salaf

Salaf (bahasa Arab: ﻒﻠﺴﻟﺍ ﺢﻠﺼﻟﺍSalaf aṣ-Ṣāliḥ) adalah generasi pertama dari kalangan
sahabat dan tabi’in (dua generasi
pasca sahabat) yang berada di
atas fitrah (dien/agama) yang
selamat dan bersih dengan
wahyu Allah. Yang kemudian dijadikan sebagai salah satu
aliran dalam agama Islam yang mengajarkan syariat Islam secara murni tanpa adanya tambahan
dan pengurangan. Seseorang
yang mengikuti aliran ini disebut
Salafy (as-Salafy), jamaknya
adalah Salafiyyun (as-Salafiyyun). [1] Kemudian para Salafy beranggapan bahwa, jika
seseorang melakukan suatu
perbuatan tanpa adanya
ketetapan dari Allah dan rasul- Nya, bisa dikatakan sebagai
perbuatan bid’ah. Etimologi Arti Salaf menurut bahasa Salafa Yaslufu Salfan artinya
madla (telah berlalu). Dari arti
tersebut kita dapati kalimat Al
Qoum As Sallaaf yaitu orang –
orang yang terdahulu. Salafur
Rajuli artinya bapak moyangnya. Bentuk jamaknya Aslaaf dan
Sullaaf. Dari sini pula kalimat As Sulfah
artinya makanan yang
didahulukan oleh seorang
sebelum ghadza` (makan siang).
As salaf juga, yang mendahuimu
dari kalangan bapak moyangmu serta kerabatmu yang usia dan
kedudukannya di atas kamu.
Bentuk tunggalnya adalah Saalif.
Firman allah Ta’ala: “ …dan kami jadikan mereka
sebagai pelajaran dan contoh
bagi orang-orang yang
kemudian. (Az Zukhruf :56) ” Artinya, kami jadikan mereka
sebagai orang–orang yang
terdahulu agar orang–orang
yang datang belakangan
mengambil pelajaran dengan
(keadaan) mereka. Sedangkan arti Ummamus Saalifah adalah
ummat yang telah berlalu.
Berdasarkan hal ini, maka kata
salaf menunjukan kepada
sesuatu yang mendahului kamu,
sedangkan kamu juga berada di atas jalan yang di dahuluinya
dalam keadaan jejaknya. Arti Salaf menurut istilah Menurut situs Salafy.or.id, Allah
telah menyediakan bagi ummat
ini satu rujukan utama di mana
mereka kembali dan menjadikan
pedoman. Firman allah Ta’la: “ Sesungguhnya telah ada pada
(diri) Rassullah itu suri teladan
yang baik bagimu (yaitu) bagi
orang yang mengharap
(rahmat) allah dan
(kedatangan) hari kiamat. (Al- Ahzab: 21) ” Allah juga menerangkan bahwa
ummat ini mempunyai generasi
pendahulu yang telah lebih
dahulu sampai kepada hidayah
dan bimbingan. Allah berfirman : “ Orang – orang yang terdahulu
lagi yang pertama-tama (masuk
islam) di antara orang-orang
muhajirin dan anshar mengikuti
mereka dengan baik allah ridha
kepada mereka dan mereka ridha kepada allah. (At-Taubah
100) ” Tiga generasi utama Berdasarkan hadits dari nabi,
bahwa generasi terbaik dari
umat Islam adalah para sahabat, tabi’in dan tabiu’t tabi’in. [2][3] Generasi awal Rasul Muhammad dan para sahabatnya Generasi kedua Abd al-Rahman bin abd-Allah Abu Hanifah Abu Muslim al-Khawlani Abu Suhail an-Nafi’ bin ‘Abdul
Rahman Al-Qasim bin Muhammad bin
Abi Bakr Al-Rabi bin Khuthaym Ali Akbar Ali bin Abu Talha Ali bin Husayn (Zain
al-‘Abidin) Alqama bin Qays al-Nakha’i Amir bin Shurahabil ash-
sha’bi Ata bin Abi Rabah Atiyya bin Saad Fatimah binti Sirin Hasan al-Bashri Iyas bin Muawiyah al-Muzani Masruq bin al-Ajda’ Muhammad bin al-Hanafiya Muhammad bin Wasi’ al-Azdi Muhammad bin Sirin Muhammad al-Baqir Muhammad bin Muslim bin
Shihab al-Zuhri Muhammad bin Munkadir Musa bin Nussayr Qatadah Rabi’ah al-Ra’iy Raja bin Haywah Rufay bin Mihran Sa’id bin Jubayr Said bin al-Musayyib Salamah bin Dinar (Abu
Hazim Al-A’raj) Salih bin Ashyam al-Adawi Salim bin Abdullah bin Umar
bin al-Khattab Shuraih al-Qadhi Tawus bin Kaysan Umar bin Abdul-Aziz Umm Kulthum binti Abu Bakr Urwah bin al-Zubayr Uwais al-Qarni Generasi ketiga Abd al-Rahman al-Ghafiqi Imam Hanbal Ja’far ash-Shadiq Malik bin Anas Imam Asy-Syafi’i Tariq bin Ziyad