Jurnal Tahap Kedelapan, Selebrasi

11 Oktober 2025

Bunda Salihah Tahap 8 Selebrasi - 1

Assalamualaikum, Syari desu…

Yeay. saatnya selebrasi !
Hal ini adalah hal yang patut dirayakan karena setelah usaha 9 bulan
di Bunda Salihah, menulis 7 jurnal dan 7 reviu atas jurnal buddy, dan
mengikuti 3 event di kampus, akhirnya sekarang waktunya
SELEBRASI.
Di tahap selebrasi ini, tim kami hanya diminta membuat video
Changemaker Journey yang menceritakan perjalanan gerakan tim.
Video tersebut dapat ditonton di Instagram TintaLoka: https://www.instagram.com/p/DPrLhaXD_Qj/

Untuk selebrasi diri sendiri, mahasiswi Bunda Salihah diminta
menyusun protofolio pribadi, yang dapat dibaca di bawah ini.
Jadi… Selamat lulus dari Bunda Salihah Batch #3, Yeptirani!!!

Cerita di Balik Selebrasi

Saat saya mendapatkan perintah untuk merayakan pencapaian, rasanya campur aduk, nano-nano.


Selamat Hari Batik 2025

2 Oktober 2025

FB_IMG_1759393577244

Foto jadul koleksi pribadi.

Hari ini adalah hari Batik. Setiap tanggal 2 Oktober, kita merayakan hari batik yang ditandai dengan memakai batik untuk beraktivitas. Bagaimana awalnya sehingga batik bisa dirayakan?

Batik dinobatkan menjadi Warisan Budaya Takbenda oleh UNESCO, organisasi di bawah Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB) yang mengurusi bidang keilmuan, pendidikan, dan kebudayaan, pada tanggal 2 Oktober 2009. Lengkapnya, batik dinobatkan menjadi warisan kemanusiaan untuk budaya lisan dan nonbendawi (masterpieces of the oral and intangible heritage forn humanity).

Warisan Budaya Takbenda sendiri ada berbagai macam. Bahasa, sastra, musik, tari, permainan dan olahraga, tradisi kuliner, ritual dan mitologi, pengetahuan dan praktik-praktik sehubungan dengan jagat raya, teknik tradisional dalam pembuatan kerajinan tangan, dan ruang-ruang budaya termasuk di antara bentuk warisan takbenda.

Dalam batik, yang dijadikan budaya bukanlah kainnya, melainkan proses membuatnya. Aku pernah mencoba membatik dan kupikir, lebih baik aku membeli hasil jadinya saja, hahaha. Membatik adalah untuk orang yang sabar dan teliti, bukan untukku.

FB_IMG_1759393563768

Foto jadul lagi.

Aku punya banyak baju batik. Sejak sekolah, aku selalu memakai seragam batik. Entah itu batik tulis atau hanya batik printing. batik printing adalah istilah untuk kain batik yang menggunakan metode cap/stempel bukan dengan tangan.

Akhir-akhir ini banyak beredar kain dengan motif batik tetapi tidak dibuat dengan proses membatik. Kadang orang salah mengira itu sebagai batik (yang jadi warisan budaya), padahal tidak. Kain itu memang bermotif batik tetapi tidak termasuk dalam warisan budaya karena yang jadi warisan budaya adalah prosesnya.

IMG20251002114552

Batik hari ini.

Di kantorku, aturan memakai baju batik berlaku di hari Jumat. Dulu sempat hari Selasa dan Jumat. Namun aturan diubah sehingga hanya hari Jumat yang wajib berbatik. Hari ini hari Kamis, tetapi karena hari ini spesial, maka hari ini pun berbatik. Jadi, minggu ini kami akan berbatik dua kali, hari ini dan besok.

Motif dan model baju batik sekarang sudah beragam. Aku pernah melihat hanbok (baju adat Korea) dengan bahan baju batik. Lucu sekali jadinya.

Batik sekarang sudah mendunia. Namun, akarnya tetap dari Indonesia. Selamat Hari Batik 2025.


Bulan Martabak

1 Oktober 2025

Selamat datang bulan Oktober. Bulan ini adalah bulan kesepuluh di tahun 2025. Sepanjang bulan September, ada banyak hal yang bisa kuceritakan. Apakah aku harus menceritakannya? Ya atau tidak?

Iya saja, deh.

Septemberku penuh ambisi. Aku berhadil menulis dua puluh tulisan secara berurutan di bulan September. Mulai dari tulisan-tulisan ringan di blog sampai tulisan-tulisan tidak jelas di google documents. Aku juga menyelesaikan SAMIDARE 2025 yang seharusnya selesai di bulan Juni lalu. Akhirnya kisah Onky dan Lani pun selesai. Aku pun berhasil membuat cerita bersambung ini jadi cerita bergenre romansa alih-alih tragedi, hahaha.

Bulan Martabak

Bulan martabak adalah istilah yang digunakan oleh keluargaku untuk menyebut bulan separuh. Biasanya bulan ini muncul di tanggal 7 dan tanggal 21 setiap bulan kalender lunar. Aku lupa apakah hari ini tanggal 7 atau 21, tetapi yang jelas bulan malam ini adalah bulan martabak sempurna.

Gambar hanya ilustrasi yang diambil dari Google. Ponselku tidak bisa menangkap gambar bulan martabak dengan sempurna.

Ada kisah lucu kenapa bulan separuh ini disebut bulan martabak di rumah kami. Anakku saat itu baru bisa bicara. Usianya belum dua tahun. Dia suka martabak manis Bangka alias hok lo pan. Ketika ayahnya membelikannya martabak dengan isian coklat dan keju, dia bisa menghabiskan setengah kotak sendiri. Untuk anak sekecil itu, porsi itu sudah sangat banyak. Martabak manis adalah satu-satunya makanan coklat yang boleh ia makan sesukanya. Saat itu aku memang membatasinya makan coklat batangan karena akan memicu keaktifannya di malam hari. Namun aku menyerah dengan martabak manis alias hok lo pan ini karena makanan ini oleh-oleh dari ayahnya. Hahaha. Paling-paling aku akan pasrah anakku tidur lebih malam setelah makan martabak manis, yang artinya aku juga begadang.

Ayahnya sebenarnya tahu kalau anaknya tidak diizinkan makan makanan manis terlalu banyak. Karenanya, beliau jarang juga membelikan martabak. Namun, saat ayahnya membelikan martabak, ekspresi wajah anakku tak dapat digantikan oleh apa pun. Mungkin karena itulah ayahnya tetap membelikan martabak manis ini walau tahu anaknya akan kesulitan tidur setelah makan makanan yang terlalu manis seperti martabak manis isi mesis coklat dan keju.

Suatu malam, anakku keluar rumah dan memandang langit yang saat itu cerah.

“Danda, lihat, bulannya kayak martabak!” serunya sembari menunjuk bulan.

“Eh, iya, beneran kayak martabak, ya?” sambutku.”

“Abang mau ambil bulannya, hap, hemmm… Abang makan bulannya,” katanya lagi sembari pura-pura meraih bulan, memasukkan bulan ke mulut, dan mengunyahnya.

“Jangan! Kalau bulannya Abang ambil, nanti malam ini gelap, donk?” kataku.

“Kan ada lampu,” jawabnya.

Aduh! Anak zaman sekarang memang cerdas-cerdas, ya. Ada saja jawabannya, dan memang masuk akal. Saat bulan mati pun, malam tidak gelap, kok. Kan ada lampu (yang dialiri listrik hingga menyala).

“Hm, kalau bulannya dimakan, nanti Abang nggak punya bulan martabak lagi, donk?” tawarku.

“Iya juga, ya. Jangan, deh, bulannya jangan dimakan.” Akhirnya anakku mengalah.

Sejak saat itu, bulan separuh menjadi “bulan martabak” di rumahku.

Demikian cerita awal Oktoberku. Semoga sisa hari di Oktober menyenangkan, ya! See you!


Jurnal Tahap Ketujuh, ApresiAKSI

20 September 2025

Bunda Salihah - Judul Tahapan - 10

Assalamualaikum, Syari di sini…

Saatnya mengapresiasi AKSI yang sudah dilakukan selama enam tahapan lalu. Ya, di jurnal ketujuh ini, mahasiswa Bunda Salihah diajak untuk mengapresiasi diri yang telah menjalankan AKSI.

Bagaimana cara apresiasinya?

DENGAN MONITORING DAN EVALUASI

Saat saya mendengar kata “monitoring dan evaluasi” untuk pertama kali di materi tahap tujuh ini, saya tertawa dalam hati. Bagaimana mungkin? Di kantor, pekerjaan saya adalah monitoring dan evaluasi, di perkuliahan Bunda Salihah juga disuruh melakukan monitoring dan evaluasi. Bedanya, di kantor, saya melakukan Monev terhadap pelaksanaan anggaran yang dilakukan mitra kerja, di Bunda Salihah, saya melakukan monev terhadap hasil kerja saya sendiri (dalam komunitas).

Untuk melakukan monitoring dan evaluasi, sebelumnya kami diminta menganalisis dampak dari AKSI yang telah kami lakukan sebelumnya. Sebuah pertanyaan besar muncul, dan harus dijawab.

Apa pentingnya analisis dampak sosial ini untuk AKSI kita?

Kalau ada yang mengira ini adalah pertanyaan yang mudah, maaf, Anda salah. Kami perlu seminggu penuh berdiskusi lewat padlet dan whatsapp untuk merumuskan jawabannya. Dan inilah jawaban kami.

Bunda Shalihah Tahap 7 ApresiAKSI - 2
[ingat, ya.. “analisis” bukan “analisa” karena kata ini merupakan serapan dari bahasa Inggris “analysis”] – Syari, 2025.

Panjang, ya… hasil analisisnya… Hahaha.

Saya bahagia melihat teman-teman di dalam komunitas bersemangat menjawab pertanyaan ini. Namun, kebahagiaan saya rupanya hanya sebentar. Ketika masuk ke Theory of Change, kami mandek. Saya mandek, tim mandek, dan diskusi kami molor berminggu-minggu hingga akhirnya mendekati tenggat waktu pengumpulan jurnal.

TERNYATA MENENTUKAN INPUT SESULIT ITU T__T

The Theory of Change

Theory of Change adalah sebuah metodologi visual yang menguraikan perubahan sosial untuk memotivasi dampak sosial AKSI kita (Wulandani, 2021)

Topik ini yang menghabiskan berminggu-minggu diskusi kami. Sedih, sih. Karena seharusnya kami dapat menyelesaikannya lebih cepat. Tapi saya tetap bersyukur karena tim TintaLoka tetap dapat menyelesaikan diskusi tepat waktu.

Bunda Shalihah Tahap 7 ApresiAKSI - 3

Ada 5 (lima) unsur dalam Theory of Change, input, activities (aktivitas tim), output, outcome (hasil), dan impact (dampak). Semuanya punya definisi yang berbeda dan definisi itulah yang memudahkan kami menyusun borang Theory of Change ini.

  • Input: materi, info, pengetahuan yang dibutuhkan tim untuk melakukan AKSI, biasanya berupa benda.
  • Activities: tugas yang dilakukan selama pelaksanaan AKSI/PROJEK, lebih baik diungkapkan dalam kata kerja. (misal: mengajar, membuat, menulis, dll).
  • OUTPUT: dampak langsung yang akan ditimbulkan oleh AKSI/PROJEK kita, lebih baik diungkapkan dalam bentuk lampau. (misal: telah terlatih, telah diproduksi, dll).
  • OUTCOME: efek jangka pendek dari OUTPUT. lebih baik diungkapkan dalam kata2 yang menggambarkan perubahan perilaku yang dirasakan. (misal: meningkat, menurun, ditingkatkan, dll).
  • IMPACT: efek jangka panjang yang disebabkan oleh hasil. Biasanya diungkapkan menggunakan kata kerja “berkontribusi” karena perubahan jarang disebabkan oleh 1 faktor saja. Sehingga fokusnya pada dampak berkelanjutan.

Teh Dian, Dekan Bunda Salihah, menganalogikan Theory of Change ini dengan proses pembuatan nastar.

  • input: tepung, nanas, gula, telur, dll.
  • activities: memarut nanas, memasak selai, mengadon tepung, memangang adonan, dll.
  • output: nastar
  • outcome: nastar dijual, nastar diberikan ke tetangga, nastar jadi oleh-oleh buat mertua, dll.
  • Impact: kalau nastar dijual, dampaknya dapat uang hasil jualan, misal diberikan ke tetangga, dampaknya dapat mangga dari tetangga, dll.

GAMPANG BANGET, NGGAK SIH????

You wish T__T

Ternyata implementasinya tak semudah itu, Ferguso! Kalau semudah itu, mana mungkin diskusinya menghabiskan setengah bulan gaji, eh salah, waktu saya dalam menyusun jurnal?

Syukurlah, borang Theory of Change sudah selesai diisi. Sudahlah, masa kelam dan stress-able sudah lewat. sekarang ayo kita maju, lakukan MONEV-nya. Hayo, loh!

Jadi, input, acvities, dan output harus dimonitoring. Sedangkan outcome dan impact harus dievaluasi. Mari kita lakukan!!!

Hasil monitoring dan evaluasi dari Theory of Change disajikan dalam the Logic Model.

MAKANAN APALAGI ITU, ASTAGA!!!!

The Logic Model

Fungsinya untuk memantau dan mengevaluasi dampak. Aduh, monev lagi, monev lagi. Iya kan memang tahap ini adalah tahap MONEV. Hahaha.

Isi the Logic Model adalah Theory of Change (ToC) yang dibuat rumit, yaitu:

  1. Deskripsi unsur ToC
  2. Indikator unsur ToC (indikator membawa kita ke smart goal) – tulis apa yang membuat kita merasa ini akan berhasil atau tidak berhasil.
  3. Goals (tulis ulang smart golasnya)
  4. Verification source – melihat data dari berbagai sumber… (misal: dampak KDRT, dll, ini seperti jurnal ilmiah, hal yang membenarkan analisis kita)
  5. Responsible (siapa saja yang telah mengerjakan yang terbaik di tim)
  6. Frequency (berapa lama berapa kali latiihan/kampanye)
  7. User (penerima manfaat)
  8. Assumptions (ketika kita berasumsi) – bagian dari penelitian.

Diskusi lagi… dan, ini hasilnya…

Bunda Shalihah Tahap 7 ApresiAKSI - 4

Alhamdulillah, tiga worksheet selesai. Senang? Iya, donk. Setengah jurnal selesai. Jadi, sekarang masuk ke worksheet selanjutnya.

THE RISK MANAGEMENT

Waktu giliran manajemen risiko tiba, saya semringah. Ini keahlian saya. Tesis saya tentang manajemen risiko. Saya bahkan membantu sebuah instansi pemerintah menyusun manajemen risiko internal mereka. Ini hal yang saya suka dan saya bisa. Mari kita lakukan.

Hal PERTAMA yang kami lakukan untuk menyusun manajemen risiko adalah menentukan SELERA RISIKO (risk apetite). Ini penting. Karena dengan selera risiko yang standar, kami dapat menentukan dan mengategorikan risiko-risiko yang mungkin akan kami hadapi, juga dapat menentukan bagaimana mitigasinya.

Bunda Shalihah Tahap 7 ApresiAKSI - 5

Saya menggunakan panduan peraturan kantor saya dalam menyusun selera risiko ini. Panduan tersebut saya amati, tiru, dan modifikasi sehingga membentuk sebuah selera risiko baru untuk TintaLoka.

INI ADALAH SELERA, JADI TIDAK ADA STANDAR BAKUNYA. MURNI KESEPAKATAN TIM.

Dari selera risiko yang telah kami tetapkan, kami pun menulis risiko apa saja yang mungkin terjadi, seberapa besar dampaknya bagi tim, dan seberapa sering risiko ini mungkin terjadi.

Bunda Shalihah Tahap 7 ApresiAKSI - 6

Setelah kami menyusun borang manajemen risiko, saya baru menyadari, TintaLoka lebih bayak mengambil langkah memindahkan risiko ketimbang mengurangi dampaknya, hehehe. Itu sudah sesuai kenyataan, sih. Itu lebih mudah bagi kami ketimbang kamu membuang waktu dan energi untuk memitigasi risiko yang seharusnya dapat kami hindari.

Terakhir, mementukan langkah TintaLoka berikutnya.

Stop, Continue, Start

Setelah semua monitoring dan evaluasi yang dilakukan, jungkir balik menentukan input dan Theory of Change, menyusun teh Logic Model, menetapkan Risk Apetite, dan Menyusun Risk Management, saatnya menjalankan langkah berikutnya, menentukan apa yang harus dihentikan, diteruskan, dan dimulai.

Bunda Shalihah Tahap 7 ApresiAKSI - 7

Apa yang harus dihentikan dan diteruskan, sudah jelas terlihat dalam borang. Namun, apa yang harus dimulai, mungkin akan menimbulkan pertanyaan. “Kok TintaLoka HARUS MULAI menulis dan membagikan tulisan pada pembaca? Bukannya itu memang sudah default-nya TintaLoka?”

Hayo, siapa yang juga bertanya demikian?

KARENA PENULIS MEMANG HARUS MULAI MENULIS SETIAP HARI.

Itu saja, sih, jawabannya. Hehehe.

Oke, tahap tujuh apresiAKSI sudah dijabarkan dalam jurnal ketujuh ini. Satu bulan penuh diskusi dan stressfull drama karena mentok di input, hahaha, akhirnya terlewati juga. Saatnya melangkah ke tahap berikutnya. Siap? Siap, donk! ^_^

#ApresiAKSI #BundaSalihahBatch3 #KampusIbuPembaharu #InstitutIbuProfesional


Catatan Tahsinku (Nun Sukun dan Tanwin)

6 September 2025

Akhir pekan ini, aku ingin mencatat ulang pelajaran tahsin yang kudapatkan setiap hari Sabtu. Aku belajar tahsin setiap Sabtu pukul setengah enam pagi. Bersama enam teman lain, belajar tahsin secara daring dengan seorang ustazah. Aku senang sekali belajar tahsin secara daring ini. Karena hari Sabtu adalah hari liburku, otakku secara otomatis akan bermalas-malasan. Dengan adanya jadwal tahsin setiap pukul setengah enam pagi, aku jadi tetap bangun pagi di hari Sabtu.

Baiklah, aku akan menulis ulang pelajaran tahsinku. Aku mulai dengan materi “Nun Sukun dan Tanwin”

Di catatanku tertulis ada empat hukum bacaan nun sukun dan tanwin. Di catatanku lainnya, aku menulis ada tiga hukum nun sukun dan tanwin, ada juga yang lima hukum, dan juga enam hukum. Mari kita jabarkan semuanya.

Empat pendapat hukum bacaan nun sukun dan tanwin:

  1. 3 hukum – terdiri dari izhar, idgham, dan ikhfa’
  2. 4 hukum – terdiri dari ishar, idgham, ikhfa’, dan iqlab
  3. 5 hukum – membagi idgham secara ghunnahnya, yaitu idgham bighunnah dan idgham bilaghunnah
  4. 6 hukum – membagi idgham bukan hanya ghunnahnya, melainkan juga kesempurnaan masuknya huruf: bighunnah kamil, bighunnah naqis, dan bilaghunnah kamil

Ustazahku mengajarkan yang empat hukum. Jadi itulah yang kupelajari. Empat hukum bacaan nun sukun dan tanwin itu adalah:

  1. Izhar, atau disebut juga izhar halqi, yaitu nun sukun dan tanwin yang dibaca jelas dari makhrajnya dan tanpa ghunnah,
  2. Ikhfa’, atau disebut juga ikhfa’ hakiki, yaitu nun sukun dan tanwin yang dibaca di antara sifat izhar dan idgham (samar) dan disertai ghunnah,
  3. Iqlab, yaitu mengubah bunyi nun sukun dan tanwin menjadi mim dan disertai ghunnah, dan
  4. Idgham, yaitu memasukkan bunyi nun sukun dan tanwin ke dalam huruf-huruf idgham (6 huruf, yaitu yanmuu lari) sehingga nun sukun dan tanwin tidak terlihat lagi.

Nun sukun dan tanwin punya persamaan, yaitu sama-sama berkhiran “n”.

Lalu apa perbedanaan nun sukun dan tanwin?

  1. Nun sukun itu asli, ada hurufnya (punya rasm), sedang tanwin cuma tanda baca saja (dabt);
  2. Nun sukun bisa terbaca saat waqaf dan washol, sedangkan tanwin cuma bisa terbaca saat washol (tidak dibaca saat waqaf);
  3. Nun sukun bisa ada di tengah kata dan di akhir kata, sedang tanwin hanya ada di akhir kata; dan
  4. Nun sukun bisa terletak pada huruf isim dan fiil, sedang tanwin hanya terletak di isim saja.

Nah, bab nun sukun dan tanwin sudah selesai. Dengan menulis, aku mengulang ilmu. Sampai jumpa di catatan berikutnya, bai…


Sudah Seminggu Sejak Terakhir Aku ke Kantor

5 September 2025

Persis seminggu yang lalu, aku berangkat ke kantor di pagi hari, seperti biasa. Hari itu adalah hari puncak perayaan tujuh belas Agustus di kantorku. Bidang (atau di kantor swasta, Divisi) tempat aku bekerja mendapat giliran mengisi acara. Kami sudah sepakat untuk mengajak seluruh pegawai bersenam bersama dengan lagu Tabola Bale yang sedang ngetren.

Pukul tujuh pagi, mungkin kurang lima belas menit dari pukul tujuh, aku berangkat ke kantor tanpa mengecek ponselku terlebih dahulu. Ini sudah jadi kebiasaanku. Aku jarang melihat ponsel di rumah. Biasanya aku melirik ponsel di jam kerja. Itu pun jika harus melakukannya. Biasanya aku mengecek pesan singkat dari laptop dan mengetik di papan ketik. Itu lebih menyenangkan buatku ketimbang mengetik di layar sempit dan tan berbentuk di ponsel. Aku menikmati suara papan ketik saat ditekan. Itu tidak kudapatkan saat mengetik di ponsel.

Namun aku tak tahu, kebiasaanku tidak mengecek pesan di grup kantor di pagi hari, membuatku susah sendiri.

Seperti biasa, setelah memarkir kendaraanku di tempat parkir motor di Taman Bung Wiladatika, aku berjalan menuju stasiun LRT Harjamukti. LRT adalah singkat dari Lintas Raya Terpadu, yaitu rangkaian kereta pendek – enam gerbong –  yang melintasi wilayah selatan Jakarta. LRT juga ada yang menuju arah timur, ke Bekasi.

Aku turun di stasiun LRT Cawang. Seperti biasa, aku dengan setengah berlari akan langsung menuju halte BRT, Bus Raya Terpadu alias Transjakarta, Cawang untuk naik bus ke arah halte Bidara Cina. Ada dua koridor yang dapat membawaku ke halte Bidara Cina di depan kantorku, koridor 7 arah Kampung Rambutan-Kampung Melayu dan koridor 5C arah PGC-Juanda. Namun setelah aku sampai di pintu keberangkatan dua koridor tadi, aku mendengar pengumuman, “bus koridor 7 arah Kampung Melayu dan koridor 5C arah Juanda tidak beroperasi.”

Aku pun mencari tahu, ada apa gerangan. Ternyata, kerusuhan sedang terjadi di mana-mana, imbas demo malam harinya. Katanya ada ojol yang dilindas oknum brimob, dan itu memicu perlawanan jadi jadi simbol wong cilik vs polisi. Aduh. Belum lagi ada aksi bakar-bakaran. Ini tidak benar. demo biasanya berlangsung baik. Ini pasti ulah penyusup dan provokator.

Kembali ke diriku. Aku lumayan panik karena hanya dua koridor itu lah yang dapat membawaku ke kantor. Apa yang harus kulakukan?

Tuhan menolongku. Bus koridor 4K arah Kejaksaan Agung-Pulogadung tiba. Biasanya bus ini lama sekali tiba. Tanpa pikir panjang, aku langsung naik bus itu. Aku tahu, rute bus ini melewati jalan di belakang kantorku, sekitar satu kilometer dari kantor. Aku dapat turun di halte terdekat dan melanjutkan jalan kaki ke kantor.

Bus ini lengang. Aku belum pernah naik bus ini sebelumnya, tetapi sepenglihatanku, bus ini biasanya selalu sesak karena memang jarang datang. Saking lengangnya, aku bisa duduk di dalam bus. Ini kejadian langka mengingat aku bukanlah penumpang prioritas.

Di dalam bus, orang berbincang. Rupanya mereka semua sama, harusnya naik bus koridor 7 atau 5C tetapi naik bus ini karena tidak tahu harus ke mana. Aku belum tahu rute bus ini ke mana, jadi aku belum bisa memberikan saran pada mereka. Aku turun di halte paling dekat dari kantorku, satu kilometer.

Ketika aku mulai berjalan, orang-orang memberi peringatan pada para pengendara agar menghindari jalan yang akan kulewati. Ada kerusuhan di Otista III, kata mereka. Aku gemetar. Itu ruteku berjalan ke kantor. Aku harus lewat mana?

Akhirnya, aku memutuskan berjalan melewati gang-gang sempit dan menghindari jalan raya untuk sampai ke kantor. Jaraknya jadi lebih jauh, tetapi ini yang terbaik.

Sesampainya di kantor, acara puncak tujuh belas Agustus sudah dimulai. Aku memastikan gerbang kantor aman untuk kudekati. Walau terlambat, aku ikut juga acara tersebut. Alasan acara tersebut tetap diadakan walaupun terjadi kerusuhan di dekat kantor adalah karena kami melibatkan UMKM. Apabila acara ini dibatalkan, maka para UMKM yang kami libatkan ini akan merugi. Karena itu, acara ini tetap kami adakan walaupun tidak dalam bingar.

Pukul sembilan pagi, satu jam setelah aku sampai di kantor dan bersiap bekerja setelah acara puncak selesai, ada imbauan agar para satpam menutup gerbang kantor. Situasi memanas. Aku takut.

Akhirnya, ada instruksi agar kami pulang dan melanjutkan bekerja dari rumah. Aku segera merapikan laptop kantor dan semua perkakasnya dan bergegas pulang. Aku melewati gang kecil yang kulalui saat berangkat agar menjauh dari kerumunan massa.

Sekitar pukul sepuluh pagi, aku tiba di rumah. Suamiku langsung mengecek keadaanku. Beliau mendengar bahwa situasi di sekitar kantorku makin memanas. Aku melaporkan diri bahwa sudah sampai di rumah dengan selamat. Beliau merasa lega.

Setelah itu, kami diberi kelonggaran untuk bekerja dari rumah alias WFH selama sepekan. Selain untuk menghindari kerusuhan, karena entah mengapa, kantorku berasa di zona merah, juga agar kami tak ke Jakarta dan ikut demo, hahaha. Duh, kenapa pula aku dikhawatirkan ikut demo? Beli gorengan di depan kompleks saja pakai gofud. Mager!

Sekarang, aku melihat di berita bahwa situasi sudah kondusif. Senin, kami akan mulai kembali bekerja dengan normal. Aku selalu berdoa agar Indonesiaku selalu aman dan damai. Aku juga berdoa agar rakyat Indonesia selalu sejahtera. Karena kalau rakyat Indonesia sejahtera, aku pun juga sejahtera, kan aku adalah rakyat Indonesia juga. Hehe.

Demikian sekelumit ceritaku tentang pekan lalu. Ini kali pertama aku mengalami ketakutan akan kerusuhan. Rupanya seperti ini yang dirasakan rekan-rekan seniorku di tahun 1998 lalu. Semoga hal seperti ini tak pernah terjadi lagi karena tak diperlukan terjadi, aamiin.

Sehat terus, Indonesiaku.

#catatanharianyeptirani


Kaleidoskop Delapan Bulan Pertama di 2025 (Bagian 4–Terakhir)

4 September 2025

Akhirnya masuk juga ke bagian terakhir, Bun! Hahaha.

Entah kenapa aku ingin sekali bercerita tentang kaleidoskop hidupku di delapan bulan terakhir di tahun 2025, sementara tahun 2025 sendiri belum berakhir. Karena ini blogku, dan memang tujuannya untuk menulis catatan harian, jadi… biarlah. Hahaha.

Bailah, kita sebaiknya mulai saja, ya, cerita kilas baliknya.

JULI

Uangku sudah habis sama sekali di bulan Juli. Konser &TEAM, nongkrong dengan LUNÉ dari luar negeri, memesan dan membagikan fribis, aaah, semuanya menguras dompetku. Tapi aku senang. Itu pasti.

Nggak cuma aku, anggota &TEAM pun senang sudah bisa konser di Jakarta. Suasana konser di Jakarta sungguh melekat sampai Kei saja mengalami PCD parah sampai berminggu-minggu. Dia bahkan ingin membawa suasana konser di Jakarta ke kampung halamannya. Saya sungguh merasa kasihan pada LUNÉ Jepang gara-gara ini.

LUNÉ Jepang itu terkenal dengan sifat introvernya. Jika menghadiri konser, mereka akan dengan sopan duduk di kursi masing-masing, bertepuk tangan, dan.. pokoknya anteng lah.

Sementara LUNÉ Indonesia… Saat konser, kami diberi kursi masing-masing. Namun sepanjang konser, kami berdiri dan berjoget. Heboh sekali. Kami juga bernyanyi bersama seakan-akan sedang karaoke. Tak peduli suara kami tidak ada yang bagus dan hanya teriakan semata, yang penting ikut bernyanyi. Hal ini yang membuat konser di Jakarta jadi berkesan untuk anak-anak &TEAM.

Aku pun, di saat ENCORE, memilih menepi dan lompat-lompat di luar barisan agar tak mengganggu yang lain. Eh, malah diketawain oleh FUMA dan Kei. Asem! Hahaha.

Balik ke LUNÉ Jepang yang diajak berjoget juga. Mereka jadi canggung saat disuruh berdiri dan berjoget. Sungguh aku kasihan melihatnya.

Bulan Juli adalah bulan sibukku di kantor. Bertepatan juga aktivitasku di kelas Bunda Salihah memasuki event Konferensi Perempuan Indonesia. Jadi aku diwajibkan mengerjakan tugas-tugas KPI yang jujur, walau sangat bermanfaat tetapi juga melelahkan, hahaha.

Aku akhirnya bisa mengejar ketertinggalan dan mengerjakan seluruh tugas.

Untuk kelas Bunda Salihah sendiri, tugasku sudah sampai tahap AKSI. Jadi tim yang kubentuk berdasarkan masalah pribadiku itu diminta beraksi untuk kepentingan sesama. Timku memutuskan menunda aksi dan menguatkan internal kami dulu. Dan itu berhasil.

AGUSTUS

Bulan terakhir di kaleidoskop ini. Bulan ini juga bulan kemerdekaan Indonesia. Namun, banyak orang tidak puas dan mengadakan demo. Salah satunya di dekat kantorku.

Awal Agustus penuh dengan lomba menyambut 17 Agustus. Blok rumahku mengadakan lomba, di komplek juga mengadakan lomba. Aku menang juara 1 lomba gaple beregu. Gini-gini aku bisa main gapple loh.

Aku juga menang juara 3 lomba gaple. Sepertinya aku akan dijadikan atlet resmi cabang gaple, deh. Hahaha.

Sementara menjelang akhir Agustus, kerusuhan di mana-mana. Masyarakat turun dan berdemo. Aku takut sekali. Aku ingat, harus mencari jalan tikus agar terhindar dari kerusuhan. Rasanya menyeramkan.

Sehat-sehat, Indonesiaku.

Aku tidak ingin bercerita panjang lebar tentang akhir Agustus, karena ini bukan hal yang menyenangkan untuk diceritakan. Mungkin di lain hari, bisa aku kuat, aku akan menulis lagi.

Sementara, demikianlah kaleidoskop delapan bulan pertama di tahun 2025. Hidupku menyenangkan dan bermakna. Semoga kamu juga merasakan demikian, hidupmu juga menyenangkan dan bermakna. Sehat selalu, bye.

#kaleidoskop

catatanharianyeptirani