Teror Aceh

Di Lhokseumawe dan Langsa, kantor Partai Aceh (PA) dibakar. Cara dan waktu pembakaran nyaris sama, baik terhadap kantor Dewan Pimpinan Gampong (DPG) PA di Desa Panggoi, Kecamatan Muara Dua, Kota Lhokseumawe, maupun kantor Dewan Pimpinan Daerah (DPD) PA Langsa Timur. Baca lebih lanjut

Senjata Ilegal

Senjata api, dalam sebuah negara hanya boleh disandang aparat keamanan, khususnya tentara dan polisi. Itu pun masih dalam seleksi (internal) yang—mestinya—ketat. Ada kalangan sipil yang diberi izin menyimpan senjata, dengan kriteria dan syarat tertentu yang amat ketat. Negara, melalui aparat kepolisian pula yang menentukan. Baca lebih lanjut

Lelaki tanpa Matahari (Tamat)

Sejak itu, aku berusaha melupakan Amelia. Tapi, cinta yang pernah kudapatkan darinya telah membuatku hanya berpikir tentang perasaan orang lain. Cinta yang membuat aku selalu mendahulukan orang lain. Cinta yang kemudian menjadi bumerang, membelenggu proses kreativitasku dan membuat kualitas diriku mandul. Cinta yang membuat aku lupa bahwa aku masih punya banyak kesempatan untuk menguras segala keahlian dan keunggulan diri. Baca lebih lanjut

Lelaki tanpa Matahari (16)

Tanpa terasa matahari telah beranjak ke peraduan malam. Sementara azan magrib baru saja usai. Sesaat kemudian kejora hinggap di langit yang telah berwarna gelap. Aku masih saja terpaku menatap laut. Pikiranku mengembara, melintas hari-hari indah yang pernah kulalui bersama Amelia. Ya, di tempat ini aku sering menikmati matahari tenggelam bersama Amelia. Baca lebih lanjut

Lelaki tanpa Matahari (14)

Ketika mataku terkuak, kutemukan tubuhku terbaring di pinggir jalan. Astaghfirullaahal’adziim… Sorot mataku mengitari beberapa siswa calon polisi yang berdiri di sekelilingku. Ya, sepeda motor yang kukendarai ternyata terjatuh persis di depan gedung Sekolah Polisi Negara, di puncak Seulawah, Aceh Besar. Baca lebih lanjut

Wartawan, Reformasi dan Kutu Busuk

Sungguh naas dan memalukan bagi kami, terlebih para kepala Puskesmas yang berhasil “diperas” oknum wartawan, yang membawa bawa nama Harian Aceh. Wartawan Saf, alias Iwan, berhasil menilep jutaan rupiah, dari kepala Puskesmas di Banda Aceh dan Aceh Besar, atau bahkan mungkin dari banyak fihak lain yang belum kita ketahui. Baca lebih lanjut

Lelaki tapa Matahari (11)

Kurasa malam belum begitu larut. Setidaknya, jarum jam belum menajukkan pukul 00.01 dini hari ketika aku terjaga dari tidur yang diselimuti kegelisahan. Dari balik jendela aku menyaksikan kunang-kunang meliuk di atas setangkai kembang. Malam melempar pesan lewat jemarinya yang dingin. Dan, tiba-tiba aku ingat pesan singkat dari Amelia yang mampir ke handphoneku tadi sore. Kuraih HP dan segera meneleponnya. Baca lebih lanjut

Moral Kita, Kiamat!

Kita saat ini tengah dilanda degradasi moral. Akibat agama kini hanya dijadikan simbol. Rasa bersalah dan malu telah dikalahkan oleh “kenikmatan” dunia, berupa materi, jabatan dengan segala kemewahannya.

Lihat saja penyelewengan terjadi di mana mana, tanpa merasa bersalah, tanpa malu. Kemarin di Aceh, Mantan Ketua Bappeda Agara diduga “sikat” setoran pajak negara, Dinas Perikanan Pidie dituding “tilep” dana rehab tambak, oknum anggota BRDA “sunat” bantuan korban konflik. Baca lebih lanjut

Lelaki tanpa Matahari (10)

Kubiarkan Wati tidur di kamar. Sedangkan aku memilih tidur di sofa. Namun, sepanjang malam aku terus gelisah. Pikiranku mengembara, ingin menembus dinding kamar, tempat Wati tertidur pulas. Bayangan gadis itu terus mengusik alam sadarku. Akh, kucoba mengusir pikiran itu jauh-jauh. Kubenamkan wajahku ke sofa. Aku berharap, cepat tertidur dan terbuai mimpi indah. Baca lebih lanjut

Lelaki tanpa Matahari (9)

Aku berjalan gontai kembali ke kamarku, setelah mengantar Amelia hingga ke depan mess, tempat sepeda motornya di parkir. Aku merasa seperti ada sebuah bahaya laten yang akan mengancam kehidupanku. Naluriku mengatakan, keluarga Amelia tidak mungkin menerimaku lagi. Lebih-lebih Wati, wanita yang pernah terperangkap ranjau cinta yang kutebarkan empat tahun lalu. Yang kemudian kuhempas setelah sebulan penuh menemani hari-hariku selama di negeri jiran. Baca lebih lanjut

Lelaki Tanpa Matahari (8)

Karena ada Amelia di kamarku, seusai mandi aku langsung menggantikan pakaian di kamar mandi. Begitu kembali ke kamar, kutemukan wajah bidadariku tidak seperti hari-hari sebelumnya. Biasanya, dia selalu membersihkan kamar tidurku sambil menunggu aku selesai mandi dan mengganti pakaian. Baca lebih lanjut

Lelaki Tanpa Matahari (7)

Hingga azan isya yang terdengar sayup dari mesjid di seberang sawah, hujan masih saja mengguyur lebat. Aku dan Amelia telah hanyut jauh dalam dunia masing-masing. Dia meringkuk dalam balutan pelukanku. Matanya masih menerawang, menerobos jalanan sunyi. Aku tahu apa yang ia lamunkan, apalagi setelah berkali-kali mendengar helaan nafasnya. Ya, seperti juga yang sedang aku pikirkan. Ingin kebersamaan ini bisa berlangsung selamanya. Baca lebih lanjut

Lelaki Tanpa Matahari (6)

Kurasa semburan udara penyejuk ruangan itu dipaskan pada posisi 16 derajad celsius. Namun, butiran keringat kulihat tetap saja mengalir di jidat Raja-01 yang lumayan licin. Ohya, Raja-01 itu panggilan kami untuk pemimpin redaksi. Maklum, Harian Pararaja memang dikelola oleh sejumlah raja dari beragam komunitas berbeda. Baca lebih lanjut

“Tulip Oranye” Kehilangan Warna Asli

Pasukan “Oranye” Belanda memang menang 1-0, berkat gol Giovanni Van Bronckhorst saat menghadapi Slovenia di Petrol Arena, Kamis (29/3) dalam kualifikasi Euro 2008. Namun penampilan tim Belanda sekarang, permainannya tidak seindah tim-tim asuhan pelatih terdahulu, seperti Rijkaard atau Guus Hiddink. Apalagi untuk disamakan dengan mahaguru sepakbola Belanda, Rinus Michels. Baca lebih lanjut