-
Bahagia Adalah ‘Obat’ Penyembuh

Diwawancara sama mas Imam Rahmanto dari Radar Bogor. Walaupun saya merasakan ada beberapa penulisan yang terasa ‘kurang pas’. Berikut tulisan yang muncul di Radar Bogor 30 Juni 2020. Continue reading
-
Selamat jalan bung …

Jujur, saya tidak terlalu dekat dengan adik ipar saya yang satu ini. Bukan karena ada masalah di antara kami. Tapi lebih dikarenakan kami jarang ketemu. Jarak antara Cibinong – Condet (yang sebenarnya tidak terlalu jauh), tidak membuat kami sering ketemu. Dan kalaupun ketemu – di rumahnya di Condet, tidak juga membuat kami banyak ngobrol. Hanya Continue reading
-
Sejenak menyapa pagi

“Tumben sendirian.” Aku mendengar suara ibu. Ibu mertuaku. Aku langsung berdiri. Kuraih dan kucium punggung tangannya. Dingin. Mungkin karena masih pagi. Sekilas aku memandang wajahnya. “Ibu rapi banget. Wangi lagi. Parfum melati ya bu?” Aku tidak menjawab pertanyaannya. Aku malahan balik bertanya Tanpa menunggu jawabannya, aku langsung memeluknya. Aura dingin menjamah wajahku. Menjalar ke seluruh Continue reading
-
Diproteksi: Hanya untuk kamu ….
Tidak ada kutipan karena ini adalah pos yang dilindungi password. Continue reading
-
Balada bakso (via kuceritakan pada dunia)
Pas makan bakso Maming, tiba-tiba inget punya postingan tentang bakso juga. Tadi malam, setelah selesai Bina Iman Agatha Yunior, aku langsung meluncur ke rumah bu Theo. Sebenarnya sih naik motor – gak meluncur. Gimana mau meluncur? Selain badanku gede dan pasti akan menjadi pemandangan aneh kalau aku meluncur sepanjang jalan, toh jalan ke arah rumah Continue reading
-
seribu rindu … untukmu
aku mengais kata di antara sore yang memerah kesumba di sela asa yang berserak tak berupa sementara di sana teronggok di sudut senja bayangmu pias meraja tertindih tangis hampa melengos tanpa makna …. aku hanya terpaku berkubang seribu rindu image dari : http://ww2.photolibrary.com/comp.html?similar_id=19685357 Continue reading
-
Akulah laki-laki itu …
Rumah Sakit Umum A. Yani. Metro – Lampung Tengah. Saat itu aku masih tercatat sebagai salah satu siswa di Sekolah Perawat Kesehatan di kotaku. Beberapa kejadian masih teringat sampai sekarang. Atau teringat lagi tepatnya … Seorang laki-laki lusuh yang kelihatan sekali orang kampung. Berdiri kebingugan tidak tahu di mana dia harus mendaftar untuk berobat. Sepasang Continue reading
-
Selamat ulang tahun bidadari
Ulang tahunku Tadi pagi sih biasa-biasa aja sih. Sampai siang dan juga sore tapi waktu bapak pulang, aku minta dibeliin bubur. Padahal aku gak minta ke idolmart. Mungkin karena bapak punya uang atau gara2 aku ulang tahun, aku dibeliin alat tulis dan jepit. Pertama baru masuk sebenarnya pengen beli diary tapi kata bapak belinya di Continue reading
-
Jeritan di tengah malam
Aku sudah mulai terasa ngantuk sejak sore. Dan juga capek. Opera Van Java yang biasanya masih mampu menyedot perhatian, kali ini tidak mampu mengalahkan kantuk yang benar-benar terasa. Aku pasrah. Melepas kacamata dan langsung menyerahkan diri pada lelap yang memang sedari tadi sudah menunggu. Mungkin karena aku lupa untuk berdoa dan mungkin juga karena kondisi Continue reading
-
Aku [masih] ada di sini.
Jalanan gelap. Hujan lebat baru saja berhenti setelah hampir setengah hari mengguyur bumi dengan derasnya. Membuat jalanan yang kami lalui menjadi genangan lumpur. Hujan pula yang membuat kami harus pulang kemalaman. Sepanjang perjalanan dia menggandengku. Tanganku erat dalam genggamannya. Hangat. Sedangkan tangan yang satunya lagi dipakai untuk menggendong adikku. Kami berjalan perlahan. Genangan air di Continue reading
-
Selingkuh pertamaku (2)
Aku langsung menyambar helm dan memakainya. Dengan tidak sabar, aku memacu shogy ke luar komplek perumahan. Begitu sampai di jalan aspal, aku memaksa shogy berlari sekencang mungkin. Jalanan yang masih sepi, membantuku menunggangi motor dengan kecepatan tidak seperti biasa. Bahkan ketika di perempatan pemda Cibinong ke arah stasiun, aku sempat menggeber tungganganku sampai 80 km/jam. Continue reading
-
Kekalahan itu menyakitkan
Aku tidak kuasa untuk melihatnya. Beberapa kali aku menunduk. Sesekali aku bertepuk tangan memberikan semangat. Tenggorokanku tersedak. Tercekat. Kadang aku ingin berteriak kepada mereka. Sekedar memberi arah. Agar keadaan tidak semakin parah. Tapi aku tidak mampu. Atau mungkin juga karena aku sebenarnya tidak tahu. Sesekali aku memandang Detha yang ikut cemas. Sedari tadi bidadariku cerewet Continue reading
-
Selingkuh pertamaku (1)
Akhirnya, aku berselingkuh juga. Dengan tekat bulat dan niat yang mantap, aku memulai perselingkuhan di akhir bulan Juni yang lalu. Kami janjian ketemu pagi buta, jam setengah lima. Ketemu di depan Indomaret di deket gerbang perumahan. Sip! Tapi karena ini adalah selingkuh pertamaku, malamnya aku malah tidak bisa tidur. Aku masih bisa melihat jam menunjukkan Continue reading
-
Aku butuh berselingkuh
Aku tidak pernah berpikiran untuk selingkuh. Sekedar lirik kanan lirik kiri, sekali waktu terjadi juga. Bukan karena takut dosa. Atau gak enak sama tetangga. Atau gak tega sama pasangan yang selama ini (gak yakin juga sih) selalu setia. Tetapi … keadaan yang memaksaku untuk memikirkan perselingkuhan. Kalaupun aku berselingkuh, berarti karena terpaksa. Halah … selingkuh Continue reading
-
Kamu tega …
Aku berharap semoga masalah ini tuntas sebelum aku harus turun di halte Cawang UKI dan melanjutkan perjalanan pulang ke anak dan istriku. “Kamu masih gak ngerti juga ya? Justru kulakukan ini karena aku terlalu mencintai kamu.” Suaranya terisak. Aku menoleh melihatnya. Sejenak mata kami bertatapan. Ada telaga di matanya. Aku mengalihkan pandangan ke luar. Jalanan Continue reading