Intuition

Ini adalah tikungan yang hampir setiap hari saya lalui dengan melaju si merah dengan speed 10-20 km/jam tergantung tingkat kepadatan penduduk di area itu saat itu.

Pertama kali saya lewat di tikungan ini saya melakukan banyak sekali pengereman, dan si hitam (saat itu masih hitam) dengan sekitar kurang dari 10 km/jam, dan penuh keraguan. Maklum ini adalah jalur baru bagi saya dan saya pun baru bisa mengendarai kendaraan roda empat ini.

Tikungan ini adalah jalur dimana saya harus cepat dan tepat dalam membuat keputusan. Hal ini karena, jalur ini bukan jalur satu arah, sehingga hati dan otak saya harus tetap tenang, apapun yang terjadi, termasuk gempuran suara merdu anak-anak yang minta buruan agar bisa dapet bintang di sekolah karena bisa masuk lebih awal daripada teman-temannya. Pun jalur ini juga, di salah satu sisi jalannya, seringnya berderet mobil-mobil yang rehat, alias parkir.

Entah berapa kali sudah dalam 2 tahun ini saya melewati jalur ini, bertemu dan berpapasan dengan berbagai kendaraan baik yang ber-plat maupun tidak.

Suatu waktu di sore hari, dalam perjalanan pulang jemput bocah-bocah, di depan ada pengendara mobil, saya lihat dia terpaksa berhenti di tikungan ini. Saya lihat dari arah berlawanan arah, ternyata ada mobil lain yang mau lewat jalur ini juga. Saya yang berada tepat dibelakang mobil yang searah dengan saya, mencetuskan pikiran pertama yang muncul yaitu “mundur”, prosesnya kira-kira begini hehe, yaitu mata dan otak saya memiliki koneksi yang lebih dari biasanya, dan juga seketika itu hati saya mengatakan “oh tidak bisa !” (tidak mungkin mobil berlawanan arah bisa lewat kalau saya dan mobil depan saya gak mundur), mata saya melihat ke belakang melalui spion besar dan otak berkata “oke, kosong oi!”, lalu memutuskan “ayo mundur”, tangan kiri saya cekatan mengubah posisi persneling dari D ke R, dilanjutkan kaki kanan saya marah-marah (nge-gas :D). Dalam hal ini saya mungkin secara tidak langsung memberikan kode kepada pengendara mobil di depan saya depan untuk mundur, agar tidak terjadi deadlock disini.

Tidak ada waktu berpikir apakah ini harus mundur, terus sedikit mepet kiri, atau lanjut dengan gagah berani langsung belok saja ke kanan, berharap mobil di depan berbaik hati untuk mengalah dan tetap sumringah. Hehe..

Benarlah ungkapan pengalaman adalah guru yang terbaik, saat itu saya tidak perlu menggunakan teori geometri, phytagoras atau rumus kira-kira utk memutuskan apa yang harus dilakukan ketika berada di situasi itu. Seringnya saya melewati jalur itu dengan berbagai kondisi, yang rata-rata ramai (karena jam berangkat sekolah), saya jadi tahu jam-jam berangkat atau pulang di jalur ini seperti apa kondisi dan kepadatannya, maka dengan pengalaman dan pengetahuan tersebut, maka intuisi pun semakin terasah.

Tak berapa lama kemudian, mobil depan pun menyusul mundur, mobil dari arah berlawanan pun bisa lewat dengan leluasa. Akhirnya kemacetan terhindarkan, dan semua lewat dengan lancar jaya.

Pelajaran apa yang bisa saya ambil di sini adalah dua hal, yaitu pengalaman dan pengetahuan. Tanpa pengetahuan dan pengalaman, bisa jadi saya tidak punya intuisi, alias nge-blank, idle πŸ˜…. Pengetahuan tanpa pengalaman, maka tidak akan secepat itu membuat keputusan. Jika ada orang lain yang memberi tahu kepada saya mengenai jam-jam ramai dan kondisi yang mungkin terjadi di jalur itu, mungkin saya akan paham dan hafal. Namun, ketika dihadapkan pada keharusan melewati jalur itu, dan ada kondisi yang ternyata tidak plek ketiplek dengan pengetahuan yang saya peroleh, maka akan kagok juga melewatinya, alias gak luwes, yang berujung pada deg-deg an, takut dapat bombastic side eye dari rekan-rekan sesama pengguna jalan hehe.

Saya bisa saja cari jalan lain yang lebih luas, tapi apa daya itulah jalan satu-satunya jalur agar tidak boros bensin dan agar hemat waktu. Hehe.. Dan juga jika saya paksa cari jalan lain, saya tidak akan pernah lewat jalur itu, bagaimana kalau jalan lain ada hambatan seperti perbaikkan, dan lagi-lagi itu satu-satunya jalan saya antar jemput anak. Masa iya saya parkirkan dulu mobil di ujung jalur ini, dan mengajak anak-anak melajutkan perjalanan dengan berjalan kaki. Ya gak apa apa juga, kalau mau ribet dan ambil aman.

So, pengetahuan dan pengalaman yang terus-terusan dengan berbagai faktor pembeda di dalamnya (misalnya keramaian, kepadatan, cuaca, iklim, arah angin πŸ˜€ dan lain-lain termasuk mood anak) membuat saya lebih cepat membuat keputusan dalam suatu kondisi tertentu yang dianggap hambatan, meminimalisir keraguan dan mengeskalasi kemantapan hati.

Begitu pun dalam hal lainnya dalam hidup ini, dengan menjadikan pengalaman yang sudah kita punya, entah itu baik atau buruk menurut perspektif kita, sebagai guru terbaik dalam hidup ini untuk membuat suatu keputusan yang lebih baik lagi di masa depan, semakin luwes dan tenang dalam menghadapi hambatan kehidupan. Jangan takut mencoba pengalaman baru, selama itu sesuai dengan visi dan misi hidup kita, jangan selalu ambil “jalan” aman, keluarlah dari zona nyaman.

Eh tapi ingat tidak semua pengetahuan harus kita buat pengalamannya. Pengetahuan yang baik, keberanian mencobanya dengan jalan yang baik pula, untuk tujuan yang baiklah yang perlu kita miliki. Baik versi siapakah? Baik versi Allah, Robbul ‘Alamin.

Semangat !!!

Terlambat, Pagi, atau Lebih Pagi

Sebenarnya sudah lama ingin menulis ini karena hampir setiap hari menemui dan merasakan pengalaman seperti ini ketika dalam perjalanan dari rumah menuju kantor.

Terlambat, Pagi, Lebih Pagi

Ya, mungkin 3 hal ini pada umumnya yang dialami hampir setiap orang yang harus masuk pagi di tempat kerja atau sekolahnya.

Saya bisa saja berangkat kesiangan yang pada ujungnya terlambat, lalu dimarahi atasan, dipotong gaji, sampai kantor berkeringat, berjibaku dengan riuhnya jantung berdebar dengan otak yang ikut overthingking, dan jika kebagian piket kebersihan pagi, tidak bisa melaksanakan piket karena keburu masuk, dan jika tetap melaksanakan piket kebersihan, maka bisa-bisa diomelin karena akan mengganggu kenyamanan rekan-rekan sekantor, yang seharusnya bisa menghirup segarnya udara pagi, tapi malah menghirup debu yang sedang hiruk pikuk di udara. πŸ˜€

Namun ada juga yang berangkat pagi, yang pada ujungnya, bisa tiba tepat waktu, dan tidak menerima konsekuensi keterlambatan, badan tidak berkeringat alias masih segar, bisa menebar senyum karena tidak deg-deg-an, bisa menjalankan piket dengan tenang dan nyaman.

Lalu yang lebih pagi? Hampir sama sih ujungnya dengan yang berangkat dan datang pagi. Jadi lebih memilih datang pagi atau lebih pagi, jika ujungnya sama, yang penting tidak “dihukum” ? Hehe…

Ini adalah pilihan. Saya bisa memilihnya sebagai karyawan, sebagai leader, sebagai manager, sebagai rekan, sebagai pemilik, tergantung sudut pandang yang mau saya pakai. Namun, bagi saya ini adalah tentang proses ketika dari rumah sampai ke tempat kerja, tentang perjalanannya, tentang apa yang saya dapat dan berikan selama dalam perjalanan, tentang apa yang saya lihat, dan tentang-tentang lainnya.

Dalam keadaan berangkat terlambat, saya mungkin akan lebih fokus pada diri sendiri, fokus agar tidak terlambat, fokus pada jalanan dan lampu merahnya, fokus pada penumpang lain yang kalau-kalau menghambat laju kendaraan saya, fokus menjaga nama baik di depan tim, fokus menjaga agar gaji tidak dipotong, dan bisa jadi fokus merutuki pengguna jalan lain yang dianggap bersalah (yang terakhir jangan sampai ya, cukup keceplosan saja hehe, dan lanjutkan dengan evaluasi diri).

Dalam keadaan berangkat pagi, saya bisa melonggarkan tegangnya mata elang saya saat berkendara karena saya bisa lebih tenang, tapi jangan senang dulu, jangan harap kamu mencegah saya melaju lebih cepat. Haha.. Saya tidak akan membiarkan kamu menyalip saya atau memotong jalan saya. Maaf kalau sedikit didramatisir, semoga pointnya dapat.

Dalam keadaan berangkat lebih pagi, ini lebih tenang lagi, setidaknya bagi saya. Saya bisa mengintip kehidupan orang-orang sesama pengguna jalan, mempelajarinya, melihat outfitnya, melihat bersihnya kendaraannya (tidak seperti saya haha), masih bisa memikirkan gimana bisa orang tersebut rajin mempersiapkan dirinya untuk mempersiapkan kendaraannya. Saya bisa memperhatikan seorang ayah yang sedang membonceng anaknya, seorang istri yang sedang memeluk suaminya di atas sepeda motor. Saya lebih mudah mengatakan “sok sok (sok dalam bahasa Sunda artinya “silakan”) yang mau duluan berangkat/ yang mau duluan menggunakan jalan silakan duluaaannn. Silakan salip saya”. Saya bisa mencoba jalan baru sebagai alternatif jalur ke kantor, apakah macet atau tidak. Jika harus membalas chat/menerima telpon, saya masih punya waktu melipir. Bagi yang mau nyeberang, silakannn. Mau beli di pedagang kaki lima, hayuk. Saya bisa melihat berbagai kondisi di jalanan dari yang dianggap beruntung lalu memikirkan bagaimana bisa sebaik dia, sampai yang dianggap kurang beruntung lalu merenungi bagaimana memperluas/memperbesar ruang syukur saya.

So, itulah 3 pilihan yang bisa saya pilih. Ketiganya sama-sama berujung pada “sampai di kantor”. Tapi dalam perjalanannya, bagi saya, memberikan pengalaman dan nilai yang berbeda.

Kalau kamu ?

What You Visualize is What You Get

Belasan tahun lalu pernah menulis tentang WYFIWYG.

ya ini konsepnya masih berkaitan dengan WYSIWYG saat itu, yaitu Apa Yang Anda Lihat Adalah Apa Yang Anda Dapatkan

Wikipedia berkata bahwa “Istilah ini digunakan dalam perkomputasian untuk menggambarkan suatu sistem di mana konten yang sedang disunting akan terlihat sama persis dengan hasil keluaran akhir,[2] yang mungkin berupa dokumen yang dicetak, halaman web, slide presentasi, atau bahkan pencahayaan untuk acara teater.”

Lalu apa itu WYFIWYG ?

Ya, F di sini adalah Feel. Seperti kebiasaan saya adalah ketika mengalami sesuatu, berada dalam suatu kondisi, melihat/mendengar pengalaman orang lain, membaca buku, ngobrol dengan orang lain, dan/atau sebagainya, ketika itu juga mereka terkoneksi dengan hati dan otak saya sehingga memicu keduanya untuk diri ini coba ambil hikmahnya, mencari pengalaman spiritual dalam diri, yang pada ujungnya memicu hal lain salah satunya yaitu “istighfar”.

But anyway, What You Feel Is What You Get, Apa Yang Anda Rasa Adalah Apa Yang Anda Dapatkan, saya memaknainya saat itu adalah ikhlas dan berserah diri (kepada Allah SWT). Membebaskan hati dari hal-hal yang negatif, sehingga hati pun merasa lebih nyaman, tenang, damai. Dari hati yang bersih ini maka akan sangat mudah untuk berpikiran baik pula, dan belakangan saya menyadari kembali tentang keberadaan WYTIWYG (What You Think Is What You Get). 

Lalu apa latar belakang tulisan ini, adalah buku “MULTIFOCUS” Pak Win yang sedang saya lanjut bacanya pagi ini, baru bab 2 tentang VISUALISASI hehe.. Hmm bagi saya ini adalah WYVIWYG (What You Visualize Is What You Get), membayangkan betul-betul sesuatu yang kita impikan, misal keinginan untuk bisa hafal Al Qur’an, maka otak ini membayangkan kondisi ketika kita berada dalam posisi sedang test hafalan 30 Juz sekali duduk dan LULUS lalu dipakaikan selendang wisuda bertuliskan nama kita ditambahkan tulisan “Wisuda Tahfidz 30 Juz”, disambut haru oleh keluarga, dan seterusnya.

Dalam buku ini, yang dapat saya garis bawahi adalah visualisasi yang kuat harus disertai pula dengan keyakinan yang kuat bahwa kemungkinan itu akan terjadi, bukan malah memikirkan dengan kuat ketidakmungkinan tercapainya impian kita karena berbagai macam hal.

So, 

Dari perasaan (Feel) yang baik, akan lebih mudah berpikir (Think) yang baik pula, lalu akan lebih mudah membayangkan (Visualize) hal-hal positif dalam pencapaian impian kita. 

Semoga Bermanfaat πŸ™πŸ»

Mimpi

Sumber Gambar : Internet

ku mau seorang tahu
tapi setelah itu apa
berhenti pada sebuah titik satu
bukan koma

tak berani membayangkan
tak berani berharapan
hanya semu bayangan
bukan pula doa dipanjatkan

kalau juga kenapa
kalau tidak malah retak
aku tak tahu harus berharap apa
aku takut kenyataan menggertak

mungkin ini hanya rasa
yang diliputi banyak prasangka
bukan tentu ini nyata
atau ini hanya khayalku semata

tak ingin hati sakit
tapi diri diliputi bimbang
mau tidak mau akal bangkit
agar tak terlalu tinggi terbang

terus menuliskan kata
belum tentu ini nyata
pergilah wahai mimpi
agar tak seorang pun tersakiti

Sudah Lama

Alhamdulillah, akhirnya bisa login lagi di blog ini. Setelah sekian lama tidak “menulis” rasanya kangen banget. Mencurahkan isi pikiran, hati, atau hanya sekedar mencantumkan sebagian pengalaman hidup. Dan membaca kembali apa yang pernah kutulis merupakan keasyikan sendiri bagiku. Mengenang pengalaman hidup bertahun-tahun lalu, yang sedikit banyak aku menyelipkan pelajaran hidup kala saat itu yang aku tuangkan dalam kata-kata di blog ini.

Ah ayo mulai menulis lagi…

Hari Ibu

Sumber Gambar : Internet

Hari ini, 22 Desember 2012, hari Ibu, semua orang berbicara dan mengucapkan ungkapan kasih sayang kepada Ibu, baik di situs jejaring sosial, televisi, radio.. dan jaringan telepon atau hp semakin sibuk, dan semakin sibuk pemiliknya menyentuh berbagai gadget dan media, tak lain untuk mengungkapkan rasa kasih sayang kepada Ibunya dan seluruh Ibu.. Termasuk postingan serupa, mungkin sedang bertebaran judul postingan “Hari Ibu” di dunia maya dalam menyambut Hari Ibu ini.

Semua berita, bagiku menyentuh, bernuansa haru karena bahagia atau menyedihkan bagiku. Walaupun rasa bahagia atau menyedihkan itu menurut versi diriku sendiri, karena belum tentu demikian yang menyedihkan terasa menyedihkan bagi sebagian Ibu-Ibu di dunia ini, karena mungkin saja hal yang aku anggap menyedihkan itu malah adalah suatu semangat hidup dan bahagia untuk sang Ibu.

Dalam peringatan hari ibu ini, ada lomba balita mengrias wajah Ibunya, sungguh lucu sekali, ada lomba memasak oleh sang suami, dan lain-lain yang terasa menyenangkan. Namun, di bagian lain di negeri ini, ada seorang anak yang tak mengerti hari Ibu, karena sampai seumur ku ini (-+27 tahun) fisiknya yang tak seperti biasa dengan gadis pada umumnya, telah bertahun-tahun kehidupannya dibantu oleh sang ibu. Ya sang Ibu, menggendongnya, memandikannya, memasakkan makanan yang mudah dikunyahnya, karena memang secara fisik sang anak tak mampu melakukannya sendiri, sehingga sang Ibu-lah yang menopang segala hidupnya dengan penuh kesabaran.

Aku tak begitu percaya diri, di sisa umurku ini dapat membalas segala kebaikan Ibu ku sendiri, karena sangat terlalu lama dan banyak, Allah swt telah berkehendak bahwa aku berada di asuhan kasih sayang Ibu ku, sampai detik ini. Namun, aku yakin, Allah swt yang Maha Berkehendak, memperkenankan doa dan keyakinanku, agar aku dapat membahagiakan ibu dan ayahku sebelum aku atau mereka meninggal. Aamiin ^^

So Selamat Hari Ibu ^^

Don’t Judge a Book (Only) by Its Cover

Pagi ini, untuk sekian kalinya aku mempersiapkan keperluan suamiku yang akan ke luar kota karena tugas negara :p bersama salah satu stafnya di perusahaan. Pikiranku sesaat bercabang-cabang mempersiapkan pakaian, gadget, laptop, sarapan, sepatu, yang tentunya beberapa persiapan tersebut ada pre persiapannya, seperti memanaskan nasi, sayur, lauk dan menyemir sepatu. Aku merasa kesepian, walau memang beberapa kali sepagi ini, suamiku harus berangkat ke luar kota. Mungkin hal ini disebabkan sudah tambah waktu kami bersama dalam keluarga kecil kami, apalagi bayi kami yang beberapa bulan lagi akan lahir, sudah cukup aktif merespon ketukan jahil bundanya :p , namun tampaknya masih malu-malu untuk beraksi ketika ayahnya mendekatkan telinga atau memegang perutku.

Ya, setelah pernikahan kami, begitu banyak hal-hal yang telah kulewati dan kurasakan bersama suamiku. Ada suka dan duka. Kok duka ? ya jujur saja, ada masa transformasi dari status “single” ke “double” (menikah maksudnya), yaitu meliputi segala kewajiban dan kebiasaan yang notabene harus mendapatkan ijin (baca : ridho) dari suami ku tercinta. Tapi memang harus begitu, agar ridho Allah swt (bismillah) menghampiriku (dan tentu suamiku yang sangat menyayangiku).

Semakin hari aku semakin terkejut, sosok “seperti itu” kah dulu yang tak pernah aku bayangkan menjadi suami ku. Dulu, berbagai kriteria kupajang di hatiku, terhadap sesosok pendamping hidup yang aku belum / tak tahu siapa, atau bahkan mungkin ada sample-sample yang bertebaran di lingkungan kampus ku. Namun yang ada hanya menjadi penyakit hati. Dan bersama suamiku, aku membuktikan dalam hidupku bahwa jangan menjustifikasi buku hanya dari bungkusnya. Ya kini “orang itu” adalah salah satu guru terbaik dalam hidupku, mengajarkan ku hal-hal sederhana namun dapat mempengaruhi sah atau tidaknya ibadahku, terutama ibadah wajibku. Menghantarkan aku untuk lebih mendekat dengan teladan kami, Rasulullah saw, mengajarkan aku untuk lebih memikirkan secara “serius” apakah Allah swt ridho atau tidak pada ku. Ya setidaknya upaya-upaya yang mungkin selama ini, aku membiarkannya dan terhadap hal yang belum aku ketahui, aku jarang mencari tahu. Alhamdulillah…

Semoga hati suamiku dan aku berlumur pekat cahaya hidayah dan istiqomah yang tak akan pernah luntur seiring jatah hidup kami yang setiap waktu berkurang di dunia ini.

Menjadi manfaat yang sebesar-besarnya untuk agama, keluarga dan orang lain… (dan berdoa tentang hal lainnya untuk jadi lebih baik dan baik)… Aamiin ya Robbal ‘Aalamiin

Foto di Hari Pernikahanku, bersama Budhe dan Pakdhe

Egoism

Segala Puji Syukur hanya kepada Allah SWT.. karena kami (aku dan suamiku) masih bisa bertatap mesra di subuh nan indah diiringi suara alam yang merdu, mengiringi kami yang masih diijinkanNya untuk saling mencintai, saling memperbaikki diri dihadapan Allah SWT, dan mengharap ridho-Nya.

Aku sangat bahagia bersandingkan suamiku ini (Hernawan Adi Wibowo). Semoga kelak kami bisa bersama di salah satu istana yang berdiri megah di surga-Nya. Tentunya para istri lainnya juga hendaknya bersyukur karena telah memiliki suami masing-masing, dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Aamiin.

Usia pernikahan kami masih terhitung sangat baru, yaitu kurang lebih 7 bulan, dan sekarang calon anggota baru sedang asyik dengan kehidupannya di rahimku. Alhamdulillah. Saat awal pernikahan, aku sangat merasakan pahit manisnya transformasi dari status single menjadi status double (menikah maksudnya :D). Egoisku masih ada bahkan, kurasa itulah keegoisan yang memuncak, sehingga sering menciptakan suasana yang tidak mengenakkan. Tapi seiring perjalanan pernikahan kami ini, Alhamdulillah pelan-pelan kami bisa saling mengikis jubah keegoisan yang masih melekat di punggung kami ini saat itu. Dan hal ini, tidak berlangsung lama, asal kita sendiri yang melakukan percepatan untuk menjadi lebih baik dan senantiasa meminta pertolongan-Nya.

Bagi para pasangan di luar sana, aku yang masih terhitung β€œingusan” dalam dunia pernikahan ini, tidak ingin menasihati, hanya berharap semoga keharmonisan dan kasih sayang tulus senantiasa berlimpah dan berkah untuk keluarga masing-masing. Aamiin.

 

My Baby

Alhamdulillah…

Kini aku sedang mengandung anak mas Hernawan Adi Wibowo, suamiku. Usianya sudah masuk 4 bulan. Dalam rahimku dia jungkir balik, lucu… Tapi kasihan, terakhir periksa kemarin, ruang untuk bayiku sempit, karena aku kurang minum. Maafkan bunda sayang, astaghfirullah. Ya sejatinya saran dari dokter setiap 1 jam sekali aku harus minum segelas air. Efeknya aku jadi sering bolak balik kamar kecil hehe.. Tapi tidak apa-apa, demi bayiku agar lincah dan sehat selalu ^^ Untuk bunda yang lainnya, jangan sampai kurang minum yah, kasihan dedeknya.

Tantangan pada tahun ini saat aku mengandung anak pertamaku, salah satunya adalah aku harus segera menyelesaikan thesis ku, dan aku harus wisuda pada Maret 2013. Tak jarang konsentrasiku terganggu dengan hal-hal sepele, astaghfirullah.. Aku berlindung kepada Allah SWT dari amal dan perbuatan yang sia-sia. Aamiin..

Aku harus berusaha konsentrasi melakukan hal-hal yang lebih bermanfaat, seperti membantu bisnis suamiku, menyelesaikan thesisku, dan membuat tulisan yang bermanfaat. Semua kulakukan harus dalam suasana yang menyenangkan. Suasana yang menyenangkan itu tergantung fikiran dan keikhlasan kita. So, jalani semua dengan ikhlas ^^

Alhamdulillah.. bayiku sehat, tidak rewel, semoga kau selalu sehat ya, nak. Bunda dan Ayah sayang padamu selalu ^^

2012

Alhamdulillah..

Kembali ke blog ku yang sempat terlantar sekian lama. Maaf, karena beberapa kali hanya menjadikanmu sebagai tempat curahan kesedihan. Dan untuk selanjutnya semoga aku bisa sharing hal-hal yang lebih bermanfaat melaluimu, blog ku πŸ˜€

Sekarang aku sudah menikah dengan seorang yang aku cintai, yaitu suamiku, Hernawan Adi Wibowo. Dia suamiku, sekaligus “guru”ku. Alhamdulillah.. dari dialah aku lebih memahami secara praktis, sekelumit tentang bersikap ikhlas, dan terutama bersedekah. Ya, sedekah, hal yang sering kulakukan dengan biasa saja, sangat biasa, dan bahkan kurang. Padahal sedekah itu (menurutku) harus diperlakukan dengan sangat luar biasa ^__^ , ya berbagi dengan sesama, hanya mengharapkan ridho Allah swt. Terima kasih sayang ku, suamiku.

Dari kehidupannya pula, Allah swt telah mengajariku memberikan yang terbaik (bukan yang biasa) untuk orang lain. Ya.. sekelumit pengorbanan yang jarang aku lakukan sebelumnya, melainkan hanya 2,5% itu dan beberapa lembar ribu rupiah. Terima kasih ya Allah.

Selain itu, terkait silaturrahim.. ah benar-benar praktis, aku melihatnya dalam diri dia. Beribu-ribu kali.. terima kasih ya Allah..

Semoga aku bisa mempraktikkan dua hal tersebut (sedekah dan silaturrahim) sesuai dengan cara yang Allah swt kehendaki.. Aamiin