Posted by: yettiaka | October 1, 2024

Pekerjaan Rumah Tangga

(Cerpen Yetti A.KA, basabasi co, 3 Mei, 2024)

Sepanjang waktu, Ibu lebih banyak berada di rumah, sementara Ayah bekerja sebagai pegawai pemerintah dan punya usaha sampingan memproduksi sepatu kulit rumahan bersama teman masa kuliahnya. Namun, Ibu tidak menganggap dirinya pengangguran. Kata Ibu, urusan rumah tangga lebih berat daripada pekerjaan apa pun di luar sana. Ayah yang pernah menggantikan Ibu melakukan seluruh pekerjaan rumah tangga selama cuti kerja, mau tidak mau menghargai pendapat Ibu dan menyerahkan uang bulanan yang lebih dari cukup untuk kebutuhan sehar-hari mereka dan Ibu juga bebas belanja yang lainnya. Namun, Ibu tetap hati-hati saat berbelanja di swalayan tiap awal bulan, dan sering kali berkata bahwa mereka harus lebih hemat menggunakan pasta gigi atau tidak menumpahkan sabun mandi cair di lantai kamar mandi.

Read More…

Posted by: yettiaka | October 1, 2024

Lelaki Kota Ini

(Cerpen Yetti A.KA, adakreatif id, 16 November 2023)

Aku mencintainya. Tentu saja aku masih mencintainya. Ketika aku mengirim pesan panjang kepadanya, aku bilang akan pergi dari hidupnya. Dia membalas pesan itu dengan sederhana saja. Baik. Hanya satu kata itu. Setelahnya kami tidak saling berhubungan lagi. Kupikir, semudah itulah aku mencampakkan seseorang dari hatiku.

Read More…

Posted by: yettiaka | October 1, 2024

Dia Ingin Membunuh Seseorang

(Cerpen Yetti A.KA, Jawa Pos, 20 November 2021)

Dia datang kepadaku dan menceritakan rencananya untuk membunuh seseorang. Aku tidak tahu siapa sebenarnya yang ingin dia bunuh. Kami pernah besar bersama di kota ini, sampai dia pindah entah ke kota mana, dan tahu-tahu muncul lagi hari ini dengan cerita mengejutkan itu. Dia sama sekali bukan sejenis anak nakal—setidaknya itulah yang sedikit kuingat tentangnya di masa kecil. Dia nyaris tidak pernah mencari masalah dengan orang lain. Kerjaannya tiap hari adalah belajar. Dia memang cukup pintar di sekolah dan sering juara kelas. Namun, ternyata ada satu rahasia tentangnya yang tidak satu pun orang tahu. Dia membenci kota ini. 

Read More…

Posted by: yettiaka | October 1, 2024

Tato, Ciuman, dan Sebuah Nama

(Cerpen Yetti A.KA, Kompas, 11 April 2021)

Hari masih sangat pagi ketika seorang perempuan ditemukan mati di tepi jalan di depan kedai kebab pada hari itu. Penemuan itu segera menyedot perhatian saat surat kabar memberitakannya dengan judul yang nyaris sama: Perempuan Bertato Burung Gagak Ditemukan Tewas Telanjang, Diduga Korban Pembunuhan. Variasi lain dari judul berita itu menyebutkan nama jalan tempat kejadian atau nama kedai kebab di jalan itu.

Read More…

Posted by: yettiaka | October 1, 2024

Orang-Orang di Kota Ini

(Cerpen Yetti A.KA, Jawa Pos, 20 Desember 2020)

Ia tahu mereka menunggunya di depan pintu. Berjam-jam menunggunya. Danila mungkin tengah meringkuk, kadang mengepit kedua lututnya. Jijin yang buta akan terus bertanya pada Salma tentang warna langit dan Salma yang bisu meminta Danila mengatakan sesuatu kepada Jijin. Namun, Danila tak ingin mengatakan apa pun pada Jijin dan Salma yang keras kepala tak berhenti meminta dan mereka pada akhirnya bertengkar seperti biasa. Danila bisa saja memukul Salma—atau Jijin. Salma bisa pula balik membalas dengan mencakar kepala Danila yang nyaris botak. Jijin yang berjiwa lembut akan menutup telinganya dan menangis terisak-isak karena firasatnya mengatakan sesuatu yang mengerikan tengah mengancam mereka. Danila berdiri dan mengambil benda tajam di dapur. Salma berlari keluar mengambil sepotong kayu. Jijin mengkeret dan bergerak ke sudut ruangan, terus terisak, dan tubuhnya bergetar dan tidak lama barangkali ia akan mati ketakutan. Danila dan Salma saling menyerang. Danila menghunjamkan pisau ke perut Salma. Sebelum roboh, Salma memukulkan sepotong kayu ke kepala Danila dan kepala itu mungkin pecah. Mereka berdua terkapar, bersimbah darah. Kematian segera bekerja dan menyelesaikan semuanya dengan cepat hingga hanya tetesan air dari keran yang sedikit bocor menjadi satu-satunya bunyi yang masih terdengar di rumah itu.     

Read More…

Posted by: yettiaka | October 1, 2024

Di Depan Sebuah Toko

(Cerpen Yetti A.KA, Kompas, 13 Desember 2020)

Aku sampai di toko miliknya. Ia memajang mug-mug ramping—sampai aku berpikir benarkah itu sebuah mug? Piring mini. Cangkir-cangkir kecil. Vas bunga berbentuk botol. Seluruhnya bernuansa monokrom, terpajang di bagian depan tokonya, dalam etalase kaca yang isinya tertata rapi. Aku tidak pernah membayangkan itu semua bagian dari dirinya pada hari ini; cara ia menata toko, pilihan bentuk dan warna karyanya yang keluar jauh dari yang kuingat tentangnya.

Read More…

Posted by: yettiaka | October 1, 2024

Kenapa Telepon Berdering di Hari Minggu?

(Cerpen Yetti A.KA, Jawa Pos, 12 Juli 2020)

Keluarga itu hanya hidup bahagia di hari Minggu—seperti juga, barangkali, keluarga lain di dunia ini. Pada hari Minggu mereka boleh bangun pukul sembilan atau sepuluh, malas-malasan di atas kasur hingga siang, tidak perlu buru-buru mandi, dan seharusnya tak terganggu dengan dering telepon.

Read More…

Posted by: yettiaka | April 20, 2020

Percakapan Singkat tentang Cinta

(Cerpen Yetti A.KA, Tribun Jabar, 19 April 2020)

Tidak jauh dari tempat Lasinta mulai menurunkan berpotong-potong pakaian dari lemari, Big—Lasinta suka memanggilnya begitu, meski lelaki itu punya panggilan yang lebih populer di kalangan keluarga dan teman-temannya, yakni Bado (sebagaimana Big, panggilan ini sama sekali tidak ada kaitannya dengan nama aslinya)—juga melakukan hal yang sama. Ia berdiri di depan lemari yang khusus menyimpan pakaiannya. Menurunkan kemeja, kaus, celana, kaus kaki, topi, dasi, dan lainnya dan mengumpulkan barang-barang itu di lantai untuk disortir mana yang akan ia bawa pergi, mana yang mesti ditinggalkan dan masuk ke dalam kantong sampah.

Read More…

Posted by: yettiaka | April 20, 2020

Penerbangan

(Cerpen Yetti A.KA, Padang Ekspres, 29 Maret 2020)

Kibi menekan ujung rokoknya kuat-kuat ke dasar asbak. Rokok itu seketika hancur. Menyisakan asap tipis dan puntung pendek dengan noda lipstik merah bata—warna yang sama di bibir tebal Kibi. Ia berbicara tentang jam penerbangannya. Temannya berkata, “Kapan kau ingin dipesankan taksi?” Buru-buru temannya menambahkan bahwa mobil mungkin akan kesulitan menembus kemacetan. Hari ini baru saja diadakan acara pembukaan festival kebudayaan tahunan. Warga berbondong-bondong datang dari berbagai sudut kota untuk menyaksikan kemeriahan pawai yang melewati jalan utama—ditambah para turis luar daerah dan mancanegara. Pada jam ini tentunya mereka sedang memenuhi jalanan menuju rumah atau penginapan masing-masing. “Tidak masalah,” kata Kibi seolah itu bukan sesuatu yang perlu dicemaskan. Ia tidak berencana untuk menunda kepulangannya, tapi juga tak menunjukkan bahwa ia harus segera sampai di bandara jika tidak ingin ditinggalkan pesawat.

Read More…

Posted by: yettiaka | April 20, 2020

Seseorang yang Selalu Ingin Pergi

(Cerpen Yetti A.KA, Kompas Id, 29 Februari 2020)

Sekali lagi, ia ingin pergi. Sebagaimana biasanya, ia tak melakukan persiapan apa-apa saat akan meninggalkan kehidupannya di sini, selain menelepon Hamir dan bilang, Ini waktunya aku memilih sebuah tempat yang benar-benar kuinginkan.

Hamir berkata, Sebaiknya kau menyelesaikan segala sesuatu dulu di sana sebelum pergi.

Ia memang kerap lupa tentang itu.   Karenanya Hamir menjulukinya ‘makhluk paling tidak peka’. Kadang-kadang, ia merasa tidak perlu pamitan dengan teman-teman kerja. Ia cukup mengajukan surat pengunduran diri dan segera menghilang. Ia juga merasa tidak harus mengadakan pesta perpisahan dengan beberapa kenalan dekat, orang-orang yang selama ini membantunya atau sekadar menemaninya. Karena itu Hamir memberikan julukan lain: egois, tidak punya hati, sombong, absurd.

Read More…

Older Posts »

Categories

Design a site like this with WordPress.com
Get started