Aikmel telah bergeliat sejak jauh sebelum subuh. Baru saya tahu pada pagi hari, ternyata Pasar Aikmel cukup besar dan sangat ramai. Kami melengkapi berbagai persediaan makanan di pasar sebelum melanjutkan perjalanan ke desa Sembalun Lawang. Setelah mandi dan makan di mesjid tempat menginap, kami berangkat. Waktu menunjukkan pukul 09.30 Ada sedikit sesal karena tidak bisa berpamitan kepada pengurus mesjid yang sudah sangat baik pada kami. Sejak pulang dari pasar, kami tidak bertemu lagi dengan mereka.

Peta Lombok
Perjalanan ke Sembalun Lawang dapat ditempuh dengan menggunakan mobil bak terbuka, atau yang biasa disebut engkel oleh penduduk setempat. Tarif engkel ini adalah Rp 15.000. Menurut supir engkel yang kami tumpangi, dulu perjalanan ke Sembalun Lawang bisa sampai 3 jam lebih karena jalannya memutar melalui Pelabuhan Lombok. Sekarang, setelah jalan langsung ke Sembalun melalui bukit dan hutan diperbaiki, waktu tempuh dapat dihemat menjadi hanya satu jam setengah saja.

Suasana di Engkel dan Rinjani dari Kejauhan
Di engkel kami bertemu dengan seorang bule yang sangat nyentrik. Awal perkenalan, saya pake bahasa Inggris, eh ternyata dianya jago bahasa indonesia. Namanya Yulius, orang Rumania, udah hampir 2 tahun di Indonesia. Dia dapat beasiswa dari pemerintah Indonesia untuk belajar kebudayaan Indonesia di Universitas Andalas, Sumatera Barat. Dia cerita banyak tentang tempat2 yang pernah dia kunjungi di Indonesia, mulai dari Sumatera sampai ke Maluku. Malahan, dua bulan lagi katanya dia mau ke Papua. Yang menarik adalah, dia nggak mainstream. Yulius nggak suka ke tempat2 yang sering dikunjungi bule lain. Mending ke tempat2 yang sepi dan jarang dikunjungi, katanya.
Walaupun agak terkesan sombong, dia lucu juga. Waktu ditanya dia berasal darimana, dia menjawab, “Emang, kalau saya jawab saya dari Rumania, kamu tahu itu dimana?” Wah, naluri geografi saya keluar lagi. “Tau lah!” kata saya yakin banget. “Eropa Timur kan?” Dia manggut-manggut. “Apa ibukotanya?” Hahaha, saya agak ragu jawab pertanyaan ini. Tapi akhirnya saya jawab lagi, “Bukharest!”. Dia manggut-manggut lagi. Kata dia, dia males jawab pertanyaan dari mana asalnya soalnya biasanya orang Indonesia nggak tau Rumania itu dimana. Yee, lo pikir orang Eropa banyak yang tau Indonesia dimana? Taunya paling Bali doang!
Trek yang dilalui engkel dari Aikmel ke Sembalun Lawang cukup ekstrim. Tanjakannya mantap abis, belum lagi jalanannya yang udah keropos, bikin saya yang duduk di bibir bak mobil pegel karena pegangan terus. “Cuma engkel ini, Mas, yang sanggup membawa angkutan ke Sembalun lewat trek ini,” kata supir sebelum berangkat. Engkel yang kami tumpangi melewati hutan, naik ke bukit, berjumpa dengan monyet-monyet abu, juga menghindari lubang yang menganga di tanjakan.
Kami juga mendapat nasihat dari bapak2 yang naik engkel juga buat nggak berbuat seenaknya di Rinjani. Jangan sompral, harus hormat sama alam. Jangan sombong dan mentang2 kuat. “Beberapa waktu lalu juga ada yang mati kedinginan 7 orang di puncak gara2 maksain naik waktu cuaca lagi buruk, padahal udah diperingatin penjaganya,” kata bapak itu. Deg!
Semakin dekat ke Sembalun, jalanan semakin terjal. Di ujung tanjakan terakhir, pemandangan Desa Sembalun akhirnya terlihat juga. Desa yang mayoritas penduduknya berprofesi sebagai petani sayuran ini berada di sebuah lembah yang indah, dengan udara sejuk yang menyegarkan. Indah dan asri banget kerasanya. Ada juga beberapa greenhouse yang menurut si bapak yang tadi memberi nasihat dibangun oleh orang Australia.
Beberapa ratus meter setelah memasukki desa, kami sampai di Rinjani Information Center, kantor pendaftaran untuk para pendaki. Saya dan Jody turun dari engkel untuk mengisi data dan membeli tiket seharga Rp 10.000. Masing-masing dari kami mendapatkan sebuah kartu pendakian berwarna hijau seperti ini. Lumayan, untuk jadi oleh-oleh yang bisa dipamerin, pikir saya. Rinjani Information Center seharusnya merupakan titik awal pendakian, namun supir mengajak kami untuk melanjutkan perjalanan sedikit lagi untuk menghemat waktu pendakian.
Beberapa saat kemudian, kami diturunkan di tengah permukiman penduduk. Saya dan rombongan kemudian bersiap-siap dan melakukan stretching sejenak. Saya kira, si bule Yulius datang ke Sembalun bukan untuk mendaki, karena dia hanya membawa sebuah carrier kecil, mungkin hanya berkapasitas 40 – 60 liter. Namun, ternyata dia juga ikut turun bersama kami dan melakukan berbagai peregangan. Baru beberapa menit saja, dia langsung pamit untuk mendaki duluan dan kemudian berjalan cepat ke arah yang ditunjukkan supir engkel untuk memulai pendakian.

tempat kami turun dari engkel. lumayan, ada saung buat ngaso.

gang di sebelah saung menuju trek ke Rinjani
Setelah briefing sebentar dan mengucapkan doa, perjalanan menuju Puncak Rinjani kami mulai. Saat itu, waktu menunjukkan pukul 11.30 WITA, tanggal 16 Juni 2012. Butuh beberapa saat bagi saya untuk beradaptasi dengan beban carrier yang saya bawa. Rasanya sedikit sesak di dada sebelah kiri saat mulai melangkah. Saya mulai waswas, belum apa-apa, pikiran saya sudah negatif. Namun kata Jody, setiap pendaki memang selalu butuh beradaptasi dengan berat tas yang dipanggul di punggung. Setelah agak lama dan mengatur kekencangan ikatan carrier di pundak dan di pinggang, saya sudah mulai merasa nyaman.
Trek awal pendakian dari Sembalun cukup mudah. Hamparan padang rumput dan kebun sayuran milik warga mendominasi pemandangan. Tanjakannya juga cukup landai dan tanahnya masih ditutupi oleh rerumputan, jadi tidak terlalu licin. Cuaca juga cukup mendukung, udara dingin dan teriknya matahari ber-fussion menjadi udara hangat yang lembut. Kekhawatiran saya yang tidak memakai sepatu gunung dan hanya menggunakan sepatu kets biasa, belum menjadi masalah. Semakin naik, pemandangan Sembalun Lawang terasa begitu damai dan menyegarkan. Semoga saya masih dapat melihat desa ini lagi, pikir saya waktu itu.

dari Sembalun ke Pos 1. (ki-ka) Jody Prasetya, Fajar C. Y. Perkasa, Ilman Sulaeman, Fajar S. D.
Dari Rinjani Information Centre ke Pos 1 biasanya dibutuhkan waktu 4 jam. Karena kami memulai pendakian dari tempat yang lebih dekat, jadi dibutuhkan waktu kira-kira satu jam sampai Pos 1. Sejak awal kami memang telah sepakat bahwa kami nggak akan terburu-buru dalam perjalanan, jadilah kami sampai di Pos 1 terlambat setengah jam. Pos ini hanya berupa saung (bahasa indonesianya gazeebo mungkin yaa) terbuat dari seng dan besi yang dicat hijau dan atapnya sudah tinggal tersisa setengah.
Di Pos 1, sudah ada tim pendaki yang lain. Mereka terdiri dari dua orang perempuan dan seorang laki-laki umur 30 tahunan, dengan jumlah porter yang melebihi jumlah mereka sendiri. Buset, barang bawaan mereka banyak banget, sampai bawa ayam hidup segala, telor yang masih di tempatnya (tau kan, yang biasanya ada lubang2nya gitu, warna abu2), dan makanan yang lainnya. Waktu kami sampai, pas banget mereka baru selesai masak dan makanannya nyisa banyak. Alhamdulillah, rezeki buat kami. Sambil malu-malu kucing, kami pun makan siang dengan mereka. Terima kasih mbak dan mas dari Jakarta yang kocak banget!

setelah puas makan gratis, waktunya berfoto di Pos 1
Jam dua kurang, kami melanjutkan perjalanan ke Pos 2. Kata porter yang kami temui, jaraknya tidak begitu jauh, hanya sekitar setengah jam. Treknya juga hampir mirip dengan trek pendakian awal, hanya mungkin kecuramannya yang bertambah. Ngomong-ngomong soal porter, kami berlima selalu mengagumi mereka. Kekuatannya itu loooh. Kami aja yang udah berbagai perlengkapan dan gear pendakian, barang bawaan yang nggak begitu banyak, dan pakai sepatu, selalu ngos-ngosan dan banyak istirahat. Tapi porter Rinjani, waaah..hebat lah pokoknya. Mereka biasanya pakai tanggungan yang kayak tukang cuanki atau kerak telor. Tau kan? Segala macam ada di tanggungan itu, mulai dari pakaian si pendaki, matras, sleeping bag, tenda, dan perlengkapan makan. Baru kami tahu setelah turun dan menginap di Senaru, berat tanggungan porter2 itu kira-kira 70 kilo. Mereka juga cuma pake kaos oblong atau kemeja, celana pendek, sama sendal jepit yang biasa dijual di warung. Hebat banget lah pokoknya!

Porter Rinjani
Dari Pos 1 ke Pos 2 kami melewati hutan kecil, lumayan nanjak. Banyak bule yang kami temui. Kekaguman kami pada porter bertambah besar waktu ngeliat ada seorang porter yang mengangkut bule yang kayaknya cedera. Biasanya kan kalo ngegendong anak kecil itu di punggung, si porter ini ngangkut si bule di pundak. Saking terpesonanya, kami nggak sempet foto adegan unjuk kekuatan itu. Bule yang badannya gede itu, diangkut di pundak sama seorang porter Indonesia yang badannya mungkin hanya sebahu tinggi si bule. Kuat banget!
Kami sampai di Pos 2 sore hari, sekitar pukul tiga. Pos 2 ini disebut juga Pos Tengengean dan terletak di ketinggian 1500 mdpl. Letaknya di sebuah turunan jalan dan di bawahnya ada sebuah toilet yang jarang dipakai dan saung (gazeebo) yang kondisinya sedikit tersembunyi dan nggak begitu berbeda sama gazeebo di Pos 1. Istirahat sejenak, kami pun langsung melanjutkan perjalanan ke Pos 3, tempat kami akan bermalam. Ternyata jalur pendakiannya cukup menguras tenaga, didominasi oleh tanjakan-tanjakan curam. Untung saja, bekal air minum yang kami bawa dari Aikmel masih cukup banyak. Sebenarnya, di Pos 2 ada sumber air, tapi mungkin karena sedang musim kemarau, kami tidak bisa menemukan sumber air tersebut.

istirahat sejenak di Pos 2
Semakin ke atas, kami semakin sering menemui bukit-bukit terjal berbatu. Kemiringannya bisa mencapai 60 derajat (ini ngarang abis, galatnya bisa gede, tapi emang curam banget). Kadang kami harus berperilaku layaknya seorang spiderman, mendaki tebing-tebing. Sebelum sampai di Pos 3, kira-kira 10 menit perjalanan dari Pos 3, ada Pos Bayangan. Bentuknya juga sama kayak Pos 1 dan Pos 2. Setelah istirahat sejenak, perjalanan kami lanjutkan. Alhamdulillah, perjalanan ke Pos 3 ini dapat kami selesaikan dengan lancar dan cukup cepat. Tepat pukul 17.00 WITA, kami sampai di Pos 3.
Pos 3 terletak di sebuah sungai kering, terhalang oleh tebing yang cukup tinggi, jadi menghalangi angin. Di pos tersebut, telah banyak tenda-tenda pendaki lain yang berdiri. Ada juga tim dari Jakarta yang di Pos 1 tadi memberi kami makanan. Yang cukup membuat kami kaget, ternyata tim Geologi ITB yang kami jumpai di Stasiun Lempuyangan tempo hari sudah sampai di Pos 3 itu dan sudah mendirikan tenda. Ternyata, saat kami naik kereta ke Banyuwangi, mereka naik bis cepat. Sebenarnya, kami sudah mengira mereka juga sudah mulai mendaki karena di Rinjani Information Center, saya dan Jody sudah melihat data rombongan 10 orang dari Bandung, yang dua diantaranya perempuan.

tenda kami di Pos Pada Balong
Sumber air cukup melimpah di Pos 3, atau yang disebut juga Pos Pada Balong. Setelah mendirikan tenda, kami mengambil air dan mulai memasak, makan, lalu tidur. Malam itu kami manfaatkan sebaik-baiknya untuk beristirahat karena besok akan mulai merasakan trek Rinjani yang terkenal curam, yang biasa disebut Bukit Penyesalan. Apa itu Bukit Penyesalan? Nantikan catatan selanjutnya.
Resume :
– Aikmel ke Sembalun Lawang, 09.30 – 11.00, mobil engkel, Rp 15.000
– Karcis masuk di RIC, Rp 10.000
– Sembalun Lawang ke Pos 1, 11.30 – 13.00
– Pos 1 ke Pos 2, 13.45 – 14.45
– Pos 2 ke Pos 3 (Pada Balong), 15.00 – 17.00