
Assalamualaikum, Syari di sini…
Saatnya mengapresiasi AKSI yang sudah dilakukan selama enam tahapan lalu. Ya, di jurnal ketujuh ini, mahasiswa Bunda Salihah diajak untuk mengapresiasi diri yang telah menjalankan AKSI.
Bagaimana cara apresiasinya?
DENGAN MONITORING DAN EVALUASI
Saat saya mendengar kata “monitoring dan evaluasi” untuk pertama kali di materi tahap tujuh ini, saya tertawa dalam hati. Bagaimana mungkin? Di kantor, pekerjaan saya adalah monitoring dan evaluasi, di perkuliahan Bunda Salihah juga disuruh melakukan monitoring dan evaluasi. Bedanya, di kantor, saya melakukan Monev terhadap pelaksanaan anggaran yang dilakukan mitra kerja, di Bunda Salihah, saya melakukan monev terhadap hasil kerja saya sendiri (dalam komunitas).
Untuk melakukan monitoring dan evaluasi, sebelumnya kami diminta menganalisis dampak dari AKSI yang telah kami lakukan sebelumnya. Sebuah pertanyaan besar muncul, dan harus dijawab.
Apa pentingnya analisis dampak sosial ini untuk AKSI kita?
Kalau ada yang mengira ini adalah pertanyaan yang mudah, maaf, Anda salah. Kami perlu seminggu penuh berdiskusi lewat padlet dan whatsapp untuk merumuskan jawabannya. Dan inilah jawaban kami.

[ingat, ya.. “analisis” bukan “analisa” karena kata ini merupakan serapan dari bahasa Inggris “analysis”] – Syari, 2025.
Panjang, ya… hasil analisisnya… Hahaha.
Saya bahagia melihat teman-teman di dalam komunitas bersemangat menjawab pertanyaan ini. Namun, kebahagiaan saya rupanya hanya sebentar. Ketika masuk ke Theory of Change, kami mandek. Saya mandek, tim mandek, dan diskusi kami molor berminggu-minggu hingga akhirnya mendekati tenggat waktu pengumpulan jurnal.
TERNYATA MENENTUKAN INPUT SESULIT ITU T__T
The Theory of Change
Theory of Change adalah sebuah metodologi visual yang menguraikan perubahan sosial untuk memotivasi dampak sosial AKSI kita (Wulandani, 2021)
Topik ini yang menghabiskan berminggu-minggu diskusi kami. Sedih, sih. Karena seharusnya kami dapat menyelesaikannya lebih cepat. Tapi saya tetap bersyukur karena tim TintaLoka tetap dapat menyelesaikan diskusi tepat waktu.

Ada 5 (lima) unsur dalam Theory of Change, input, activities (aktivitas tim), output, outcome (hasil), dan impact (dampak). Semuanya punya definisi yang berbeda dan definisi itulah yang memudahkan kami menyusun borang Theory of Change ini.
- Input: materi, info, pengetahuan yang dibutuhkan tim untuk melakukan AKSI, biasanya berupa benda.
- Activities: tugas yang dilakukan selama pelaksanaan AKSI/PROJEK, lebih baik diungkapkan dalam kata kerja. (misal: mengajar, membuat, menulis, dll).
- OUTPUT: dampak langsung yang akan ditimbulkan oleh AKSI/PROJEK kita, lebih baik diungkapkan dalam bentuk lampau. (misal: telah terlatih, telah diproduksi, dll).
- OUTCOME: efek jangka pendek dari OUTPUT. lebih baik diungkapkan dalam kata2 yang menggambarkan perubahan perilaku yang dirasakan. (misal: meningkat, menurun, ditingkatkan, dll).
- IMPACT: efek jangka panjang yang disebabkan oleh hasil. Biasanya diungkapkan menggunakan kata kerja “berkontribusi” karena perubahan jarang disebabkan oleh 1 faktor saja. Sehingga fokusnya pada dampak berkelanjutan.
Teh Dian, Dekan Bunda Salihah, menganalogikan Theory of Change ini dengan proses pembuatan nastar.
- input: tepung, nanas, gula, telur, dll.
- activities: memarut nanas, memasak selai, mengadon tepung, memangang adonan, dll.
- output: nastar
- outcome: nastar dijual, nastar diberikan ke tetangga, nastar jadi oleh-oleh buat mertua, dll.
- Impact: kalau nastar dijual, dampaknya dapat uang hasil jualan, misal diberikan ke tetangga, dampaknya dapat mangga dari tetangga, dll.
GAMPANG BANGET, NGGAK SIH????
You wish T__T
Ternyata implementasinya tak semudah itu, Ferguso! Kalau semudah itu, mana mungkin diskusinya menghabiskan setengah bulan gaji, eh salah, waktu saya dalam menyusun jurnal?
Syukurlah, borang Theory of Change sudah selesai diisi. Sudahlah, masa kelam dan stress-able sudah lewat. sekarang ayo kita maju, lakukan MONEV-nya. Hayo, loh!
Jadi, input, acvities, dan output harus dimonitoring. Sedangkan outcome dan impact harus dievaluasi. Mari kita lakukan!!!
Hasil monitoring dan evaluasi dari Theory of Change disajikan dalam the Logic Model.
MAKANAN APALAGI ITU, ASTAGA!!!!
The Logic Model
Fungsinya untuk memantau dan mengevaluasi dampak. Aduh, monev lagi, monev lagi. Iya kan memang tahap ini adalah tahap MONEV. Hahaha.
Isi the Logic Model adalah Theory of Change (ToC) yang dibuat rumit, yaitu:
-
Deskripsi unsur ToC
- Indikator unsur ToC (indikator membawa kita ke smart goal) – tulis apa yang membuat kita merasa ini akan berhasil atau tidak berhasil.
- Goals (tulis ulang smart golasnya)
- Verification source – melihat data dari berbagai sumber… (misal: dampak KDRT, dll, ini seperti jurnal ilmiah, hal yang membenarkan analisis kita)
- Responsible (siapa saja yang telah mengerjakan yang terbaik di tim)
- Frequency (berapa lama berapa kali latiihan/kampanye)
- User (penerima manfaat)
- Assumptions (ketika kita berasumsi) – bagian dari penelitian.
Diskusi lagi… dan, ini hasilnya…

Alhamdulillah, tiga worksheet selesai. Senang? Iya, donk. Setengah jurnal selesai. Jadi, sekarang masuk ke worksheet selanjutnya.
THE RISK MANAGEMENT
Waktu giliran manajemen risiko tiba, saya semringah. Ini keahlian saya. Tesis saya tentang manajemen risiko. Saya bahkan membantu sebuah instansi pemerintah menyusun manajemen risiko internal mereka. Ini hal yang saya suka dan saya bisa. Mari kita lakukan.
Hal PERTAMA yang kami lakukan untuk menyusun manajemen risiko adalah menentukan SELERA RISIKO (risk apetite). Ini penting. Karena dengan selera risiko yang standar, kami dapat menentukan dan mengategorikan risiko-risiko yang mungkin akan kami hadapi, juga dapat menentukan bagaimana mitigasinya.

Saya menggunakan panduan peraturan kantor saya dalam menyusun selera risiko ini. Panduan tersebut saya amati, tiru, dan modifikasi sehingga membentuk sebuah selera risiko baru untuk TintaLoka.
INI ADALAH SELERA, JADI TIDAK ADA STANDAR BAKUNYA. MURNI KESEPAKATAN TIM.
Dari selera risiko yang telah kami tetapkan, kami pun menulis risiko apa saja yang mungkin terjadi, seberapa besar dampaknya bagi tim, dan seberapa sering risiko ini mungkin terjadi.

Setelah kami menyusun borang manajemen risiko, saya baru menyadari, TintaLoka lebih bayak mengambil langkah memindahkan risiko ketimbang mengurangi dampaknya, hehehe. Itu sudah sesuai kenyataan, sih. Itu lebih mudah bagi kami ketimbang kamu membuang waktu dan energi untuk memitigasi risiko yang seharusnya dapat kami hindari.
Terakhir, mementukan langkah TintaLoka berikutnya.
Stop, Continue, Start
Setelah semua monitoring dan evaluasi yang dilakukan, jungkir balik menentukan input dan Theory of Change, menyusun teh Logic Model, menetapkan Risk Apetite, dan Menyusun Risk Management, saatnya menjalankan langkah berikutnya, menentukan apa yang harus dihentikan, diteruskan, dan dimulai.

Apa yang harus dihentikan dan diteruskan, sudah jelas terlihat dalam borang. Namun, apa yang harus dimulai, mungkin akan menimbulkan pertanyaan. “Kok TintaLoka HARUS MULAI menulis dan membagikan tulisan pada pembaca? Bukannya itu memang sudah default-nya TintaLoka?”
Hayo, siapa yang juga bertanya demikian?
KARENA PENULIS MEMANG HARUS MULAI MENULIS SETIAP HARI.
Itu saja, sih, jawabannya. Hehehe.
Oke, tahap tujuh apresiAKSI sudah dijabarkan dalam jurnal ketujuh ini. Satu bulan penuh diskusi dan stressfull drama karena mentok di input, hahaha, akhirnya terlewati juga. Saatnya melangkah ke tahap berikutnya. Siap? Siap, donk! ^_^
#ApresiAKSI #BundaSalihahBatch3 #KampusIbuPembaharu #InstitutIbuProfesional