ternyata…

•November 8, 2008 • Leave a Comment

jumat malam 7 november 2008 seorang temen sms saya..isinya tentang berita kematian seorang sahabat

almarhum adalah temen sma yang hampir tak ada orang yang tak suka..artinya dia adalah sosok yang low profile..pinter..mau bergabung dengan siapa aja..termasuk kami yang dulu sering disebut kaum marjinal dengan banyak ulah ( itu kata guru be-pe / agama / n biologi hehe )

almarhum meninggal ketika snorkling di wanci, taman nasional wakatobi..katanya almarhum sedang menemani tamu dan kemudian entah kenapa tiba2 sudah meninggal di laut..

entah kenapa..berita itu kok tiba2 melambungkan pemikiran saya akan kematian yang bisa saja memilih siapa aja..suka suka dia aja kaya’nya..meski katanya umur manusia sudah ditentukan sih..

kata temennya balian of ibelin di film kingdom of heaven, saya lupa namanya “…all death are certain my friend”..kematian adalah hal yang pasti..

memang sih kematian adalah kepastian..tapi tetap tidak menentramkan hati dan otak saya yang sedang kacau balau membayangkan arwah, yang sekarang sedang menuntun saya menulis posting ini, nantinya keluar dari tubuh saya..membayangkan nanti malaikat bersayap akan turun menjemput saya..pasir kuburan yang padat bin banyak itu menutupi jasad yang bertahun2 berkolaborasi dengan ruh dan membuat eksis seseorang..membayangkan malaikat tukang catat akan menanyai saya di kuburan nanti…kemudian surga…neraka…cuk serem cuuukkkk!!!

kemudian flashback kehidupan saya mulai tk sampe sekarang sekilas muncul dihadapan saya ( kalo bayi saya ga inget hehe )…oh God..apa saja yang sudah saya lakukan???seyakin yakinnya saya akan kebaikan Tuhan yang akan menerima umatNya apa adanya dan sesantai santainya Dia menertawai kebodohan manusia selama hidup…ternyata saya tetap takut dengan kematian…pfyiuhhhhhhh…

new metallica album

•October 6, 2008 • Leave a Comment

http://www.stafaband.info/127788/Metallica/Death_Magnetic_Full_Album_rar/

met datang Ramadhan..

•August 31, 2008 • Leave a Comment

Selamat datang Ramadhan…
selamat datang hari hari panas tanpa es teh manis atau es kelapa muda..
selamat datang hari hari penat tanpa sebatang rokok kretek dengan asap tebalnya itu..
selamat datang siang hari tanpa batagor,siomay,sate,tongseng dan segalanya…
selamat datang pagi tanpa kehadiran pekatnya kopi hitam dengan uap harumnya..
selamat datang malam hari tanpa maraknya canda tawa cewe cewe centil di lokalisasi..katanya sih menghormati
selamat datang kegelapan untuk dunia gemerlap dan sekitarnya..juga buat menghormati katanya..
selamat datang pondok pondok pesantren kilat gratis oleh sekolah sekolah…

Ramadhan selalu datang..puasa selalu dituntaskan..tiap tahun selalu berulang..

andai saja Ramadhan ini kita mampu mengucap…
selamat datang Ramadhan
selamat datang pagi tanpa kehadiran berita korupsi oleh pejabat busuk…
selamat datang hari hari dengan kebebasan berpendapat dan berpikir tanpa tekanan dari pihak yang mengatasnamakan agama..
selamat datang pendidikan gratis oleh semua sekolah dan dibiayai oleh negara..
selamat datang kesadaran berpikir dan kesadaran bertindak untuk berubahnya bangsa ini..
ahh..masih jauh kaya’nya…untung kita masih bisa mimpi

4,986

•August 8, 2008 • Leave a Comment

Alhamdulillah..4,986 unread messages di inbox saya sudah ter-delete manually..jancuk!! pegel tanganku cuk!! meremehkan belasan atau puluhan new messages memang berujung pada sepetnya mata dan pegelnya tangan ini ketika melihat dan menghapus imel2 tersebut. Terima kasih Tuhan memberiku determinasi untuk segera menyingkirkan imel imel itu hehe..lha males hare ate moco sitok2…

4 Days to Forever

•July 7, 2008 • 2 Comments

Rabu, 18 Juni 2008.

7.30 am

Tulit..tulit..dua kali beep hp ternyata mampu mengusik saraf pendengaranku yang kemudian mengirimkan sinyal ke otak dan diteruskan ke mata yang masih berat untuk dibuka ini. Sms dari reporterku dengan malas aku buka. Jari jari yang sudah terlatih memencet keypad ini dengan lancar membuka keylock hpku meski mataku tertutup. Dengan samar samar kulihat bunyi sms yang berkata kalau dia sudah di lt.5 kantorku bekerja. Aahhh..rajin banget brur!!! Tapi memang kita sudah janji dateng pagi untuk liputan hari itu. Mau tidak mau, malas tidak malas, ngantuk tidak ngantuk, kugerakkan kakiku menuju kamar mandi n mengguyur tubuhku yang terasa sangat malas untuk bersahabat dengan air pagi itu. Tiba di kantor langsung kusiapkan kamera kesayanganku n langsung berangkat liputan. Aku hanya berharap liputan hari itu berakhir cepat n lancar jaya. Tak sampai 30 menit kami tiba di lokasi untuk mewancarai beberapa anak sd. Tak sampai satu jam, dua liputan sudah kami habisi..legaaaaa…..

Sesuai rencana, kami berencana untuk tidak kembali ke kantor secepatnya. Maklum buruh buruh macam kami selalu menggoda atasan yang ingin menyuruh kami ke lokasi liputan lain. Daripada disuruh, mending saya berbosan bosan ria beberapa jam di mobil n kembali layaknya wartawan yang sudah capek liputan. Akhirnya saya usulkan ke reporter saya untuk menemani saya membeli tiket saya pulang hari itu. Reporter saya menyetujui. Berputar putar dikit, saya melihat travel agent. Iseng iseng saya berhenti dan menanyakan tiket pesawat ke surabaya untuk hari itu. Ternyata jawabannya sungguh tidak mengenakkan dompet saya waktu itu. Tiket yang biasanya dijual dengan 400rb rupiah, kini melonjak menjadi 600rb paling murah. Bahkan pesawat dari maskapai “L” yang biasanya murah itupun harga tiketnya mencapai 1juta!. Weleh???selidik punya selidik, ternyata musim liburan ini bapak n emak anak2 sekolah juga ikut liburan hingga memenuhi kuota penumpang pesawat, dan tanpa banyak protes harga tiket pun naik dengan lancar. Jancuk, anak’e sing prei kok bapak ibu’e melu repot..nggarai larang tiket ae cuk!

Dengan berat hati n lega dompet…saya putuskan untuk ke stasiun Gambir. Naek kereta aja ah..murah bin meriah… Tiba di Gambir saya berharap masih dapat tiket kereta eksekutif Bima hingga saya bisa agak tenang tidur. Ternyata eh ternyata..semua tiket eksekutif ke surabaya habis binti ludes sampai hari senin..lidah di mulut ini terasa gatal ingin menyumpah di depan loket penjualan tiket..Jancuk!!! sopo ae sih sing tuku iku sampek keentekan. Si mbak berkata kalau yang ada cuman kereta api bisnis Gumarang untuk hari itu n selanjutnya. Ya wis gpp, poko’e mole je..meski bayangan 13 jam di kereta yang selalu telat itu sudah menyeruak.

Jam 12 siang kami memutuskan kembali. Kami pikir 4 jam berada di luar kantor sudah cukup pantas hehe…ga pake checkout, langsung setelah saya kembalikan kamera, kaki langsung saya langkahkan keluar hehe. Creative saya sempat menanyakan apakah masih mau liputan lagi, soalnya tidak ada cameramen lagi untuk tim liputan hari itu. Dengan enteng mulut saya menjawab ga mau hehe..oo ya udah kalo gitu, untung nya creative saya memaklumi.

Tiba di kos, pakaian saya pack di tas yang saya pinjam dari teman se-kos. Agak banyak yang saya bawa hari itu..maklum 8 hari libur n ada acara pula!hihi…

Jam 4.15 saya bersiap untuk berangkat ke stasiun, tiba tiba temen saya menelpon, meminta saya untuk menunggu dia datang ke kos saya. Heh jancuk aku wis kate budal iki. Dia bilang dia sudah di jalan menuju kos. Baeklah kalo begitu, wong niatnya baek saya tunggu aja hehe. 4.35 dia nyampe. Ngobrol ngalor ngidul tentang persiapan pernikahan saya tak terasa jarum jam sudah menunjukkan pukul 5 sore kurang 5menit. Mak! Kereta saya kan jam 6? Dia bilang tenang dulu ndha, biar gw telpon taksi. Jancuk cepetan cuk, maksimal 15 menit, jawab saya. Telepon operator taksi biru, temen saya mengingatkan untuk cepet mengirim taksi ke kos saya. Sang operator menyanggupi 15 menit lagi datang. Kami berdua menunggu…5 menit..10 menit..15 menit..ga teko cuk!!..mulai gelisah..menit ke 20 taksi yang kami tunggu dateng dengan wajah tanpa dosa..( ancene ga duwe..) langsung tanpa basa basi saya minta ke Gambir. Temen saya cuman ketiwi ketiwi karena melihat wajah panik saya waktu itu. Sang sopir dengan tenang bertanya lewat mana pak…saya jawab lewat mana aja pak,asal cepet, soalnya kereta saya jam 6. sang sopir dengan wajah yg tenang menjawab, insya Allah bisa pak..

Melaju di antara kemacetan ibukota, saya cuman bisa melihat jam digital di dashboard taksi terus bertambah menitnya. Jam 5:59 ( setidaknya itu yang terlihat ) kami mulai memasuki stasiun. Langsung saya bayar, tak lupa mengucap terima kasih, saya langsung berlari ke jalur 3&4 tempat kereta saya memeluk rel. Sedikit terengah engah ( akeh asline ) saya bertanya ke satpam stasiun, Gumarang dah lewat belum pak?.. belum mas..wuihhhhh lueeegggooooo…saya melihat jam stasiun menunjukkan pukul 5.59..ahhh untungnya jam taksi tadi kecepetan hehe..tak lama saya berdiri pukul 6.02 kereta itu tiba. Untung ga telat aku cuuuukkkk. Blaen lek telat…

Langsung saya menuju gerbong dan tempat duduk saya. Tak peduli dengan sekitar, rokok langsung saya nyalakan dan kukepulkan asapnya yang tak terlalu banyak. Tak sampai 15 menit kereta itu melaju membelah sore Jakarta yang berwarna orenj diselimuti awan awan polusi, disuguhi gubuk gubuk liar di sepanjang relnya …. Tuuiiiiiiitttttt…..ditandai dengan semakin kencangnya hembusan asap rokokku mengarah keluar jendela….kereta itu melaju tanpa peduli…

——

Kamis, 19 Juni 2008

Jam 06.am

Seharusnya kereta sudah membelah pagi Surabaya. Bokong saya sudah terasa sangat panas dan very much thick you know..?hehe. Leher saya sudah sangat tegang karena semalaman entah dia mengayun kemana ketika mata saya tertutup tak lagi kuat menyangganya. Tapi kereta itu masih enak enakan nangkring di rel rel kota Lamongan. Jancuk Jaraaaaaannnn!!!Dengan sangat terpaksa saya terpaksa ( sampe 2kali terpaksanya) tetap di kereta ( lha mosok kate mencolot metu??) dan menyabarkan diri saya sendiri..

Jam 7 pagi,kereta tiba di stasiun Pasarturi. Terdengar bunyi speaker informasi kalau ada penumpang mau melanjutkan perjalanan ke Banyuwangi, bisa menumpang kereta ke stasiun Gubeng..weks?kereta lagi?? Ga pathek’en cuk!!! Bokong saya sudah terlalu panas untuk dijatuhkan di kursi kereta yang keliatannya tok empuk. Lek suwi suwi atos kabeh rasane..

Melangkah keluar stasiun saya langsung memanggil taksi yang lewat. Sedikit manja tentu diperbolehkan untuk kondisi bokong yang penat ini. Maklum, perjalanan 6 jam selanjutnya sudah terbayang. Kalau saya memilih angkot, tentu 6 jam itu bisa berganti menjadi 8 jam. Jam 7.30 terminal Bungurasih sudah nampak batang gerbangnya, soalnya dia ga punya hidung..setelah saya bayar, saya langsung melangkah ke jalur bis Patas jurusan Jember. Langsung saya lemparkan badan saya ke kursi yang sudah tidak terlalu empuk itu. Tapi setidaknya kursi itu tak sekeras kursi di bis bis ekonomi lainnya. Tas saya yang berisi pakaian saya letakkan di balik kursi paling belakang, setelah saya lihat kering dan agak longgar. Jam 8 pagi roda bis mulai berputar dan membawa bodi bongsornya ke jalan raya. Otak saya sudah membayangkan 6 jam lagi saya bisa merebahkan diri di kasur yang sudah saya idamkan sejak 14 jam yang lalu. Keluar tol Porong, dugaan saya meleset tanpa basa basi..Akibat gobloknya Lapindo Inc, lumpur tak bisa diatasi sampai sekarang..dan imbasnya kemacetan akibat bertumpuknya kendaraan ya tak bisa dipisuhi..hanya bisa dirasakan..masio wis suuwwwiii!!! Jancuk jancuk..pancet macet ae rekkkk. Saya pasrah. Apapun yang terjadi terjadilah, toh saya sudah kadung capek bangettt. Jam 10.30 bis saya baru nyampe Probolinggo, 2,5 jam berikutnya sampai di Jember. Dan tau apa yang terjadi dengan tas saya? Seseorang dengan kejam entah sengaja atau nggatheli menimpa tas saya dengan tasnya yang bocor oleh cairan sing njancuki..tas saya basah oleh cairan yang mak!,baunya!!! Koyo pindang bosok cuk!!! Asu ancene, jancuk jancuk,….bis ini memang kejam!!! Wis suwi nggarai tasku teles pisaan! tembus ng njero2 sak pakaianku…kalau saja,..kalau saja pakaian itu tidak baru saja saya cuci mungkin saya tidak akan segondok ini..lha iki..klambi2 iku mari tak umbah JANCUUUKKK!!! ASU raimu sing nelesi tasku!! Tak kutuk mambu kabeh klambimu sampek seminggu CUK!!!, sak wulan lek perlu. Dendam akan pencucian baju ini tak akan terbalaskan dengan mudah!!!.Jam 3 sore akhirnya saya nyampe rumah. Terhitung 22 jam saya berada di kendaraan dan tentu saja…di jalanan. Pegel kabeh cukkkkkk!!! Tiba di rumah, ga disuruh tidur dulu atau apa, saya justru langsung disuruh mandi dan bersiap siap untuk acara aqiqah dan walimatul ursy saya. Ampun Tuhan, cutiku 8 dino ae Sampeyan ajar entek2an ngene..!!! Jam 3.30 acara dimulai dan berakhir jam 6 sore. Dengan gontai saya melangkah ke tempat tidur saya, mata ini akhirnya bisa tertutup dengan kondisi badan yang direbahkan. Setengah jam berlalu, sekitar jam 7 kurang, saya dibangunkan.. ternyata tamu tamu sudah mulai datang untuk sekedar berkunjung menemui calon penganten, which is me..matek matek…ha hi he ho hu..bersapa ria dan bersenyum ria, tamu terakhir habis di jam 11.30 malam…Ya Allah, awakku remek kabeh Tuhan…

Eit tunggu dulu, persoalan belum selesai. Minimal saya harus melek satu jam lagi. Ngapain lagi kalo ga nyuci baju. JANCUK!!maklum, baju itu yang besok saya mau bawa. Dan saya ga punya baju lain. Tak punya pilihan, saya segera menumpuk baju di mesin cuci dan membiarkannya berputar putar dengan busa busa sabun yang terlihat sangat menyebalkan.

Baru jam 12.15 saya bisa meluruskan kaki saya. Sebatang rokok menemani malamku di kamar itu. Setelah bara api rokok mendekati garis kuning pangkalnya, dengan bersemangat badan ini kuletakkan dengan seadanya di ranjang itu. Terlentang di ranjang itu, harapan saya untuk segera berlatih tewas ternyata hanya tinggal harapan..tubuh yang capek ini ternyata malah tak mau untuk dianastesi dengan mata yang sudah 5 watt ini. Terlalu capek malah membuat saya hanya melek merem melihat langit langit kamar saya. Akhirnya saya memilih nonton tv daripada berbaring ga jelas arahnya. Baru jam 3 saya bisa tertidur …zzzzz..zzzzz…zzzrrrkkk…rrrkkkkk..errrrggghhhhh, desah nafas saya berubah pelan namun pasti menuju ngorok.. hehehe, gpp je, itung2 bonus buat orang rumah yang dengan sangat tega menyiksa saya hihihihi..

——-

Jum’at 20 Juni

11.00

Hari itu saya tak punya niatan sedikitpun untuk menyapa matahari pagi. Sekedar kriyip kriyip melihat sinarnya menerobos celah celah jendela kamar saya pun tidak. Hari itu saya bertekad mensukseskan pagelaran tidur saya. Alhasil, jam 11 saya baru melek. Melek,….bukan bangun. Badan saya bangun meninggalkan tempat tidur ketika pukul 11.30 dan kaki saya menapak lantai rumah saya menuju kamar mandi belakang.

Setelah sholat Jumat, secara otomatis, kaki saya mengikuti perintah otak saya yang mengarahkannya ke tempat tidur lagi. Maklum, balas dendam lebih kejam daripada tidak hehehe..

Jam 3 sore saya terbangun,..untuk kedua kalinya. Baju saya sudah kering semua. Segera saya packing untuk kedua kalinya dalam dua 3 hari dan mempersiapkan diri untuk berangkat ke Sidoarjo malam jam 9. Setelah siap, mak saya yang super duper crewetnya menyuruh saya untuk memotong rambut saya. Daripada berhadapan dengan crewetnya ibu saya, mending saya berhadapan tukang cukur meski bencong sekalipun. Walhasil, satu2nya salon yang buka adalah milik sang bencong. Dan sekitar 20 menit saya harus menahan napas sambil mengepalkan tangan siap siap meninju kalau kalau dia kurang ajar. Paranoid bencong alias bencongphobia belum bisa hilang dari saya.

Jam 8.45 bis yang disewa ebes saya datang. Tetangga yang akan mengiringi lelanange jagat ini mulai menaikki bis dengan barang barang yang nanti diserahkan ke mempelai wanita, alias istri saya. Saya memilih bangku kedua dari belakang dengan harapan segera tidur. Bis akhirnya berjalan menyusuri kegelapan Banyuwangi..belum 5 menit jaket itu saya tutupkan di kepala saya, ebes saya memanggil dari depan. Dia bilang saya harus didepan untuk petunjuk jalan. HEH????maksude???trus gunane kernet iku opo, lha trus mosok sopir iku ga tau jalan luar kota???saya pun menanyakan ke sopir, apakah butuh penunjuk jalan, dia bilang saya ga tau pas abis embong bunder mas..lha yo wis lek ngunu, nanti aja saya tuntun kalo dah nyampe embong bunder. Lha lapo teko banyuwangi aku kudu melek ngancani sopir sampe sidoarjo trus mojokerto??sing dadi manten sopo to asline??mosok mene nikah sik melekan terus cuk..saya langsung tidur lagi.

——

Sabtu, 21 Juni 2008

03.00

Yan, yan!!! Emes saya menggoyang2kan lengan saya, mencoba untuk membangunkan saya. Wis nyampe gempol iki lho..sopir e ga ngerti dalan..Jancuk!!! dalam hati saya menyumpah nyumpah..lek ga ngerti dalan ga usah dadi sopir mari, dadi kernet sik ae. Gathel gathel. Dengan berat hati saya menemani sopir di kursi depan. Dan melek. Itu yang paling saya ga suka. Diiringi oleh rada lemotnya sang sopir..sedikit cerita aja kalo gitu hehe…sebelum ramayana sidoarjo, kalau kita dari porong menuju kota, kita akan disuguhi satu jalur yang mengarah ke kiri kemudian memutar, tapi tetep searah. Nah, sang sopir yang harusnya melihat hal yang sama dengan saya, yaitu tanda dilarang masuk, dan jalur yang terbelokkan, dan otomatis dia akan membelokkan kendaraan ke kiri. Lha wong itu tok dalane. Ndilalah kersaning Allah, pertanyaan yang seharusnya ga muncul itu muncul,..mas..kita kemana? Belok kiri ya? Gludak!! Yo jelas pak!! Wong dalane cuman iku, pengen nabrak a lek lurus?? Sewot saya menjawab. Dengan gerutu dalam hati, kami tiba di rumah mbak ( bulik ) saya di Bangah, Sidoarjo. Kleset kleset sebentar, byur byur mandi seperlunya, was wus ngrokok secukupnya, kami melanjutkan perjalanan ke Mojokerto jam 7.30. Kali ini saya tak dapat jatah tidur sama sekali, wong sing ngerti dalane cuman aku. Sebagai guiding bride alias mempelai pemandu jalan, jam 8.30 kami nongol di depan rumah mempelai wanita saya..( terasa romantis ternyata ketika saya menyebut mempelai wanita..cuk kangen polehan..)

Tenda tenda biru bergaris putih itu terasa sangat sederhana, pas dengan keinginan kami yang tak terlalu ingin hingar bingar pesta. Asal sah n ga malu2in hehe. Kursi kursi itu dilapisi kain merah muda. Sebuah meja beralaskan taplak merah diletakkan ditengah tengah kursi. Rokok kembali saya bakar. Ternyata hati ini tak setenang yang saya kira. Degupan degupan jantung ini terasa lebih cepat dari biasanya. Kepulan kepulan asap rokok itu kelihatannya mengejek saya dengan moment saya waktu itu. Gelisah saya menunggu penghulu datang. Gelisah saya membayangkan apakah saya nanti bisa mengucapkan IjabQobul pertama dan terakhir saya. Tak terasa 3 batang rokok saya habiskan dalam waktu setengah jam. Jam 9.10 penghulu datang. Pada awalnya saya cuek, wong saya pikir dia tamu. Tapi setelah mertua memanggil saya dan menunjukkan kalau dia penghulunya spontan Deg!! Jantung ini berbunyi dag dig dug sampai bahu saya bergerak seirama dengan denyut jantung saya. Langsung saya diarahkan ke meja yang sudah dipersiapkan untuk menguji kelelakian saya..arena pembuktian ucapan dari seorang laki laki. Ring untuk unjuk kejantanan demi sebuah ikatan suci bernama pernikahan. Keringat dingin mengalir dari tangan saya sebelah kiri,..untungnya. jadi ga terlalu malu kalo bersalaman dengan penghulu hehe. Telapak tangan kanan saya terasa sangat kering, hampir sama dengan tenggorokan yang seperti tercekat oleh ketakutan yang sangat. Is this the time God??begitu saya membathin..

Bla..bla..bla..sedikit berbasa basi dengan ayah mempelai wanita saya, penghulu kemudian memanggil saksi dari keluarga saya, yaitu om saya. Seperti habis menghisap ganja kw1 saya hampir tidak bisa mengingat apa saya yang barusan diucapkan oleh penghulu tersebut. Setelah mukanya menghadap saya barulah saya memandang tajam ke arah mulutnya dan memasang telinga saya setajam tajamnya. Sang penghulu yang ketika itu terlihat layaknya jaksa penuntut umum dengan terdakwa seorang maling ayam ( kalo koruptor sih jaksanya ga serem serem hehe ) menanyakan apakah saya mau mengucap janji nikah. Saya jawab mau. Dan apakah saya bisa melanjutkan perkataan setelah dia mengucap serah terima proses akad nikah dari mertua saya ke dia? Dengan bingung saya bertanya, kata2nya gimana pak? Bla bla bla..dia berkata ( saya tidak bisa menuliskannya karena saya completely forgot those words!!!totally blank!!! Hehehe ) tapi yang jelas, kata2nya jauh berbeda dengan ikrar akad nikah yang saya hapalkan beberapa hari sebelumnya. Saya dikasih pilihan, anda mau menirukan atau meneruskan sendiri. Dengan senyum yang sangat terpaksa, saya memohon untuk menirukan saja. Penghulu berkata kalo lebih afdol kalau meneruskan sendiri..dengan polos saya menjawab kalau kata2 itu beda dengan hafalan saya selama ini hehe. Tapi meski pake hafalan saya sendiri, saya ga jamin bisa melafalkannya dengan cepat, tegas, dan benar dalam kondisi hati saya saat itu. Believe me guys..the pressure is unbelieveable, so fucking huge!!! Akhirnya penghulu mengiyakan permintaan saya…dengan tangan digenggam oleh penghulu, saya benar2 memusatkan semua perhatian saya ke kata kata yang keluar dari mulut penghulu itu. Semua terasa sepi, yang terdengar cuman suara si penghulu, suara saya, dan suara jantung saya.

SAYA TERIMA!!! Begitu kata kata itu meluncur dari mulut saya, degup jantung itu mulai naik satu gigi dari biasanya,..kata kedua naik lagi satu gigi dan rpm..kata ketiga..naik lagi satu gigi berbanding dengan rpmnya..selanjutnya naik..naik lagi…naik lagi..Demi Allah, saya tak pernah merasakan seperti ini..degup jantung yang naik perlahan per lapnya..sampai ketika hampir berakhir..denyut jantung itu melaju tanpa kendali dan berdetak sangat cepat dan kencang!!! Sekencang Casey Stoner dengan Ducati di lintasan lurus, sekencang lari juara Olimpiade 100m, sekencang avalanche yang tiba tiba runtuh menerpa Alpen, sekencang peluru yang keluar dari laras M14 seorang sniper…Dan berakhir dengan sangat tiba tiba ketika saksi I mengibarkan bendera Sah!!

HWAAAAAAHHHHHHHHHHHHHHH!!!!!!!

Lemes, bahagia, takjub, tak percaya..semua reaksi tadi saya lepas dalam satu tarikan dan hembusan nafas panjang..

God, I’m married!! Finally!! Senyum keluar dari bibir saya dan istri saya. Segera setelah menyerahkan mas kawin, dan berpose pose ria dengan memegang surat nikah, kami digiring menuju kamar penganten dan dipersilahkan berdua sebentar sebelum acara dilanjutkan ke resepsi perkawinan kami.

Tak perlu saya ceritakan apa yang terjadi selanjutnya,..yang jelas 4 hari yang menguras tenaga, otak, dan duit tentunya ternyata berbalas indah dengan sebuah kenyataan kalau kami telah menikah.

Hehehe..4 days to forever..sebenarnya 6 years to forever kalau diitung dari lama kami berpacaran..tapi tetap bagian terserunya adalah 4 hari ini hwahahaha!!

At last but not least..the jungle ahead are welcoming both of us hehehe..!

May God Give Us Strength…Cos Our Journey of Life is About to Begin…

longest night

•June 6, 2008 • 1 Comment

Malam ini masih terasa panas. Mendung yang menggantung masih tak mau beranjak dari langit Jakarta. Warnanya yang hitam kini berubah menjadi putih bersemu orenj disapu kegelapan malam. Rokok kretek yang tinggal seruas jari masih kuhisap dalam dalam dan kukepulkan asapnya memenuhi kamar kecilku yang pengap. Kopi torajaku tinggal tersisa ampasnya hingga enggan ku meminumnya. Dua ekor nyamuk bersliweran masih menunggu kesempatan untuk menghisap darah untuk sekedar sisa menambah hidup mereka yang tinggal menunggu mati dicabut malaikat pencabut nyawa melalui tanganku. Entah mengapa, sang kantuk masih enggan menemaniku malam ini. Kasur tak bersprei tempatku berbaring semakin menambah rasa tak nyamanku kali ini. Aku ingin tidur Tuhan, aku sudah cukup lelah hari ini…rokokku juga sudah kujejalkan dalam asbak yang semakin penuh itu.

Kembali kucoba pejamkan mataku. Kubiarkan semua mengambang. Kucoba untuk diam, membayangkan sebuah lubang hitam yang semakin menyedotku ke dalam rongga rongga mimpi. Tapi otakku terus berproses dan hatiku masih merasa. Otakku masih tak mau istirahat dan membiarkan hati nuraniku bermimpi. Seperti tak mengerti penatnya badan ini, pikiranku malah terbang melewati birunya lautan. Di bibir pantai kulihat bocah bocah itu bercanda dengan buih buih ombak. Nyiur nyiur hijau yang tingginya tak seberapa itu melambai seolah menyoraki anak dengan wajah acuh mereka. Jauh disudut sana sebuah keluarga tengah bahu membahu menganyam jaring yang sedikit sobek di keempat ujungnya. Layaknya jaring kehidupan yang memberi mereka makan, dengan teliti mereka memperbaiki jaring itu. Sang ibu dengan telaten mengajari putrinya cara untuk memperbaiki jaring itu. Sementara si bapak dengan kelelakiannya yang khas terlalu sibuk dan terlalu lelah untuk memperhatikan pekerjaan putrinya.

Ketika horison yang mengagumkan itu membuat mataku memandang, tampak perahu perahu nelayan saling menyendiri di ufuk barat ketika sang kala mulai menampakkan merahnya. Kudekati hingga riak ombak tinggal sejengkal dari tempatku berdiri. Si nelayan dengan telanjang dada masih sibuk mengulur senar pancingnya yang sudah terlihat usang. Kulitnya legam mengkilat diterpa sapuan sinar sang senja. Sementara nelayan satunya sibuk menata tempat mereka menyimpan ikan. Es es yang tinggal sedikit itu mungkin tak cukup untuk membuat ikan ikan itu segar hingga ke tangan pembeli. Pikiranku menerawang ke dalam mata mereka yang berkata hari ini tangkapan mereka terlalu sedikit. Ikan ikan sudah tak sudi tertipu dengan cara mereka yang kuno. Ikan hanya tertarik pada pukat yang tak mampu mereka beli. Ikan hanya mau mendekat kepada kapal kapal besar milik perusahaan besar yang bisa berlayar seenak hati dengan bahan bakar yang cukup dan mampu menjamah laut dalam. Ikan pun juga mulai melirik kapal kapal asing ilegal yang mendapatkan tempat dalam longgarnya pengawasan di dunia bahari Indonesia. Nelayan itu tampaknya tak akan kembali dengan membawa keuntungan di tangan. Utang mereka untuk membeli solar yang semakin tinggi harganya tak akan bisa ditutupi dengan harga ikan mereka yang dihargai sangat murah. Nelayan itu tertunduk. Berusaha berpikir bagaimana dia harus menjelaskan itu semua kepada anak istrinya. Mereka sudah tak ingin penjelasan, karena penjelasan tak pernah membuat mereka kenyang.

Seiring detik yang tanpa pernah lelah berlari dan menit yang berjalan, matahari dengan kepastian prosesnya menjamah bagian dunia lain untuk dia sinari. Beriringan dengan datangnya bantuan sang bulan air laut mulai menutupi sebagian pantai tempat anak anak tadi bermain. Tangan sang ibu menggamit mesra anak anak tadi mengajak mereka ke rumah sederhana mereka. Sang bapak masih terpekur didepan rumah itu . Di sela sela lubang jaring terlihat mata sang bapak nanar menatap laut dengan sebatang rokok kretek di tangan. Hembusan angin laut menyapu kencang asap yang sedari tadi dikepulkan dari mulut kasarnya. Di belakang rumah,ibu itu dengan telaten memandikan anaknya di tepi sumur kecil yang dalam itu. Dengan sedikit semen jadilah sebuah tempat pemandian terbuka yang cukup bagi keluarga itu. Masih saling bergelut dan bercanda layaknya anak kucing yang lagi giat giatnya belajar berburu,anak anak itu menuju meja makan yang telah disiapkan dewi bernama sang ibu. Sang bapak menggenggam tangan kedua anak di sampingnya dan mulai berdoa dan bersyukur untuk makanan yang telah mereka dapatkan hari itu. Meski hanya terdiri dari beberapa buah ikan goreng hasil pancingan sang bapak dan nasi seadanya mereka tampak sangat menikmati jamuan malam itu. Mulut si anak tak henti hentinya berceloteh tentang impiannya untuk menggapai bulan dan terbang, sementara anak lainnya menimpali dengan keinginannya untuk berkeliling melihat kota dengan segala kemewahannya. Persis seperti yang diceritakan oleh angin laut yang berhembus dan burung camar yang setia menunggu ikan di bibir pantai itu. Sang bapak hanya terdiam, sang ibu hanya tersenyum. Mereka sadar, impian itu bukan milik mereka yang terabaikan.

Di luar, sang bulan sedang bersenang hati tampaknya. Bentuknya bulat penuh. Meski penuh luka di mukanya dia tetap mampu memberikan sedikit pijar untukku melihat. Kelap kelip lampu petromaks dari perahu perahu yang masih bersiteguh melawan nasib terlihat sangat indah dengan kontrasnya yang membisu. Pemandangan dari perjuangan seorang nelayan untuk menghidupi keluarganya di tengah samudera kehidupan yang semakin tidak bersahabat. Pemandangan dari anak cucu bangsa bahari yang masih tetap tegak menantang meski ia tahu tak ada lagi yang peduli terhadap dia.

Lamunanku sejenak terhenti. Seekor nyamuk berhasil mengecap sedikit darah segarku. Dengan jarum lancip yang selalu sabar menanti kelengahanku itu, sang nyamuk berhasil sedikit demi sedikit membuat kulit ariku mengembung sebesar kuku jari kelingkingku. Gatal sedikit kurasakan. Namun tak segatal emosiku untuk berontak. Tak segatal tanganku untuk mengepal melawan. Tak segatal lidah di mulutku untuk menyumpah dan berteriak. Kerutan kerutan di dahiku kembali mengeras. Kucoba untuk melenyapkan semua bayangan tentang kenyataan dari sebuah bangsa bernama Indonesia ini. Tapi tak pernah bisa. Marahku terus mempengaruhi untuk berpikir.

Pikiranku kini mengajakku untuk berjalan. Dia bilang bumi ini terlalu indah untuk tidak kujejak. Kutapakkan kakiku di jalan yang kelihatannya belum jadi itu. Kerikil kerikil tajam itu menyelip di antara rongga rongga jari kakiku yang telanjang. Suara jangkrik jantan satu dua kali terdengar, sepertinya tidak terlalu menarik minat sang betina. Burung malam berkoar koar sambil terus memicingkan mata mereka dan terus mengintai makanan yang mereka harapkan malam itu. Codot codot tampak menyeringai sambil terus mengerat buah buah yang mereka temukan. Mata mata kucing yang sedang berburu tikus itu terlihat bersinar disapu cahaya bulan yang tampak diantara rerimbunan daun daun. Entah berapa lama aku berjalan, kini kaki telanjangku mulai menapak jalan yang beraspal.

Di jalanan kota yang gaduh itu mataku terpaku melihat mewahnya sisi lain dari Indonesia ini. Kereta besi yang mengkilat dan mengagumkan banyak menusuk pandanganku. Mata yang sombong dan tubuh yang kekar dari mobil mobil itu seolah menggambarkan betapa kota adalah sesuatu yang megah dan anggun. Gedung gedung tinggi dengan lampu lampu yang terang seolah siap mengintimidasi siapapun yang melihatnya. Kakinya yang teguh seperti siap menginjak siapapun yang tak kuat dengan kehadirannya. Tapi sepertinya ada yang aneh bagiku. Di sisi gedung gedung itu kutemui banyak bekas bekas kardus yang sepertinya terisi sesuatu. Kucoba longokkan kepala untuk melihat apa yang ada di dalamnya. Ternyata manusia kecil dengan pipi yang montok sedang terlelap dengan wajah tanpa dosanya sambil tersenyum. Di sampingnya tampak anak perempuan yang terlihat lebih tua sedang mengipas ngipasi si kecil dan melindunginya dari nyamuk yang tak penah kenal usia buruannya. Di sudut ruangan itu tampak sobekan foto yang kusam. Di foto itu terlihat seorang ayah dan ibu sedang memeluk mereka berdua yang masih sangat kecil. Dengan latar belakang rumah beralas tegel kuno , rumah di foto itu tampak terlalu baik dibandingkan tempat mereka sekarang. Alas kardus bekas yang melapisi tanah yang keras itu terasa terlalu dingin untuk si kecil yang masih butuh kehangatan. Selimut yang sudah bolong bolong itu pun tak akan cukup untuk mereka berdua. Ruang itu terlalu kecil untuk mereka berdua. Ruang itu terlalu pengap untuk mereka. Ruang itu tak layak untuk mereka. Disisi kardus bertiang itu masih banyak ratusan bahkan ribuan lagi yang lain. Semua sama. Sejengkal tanah yang mereka tutupi agar mereka terlindung dari dinginnya malam dan panasnya matahari kala siang. Hanya itu. Ternyata kemegahan kota mempunyai ironi. Ironi dari sebuah pemandangan yang kontras di balik kemegahan gedung gedung pencakar langit dan kemewahan kota yang lain, tersimpan rapat sebuah kenyataan dari kemiskinan dan kebodohan yang hanya dipunyai oleh mereka yang tersingkirkan.

Pikiranku gontai. Tak kusangka bayangan keindahan tentang dunia akan segera dinegasikan oleh kenyataan yang mengiris hatiku. Kembali kuseret pandanganku mencoba mencari keindahan. Ketika mataku berkeliling, pandanganku malah tertumbuk pada seorang anak kecil yang sedang menghitung uang recehan. Matanya menerawang jauh, melihat sekitarnya yang semakin megah. Kakinya telanjang, kaosnya pun seperti tak pernah dicuci. Sebuah gitar kecil yang tak jelas fred dan nadanya itu masih dia peluk dan dia usap dengan tangan tangan yang dekil itu. Dia tertunduk. Matanya melihat sampul bumi terluar yang dia rasa semakin kejam. Bayangan sekolah yang dulu ia tinggalkan menyeruak di dinding kepalanya. Keasyikannya bermain gundu dan layangan kini tergantikan dengan kewajibannya mencari sesuap nasi di belantara kota ini. Dulu, dia bermain bola di pekarangan desanya, berharap akan bisa meniru pemain bola yang biasa dia lihat di tivi. Kini, ia bermain main di aspal jalan raya dengan menenteng gitar yang tak berbentuk gitar itu berharap orang lain mau mengasihaninya. Dulu, ia menghitung angka untuk diperiksa oleh bu guru yang cantik dan sabar. Kini ia menghitung receh, yang nantinya diperiksa dan diambil sebagian besar yang dia dapat oleh penguasa perempatan lampu merah yang kejam itu.

Di sampingnya duduk bersimpuh seorang ibu menggendong anak dengan jaritnya yang mulai kusam. Di tangannya tergenggam bekas bungkus permen yang juga berisi recehan. Dia dengan setia menunggu lampu merah menyala dan kemudian menggerakkan kedua kakinya menuju kaca kaca mobil itu dengan menengadahkan tangan meminta belas kasihan. Ibu itu masih terlihat terlalu muda untuk menjadi ibu. Ibu itu masih terlihat terlalu kuat untuk sekedar mengemis dan membawa anaknya melewati siang yang membakar tanpa ampun dan hembusan angin malam tak menusuk tulang di tengah kepulan asap mobil yang tak mengenal kamus berhemat. Di tengah kuda besi yang setiap harinya mengangkut jutaan kursi kosong itu berjalan gontai orang orang yang berusaha untuk tetap bertahan. Kudengar negeri ini negeri yang kaya. Negeri yang penuh tanah yang subur, alam yang indah, dan bumi yang kaya. Tapi kenapa mereka mengemis? Meminta recehan sampai sampai harus membawa anak mereka yang masih kecil, entah untuk menjadikan orang lebih kasihan atau mereka memang tak punya perlindungan. Apakah penyakit bernama kemalasan sudah sebegitu parahnya, atau memang mereka tak pernah diberi kesempatan untuk menjadi tidak malas? Apa mereka memang sudah tergusur dengan bangunan kehidupan bernama kesenjangan? Bangsa ini tak layak menjadi pengemis Tuhan!!!!

Tak tahan melihat semuanya, akhirnya pikiranku berontak. Dia malu karena telah mengajakku melihat pemandangan yang menyakitkan itu. Di tengah kemegahan dan kemewahan kota, ternyata kota sangat kejam. Kemewahannya mampu menghapus dan menelan jerit anak kecil tadi. Menelan mentah mentah dan membuat tak ada lagi yang peduli padanya.

Aku terbangun. Mulutku terengah engah. Keringat mulai menetes mengalir membasahi dahiku. Mata ini mulai sembab. Dada ini terasa sesak. Sesak menanggung amarah dan beban yang terasa berat menimpaku. Mata anak kecil tadi sekilas menatapku, mata sang nelayan tadi terbayang dan menghunjam hatiku, mata sang ibu itu mengingatkanku akan makhluk mulia yang kasihnya untuk seorang anak tak pernah lekang dimakan waktu. Mereka seolah berkata, kami hanya ingin hidup kawan…kami ingin diberi kesempatan hidup…

Resiko Pekerjaan..

•May 10, 2008 • Leave a Comment

>
sabtu malam,di kantor couple months ago
setelah naskah liputan saya kelar,saya sudah bersiap2 untuk pulang,.capek buanget..liputan seharian itu sendiri..tanpa ditemani reporter..
tp gpp,toh saya besok dan lusa saya libur,begitu pikir saya..terbayang kasur kos2an,secangkir kopi dan dua batang rokok yang akan menemani saya begadang malam itu..wuiihhhh..lezat…
ketika backpack sudah melekat di punggung,melangkah saya meninggalkan cubical tempat saya menulis naskah..tiba2..”yandhaaa!!!”suara menyebalkan produser saya memanggil dari kbu nya yang dari luar sudah terlihat tidak enak dipandang hehe..
“lo besok liputan ke istana yak..istana cipanas..ibu ani ada gathering..protokoler,pake celana kain,sepatu pantofel,baju batik..kumpul di istana presiden..berangkat bareng media istana..nama lo dah gw daftar n langsung ambil id istana nya yak..jam 5 dari kantor..jangan telat!..ambil 2 liputan..gatheringnya sama profil istana cipanas..perhatiin gambar!!” tanpa jeda dan tanpa cela produser tersebut nyerocos seperti tak pernah merasa salah..
“lha mbak,besok saya libur”..”o iya??tapi udah gw daftarin,gimana?dah ah..compday minta asprod”
“weleh..ga punya pantofel mbak..”
“itu kan urusan lo,bukan urusan gw”
GLODAK!!!..asu asu…
lha kalo saya menjawab berarti dateng ga dateng bukan urusan saya ya mbak..lak repot urusane..ancuk ancuk…
terpaksa ga terpaksa..berangkat lah besok….

>>
jam 9 malem,31 des 07..
naskah saya belum selesai..tangan ini masih sibuk memainkan mouse ditemani mata yang sudah cukup temaram untuk meriset dan merangkum berbagai bahan liputan..
produser saya juga terlihat sibuk sendiri di kubikalnya..pikir saya aman..hehe
tanpa dinyana tanpa ada peringatan petir atau mendung..hujan perintah itu ternyata datang hehe
“ndha,lo sama tyo liputan malam taun baru yak?”
mati aku!!bayang2 kemacetan dan manusia yang tak jelas niatnya sudah melintas di otak saya..spontan mata kembali melek,dahi mengernyit,kepala ini menjadi tegak kembali..
“bos,..udah 3 liputan neh sehari..”nawar dikit saya mencoba..
“gpp..besok lo libur..”
“libur dari hongkong mas..kan masuk dini hari..”
“iya sih,,tapi udah lah..lo aja..gw butuh gambar suasana ancol yak..crowded..sama kembang apinya..gambar aman yak..ntar lo dateng langsung diedit” selancar salesman produser saya menerangkan..bedanya ini bukan tawaran dan bisa ditawar..ini perintah hwehe
jembbbbbbbiiiiiiisssssssss!
“mas mas..sekarang jam 9..taun baru jam 12..ancol???saya berangkat jam berapa lho??”
“ya..jam setengah 11 maksimal”
gathelllllllllll!!!(dalam hati saja deh…”
ndrenges lah saya…”ya wis mas..saya selesain naskah dulu”
“sip”
ga usah sip2an yo gpp asal ga dikongkon cukkkk…
alhasil…macet di ancol..hujan..buecek ga karu2an..jam 11 saya masih stuck di gong besar sekitar 2 kilo dari pantai carnival tempat kembang api..lha mobil ga iso mlaku hare
tanpa menunggu lama..keluar dari mobil dan berjalan di tengah rintik hujan yang sangat rintik!!!!
jam 1 setelah mengambil beberapa wawancara saya pulang..driver saya hubungi..tuuutt..tuuuuttt…
ga iso cuk!!
terpaksa saya keliling di sekitar lokasi sambil berhujan hujan ria mencari driver saya..
jam 2 baru ketemu..ternyata hpnya mati n dia ga nyadar..asuu asuu..
perjalanan pulang temen saya tidur..dan ketika saya akan mengistirahatkan mata sebentar..saya lirik driver yang juga ampir teler..akhirnya daripada saya mati gara2 kantuk driver..saya temani dia nggacor..ga turu cukkk
jam 4 nyampe kantor..wuuiiiihhhhhhhh!!!
produser saya cuman nyengar nyengir sambil mengucap..tenkyu yak!!
wadah wadah…

>>>
bukit duri,kampung melayu kecil
pasca banjir tahunan..atau bulanan ya..?atau jangan2 harian..saya meliput ke kampung melayu kecil. daerah paling kondang kalo urusan banjir…
niatnya wawancara dan liputan tentang kebiasaan warga yang tinggal di bantaran kali..
tiba disana..beberapa orang dari rw menghampiri reporter saya dan bertanya2 ini itu..diajaklah reporter saya ke “kantor” rw nya..bla bla bla..saya ga ikut..waktu berharga seperti itu mending saya ngrokok hehe..
keluar kantor,reporter saya bilang ga usah ngambil gambar,lha lapo lho?spontan dengan bahasa surabaya saya menanyakan..dia bilang rw nya minta dana lah..bantuan ta opo ngunu..
mikir saya..wartawan ndue duik ta?mentang2 bawa kamera dan mic trans|7 trus due duit ta?
lah?kene lak mbantu liputan to?setidaknya itu yang bisa kita bantu ( alasan tok poko’e hwehehe)
ga mau dia..kata reporter saya..
yo wis lah..lokasi lain aja..
ketika saya beranjak meninggalkan tempat itu..saya melewati kerumunan ibu2 rt yang pada nggosip kali..
“loh udah kelar bang..?
“udah bu..”
“ga wawancara bang..?saya mau diwawancara..tapi ada uang rokok kan?kan tv?jadi artis dong gw..mestinya dibayar..?
tanpa dosa tanpa malu ibu tadi nyerocos tanpa mengerti betapa sesak dada ini mendapat perlakuan seperti itu..
ancuk ancuk..matre amat yak jakarta???

kejadian 2
ketika itu saya liputan lagunya iwan fals yang mereka ada dijalan
liputan anak2 yang maen bola di jalan2 maksudnya karena mereka tak punya lapangan..
sebenernya tugas dari produser anglenya tidak bolehnya jalan dipakai maen dan mengganggu..tapi saya rubah aja sendiri karena saya ga sreg dengan angle dia..sepika sepiki ae lek diseneni..
setelah berkeliling sesorean akhirnya saya mendapat beberapa anak2 lagi maen bola di taman bulog mabes polri cipinang..
selesai ngambil gambar..saya meminta wawancara dari beberapa anak..dan mau…mengajukan diri malah hehe..enaknya…
tiba2 dari seberang ibu2 yang lagi pada kumpul berteriak2 kepada anak2 tersebut..hoiii..minta uang rokok aja,mintain duit aja kalo diwawancara..
jancuk..spontan jari saya ampir menunjuk mereka dan menyuruh mereka diam..tapi batal..jangan marah jangan marah..sabar sabar..itu yang saya pikirkan…
untungnya anak2 tersebut yang menjawab doa saya…”ngapain minta duit,ga ah”
hehe..melegakan…
wuiihhh..ciamik soro!!!

>>>>
blok m plaza..
sebenarnya bukan di blok m nya sih..lebih tepat di trotoar blok m..
saya ditugaskan mencari vox pop tentang harga sembako yang melambung tinggi..
vox pop berasal dari vox populi vox dei ( suara rakyat suara Tuhan )
ya sekedar mencari pendapat orang2 aja..diambil random ( asline ngawur,sing penting pendapate apik ( menurutku) yo tak gawe )
waktu itu naik taksi,sendiri pula..terpaksa sopir taksi saya jadikan reporter dadakan saya..tapi cuman memegang mic..yang tanya ya tetep saya..
sebelah kaki saya menginjak trotoar yang lain menginjak jalan..
pas saya lagi sibuk tanya sambil mengambil gambar,seorang satpam mendekat dan bertanya..ngapain mas?”
ga saya jawab,wong lagi autis mode..hehe
setelah kelar saya tanya balik..
“kenapa pak?”
“mas lagi ngapain”
“wawancara”
“jangan disini mas”
“kenapa?”
“mas mesti ijin dulu kalo mau ngambil di gambar blok m”
“ini trotoar milik siapa?blok m??”asal aja saya ngomong..
“ya bukan mas..tapi…”
belum selesai dia ngomong saya potong
“ya udah pak,terserah saya..bapak ga berhak nglarang..”cuek melenggang lagi saya mencari wawancara..
doi manyun aja…
sebenernya saya kasian kalo dia sampe ditegur,tapi ga uenak rasanya ati ini kalo dilarang atas alasan yang ga realistis!!

kejadian 2
saya lagi ngambil gambar wide dari sebuah gedung,memang untuk keperluan liputan..
pas disebelah gedung tersebut nongol hotel gede..lebih gede dari gedung itu..
otomatis bin auto..hotel tersebut muncul dong di layar kamera saya..
satpam hotel tersebut langsung menghampiri saya..
“mas ngapain”
“ngambil gambar”
“mesti ijin dulu mas,ke pihak hotel”
“emang kenapa?”
“ya kan keliatan??”mulai meninggi nada sang satpam
“saya kan ngambil gambar gedung itu?”
“ya kan masih keliatan”
“ya udah saya mundur deh..”pengen mengalah..tapi gambar hotel tetep keliatan hehe..tombol record saya pencet…7 seconds..7” medium shot..7″close up..cukup..
“ga bisa mas..mas musti ijin..”
“gini pak…gimana kalo hotelnya digeser aja?ato ditutupi kain item biar ga keliatan???ngrepotin banget sih???”
saya tinggal..toh saya udah punya gambarnya..ancuk ancene gedung2 jakarta iku..suombong!asu ancene…

>>>>
Perusahaan Gas Negara,sub distribusi unit I wil jawa bagian barat
“mau kemana pak?”
“mau ketemu humas atau yang bertanggung jawab disini”
“mau ngapain mas”
“mau wawancara tentang gas langganan”
“langsung ke kantor pusat aja mas,nanti ada suratnya..”
meluncurrrr..
PGN Pusat
“mau kemana pak?”
“ketemu humas”
“ada perlu apa?”
urusanku..jawab dalam hati hehe
“mau wawancara”
“wawancara apa?”
urusanku..(kedua..dalam hati lagi)..inget..harusssss soooppppaaannnnn
“gas langganan”
“saya hubungkan pak,silahkan tunggu”
nclik inclik inclik….humas dateng..
“ngapain mas?ada janji ya?”
“ga mbak,saya langsung kesini mau minta arahan buat liputan saya tentang gas langganan,siapa yang bisa diwawancara ya?dirut ato siapa?”
“Wah harus di fax dulu mas surat permintaan wawancaranya,sekalian pertanyaannya..ntar kalo diapprove baru ditunjuk siapa yang bisa diwawancara..”
“alaah mbak..orang saya cuman liputan biasa kok.ngapain repot..”
“biasa mas bumn”glek…malessss
“jadi ga bisa sekarang..??”
“ga bisa mas,direksi pasti ga mau”
“saya coba boleh ga?”
“ya silahkan sih..tapi pasti ga mau”
“ya udah mbak,gini aja..kalo boleh minta saran siapa yang bisa saya tembak langsung buat wawancara?”
“kalo untuk gas langganan,mas ke SBU I aja..tapi paling juga ga mau..harus ada disposisi dari direksi buat menunjuk dia untuk ngomong itu”
“mbak mbak..saya kan coba bantu sosialisasi gas langganan sebagai alternatif bbm rumah tangga to??”
“iya mas tapi harus ada surat dan penunjukkan dari pusat dan ga bisa langsung”
“ya udah..saya ke sbu I saja”
“silahkan ya…”
meluncurrrrr ( lagi )
–sbu I wil jbb
“mau kemana pak”masih satpam yang sama
“mau ketemu gm”
“ada surat?”
“ga ada”
“ga bisa mas…”
“saya boleh ketemu dulu ga?biar saya yang ngomong sendiri..dan biar pak gm yang memutuskan saya bisa wawancara ato ga”
“harus ada suratnya mas”
“SAYA BISA KETEMU GAK??”kesabaran saya mulai berontak pengen lepas…
“ga bisa mas,..beliau masih melayat ke banten..”glek..
NGOMONG KET MAU PO’O CUK!!!!???
dasar birokrasi kompleks…..
——————————————
berbagai resiko pekerjaan memang akan kita hadapi setiap saat. dimarahi,dimarahi untuk kali kedua,diperintah,ditolak,dipersulit. resiko pekerjaan sebagai buruh maksudnya.
bahkan mungkin ada yang lebih berat resikonya dari beberapa tulisan saya diatas. kalo diambil ati emang jadi sakit sih..untung ilmu ndrenges dan menertawakan masalah sudah lumayan saya kuasai hwehe…diambil lucunya aja deh….
dunia dunia…what are you now?

Ketika Pensil Anak-anak Itu Tidak Bergerak…

•April 27, 2008 • 2 Comments

Judul diatas benar benar mengcopy dari judul sebuah artikel di Kompas,26 April 2008.
tapi isi artikel ini berbeda.Densus 88 AntiTeror Polda Sumut “berhasil” menggagalkan upaya “teror” dari Guru SMAN 2 Lubuk Pakam, Deli Serdang.
Diwarnai tembakan peringatan di institusi pendidikan, “teror” itu berhasil digagalkan. Upaya “teror” itu bernama “kecurangan” dalam ujian nasional, karena “terorisnya” yang biasa disebut guru berupaya membantu murid muridnya agar mereka lulus dalam UN kali ini.Guru2 tersebut mengkoreksi jawaban dalam soal bahasa inggris. 284 lembar jawaban disita oleh para Counter Terrorist tersebut.

“Kepala SMAN 2 Lubuk Pakam Ramlan Lubis mengakui kejadian itu. ”Kasihan siswa. Saat mengerjakan soal Bahasa Inggris, kami lihat pensil anak-anak itu tak bergerak, tanda tak bisa mengerjakan,” kata Ramlan dengan wajah menunduk. Wajah itu kusut, tetapi hampa.” (www.kompas.co.id)

spontan,air dari mata saya meleleh membentuk garis tipis yang mengkilat.pandangan saya kabur karena air itu menjadikan fokus saya bias..dada saya sesak seakan tertimpa monitor komputer yang sedang saya pandang. i did crying…

mari melihat dan mendengar dan merasa……

chapter 1
Soal UN sudah pasti sama.wong namanya aja Ujian Nasional. Dari Sabang sampai Merauke sampai balik lagi jelas sama. Pemerintah yang mendewakan namanya standarisasi menentukan nilai rata2 5,25 untuk syarat kelulusan dengan tidak ada nilai dibawah 4,25.

“Kebijakan ini diambil setelah kita mengadakan evaluasi hasil UN yang lalu, masukan dari daerah-daerah, dan sesuai amanah pemerintah agar selalu ada peningkatan yang signifikan,” kata Kepala Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) Prof. Djemari Mardapi” ( http://www.tempointeraktif.com)

dengan tingkat kesulitan yang sama, diharapkan siswa punya kemampuan yang sama. dan lulus…

chapter 2
dengan soal dan tingkat kesulitan dan harapan yang sama..seharusnya lah semua ketersediaan sarana dan prasarana itu sama di setiap daerah. meskipun di pucuk gunung,di tepi laut,di dasar lembah,di padang rumput,di dalam gua..kalo ada sekolah maka ada sarana dan prasarana yang SAMA!!! ingat,logika standarisasi itu kan penyeragaman..
sebelum anak2 itu menjalani ujian…apakah pemerintah sudah memberikan hak mereka akan pendidikan yang layak??
apakah jumlah guru yang mampu mengajar sudah memadai? apakah sarana laboratoriun sudah mencukupi? apakah semua siswa mampu membeli buku paket? apakah siswa selalu bisa dievaluasi oleh guru dengan rutin?

Jumlah dan Kualifikasi Guru Tiap Propinsi ( contoh propinsi diambil secara random)

Propinsi PGSLP PGSLA Diploma3 Sarmud S1 S2 Total
D1 D2 Keguruan Non Keg. Non Keg. Non
Papua 72 108 388 111 207 65 2846 356 20 4173
DKI 492 220 1796 1203 1916 1537 21856 4226 701 33947
NAD 134 76 595 243 459 142 7868 701 47 10265
Jatim 1524 503 2207 911 3302 1393 49087 5418 1041 65386
Sultengg 87 39 318 95 115 64 3965 192 19 4,894
Bali 305 125 388 136 606 116 7635 468 90 9869
NTT 297 148 740 309 524 407 4309 859 39 7632
Sumut 991 588 3668 1150 2837 1218 23212 3583 190 37437
Jumlah Fasilitas
Propinsi Library Ketramp. Serbaguna UKS Praktek Komp Bengkel Total Siswa
Papua 39 6 5 5 2 12 n/a 69 30153
DKI 260 107 179 167 89 298 7 1,107 209615
NAD 38 9 10 6 2 9 1 75 86592
Jatim 476 213 229 344 62 369 28 1,721 451649
Sulteng 20 3 3 3 n/a 1 1 31 46867
Bali 81 34 11 14 8 39 1 188 74736
NTT 79 21 30 14 11 21 9 185 62729
Sumut 328 78 127 125 26 241 12 937 297365

http://www.sfeduresearch.org

data diatas dapat dilihat sebagai sampul dari kenyataan yang menyedihkan…apakah pemerintah sudah memenuhi kewajiban untuk pendidikan yang layak. Apakah sudah layak penyeragaman ini dipukul rata??realita yang sungguh ironis…

final chapter
sebagai pribadi saya menolak standarisasi nilai UN. Bahkan lebih dalam saya menolah arah pendidikan dan UN karena bagi saya semua itu hanyalah alat untuk memperlancar produksi massal dari kuli kuli industri.
Tapi saya akan mencoba kembali pada bahasan saya tadi, tentang guru yang mencoba membantu muridnya dalam mengerjakan soal UN.

Guru, adalah institusi pendidik. Dalam hal tersebut, tindakan guru tersebut saya pikir kurang tepat. Tapi,dibalik itu, ada nilai mulia yang dianut anut guru tersebut. Mereka peduli akan nasib dan masa depan muridnya. Dalam industrialisasi ini, sebagian besar “masa depan” ditentukan oleh selembar kertas dengan stempel bernama IJAZAH.Dan sangat banyak orang yang memandang bahwa ijazah adalah harus. Dalam kaca mata owner sebuah industri kapitalis, ijazah adalah sebuah standar nilai yang sangat mudah untuk dilihat dan dinilai. Dan anak bangsa ini sangat berharap ijazah akan membawa masa depan sebagai “kuli” akan membuat kehidupan yang lebih layak…
inilah realita pendidikan kita..
pemerintah perlu modal asing..investor butuh buruh..pemerintah menyediakan kuli..bangsa ini menjadi budak di tanahnya sendiri..dan ketika pensil anak anak tersebut tak bergerak,..guru guru tersebut menjadi korban sebuah sistem bernama standarisasi…

Dengan berbagai bentuk “kecurangan” yang terjadi pada prosesi Ujian Nasional pemerintah seharusnya berhenti budek dan picek ( tuli dan buta )!!apakah sistem ini sudah tepat atau belum..JANGAN JADI KUDA DONG!!!!

mereka dengan seenaknya membuat peraturan yang sangat sulit untuk dinalar akal sehat. dengan perbandingan kualitas guru, kuantitas prasarana, pemerintah seakan tidak membuka mata terhadap kesenjangan ini dan tetap memukul rata penyeragaman bernama Ujian Nasional. Dan pemerintah telah “memaksa” guru itu menjadi penjahat!!!!mereka “memaksa” siswa menjadi maling!!
sungguh menyedihkan..bangsa ini menyerahkan masa depan untuk menjadi kuli industri dalam waktu 3 hari dan beberapa mata pelajaran saja dan dengan satu lembar kertas bernama ijazah…

menyedihkan lagi..dalam kurikulum pendidikan mereka hanya dibekali rumus dan rumus dan hafalan..tanpa pernah kita diajari menjadi manusia merdeka dalam berpendapat, dalam berkeinginan..hanya monolog monolog dari para pengajar..
what a pathetic!!!

God..i love this country but I hate the government…

Final Kepagian My Ass!!!

•April 24, 2008 • Leave a Comment

setelah membaca artikel ntah oleh siapa di salah satu tabloid yang memunculkan tajuk final kepagian mengacu pada duel semifinal liga champions antara The Red Devils dan Los Blaugranas membawa saya pada jam 1.30 kamis dinihari manteng TV dan berharap duel yang atraktif,eksplosif,terbuka antara dua tim tersebut.

bayangan akan kecepatan c.ronaldo ( meski aku ga seneng blas), gocekan indah messi, power seorang rooney,insting membunuh dari eto’o, umpan2 terukur xavi,efektifnya scholes seakan membumbungkan harapan saya menonton duel Barca vs MU di Camp Nou..tentu saya berharap banyak gol akan terjadi..

15 menit pertama
ronaldo gagal mengeksekusi penalti akibat handsball si kriwil kedua milik barca,milito.entah karena takut karena valdes yang lumayan jago dalam mengeblok penalti, atau sekadar grogi. yang jelas,kegagalan itu membawa efek yang lumayan..efek 0 – 0!!

30 menit berlalu
tak ada peluang yang berarti.meskipun iniesta,xavi berkali mencoba tendangan dari luar petak 16 tapi terlalu lemah.

15 menit terakhir 1st half
gak ono peluang blasss.

45 menit kedua
semakin membosankan
pemain MU seakan tak menemukan sentuhan ketika mereka merajai premier league, sepertinya Fergie ingin mengulang keberhasilan permainan yang seimbang ketika melawan AS Roma di kandang Serigala tersebut. Tapi ternyata itu tak berhasil,kontrol bola yang lemah dan passing tak terukur menjadi sebab MU tak mampu menembus pertahanan Barca. Barca dengan possesion yang dominan juga tak mampu menghukum MU yang kelewat bertahan dalam bermain. Ada peluang ketika Henry masuk,menggantikan Deco. Sebuah drive shot meluncur deras tapi terarah ke Van der Sar yang masih meninju bola tendangan Henry. Terlepas dari insiden dijegalnya C.Ronaldo oleh Abidal yang seharusnya penalti, tak ada peluang berarti yang diciptakan sampai kedua kiper terbang berjumpalitan.

pada akhirnya, laga ini memuakkan dan membuat saya menyesal berharap
JANCUKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKKK!!!!mosok bal2an skor 0 – 0..???

ASU!!!!

surabaya 1998 – 2007

•March 26, 2008 • 2 Comments

nasib itu pilihan
keberuntungan itu kesempatan berbareng kesiapan
takdir itu pasca dan pasti
jalan itu masih jauh kedepan
pun dengan pandangan mesti tetap menatap ke depan
ke belakang kita tak perlu kembali
meski kita perlu belajar dari masa lalu

frankly, i’d never imagine that today i’m gonna be like myself now
employed..:) i’n a corporation called profitchaser
well, cos there’s a lot of reason i’m unemployed
first… i’m dead when it related to grade..hwahaha shit..what a pathetic
second…. i hate this kind of company
third….. i get bored quickly
fourth….. I HATE JAKARTA!!!!
fifth…… i love being free

appearently i also had lot of reason that finally made me accept this job
1) i need the money
2) i need the money
3) i need the goddamn money!!!fuck!!!hwahaha
4) i need the status, it’s not for me, for my future mother in law ( ARRRGGGHHHHH )
5) i need the status, also not for me, for my future wife ( AARRRGGGHHH AGAIN !!!)

berangkat dengan kebingungan di kepala,akhirnya nyampe juga 9 bulan bekerja disini..
not bad actually, at least saya bisa belajar something related my hobby here..camera
tapi..ada tapinya neh..semakin lama disini dengan keseharian yang rutin kadang mampu membuat saya kembali mengingat memori indah masa lalu..
bukannya tidak mau bersyukur,tapi sedikit bosan juga tidak salah kan..toh manusia diciptakan dengan rasa bosan,lagian being bored kan gampang banget hwehe

pagi jam 7 bangun ( kadang2 jam 5 jika dibutuhkan ),
sarapan kalo sempet, kalo ga ya ntar siang have a brunch
jam 9 rapat dengan tim
jam 10 ngecheck kamera sesuai dengan SOP
jam 10.30 berangkat liputan
jam 2 siang makan
jam 5 selesai liputan
pulang ditengah kemacetan
jam 7-8 nyampe kantor
jam 7-8 preview gambar atau bikin naskah
pulang..ngopi di kos dengan 2 batang rokok..tidur..berarti ga mandi tuh..
meski berbeda tempat liputan tapi liputan ya tetep liputan..5W 1H dengan angle yang ditambah dikit2
8 bulan penuh bekerja dengan pola yang sama membuat kenangan akan tempat saya yang dulu menyeruak kembali tanpa ampun..

sekali lagi bukannya tidak bersyukur..(..Tuhan hwehe),sering terlintas dalam ingatan saya akan hangatnya suasana di kantin sebuah kampus di surabaya..
dulu ketika saya pulang kerja,seringkali bahkan tiap kali, selalu saya mampir dan nyangkruk di tempat itu..
tempat dimana tak ada batas untuk berpikir,tak mengenal malu dalam berbicara..bebas..
ngopi?ada..dan banyak teman ngopi..ngrokok?this is smoking area babe!
ngobrol?IN JAVANESE!!!..discuss?sure hell we discuss!!!
kalo tak di kantin,motor saya tinggal saya pacu ke wargres..dimana ada kopi rokok gorengan dan koran…
disini yang saya temui cuman kopi dan burjo,itu pun tak ada rokok gorengan dan koran..ain’t that pathetic!?

akhir akhir ini memang rasa kangen akan surabaya dan jawa sering tak tertahankan..
rasa soto,tahu campur,tempe penyet dan gorengan lengkap dengan petisnya..bahasanya yang bagi saya tak perlu mikir untuk berucap…jalan yang masih terasa lengang dan lega…

seorang teman pernah berkata bahwa dengan melihat jakarta anda akan dengan mudah melupakan surabaya..
cos jakarta adalah segalanya..semua menjadi kecil dan tak ada apa apanya dibanding jakarta..
di jakarta lah tempat untuk bertarung dan mengalahkan..
tapi itu kata temen saya..
saya juga punya pendapat sendiri dunk…hehehe
tak perlu menaklukkan jakarta juga gpp kok..
kenyamanan dan kebahagiaan hidup tak bisa dibeli ( dengan murah )..kalo dengan uang bisa kok kaya’nya hwahahaha..
and i can’t find it in jakarta..
lebih menyenangkan ketika saya bisa membangun daerah saya daripada harus menaklukkan jakarta..ain’t worth at all..
lagian lidah ini masih lebih enak ketika berbicara dengan “koen” dan aku daripada “elo” dan “gue”…

well God..gpp kan merasa kangen dengan masa lalu saya sedikit saja?hehehe…

 
Design a site like this with WordPress.com
Get started