Semester 6 dengan Teori Keputusan untuk mengambil keputusan

•May 30, 2008 • 1 Comment

Semester 6 dengan Teori Keputusan untuk mengambil keputusan

Kurang lebih selama 4 bulan saya mengikuti kuliah di semester yang memberatkan ini…banyak banget tugasnya, banyak banget begadangnya, banyak banget ngumpul bareng temen2 seangkatan, dan banyak banget tugasnya (nah lo kesebut lagi…tugasnya banyak sih….) tapi yang pasti, banyak banget saya harus mengambil keputusan…mempertimbangkan tugas mana yang harus kita kerjain dulu dan kapan harus ngumpul buat tugas kelompok..yah ujung2nya jadi deadliner….

Semua mata kuliah menarik, salah satunya teori keputusan….kurang lebih ada 11 tugas yang harus saya kerjakan sampai akhir semester….

Kebanyakan sih saya harus membaca jurnal untuk membantu memahami berbagai macam teori keputusan…aplikasi keputusannya juga saya pakai di mata kuliah lain..contohnya kanban..jadi untuk mengalokasi peran tiap2 anggota, kelompok kami menggunakan ahp untuk menentukannya…menarik kan………

Yah kembali bahas tugas-tugas di teori keputusan…oh iya blom saya sebut dosennya…namanya Pa Dachyar..nah beliaulah yang menyuruh kami satu kelas buat tugas sampe 11 buah,,,tiap tugas ada minimal jurnal lah…baca jurnal ga susah sih,cumin bahasa inggris dan ngertiinnya susah…hahahahahaha…

Udah sekarang kembali ke tugas…….intinya tugasnya ada 3 macam,,,nyari jurnal sekaligus baca tuh jurnal dan meresumenya, buat ahpnya pake expert choice,,dan bikin anp pake super decision….berhubung membaca jurnal sulit dimengerti karena ada itung2annya jadi untungnya ada software expert choice dan super decision….saya juga bingung,,masa hari gini masih pake hitung-hitungan manual……

Terakhir ke masalah uas…uasnya cukup mengagetkan karena pada saat sehari sebelum uas terdengar kabar burung (burung ko bisa ngasih kabar…yang buat istilah ini siapa sih) klo hari selasanya ga ada uas,,,eh pas selasa ternyata ada uas…nah pada saat itu teori keputusan saya lakukan….antara 2 software expert choice dan super decision mana yang harus saya pelajari lebih dalam jangka waktu 15 menit…

Jadi keputusannya kaya gini..berhubung super decision dipelajari sekitar 1 bulan sebelm uas,,jadi masih rada ngelotok di otak jadi saya pelajari aja expert choice di sisa waktu 10 menit..dan hasilnya soal yang keluar pake expert choice… what a good decision I had….

Hehehehehehehe

Hasilnya pas ujian disuruh nambahin kriteria dengan bobot 30% akhirnya saya bisa nampilin tuh kirteria pas dengan bobotnya senilai 30%,maklum I’m good in math so I could count it quickly…..

Jadi uasnya bisa de…dengan ngulang 10 menit hehehehe…amin, Alhamdulillah,,,

Sekarang balik kemana yah buat closing…

Balik ke judulnya aja….teori keputusan buat ngambil keputusan….

Jadi teori keputusan apaan yah?

Klo menurut saya semua yang kita pikirin buat ngambil keputusan yah teori keputusan…mao pake metode apa aja ke, cara apa aja ke, referensi apa aja ,, klo dah ngambil keputusan namanya kita dah make teori keputusan….yang pake teorinya yang bener….

Sebagai contoh…klo kita mao makan masa kita mesti bawa-bawa laptop buat ngitung pake anp…yah kelamaan atuh,, klo mao makan yang kita itung duitnya cukup ga buat bayar tuh makanan (maklum anak kos)hehehehehe

Kesimpulannya kuliah ini ngajarin buat ngambl keputusan yang semua keputusan bener cuman hasilnya yang diliat bagusan mana keputusan yang kita ambil ama alternatifnya…

buat selanjutnya mungkin saya akan menggunakan teori keputusan buat milih cw,,tapi berhubung sudah punya pacar ya ga dipake jadi buat milih pekerjaan aja de…maklum kayanya banyak perusahaan yang pengen mempekerjakan saya nih….hehehehe AMIN….

6 Sehabis teori, sekarang Praktek

•April 5, 2008 • 17 Comments

Sehabis mengerti seluk beluk AHP. Sekarang kita berbicara mengenai praktek…

Praktek penggunaan AHP paling enak dengan menggunakan software Expert Choice.

Sebagai contoh:

Kepadatan lalu lintas yang meningkat dengan cepat akhir-akhir ini di kota Jakarta, telah menimbulkan masalah yang cukup serius di berbagai bidang, seperti waktu tempuh perjalanan yang bertambah lama, dan pencemaran udara yang semakin meningkat. Pemecahan masalah ini didekati dengan pemilihan model transportasi yang paling sesuai, melalui suatu kebijakan (Pemerintah) dengan menggunakan Proses Hirarki Analitik. Pemilihan model transportasi pada dasarnya ditentukan dengan mempertimbangkan salah satu persyaratan pokok, yaitu pemindahan barang dan manusia dilakukan dalam jumlah yang terbesar dan jarak yang terkecil. Dalam hal ini transportasi massal merupakan pilihan yang lebih baik dibandingkan dengan transportasi individual. Beberapa usaha yang dapat dilakukan yang merupakan kebijakan dalam rangka menurunkan

tingkat kepadatan lalu lintas di perkotaan, antara lain:

a. Penyediaan busway yaitu lajur khusus untuk angkutan bis kota. Busway atau lajur bis disediakan pada jalur-jalur khusus yang merupakan jalur utama dan padat lalu lintas (contoh: jalur Blok M-Semanggi – Bundaran HI – Bundaran Air Mancur – Harmoni – Setasiun Kota). Di sini diperlukan adanya jalur-jalur pengumpan atau feeder lines, dari sentra-sentra permukiman penduduk menuju ke jalur-jalur utama yang memakai busway.

b. Konsep pembatasan penumpang: (three in one), yang diberlakukan pada ruas-ruas jalan tertentu yang sangat padat, terutama pada jam-jam sibuk (peak hours) masuk dan pulang kerja. Pengaturan lalu lintas berupa pembatasan penumpang (antara lain: “three in one”) dapat mengurangi jumlah lalu lintas.

c. Pembatasan mobil pribadi: yang umumnya dikenakan berdasarkan usia kendaraan. Namun demikian cara ini tidak mudah dalam pelaksanaannya. Untuk mengetahui tahun pembuatan kendaraan bermotor, perlu dilihat Surat Tanda Nomor Kendaraan (STNK) yang dikeluarkan oleh pihak Kepolisian, dan ini berarti harus menghentikan kendaraan untuk memeriksanya. Sudah tentu hal ini akan sulit dalam pelaksanaannya, di samping akibat yang akan timbul berupa antrian kendaraan, yang selanjutnya berakibat dengan terjadinya kemacetan lalu lintas, khususnya pada jalu jalan yang padat lalu lintas.

d. Pembatasan kendaraan umum. Cara ini justru bertolakbelakang dengan tujuan transportasi untuk umum (public transportation), di samping jumlah kendaraan umum yang relatif lebih sedikit dibandingkan dengan jumlah kendaraan pribadi (jumlah kendaraan bis di kota Jakarta hanya 8%) Pembatasan kendaraan umum kurang berdampak terhadap pengurangan volume lalu lintas, bahkan sebaliknya dapat menimbulkan masalah lain dalam transportasi umum.

e. Usaha yang lebih berjangka panjang dengan menambah jaringan jalan dan pembuatan jalan-jalan layang (fly overs) atau underpass untuk menghindari persimpanganpersimpangan sebidang, yang berarti mengurangi kemacetan lalu lintas. Tetapi cara ini membutuhkan biaya yang sangat besar, dan bila tidak dibarengi dengan pembatasan produksi (atau impor) kendaraan bermotor, pada suatu saat akan timbul kembali masalah kepadatan lalu lintas.

f. Sistem Angkutan Umum Massal (SAUM) dengan kereta rel (listrik atau diesel) dapat mengurangi penggunaan angkutan umum bis, mikrolet, dan sebagainya. Namun cara ini membutuhkan biaya yang sangat besar.

g. Pembenahan angkutan umum (bis kota), meliputi penggantian kendaraan bis dengan kendaraan bis baru yang lebih baik dan lebih laik jalan, disertai dengan pendidikan disiplin bagi para pengemudi dan awak bis, pengaturan jadwal dan rute bis yang lebih menyeluruh dan menjangkau semua wilayah dalam kota. Cara ini tidak terlalu mahal dibandingkan dengan SAUM, MRT (subway), atau pembuatan jalan layang dan underpass, tetapi memerlukan kesungguhan dan disiplin dari semua pihak (pengelola, pengemudi, pengatur lalu lintas, dan masyarakat).

Untuk menetapkan kebijakan yang tepat dalam usaha menurunkan tingkat kepadatan lalu lintas kendaraan bermotor di perkotaan, digunakan metode proses hirarki analitik (AHP = Analytic Hierarchy Process), dengan melakukan analisis terhadap ke tujuh cara yang telah disebutkan di atas meliputi empat aspek, yaitu aspek lingkungan, aspek sosial dan budaya, aspek ekonomi, dan aspek pengelolaan (manajemen).

Setiap Aspek Memiliki Sub-kriteria:

1) Aspek Lingkungan

Tingkat Polusi Udara

Infrastruktur Kota yang Rapid an Teratur

Tingkat Kebersihan dan Kenyamanan

Tingkat Kemacetan

2) Aspek Sosial dan Budaya

Tingkat Pengangguran

Tingkat Kesenjangan Sosial

Tingkat Keamanan

3) Aspek Ekonomi

Subsidi Pemda DKI

Biaya Tahunan Kebijakan

Banyaknya Investor

4) Aspek Pengelolaan

Pengadaan Departemen

Perekrutan Pegawai Baru

Penerapan Peraturan

5) Aspek Waktu Merealisasikan Kebijakan

Jangka Panjang, yaitu lebih dari 10 Tahun

Jangka Sedang, yaitu antara 5 sampai 10 tahun

Jangka Pendek, yaitu kurang dari 5 tahun

Dari hasil menggunakan Expert Choice, model transportasi yang dapat dipilih adalah pembenahan angkutan umum.

Jika diurutkan dari ranking 1 sampai terakhir adalah

1. Sistem Angkutan Umum Massal

2. Pembenahan Angkutan Umum

3. Pembatasan Mobil Pribadi

4. Penyediaan Busway

5. Pembatasan Kendaraan Umum

6. Penambahan Jalan, Underpass dan Jalan Layang

7. Konsep Pembatasan Penumpang (three-in-one)

Untuk lihat hasil dari expert choice dapat dilihat dari uploadan yang sudah saya kirim……

wah mohon maaf,filenya ga bisa diupload,,,,soalnya ahp ga bisa dibaca via web

yang mao kasih tau aja…nanti dikirim lewat email

5 Lebih Jauh Mengenal AHP

•April 5, 2008 • 4 Comments

Tak Kenal maka tak sayang….

Jadi biar tambah sayang ama AHP…sekarang saya akan menjelaskan bagaimana caranya melakukan pembobotan pada AHP.

Pembobotan ini fungsinya untuk memberikan peringkat pada kriteria, klo yang dah baca blog-blog sebelumnya, jadi pembobotan digunakan untuk membedakan tingkat kepentingan di antara kriteria, contohnya lebih mementingkan cantik dari pada umur ketika memilih seorang cw.

Jika dalam situasi penelitian, pembobotan dicapai melalui market research atau dengan meminta manager yang berpartisipasi untuk mengevaluasi setiap elemen dalam pairwise.

Nah ada kata pairwise…

Jadi pairwise itu bahasa gampangnya udah dalam bentuk matriks sehingga memudahkan dalamproses perhitungan dalam perbandingan.

Pairwise dibentuk untuk setiap criteria berdasarkan data yang dikumpulkan

Untuk criteria dengan 4 pilihan keputusan adalah sebagai berikut ini:

Trus skala-skala perhitungannya:

Intensity of Importance

Definition

1

Equal importance

3

Weak importance of one over other

5

Strong Importance

7

Demonstrated Importance

9

Absolute Importance

2,4,6,8

Intermediate Values

Reciprocals of the above

If activity i has one of the above numbers assigned to it when compared with activity j, then j has the reciprocal value when compared with i.

1.1 – 1.9

When elements are close and nearly indistinguishable

Trus klo matriksnya udah ada…masih harus kita hitung…

Nah cara menghitungnya:

Jumlahkan values dalam setiap kolom pada pairwise comparison matrix

Bagi setiap elemen dalam matrix berdasarkan jumlah kolom; matrix hasil disebut normalized pairwise comparison matrix

Cari rata2 dari semua elemen dalam setiap normalized matrix. Rata-rata ini menunjukan tingkat kepentingan untuk setiap alternatif

Ngerti kan….

Klo ga ngerti Tanya aja di comment….nanti gua jelasin lebih jelas lagi….

4. SEKALI LAGI MENGENAI AHP

•April 5, 2008 • 1 Comment

yudavedito-0405070607-jurnal-aplikasi-ahp

Pada bagian ini saya akan menjelaskan lebih detail lagi mengenai AHP.

Analytic Hierarchy Process (AHP) merupakan suatu model pendekatan yang memberikan kesempatan bagi setiap individu atau kelompok untuk membangun gagasan-gagasan atau ide-ide dan mendefinisikan persoalan-persoalan yang ada dengan cara membuat asumsi-asumsi dan selanjutnya mendapatkan pemecahan yang diinginkannya. AHP telah digunakan secara luas dalam perencanaan perusahaan, pemilihan investasi, analisa biaya, bahkan untuk kebutuhan militer.

AHP ini bergantung kepada imajinasi, pengalaman dan pengetahuan untuk mampu menyusun hierarki suatu persoalan, dan juga untuk memberikan pertimbangan-pertimbangannya. AHP memperlihatkan hubungan-hubungan elemen-elemen tertentu terhadap puncaknya, dan juga cabang-cabang elemen tertentu terhadap elemen tersebut, sehingga membentuk diagram pohon yang beranting. Untuk mampu mendefinisikan suatu persoalan yang cukup kompleks, maka AHP ini harus terus dicoba berulang-ulang, karena pengambil keputusan akan sulit mengharapkan pemecahan masalah dalam waktu dekat dan segera atas persoalan tersebut.

Gambar 1 Model AHP

Prinsip kerja AHP

Prinsip kerja AHP meliputi:

1. Identifikasi Sistem

Merupakan suatu kegiatan untuk mengetahui karakteristik sistem yang akan dianalisis, apakah sistem tersebut kualitatif atau kuantitatif, dan sebagainya.

2. Penyusunan Hirarki

Hirarki adalah abstraksi struktur suatu sistem yang mempelajari fungsi interaksi antara komponen dan juga dampak-dampaknya pada sistem. Penyusunan hirarki atau struktur keputusan dilakukan untuk mengambarkan elemen sistem atau alternative keputusan yang teridentifikasi.

Gambar 2 Hirarki Pengambilan Keputusan

3. Penentuan Prioritas

Untuk setiap kriteria dan alternatif, perbandingan berpasangan (pairwise comparison) harus dilakukan, yaitu membandingkan setiap elemen dengan elemen lainnya pada setiap tingkat hirarki secara berpasangan sehingga didapat nilai tingkat kepentingan elemen dalam bentuk pendapat kualitatif. Untuk mengkuantifikasikan pendapat kualitatif tersebut digunakan skala penilaian sehingga akan diperoleh nilai pendapat dalam bentuk kuantitatif. Nilai-nilai perbandingan relatif kemudian diolah untuk menentukan peringkat relatif dari seluruh alternantif. Kriteria kualitatif dan kuantitatif dapat dibandingkan sesuai dengan penilaian yang telah ditentukan untuk menghasilkan ranking dan prioritas.

4. Konsistensi

Indeks konsistensi adalah perhitungan matematis untuk setiap perbandingan berpasangan, matrik perbandingan. Indeks konsistensi juga menyatakan deviasi konsistensi. Kemudian indeks acak, sebagai hasil dari respon acak yang mutlak dibagi dengan indeks konsistensi dihasilkan rasio konsistensi. Semakin tinggi rasio konsistensi maka semakin rendah konsistensi, demikian juga sebaliknya.

5. Bobot Prioritas

Hasil perbandingan berpasangan AHP dalam bobot prioritas yang mencerminkan relative pentingnya elemen-elemen dalam hirarki. Terdapat 3 jenis bobot prioritas, yaitu:

1. Local priority weights (LPW)

2. Average priority weights (APW)

3. Global priority weights (GPW)

Nah setelah membaca ini jadi ngerti ga?….hehehehe..

Pasti ngerti dong….

Ada software yang dapat membantu kita dalam menggunakan AHP. Softwarenya bernama Expert Choice. Bagi yang blom punya dapat search di google untuk mendapatkannya.

Trus klo mao contoh kasusnya bisa diambil di uploadan yang udah saya kirim.

3. Sekali lagi tentang Pengambilan Keputusan

•April 5, 2008 • 2 Comments

yudavedito_0405070607_jurnal-decisions-qualitatif-non-teknik1

Sama kaya blog-blog sebelumnya, saya akan menjelaskan mengenai keputusan. Cumin sekarang lebih fokus ke yang kualitatif. Kualitatif di sini berarti yang bukan merupakan angka. Jadi diukur dengan perasaan secara bahasa gampangnya.

Ada jurnal bagus yang dapat memberikan gambaran mengenai pengambilan keputusan yang berbau kualitatif.

Jurnal tersebut berjudul DECISIONS ABOUT CARING AND WORKING.

Jurnal tersebut dapat diambil dari file yang saya upload…..

Pada jurnal tersebut secara garis besar memberikan gambaran mengenai keputusan seorang ibu untuk tinggal di rumah atau pergi keluar untuk bekerja. Jadi sepertinya jurnal ini bagus untuk para wanita.

2. Kelemahan dan Kelebihan Ahp

•April 5, 2008 • 7 Comments

Banyak cara yang dapat digunakan oleh kita dalam mengambil keputusan. Cara yang paling umum dan paling mudah digunakan adalah AHP. AHP kepanjangan dari Aalytical Hierarchy Process…..

Secara teoritis AHP adalah suatu model pendekatan yang memberikan kesempatan bagi setiap individu atau kelompok untuk membangun gagasan-gagasan atau ide-ide dan mendefinisikan persoalan-persoalan yang ada dengan cara membuat asumsi-asumsi dan selanjutnya mendapatkan pemecahan yang diinginkannya.

AHP telah digunakan secara luas dalam perencanaan perusahaan, pemilihan investasi, analisa biaya, bahkan untuk kebutuhan militer.

Tentunya bingung dong klo baca penjelasan secara teoritis. Jadi akan lebih baik jika saya ilustrasikan ke dalam kehidupan sehari-hari.

Sebagai contoh jika saya ingin memilih seorang pacar, tentu saja terdapat beberapa kriteria yang harus dipertimbangkan. Misalnya saya memiliki 3 pertimbangan, yaitu: 1 tampak fisik, 2 tempat tinggal, dan yang ke 3 adalah Umur. Dari ketiga kriteria tersebut kemudian saya berikan prioritas pada setiap kriteria, jadi gampangnya di antara kriteria-kriteria tersebut mana aja yang lebih penting satu sama lainnya.

Kemudian setiap keputusan ada yang dipilih dong…

Nah misalnya ada 5 cw yang suka sama saya, bukan misalnya deng,, emang pasti ada…hehehehe…

Nah kelima cw tersebut kemudian saya bandingkan satu sama lain sesuai dengan kriteria-kriteria yang telah saya prioritaskan. Kemudian pilih cw yang memiliki nilai tertinggi dari kriteria-kriteria tersebut.

NAH..itu dia caranya AHP….

AHP juga memiliki kelemahan dan kelebihan

Kelemahan dulu de, yaitu:

· Penggunaan metode pairwise, yang digunakan untuk mengevaluasi alternatif-alternatif.

· AHP sebagai prosedur untuk menilai alternatif cenderung bersifat arbitrary atau subjektif pada ranking alternatif yang dihasilkan.

· Bukti empiris sebanyak apapun tidak bias benar2 mendukung sebuah teori dengan kontradiksi internal seperti pada AHP. Tetapi, teori tersebut adalah dasar yang baik untuk dikembangkan.

· Pertanyaan-pertanyaan mengenai kevalidan dari AHP sampai saat ini masih belum dapat diselesaikan, jadi kebenaran dari metode AHP belum terbukti 100% tepat.

Kelebihannya:

  • AHP memberikan satu model yang mudah dimengerti, luwes untuk macam-macam persoalan yang tidak terstruktur.
  • AHP mencerminkan cara berpikir alami untuk memilah-milah elemen-elemen dari satu sistem ke dalam berbagai tingkat berlainan dan mengelompokkan unsur yang serupa dalam setiap tingkat.
  • AHP memberikan suatu skala pengukuran dan memberikan metoda untuk menetapkan prioritas.
  • AHP memberikan penilaian terhadap konsistensi logis dari pertimbangan-pertimbangan yang digunakan dalam menentukan prioritas.
  • AHP menuntun ke suatu pandangan menyeluruh terhadap alternatif-alternatif yang muncul untuk persoalan yang dihadapi
  • AHP memberikan satu sarana untuk penilaian yang tidak dipaksakan tetapi merupakan penilaian yang sesuai pandangannya masing-masing.

· AHP memungkinkan setiap orang atau kelompok untuk mempertajam kemampuan logik dan intuisinya terhadap persoalan yang dipetakan melalui AHP.

I. Dimanakah Teori Keputusan digunakan?

•April 5, 2008 • 1 Comment

yudavedito_0405070607_jurnal-decision

Pada bagian ini akan dibahas mengenai tugas-tugas yang telah saya kerjakan mengenai Teori-teori Keputusan.

I.

Dimanakah Teori Keputusan digunakan?

Teori keputusan digunakan setiap saat, kapan saja dan di mana saja. Teori keputusan dapat digunakan untuk hal-hal baik yang bersifat kualitativ, maupun yang kuantitatif. Jadi keputusan ada di kita lakukan setiap saat dan di mana saja.

Contoh-contoh keputusan bisa apa saja, makan pun kita juga harus mengambil keputusan mengenai berapa banyak nasi yang harus dimakan, lauk apa yang digunakan, apakah kita makan karena lapar, atau di mana kita makan.

Banyak hal-hal di dunia ini yang mengandung keputusan, contoh lain jika kita bandingkan dengan kehidupan remaja kita. Kita juga mengambil keputusan dalam memilih pasangan atau biasa yang disebut dengan pacar. Untuk wanita yang memiliki sifat matre, tentu saja mereka akan memilih pria-pria yang memiliki materi yang banyak. Untuk pria, tentu saja pertimbangan yang dilihat adalah kecantikan dan body dari wanita itu sendiri.

Selain kehidupan sehari-hari, keputusan juga digunakan untuk hal-hal yang berbau pekerjaan. Dari jurnal yang saya dapatkan, keputusan digunakan untuk pemilihan model strategi inovasi pada CDFAs di Taiwan. Keputusan yang diambil pada jurnal tersebut dilakukan dengan cara fokus group, yaitu melakukan diskusi secara personal dan kelompok untuk mendapatkan keputusan yang bersifat general. General di sini berarti dapat diterima oleh seluruh anggota kelompok. Untuk lebih jelasnya dapat dibaca pada jurnal yang akan saya upload. Cuman yang ga bisa b.ing jangan baca yah, ga bakalan ngerti de…….

 
Design a site like this with WordPress.com
Get started