• Faidah dari kajian yang disampaikan oleh Ustadz Djanu Abu Habibah hafizhahullah pada Kajian Islam khusus Wali Murid SDI Imam Nawawi Palangkaraya di bulan Juni 2023.

    🌺 Diantara pokok-pokok yang harus difahami orang tua agar bisa bersama ananda di surga adalah:

    1. Mensyukuri nikmat Allah diberikannya seorang anak.
    Barangsiapa bersyukur, maka ia telah mengikat nikmat dengan simpul yang sangat kuat.
    Anak bisa menjadi penyejuk mata bagi orang tuanya. Bisa menjadi perhiasan. Bisa pula menjadi musuh dan cobaan bagi orang tua.

    2. Berbahagia dengan kehadiran anak.
    Sesulit apapun kita mengasuh anak, tetaplah bahagia. Sehingga kita akan giat dan sungguh-sungguh dalam mendidik anak.

    3. Mengubah diri kita menjadi teladan yang baik bagi anak-anak kita.
    Lakukanlah keta’atan dengan penuh kejujuran.
    Allah akan mengumpulkan keluarga yang melakukan keta’atan selama di dunia kelak dalam surgaNya.

    4. Mendidik anak-anak kita.
    Hak anak dari orang tuanya yang akan ditanya oleh Allah adalah mendidik mereka.
    Ilmu yang harus difahamkan pertama kali pada anak adalah tauhid.

    🌺 Beberapa kiat dalam mendidik anak:

    1. Mendoakan anak.
    Meskipun kadang anak membuat jengkel, jangan pernah lupakan mendoakan kebaikan.

    2. Kesabaran yang penuh.
    Mendidik anak adalah amanah berat, maka dibutuhkan kesabaran.

    3. Memilihkan teman-teman yang baik.

    4. Menjauhkan anak dari sarana yang merusak, seperti hp, game, dll.

    5. Memberikan pendidikan dengan mencontoh generasi shalih terdahulu.

    6. Jangan terburu-buru menginginkan hasil yang baik.
    Ingatlah bahwa semuanya terjadi atas kehendak Allah saja.

    🌺 Nasihat tambahan:

    • Menyekolahkan anak bukan “titip”, tapi kerjasama. Sekolah adalah partner.
    • Konsep kasih sayang harus dicontohkan oleh orang tua.
    • Dunia ini bukan untuk tempat bersantai-santai, tapi kita berlelah-lelah dalam melakukan keta’atan.

  • Bulan demi bulan yang terlewati seakan tanpa membaca buku, padahal sebenarnya saya membaca buku, kok. Tapi kadang-kadang juga, sih. Wkwkwk.

    Ada beberapa buku yang saya tumpuk di sekitar saya beredar. Buat saya baca sewaktu-waktu. Cuman saya nggak membacanya dari halaman awal sampai akhir. Sesuka saya saja membuka halaman yang akan dibaca. Entah itu dengan melihat daftar isi dulu atau bahkan membuka halaman secara acak dan membacanya.

    Setidaknya sampai hari ini, ada 4 buah buku yang sedang saya baca-baca saat lagi ingin baca. Bisa dibilang buku favorit saya laaaah. Buku-buku yang seakan benar-benar ngertiin saya di saat saya butuh dimengerti dan dinasihati. Wkwkwk.

    Yang pertama, Renungan Penggugah Iman. Isinya itu tentang kumpulan bahan kontemplasi pendek yang mengajak pembaca untuk selalu ingat Allah dalam setiap detik kehidupan. Setiap baca buku ini saya selalu merasa diwanti-wanti bahwa dunia hanya sementara dan saya diciptakan di dunia bukan tanpa tujuan.

    Kedua, Ya Allah, Aku Pulang. Iyaaa, yang nulis Alfialghazi. Salah seorang penulis yang sedang populer di kalangan anak muda kayaknya. Tapi ya nggak apa-apa laah emak-emak juga suka baca tulisannya kan??? Karena yaaa masih related banget dengan kehidupan saya. Baca buku ini tu kayak semacam disemangati menghadapi apapun yang terjadi.

    Ketiga, Happiness Every Day. Ini buku terjemahan yang awalnya saya intip-intip di Google Books. Eh, kok kayaknya bagus. Saya cari buku cetaknya dong di olshop. Nggak puas kalau tak bisa menyentuh dan membalik lembar demi lembar halamannya secara langsung.

    Naaah, buku Safiya Hussain ini nih yang sering banget saya baca secara acak. Karena ya memang isinya itu semacam afirmasi positif per hari selama setahun. Ada beberapa hal sih yang nggak saya sepakati dengan Safiya Hussain di buku ini. Misal tentang pinjaman bank (itu riba, dong) dan juga meditasi. Tapi buku ini tetap seru buat saya baca. Kayak semacam teman ngobrol yang menyajikan ragam ide dan inspirasi untuk menjalani hari.

    Dan yang terakhir, tentunya Parenting Langit. Buku karya Linda A. Zaini yang kaya ilmu dan perenungan tentang pengasuhan anak. Iyaaaa, saya banyak salahnya sama anak-anak. Kadang suka impulsif menghadapi sikon yang tak terencana. Dan buku ini yang selalu setia mengingatkan saya untuk kembali berbenah dan terus berbenah lagi sebagai ibu. Kok, tiba-tiba suasana mendadak melow.

    Udah laaah segitu aja. Mohon maaf tanpa foto buku-bukunya. Beneran saya sedang malas banget foto-foto. Hasil foto saya itu seringnya kurang bagus. Wkwkwk.

  • Apa warisan yang ingin Anda tinggalkan?

    🌳 Kebaikan yang terus mengalir

    📖 Ilmu yang bermanfa’at

    🍒 Anak-anak yang shalih

  • Bismillah. Akhir pekan lalu, saya mengikuti kajian yang diselenggarakan komite SD tempat anak-anak bersekolah. Materi disampaikan oleh Ustadz Abu ammar al-Ghoyami hafizhahullah. Judulnya bagus sekali, yakni Bekal Pendidik Sukses.

    Saat kajian berlangsung, qadarullah saya cuman bisa fokus di awal-awal kajian. Alhamdulillah pihak sekolah membagikan kembali audio hasil rekaman kajian di grup whatsapp. Saya putar tadi pagi. Ternyata isinya bernas semua. Masya Allah.

    Alhamdulillah saya mencatat beberapa faidah dari apa yang disampaikan Ustadz Abu Ammar. Saya salin ulang di sini sebagai arsip sbb.

    🌺 Mendidik adalah kerja dakwah. Hal yang dilakukan oleh para Nabi & Rasul, yakni mendidik umat agar beriman kepada Allah.

    🌺 Semua Nabi & Rasul merupakan pendidik yang sukses. Mereka semua berhasil dakwahnya walaupun ada Nabi yang bahkan tidak punya pengikut. Karena sukses dalam mendidik bukan dilihat dari keberhasilan anak-anak didik, tetapi bagaimana pendidik telah menunaikan tugasnya dengan baik secara paripurna (hingga mangkat).

    🌺 Teladan seluruh pendidik adalah para Nabi & Rasul. Kita mau cari solusi problem apapun ada pada mereka. Maka lihatlah pada mereka.

    🌺 Pendidikan mencakup dua hal, yakni ucapan (teori) dan perbuatan (teladan). Kedua hal ini saling melengkapi.

    🌺 Bekal untuk para pendidik:

    1. Ilmu tentang tanggung jawab mendidik.
    Mendidik keluarga adalah perintah Allah yang akan dimintai pertanggung jawabannya kelak. Kita diperintahkan untuk mendidik keluarga agar dapat terhindar dari api neraka.

    2. Niat yang ikhlas.
    Ikhlas mendidik hanya mengharap ridha Allah saja. Senantiasa mengingat bahwa Allah yang memerintahkan agar kita mampu mendidik tanpa pamrih. Mendidik dengan cinta dan harapan yang baik. Tanpa mengungkit-ungkit pemberian dan kebaikan. Tanpa menggerutu saat anak didik tidak sesuai harapan. Niat yang ikhlas ini merupakan energi besar di kala lelah melanda.

    3. Ilmu yang disampaikan dan bagaimana cara menyampaikannya.
    Semua yang disampaikan harus berlandaskan ilmu. Mengikuti cara yang dicontohkan para Nabi & Rasul.
    Visi misi pendidikan secara global adalah bagaimana menjaga fitrah anak didik tetap lurus di atas aqidah tauhid. Tanpa penyimpangan apapun.
    Perhatikan urutan prioritas dalam mendidik. Yakni: (1) Aqidah tauhid (syahadatain & rukun iman), (2) Rukun Islam (ibadah fardhu), (3) Ibadah yang lain dan adab-adab yang dibangun dengan dasar aqidah tauhid.

    4. Takwa
    Sebaik-baik bekal adalah takwa. Pendidik yang bertakwa akan menunaikan kewajiban dengan sebaik-baiknya. Ia juga akan mampu memilah materi yang harus diajarkan pada anak didiknya. Kehidupan pendidik yang bertakwa merupakan materi pendidikan yang baik bagi anak-anak.
    Allah menjamin solusi bagi orang-orang yang bertakwa. Maka segera intropeksi diri jika bersua problem yang belum ketemu solusinya.

    5. Doa
    Mintalah kepada Allah agar diberi kemudahan dan pertolongan dalam mendidik. Serta jangan lupa mendoakan anak didik.
    Kita harus menyadari bahwa bukan kemampuan kita untuk mendidik dengan baik, melainkan atas izin Allah Yang Maha Kuasa saja.

    Demikian. Semoga bermanfa’at buat diri saya sendiri maupun yang membaca tulisan ini. Allahu ‘alam.

  • Me time di hari minggu. Si bocah imut sedang pulas tertidur. Sementara dua kakaknya ikut ayahnya ke kajian di Masjid. Benar-benar me time.

    Usai menyeruput air madu + kunyit bubuk yang segar, saya rebahan saja. Menikmati angin dari kipas yang balingnya berderak setiap berputar. Sesekali terdengar suara mesin cuci yang sedang bekerja. Juga suara anak-anak tetangga di teras rumah mereka.

    Mari lupakan sejenak tumpukan pakaian kering yang belum dirapikan. Atau beras yang belum ditanak di rice cooker. Itu hanya jenis pekerjaan yang selalu berkelanjutan di rumah. Tak perlu dipusingkan.

    Lantas saya mau memikirkan apa ya? Rencana ke depan yang belum pasti? Usia saya 23 tahun 117 bulan kini 🤭. Sudah 10 tahun tidak mengajar di depan kelas. Eh, sekarang harus menimbang-nimbang untuk melamar menjadi ibu guru lagi di SD dekat rumah. Yang benar saja?!

    Menjadi ibu guru itu memang menyenangkan. Semacam salah satu passion hidup saya sebenarnya. Tapi saya amat sangat masih ragu untuk mengajukan surat lamaran. Anak bungsu saya baru genap 3 tahun di Oktober nanti. Kakak-kakaknya juga tentu masih perlu perhatian penuh dari ibunya yang jauh dari sempurna ini. So, apakah saya bisa menambah kewajiban lain lagi dengan menjadi ibu guru?

    Suami sebenarnya mendukung sekali saya mengajar. Karena memang SD dekat rumah kami ini kekurangan pengajar yang sevisi dengan yayasan. Tapi gimana ya???

    Ada hal-hal yang akan dikorbankan jika memilih mengajar kembali. Misal seperti waktu istirahat yang berkurang, tubuh yang lelah, jarang memasak sendiri di rumah, dll. Tapi saya berharap bukan termasuk perhatian terhadap anak-anak saya yang juga ikut dikorbankan. Mungkin kembali lagi pada manajemen waktu.

    Ah, hampir terlupa. Tentu saja doa pada Allah yang mestinya paling utama. Meminta padaNya dimantapkan hati untuk memilih yang terbaik ke depannya. Meminta pula padaNya agar dimudahkan segala urusan apapun yang akan dihadapi nantinya. Biidznillah, bersama Allah semua akan terasa mudah.

    Semangat. Semangat. Semangat. 🌻

  • “Apabila Anda menginginkan sesuatu, berdoalah. Berdoalah kepada Allah. Berdoalah hari ini juga. Sederhana, bukan?

    Allah menegaskannya dalam Al-Quran: Bahwasanya Aku dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepadaku. (Al-Baqarah: 186). Seluruh aspek kehidupan Anda bisa berubah berkat kekuatan doa. Nabi bersabda: Doa adalah senjata orang beriman.”

    Dikutip dari buku Happiness Every Day hlm. 213, Safiya Hussain.

    Kalimat yang menghangatkan hati ketika saya baca sore ini. Yup! Berdoa saja. Minta semuanya. Sesimpel dan sekecil apapun yang saya mau. Ingin kemudahan melewati hari? Berdoa pada Allah. Ingin lancar dalam beraktivitas? Berdoa pada Allah. Ingin dipenuhi kebutuhan? Berdoa pada Allah. Senantiasa bergantung padaNya dengan berdoa. Karena sungguh hanya Dia Yang Maha Kuasa atas segalanya.

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai