
Ini adalah tikungan yang hampir setiap hari saya lalui dengan melaju si merah dengan speed 10-20 km/jam tergantung tingkat kepadatan penduduk di area itu saat itu.
Pertama kali saya lewat di tikungan ini saya melakukan banyak sekali pengereman, dan si hitam (saat itu masih hitam) dengan sekitar kurang dari 10 km/jam, dan penuh keraguan. Maklum ini adalah jalur baru bagi saya dan saya pun baru bisa mengendarai kendaraan roda empat ini.
Tikungan ini adalah jalur dimana saya harus cepat dan tepat dalam membuat keputusan. Hal ini karena, jalur ini bukan jalur satu arah, sehingga hati dan otak saya harus tetap tenang, apapun yang terjadi, termasuk gempuran suara merdu anak-anak yang minta buruan agar bisa dapet bintang di sekolah karena bisa masuk lebih awal daripada teman-temannya. Pun jalur ini juga, di salah satu sisi jalannya, seringnya berderet mobil-mobil yang rehat, alias parkir.
Entah berapa kali sudah dalam 2 tahun ini saya melewati jalur ini, bertemu dan berpapasan dengan berbagai kendaraan baik yang ber-plat maupun tidak.
Suatu waktu di sore hari, dalam perjalanan pulang jemput bocah-bocah, di depan ada pengendara mobil, saya lihat dia terpaksa berhenti di tikungan ini. Saya lihat dari arah berlawanan arah, ternyata ada mobil lain yang mau lewat jalur ini juga. Saya yang berada tepat dibelakang mobil yang searah dengan saya, mencetuskan pikiran pertama yang muncul yaitu “mundur”, prosesnya kira-kira begini hehe, yaitu mata dan otak saya memiliki koneksi yang lebih dari biasanya, dan juga seketika itu hati saya mengatakan “oh tidak bisa !” (tidak mungkin mobil berlawanan arah bisa lewat kalau saya dan mobil depan saya gak mundur), mata saya melihat ke belakang melalui spion besar dan otak berkata “oke, kosong oi!”, lalu memutuskan “ayo mundur”, tangan kiri saya cekatan mengubah posisi persneling dari D ke R, dilanjutkan kaki kanan saya marah-marah (nge-gas :D). Dalam hal ini saya mungkin secara tidak langsung memberikan kode kepada pengendara mobil di depan saya depan untuk mundur, agar tidak terjadi deadlock disini.
Tidak ada waktu berpikir apakah ini harus mundur, terus sedikit mepet kiri, atau lanjut dengan gagah berani langsung belok saja ke kanan, berharap mobil di depan berbaik hati untuk mengalah dan tetap sumringah. Hehe..
Benarlah ungkapan pengalaman adalah guru yang terbaik, saat itu saya tidak perlu menggunakan teori geometri, phytagoras atau rumus kira-kira utk memutuskan apa yang harus dilakukan ketika berada di situasi itu. Seringnya saya melewati jalur itu dengan berbagai kondisi, yang rata-rata ramai (karena jam berangkat sekolah), saya jadi tahu jam-jam berangkat atau pulang di jalur ini seperti apa kondisi dan kepadatannya, maka dengan pengalaman dan pengetahuan tersebut, maka intuisi pun semakin terasah.
Tak berapa lama kemudian, mobil depan pun menyusul mundur, mobil dari arah berlawanan pun bisa lewat dengan leluasa. Akhirnya kemacetan terhindarkan, dan semua lewat dengan lancar jaya.
Pelajaran apa yang bisa saya ambil di sini adalah dua hal, yaitu pengalaman dan pengetahuan. Tanpa pengetahuan dan pengalaman, bisa jadi saya tidak punya intuisi, alias nge-blank, idle π . Pengetahuan tanpa pengalaman, maka tidak akan secepat itu membuat keputusan. Jika ada orang lain yang memberi tahu kepada saya mengenai jam-jam ramai dan kondisi yang mungkin terjadi di jalur itu, mungkin saya akan paham dan hafal. Namun, ketika dihadapkan pada keharusan melewati jalur itu, dan ada kondisi yang ternyata tidak plek ketiplek dengan pengetahuan yang saya peroleh, maka akan kagok juga melewatinya, alias gak luwes, yang berujung pada deg-deg an, takut dapat bombastic side eye dari rekan-rekan sesama pengguna jalan hehe.
Saya bisa saja cari jalan lain yang lebih luas, tapi apa daya itulah jalan satu-satunya jalur agar tidak boros bensin dan agar hemat waktu. Hehe.. Dan juga jika saya paksa cari jalan lain, saya tidak akan pernah lewat jalur itu, bagaimana kalau jalan lain ada hambatan seperti perbaikkan, dan lagi-lagi itu satu-satunya jalan saya antar jemput anak. Masa iya saya parkirkan dulu mobil di ujung jalur ini, dan mengajak anak-anak melajutkan perjalanan dengan berjalan kaki. Ya gak apa apa juga, kalau mau ribet dan ambil aman.
So, pengetahuan dan pengalaman yang terus-terusan dengan berbagai faktor pembeda di dalamnya (misalnya keramaian, kepadatan, cuaca, iklim, arah angin π dan lain-lain termasuk mood anak) membuat saya lebih cepat membuat keputusan dalam suatu kondisi tertentu yang dianggap hambatan, meminimalisir keraguan dan mengeskalasi kemantapan hati.
Begitu pun dalam hal lainnya dalam hidup ini, dengan menjadikan pengalaman yang sudah kita punya, entah itu baik atau buruk menurut perspektif kita, sebagai guru terbaik dalam hidup ini untuk membuat suatu keputusan yang lebih baik lagi di masa depan, semakin luwes dan tenang dalam menghadapi hambatan kehidupan. Jangan takut mencoba pengalaman baru, selama itu sesuai dengan visi dan misi hidup kita, jangan selalu ambil “jalan” aman, keluarlah dari zona nyaman.
Eh tapi ingat tidak semua pengetahuan harus kita buat pengalamannya. Pengetahuan yang baik, keberanian mencobanya dengan jalan yang baik pula, untuk tujuan yang baiklah yang perlu kita miliki. Baik versi siapakah? Baik versi Allah, Robbul ‘Alamin.
Semangat !!!



