belum menikah, juga akan seperti itu suatu saat. Seandainya masa itu tiba, kami mungkin juga akan dianggap berubah juga. Memang harus seperti itu.

Kami sudah melalui fase fase pemikiran dasar, fase perkembangan, fase kedewasaan, dan kemudian fase berikutnya akan kami hadapi adalah fase keluarga. Semoga

Bersandar

Beberapa kali terjatuh, beberapa kali terlindas
Beberapa kali mencoba melawan badai
Hanya berpegang pada sepucuk rumpun tergenggang
Bergulung-gulung angin datang
Berjuta-juta jejarum hujan menancap
Hanya berpayung sehelai kain di badan
Sebuah tempat bersandar terhampar datang menjelang
Sebuah atap perlindungan terbentang
Lelah jiwa tertuang
dalam renungan malam
dalam kegembiraan sesaat
sebelum pisau ujian tertancap kembali