Setelah hampir dua tahun berlalu, saya hampir benar-benar lupa apa stase kedua yang saya jalani setelah stase anak. Setelah mencoba untuk mengingat melalui foto, ternyata nihil. Jaman koas saya sudah mulai tidak serajin SMA atau kuliah dalam hal menyimpan foto, terlebih HP tergaul saya jaman itu series sams*ung S2 saya hilang saat stase koas hiks (malah curhat)
clue:
stase kecil bukan radiokulitanes
apakah itu stase 4n6 atau forensik?
Yup setelah 6 menit mencoba loading picasa, yang hanya berakhir di foto supercamp tahun 2014 akhirnya saya memutuskan Stase kedua saya jaman Koas adalah forensik... ya stase yang terdengar serem, namun kenyataan nya lebih pahit.. ternyata stase ini bau sekali permirsaah
"Lagi stase apa?",
"Tahanan kota"
puk..puk...puk, yang sabar ya...
percakapan diatas ada lah contoh percakapan
'Ingat selalu bersyukur kepada Tuhan dan berterimakasih kepada siapapun tamu yang datang dan kalian periksa, dan selalu berdoalah agar kelak dihindarkan dari forensik saat kematian mendatangi kalian'. Tamu adalah istilah halus untuk cadaver, istilah nya lagi adalah pasien yang datang ke departemen forensik, yaa pasien yang sudah tidak lagi bernyawa. Tidak setiap manusia meninggal harus dibawa ke forensik, hanya pasien yang meninggal secara tidak wajar, atau pasien rumah sakit yang tidak diketahui penyebab meninggalnya (ini lumayan jarang di Indonesia). Meninggal tidak wajar sering berkaitan dengan kasus-kasus kriminal, kecelakaan, bencana, atau ditemukan sudah tidak bernyawa dan tidak ada yang mengenalnya. See, tidak ada yang ingin singgah ke forensik.
eits... tapi jangan salah kaprah juga, ternyata sebagai koas saya menyadari satu hal, bahwa ternyata ada sebagian kasus forensik yang masih bernyawa. Meski kenyataannya pada beberapa kasus, dokter forensik tidak langsung bertemu dengan pasien, hanya bertemu dengan kertas-kertas dan foto untuk menjelaskan keadaan pasien saat diperiksan oleh dokter IGD. dan ini tentu saja berlaku untuk kasus-kasus kecelakaan dan kasus yang memerlukan keterangan dokter mengenai kondisi fisik dan mental pasien.
Pokoknya departemen forensik benar-benar cocok bagi dokter yang tidak terlalu suka sepik-sepik, ngobrol dan basa-basi dengan pasien, karena tidak ada pasien yang bisa diajak berbicara di departemen ini. Cocok untuk dokter tangguh yang berani berdebat di pengadilan karena tak jarang dokter forensik datang dan menjelaskan hasil pemeriksaan yang dilakukan seperti kasus Jessika dan sianida itu loo, dan tentu saya harus punya hidung tahan banting terhadap bau tak sedap selama berjam-jam.
Koas Forensik
Umrah Mandiri Keluarga Tanpa Travel: Pengalaman Nyata & Tips Penting
Pengalaman Umrah Mandiri awal 2026 Bersama Anak (POV Pribadi)
Peserta: 2 dewasa, 2 anakKedatangan: Bandara Jeddah – Terminal North (bukan Terminal 1 / HHR)
Tulisan ini saya buat sebagai catatan pribadi berdasarkan pengalaman menjalani umrah mandiri bersama keluarga. Fokusnya sederhana: hal-hal praktis yang sering ditanyakan dan benar-benar kami alami sendiri—mulai dari hotel, transportasi, visa, hingga urusan koneksi internet.
1. Hotel (Makkah & Madinah)
- Jarak hotel ke Masjidil Haram dan Masjid Nabawi
- Akses yang relatif mudah ketika bepergian dengan anak
- Budget yang masih masuk akal untuk perjalanan keluarga
2. Transport (Jeddah – Makkah – Madinah)
a. Jeddah → Makkah (Langsung Umrah)
Karena kami tidak mendarat di Terminal 1 Jeddah—terminal yang terhubung langsung dengan HHR Station—maka pilihan paling nyaman, terutama dengan anak, adalah mobil jemputan langsung menuju Makkah.Rekomendasi pribadi kami 👉 https://hujjajtravels.com/
Pengalaman kami:
Komunikasi cepat dan responsif
Sikap sopan dan terbiasa melayani jamaah keluarga
Sangat membantu untuk kebutuhan dokumen pendukung Nusuk
Mobil jemputan ini memudahkan kami untuk langsung menuju hotel di Makkah dan bersiap melaksanakan umrah, tanpa perlu transit atau berpindah-pindah transportasi.
b. Transport Antar Kota (Makkah ↔ Madinah)
3. Visa Umrah & Nusuk
Kami menggunakan Visa Umrah dengan provider BRN, dengan visa provider:👉 https://www.instagram.com/enjang_in_saudi_arabia/
Alasan utama kami memilih jalur ini adalah keterbatasan kami dalam mengonfirmasi booking Nusuk dan hotel secara bolak-balik bila dilakukan sepenuhnya mandiri.
Alhamdulillah, selama proses:
Pengurusan visa berjalan lancar
Tidak ada kendala berarti saat kedatangan
Hotel di Makkah dan Madinah mengirimkan konfirmasi booking H-1 sebelum kedatangan
4. eSIM & Paket Internet
Saran pribadi kami: siapkan koneksi internet sejak masih di Indonesia.
Berdasarkan pengalaman:
Membeli paket internet lokal di Saudi kurang kami rekomendasikan, karena beberapa paket tidak mendukung WhatsApp Call, sehingga komunikasi menjadi kurang nyaman.
Dengan eSIM atau paket dari Indonesia, koneksi sudah aktif sejak mendarat dan relatif lebih stabil.
Salah satu contoh paket yang bisa dipertimbangkan:
👉 PROMO Paket Data Umroh Haji Roamax Telkomsel Full KuotaHarga: Rp263.000 – Rp1.040.000
Shopee: https://s.shopee.co.id/8fM4NAV65e?share_channel_code=1
Penutup
Dengan persiapan yang matang—terutama soal hotel, transport, visa, dan koneksi internet—umrah mandiri bersama anak sangat memungkinkan dan relatif nyaman.
Semoga catatan ini bisa menjadi referensi bagi keluarga yang ingin menjalani umrah mandiri secara lebih tenang dan terencana. 🤍 ikuti cerita lengkapnya di
https://youtu.be/yJZCjPIKtIs?si=U_H_WNXPCa5UrFYv
Corona, Tenaga Medis, dan Terserah
Assalaamu'alaikum...
Kare House
![]() |
| Mushroom kare with rice lvl 3 |
![]() |
| Greentea latte, 30K |
Happy three friends
Bertiga (berempat sih harusnya), ketemu lagi. Dari jaman sked sampe koas, merekalah orang yang mukanya selalu muncul di hadapan. Teman main dan teman
Beruntung zaman sekarang mau gosip gampang, tinggal pake jari atau mengorbankan pulsa paketan. Jadi pas ketemu kita udh biasa aja, kayak lagi jalan-jalan zaman koas bukan seperti sahabat yang saling kangen.
BREAKING BAD
Wanita tua dalam gubuk reot
Bukan, ini bukan cerita fiksi tentang penyihir jahat yang gemar memangsa anak-anak. Ini hanyalah sebuah kisah nyata, secuil dari kenyataan sekitar kita.
Seorang nenek terbaring, lemah di gubuk kayu miliknya. Sepotong kain sarung usang menutupi sebagian kecil auratnya. Ah, bagi nenek setua itu hukum aurat tidak berlaku lagi baginya.
Sesaat setelah mataku bersirobok dengan nenek itu, sejenak aku melihat sekitar. Rumah ini hanya terdiri dari 1 ruangan tidak bersekat. Sebuah kasur kapuk tua yang sudah tipis dan terlipat. Sepertinya itu bukan milik si nenek, dia terlihat tidur dengan bantal luar biasa kumal yang menyangga kepalanya sekarang. Beberapa teko dan gelas plastik tergeletak 2 meter dari nenek tadi. Beberapa lemari tua tampak di sudut rumah, dan sebuah pintu di bagian belakang rumah langsung menuju ke halaman luar. Rumah ini jelas bukan rumah tanpa jendela, ada 2 bilah papan yang didesain sebagai jendela namun tidak digunakan sebagaimana fungsinya. Nenek tua itu pasti tak sanggup dan siapapun yang tinggal dengannya nampaknya juga tidak peduli untuk membuka jendela.
Ini kali kedua aku kesini, kali pertama aku menemukannya terbaring kesakitan dengan kaki, dan perut yang membengkak. Duhai gusti, pasien dengan gagal jantung seperti ini harusnya sudah dirawat di rumah sakit. Namun yang menjadi masalah adalah tidak ada yang bisa menemaninya saat dirawat, meskipun pemerintah bisa mengratiskan biaya, siapa yang akan menjaganya dI rumah sakit?
Kali ini saat aku kunjungi kondisinya nenek sudah baikan namun tetap saja masih ditemukan pembengkakan di kedua kakinya, meski sudah berkurang dari 1 minggu sebelumnya. Kagetnya, tangan kiri si nenek bengkak maksimal. "Lah ini kenapa? Kok tetiba eden lokal begini?" Usut punya usut nenek ini dengan santainya mengatakan kalau dia digigit kaki seribu beberapa hari yang lalu saat membersihkan sampah.
Membersihkan sampah? Dengan kondisi begini? Namun mau bagaimana lagi tidak ada anak cucu yang mampu mengurus orangtua yang sudah mengurus mereka hingga dewasa. Bagaimana jika itu nenek saya? Atau ibu saya? Atau diri saya sendiri kelak, ya Allah. Hanya berdecak miris dan kasihan tidak dapat membantu apa-apa. Untungnya hidup di kampung beberapa tetangga masih dapat membagi rizki mereka sekedar untuk makan si nenek. Untuk urusan menemani di bangsal rumah sakit ketika nenek ini harus dirawat tentu saja merupakan permasalahan yang berbeda.
Menghubungi panti sosial mungkin adalah keputusan yang terbaik, meski belum dicoba semoga nenek ini bisa mendapatkan yang terbaik #hosh
Tarusan Kamang, si Danau Labil
Yang luar biasa adalah danaunya, danau di daerah Tilantang Kamang, kab. Agam Sumatera Barat ini baru muncul 1 bulan yang lalu sebelum kami bertandang kesana. Ya danau ini memang sangat labil untuk ukuran danau. Dalam waktu yang tidak bisa diprediksi sebuah dataran cekung yang tiba-tiba diisi oleh air. Menurut warga setempat, sebelum cekungan yang awalnya hanya padang rumput luas ini berisi air terdengar suara gemuruh seperti guntur dari bebatuan di bawah bukit dan kemudian perlahan tapi pasti danau akan cekungan tadi akan terisi membentuk danau yang luas. Kapan air nya surut dan kapan munculnya belum ada yang benar-benar meneliti. Namun setiap danau ini muncul biasaya banyak ikan yang mulai berhabitat disana. Akhirnya masyarakat setempat membuat kolam-kolam ikan di tanahnya masing-masing yang berada di cekungan danau dan dengan kearifan lokalnya ikan manasaja yang berakhir di kolam seseorang maka ia akan diklaim sebagai milik empunya kolam.
Meski sudah mulai dikelola oleh pemerintah, danau ini masih terlihat 'sangat alami' alias masih banyak aspek yang perlu di perbaharui agar tempat ini menjadi lokasi wisata yang lebih nyaman.
Sedikit mengenai danau bermuka dua di tarusan kamang ini, meski bukan bidang saya tapi jaman sekarang ini internet cukup menjelaskan secara kasar mengenai asal muasal sebuah danau. Danau ini merupakan danau karst, yaitu danau yang terbentuk dari bebatuan kapur. Biasanya batu kaput ini akan tergerus oleh hujan dan membentuk sungai-sungai kecil dan kemudian menjadi danau. Biasanya bebatuan kapur mudah ditemukan di wilayah pantai atau pegunungan kapur.
Yang menjadi keunikan dan danau karst di tarusan kamang ini karena setelah ada yang meneliti (akhirnya ada juga yang meneliti , memang ya wilayah pelosok di nusantara ini masih banyak yang belum terekspos. Terimakasih kepada sosial media dan internet), danau ini terhubung langsung dengan sungai-sungai bawah tanah.
Setiap mendengar kata sungai bawah tanah selalu terbayang pelajaran geografi mengenai lapisan-lapisan bumi. Pernah nonton film Sanctum? itu lho film ttg ekspedisi sebuah gua di papua yang terhubung dengan sungai bawah tanah dan ternyata mempunyai jalur kelas lepas. Jadi menurut saya fenomena danau labil yang hilang timbul dan terhubung dengan sungai bawah tanah itu keren. Menurut anda?
Anak-anak, enggrang dan rel kereta api.
Suatu sore di sudut kota Padang, langit sudah mulai menunjukkan keanggunan warnanya. Semburat merah, oranye, biru, putih membaur menunjukkan warna masing-masing. Lalu lintas sibuk, hari ini sabtu sore, sebagian dari mereka bergegas mengemasi diri bersiap untuk akhir pekan yang tertunda, sebagian lagi memang sedang menikmati akhir pekan disini, entah karena mereka memang penduduk daerah ini atau hanyalah menggunakan jalan yang sama seperti saya. Bus yang saya naiki bergerak pelan. Manusia sibuk lalu lalang, isi kepala mereka seperti penuh dengan pikirannya masing-masing. Diantara kesibukan sore itu 5 orang anak berjalan beriringan menyusuri rel. Setiap mereka memegang tali dengan batok kelapa diujung nya. Enggrang. Ya mereka membawa enggrang sederhana buatan sendiri. Sudah lama saya tidak melihat alat seperti itu setelah pemandangan anak dan remaja duduk diam menatap gadget sudah menjadi pemandangan biasa yang membosankan, siluet 5 orang anak ini begitu menarik. Lima orang anak yang berjalan beriringan, postur mereka menunjukkan bahwa mereka sedang asik berbincang. Bagaimana rel kereta disore hari membuat mereka seakan-akan berada di tengah frame, yang dibingkai oleh warna warni langit yang menawan. Berharap dapat membekukan momen ini dalam bentuk digital, bus sudah terlanjur melaju.
when universal coverage does not cover universally (part 2)
"karena DBD sudah masuk ke kategori KLB, dok", jawaban perawat setiap pertanyaan serupa terlontar.
Sebagai tenaga kesehatan saya sendiri termasuk pro terhadap bpjs. Bagi sebagian besar pasien dengan penyakit kronis menahun, yang memerlukan pengobatan rutin, atau pemeriksaan laboratorium komprehensif yang seyogyanya menggali kocek lebih dalam BPJS tentu sangat membantu. Atau pasien gawat darurat yang datang ke fasilitas yang tepat, keberadaan BPJS kesehatan sebagai insurance is assurance enough.
Diluar semua kekurangan sistem, manajemen, kerempongan administrasi, dan kesenjangan dana besar harapan saya agar bpjs ini dapat tumbuh dari berkembang menjadi lebih baik, membuat warga negara nya merasa aman saat mereka harus sakit kapan saja, Semoga. ..
When universal coverage does not cover universally (part 1)
Tersengat Anemon
Waktu masih bocah dulu, entah pernah baca di Bobo atau di buku ilmu buku ilmu pengetahuan khusus anak-anak yang isinya gambar semua saya tahu bahwa anemon laut itu beracun, hanya ikan badut yang sekarang ini lebih dikenal dengan nama ikan nemo sejak kartun disney ikan badut yang menjelajah samudra mancari anaknya itu muncul. Nah, berarti sejak belasan tahun lalu (kok berasa tua amat ya, haha) fakta bahwa si anemon itu beracun, saya suah tahu, dan dodolnya ketika ketemu di laut (ceritanya habis snorkling di Karimun Jawa-pamer) pas lagi foto-foto sama rumah nemo, rumahnya aku grusuk sembarangan, pas naik ke permukaan kulit tangan jadi perih dan langsung curiga sama anemon. Ternyata selidik punya selidik teman-teman yang lain juga mengeluhkan hal yang sama perih dan merah pada kuilt mereka, lebih parahnya lagi yang kena kulit paha yang emang lebih sensitif dibanding tangan. Salah sendiri ngapain berenang pake celana pendek, pake gamis noh, muehehehe.
Sebagai mahasiswa kedokteran yang sudah lulus, tapi belum disumpahi jadi dokter, kita berlima mearasa sangat dodol karena tidak bawa obat apa-apa untuk hal-hal seperti ini. Rata-rata hanya membawa paracetamol sama antimo. Daan, dodolnya lagi kita juga gak tau mau ngasih apa kalau disengat anemon, hahaha akhirnya dengan berbekal rasa malu, google dan harapan buat main ke laut lagi saya mencari hal-hal yang berhubungan dengan penangan pertama pada sengatan hewan-hewan laut.
dikapslok ya biar jelas inti ceritanya apa
PENANGANAN PERTAMA PADA KECELAKAAN LAUT (gk kecelakaan laut juga sih, ini biar keren aja)
TERSENGAT ANEMON
Ini nih yang sudah membuat kulit kita muncul bruntus-bruntus perih mencurigakan, merah atau ungu. Gejalanya bisa cepat atau delayed, juga harus diperhatikan jenis makhluk yang menyengat, karena toksinnya berbeda-beda tiap spesies
tanda-tanda yang sama akan muncul pada tersengat ubur-ubur atau tentakel lainnya, kalau mau nyari secara ilmiah kata kuncinya 'Cnidaria envenomation', kalau medscape bisa liat disini http://emedicine.medscape.com/article/769538-treatment#d9
Reaksi muncul diakibatnya oleh nematokista yang di eksosotosis dari tentakel tersangka.
Untuk pentalaksaan sementara dapat menggunakan cuka atau asam asetat 4-6% pada daerah yang terkena selama paling tidak 30 detik. Merendam dengan air hangat pada suhu 40-45 C selama 20 menit juga dapat mengurangi gejala akibat C barnesi and Physalia (itu sejenis ubur-ubur) . Tidak disarankan menggunakan urin, ethanol, methylated spirit.
Kalau ada tentakel yang nempel, gunakan cuka atau cabut dengan forcep. harus diperhatikan apabila tentakelnya masih hidup, karena toksin nya masih akan keluar sampai beberapa jam kedepan.
Apabila yang muncul hanya berupa gejala lokal, yang mana symptomnya biasanya mild, dapat digunakan salep. Bersihkan dahulu daerah yang terkena dengan air laut, oles tipis salep hidrocortisone 2.5%, sampai gejala hilang, apabila setelah 2-3 hari tidak hilang, sebaiknya cari pertolongan medis. Apabila tidak tersedia, dapat meminum MP atau dexa, tapi obat-obat ini tidak untuk dikonsumsi jangka panjang, hanya untuk menghilangkan efek inflamasi. Untuk nyeri dapat menggunakan PCT, atau ibuprofen.
bagi para petugas medis, terutama dokter intership yang mencari lokasi iship dekat pantai agar bisa sekalian liburan, dan dengan sialnya lagi jaga di IGD, hal yang harus anda perhatikan adalah
- Tentukan tingkat keparahan, apakah pasien me(merlukan alat bantu kardiovaskular atau tidak
- Apakah tentakel sudah dilepas
- terapi apabila terdapat reaksi anafilksis degnan ABC dan efinefrine
- wound care dan AB profilaksis
- Baking soda efektif terhadap sengatan sea nettle (Chrysaora quinduecirra)
- ATS TT
- antihistamin dan salep corticosteroid untuk keluhan gatal
Ya ampun, anemon ama ubur-ubur aja, habis 2 halaman
selanjutnya,
2. Bulu Babi/ bulu landak/ sea urchin
Makhluk seperti rambutan busuk ini mempunyai duri sebagai mekanisme pertahanan mekanis dan juga dapat mengeluarkan racun dari sisa duri yang tertinggal. pastikan bulu babi tercabut dari tubuh yang terkena, hati2 apabila hendak melepaskan duri yang tertancap, gunakan sarung tangan atau alat bantu. Menghancurkan duri menjadi partikel kecil dengan memukulnya pada benda keras akan membantu tubuh untuk menyerap duri, untuk mempercepat proses penyembuhan.
- Untuk pertolongan pertama, dapat diberkan amonia cair, apabila tidak tersedia, dapat digunakan amonia yang terkandung dalam air kencing. Disarankan untuk menggunakan air kencing pasien/korban, karena jijik kalau pake air kencing orang lain.hehe. Cara penggunaannya tinggal disiram, namun tetap disarankan untuk segera melakukan perawatan ke pelayanan kesehatan unutkmencegah infeksi sekunder
- berikan TT
- gunakan air hangat untuk meredakan nyeri. Air hangat ( 114 F atau 45 C, tidak kurang) juga dapat mngurangi efek toksin.
- apabila terdapat luka, beberapa sumber menyarankan untuk memberikan tekanan untuk menghentikan perdarahan, dapat menggunakan compression bandage
- dapat menggunakan analgesik topical untuk mengurangi nyeri dan AB topical seperti gentamisin untuk profilaksis
referensi:
http://emedicine.medscape.com/article/769538-treatment#d9
Rumah Sakit
I used to hate hospital, paling tidak ketika sudah mengenakan toga S.ked, bagi saya rumah sakit masih tidak menyenangkan.
Dulu bocah kecil kurus ini memang lumayan sering sakit, sekali dua kali terpaksa harus menginap di rumah sakit, dengan diagnosis thypoid. Merasakan malam di rumah sakit yang mengerikan, dan makanan rumah sakit yang lebih mengerikan lagi ditengah tubuh yang lemas karena kalah perang melawan kuman salmonella. Selanjutnya, entah kenapa setiap demam tinggi (yang selalu datang ketika malam dan baikan pagi harinya), diikuti dengan gangguan pencernaan, juga batuk pilek ringan saya hanya dibawa ke tempat praktek dokter terdekat dan bed rest di rumah. Sejak itu saya mulai merasa asing dengan suasana rumah sakit. Setiap menjenguk kerabat ke rumah sakit, setiap melihat tulisan 'anak berumur dibawah 7 tahun dilarang masuk', saya merasa rumah sakit bukanlah tempat yang bersahabat untuk manusia , apalagi anak-anak.
(skip)
Tiba2 waktu membawa saya kesini, mempelajari ilmu tentang manusia dan bagaimana caranya untuk memperbaiki kualitas hidup manusia terutama dari sisi kesehatan. Tidak mutlak memang, namun lebih dari 50% kemungkinan masa depan saya akan berada di rumah sakit berinteraksi dengan pesakit dengan jutaan kuman yang bertebaran disana. Dimulai dari sekarang, meski baru berperan sebagai asistennya asisten. Tidak secara langsung berhubungan dengan pasien, namun hampir setengah dari 24 jam jatah bernafas saya dalam sehari dilakukan di rumah sakit (ditambah dengan porsi jaga malam) ada sisi baru rumah sakit yang saya tangkap.
Rumah sakit ternyata bukan hanya tempat para kuman bertebaran (seperti yang saya kira dulu), tapi disana ada harapan. Harapan untuk kesembuhan dari keuarga pasien untuk orang-orang yang mereka cintai yang terbaring lemah di bed rumah sakit.
Disana terlihat besarnya pengorbanan orang tua menunggui anaknya yang sakit, berhari2 bahkan berbulan-bulan melupakan fisik mereka sendiri yang juga lelah.
Disana terlihat bagaimana seorang anak membuktikan baktinya pada orang tua mereka yang renta, terbaring sakit, saat mereka anak-anak yang sudah dewasa itu mempunyai kehidupan sendiri dengan keluarga kecil mereka mereka tetap merawat orang tua dengan rasa sayang dan hormat yang tidak dikurangi dengan semua masalah keuangan, waktu dan anak2 mereka yang masih kecil dan ditinggal dirumah.
Di rumah sakit sering terlihat wajah dengan kesedihan mendalam, wajah2 kehilangan yang tidak rela kehilangan, penyesalan, atau yang berusaha tegar meski dengan air mata di pelupuk mata, wajah2 yang berduka.
Tapi juga ada wajah yang berseri bahagia, memandang penuh kagum menyapa makhluk kecil yang telah mereka nanti selama 9 bulan, seorang laki2 yang terlahir kembali sebagai seorang ayah menyenandungkan azan dengan canggung di samping makhluk kecil yang terdiam bingung di dalam inkubator. Haru.
Ada perjuangan demi antrian peringanan biaya rumah sakit, bersaing antrian dengan pasien lain demi bpjs yang sistemnya masih terlalu muda untuk dikatakan bagus.
Ada kesenjangan status sosial yang membedakan fasilitas dan pelayanan yang didapat. Miris memang membandingkan ward kelas terendah yang seperti pasar dengan ward kelas tertinggi yang seperti kamr hotel berbintang, di bawah satu atap rumah sakit yang sama. Sebuah pr besar bagi sistem dan pelayanan kesehatan Indonesia.
Di rumah sakit terjadi banyak peristiwa besar dalam kehidupan manusia, lahir, melahirkan, dan kematian. Hanya pernikahan yang tidak dilangsungkan disana (kecuali bagi fachri dan maria di buku aac-nya habiburrahman😁).
Hal kecil yang bisa membuat saya bersyukur bisa menyaksikan semua itu. Alhamdulillah.
Koas anak- Tak Tergantikan#2
Koas anak- TAK TERGANTIKAN #1
Koas anak-TAK TERGANTIKAN #intro













