Mencecap Sejuknya Air Terjun Kuning di Ceruk Bangli

“Minggu depan mau ke Bali nih! Enaknya kemana ya?”

Saya sering mendapat pertanyaan demikian dari teman-teman saya yang akan berlibur ke Bali. Kalau saya menyebutkan: Kuta, Bedugul, Ubud, Sanur, atau Tanah Lot, maka sebagian besar mereka sudah pernah mengunjunginya. Sedangkan saya sendiri yang sudah tinggal cukup lama di Pulau Bali, ternyata belum menjelajah banyak tempat selain spot yang sudah terkenal dan seringkali dijejali para pelancong. Padahal masih banyak daya tarik wisata di Pulau Dewata ini yang sangat indah tetapi masih relatif sepi pengunjung. Misalnya Air Terjun Kuning yang baru sempat saya kunjungi beberapa bulan yang lalu.

Dari tempat tinggal saya di wilayah Mengwi, jalur terpendek menuju Air Terjun Kuning yaitu melalui kawasan Ubud. Selanjutnya google maps menyarankan saya menuju arah Jalan Raya Goa Gajah, Jalan Mahendradata, terus hingga belok kiri di Jalan Raya Samplangan ke arah Kintamani. Saat tiba di Jalan Merdeka, Bangli, ternyata sinyal GPS di handphone saya kacau hingga membawa saya ke pusat Kota Bangli. Saya memutuskan kembali ke Jalan Merdeka dan bertanya kepada penjaga minimarket yang ternyata tidak mengetahui lokasi air terjun tersebut. Saya kembali mengandalkan google maps dan bertanya kepada dua orang anak sekolah yang saya temui hingga akhirnya saya berhasil menemukan plang kecil penanda jalan menuju air terjun.

Air terjun ini diberi nama Air Terjun Kuning karena terletak di Dusun Kuning, Desa Tamanbali, Kecamatan Bangli, Kabupaten Bangli. Tempat tersebut mungkin baru dibuka untuk umum dan saat ini hanya dikelola oleh penduduk banjar setempat, sehingga belum memiliki fasilitas umum penunjang. Tidak ada tiket masuk resmi ke Air Terjun Kuning. Kita hanya perlu membayar seikhlasnya dan mengisi buku registrasi yang dijaga oleh beberapa anak di gubuk kecil. Tidak ada area parkir khusus bagi pengunjung. Kita dapat memarkir kendaraan di tepi jalan agar tidak mengganggu kendaraan lain yang melintas dan pastikan kendaraan terkunci dengan baik.

Saat saya tiba di sana, hanya ada satu sepeda motor yang terparkir di depan jalan masuk. Penanda jalan masuk hanya berupa kertas berlaminating yang dipaku ke pohon. Jalan masuknya yaitu jalan setapak yang dipagari pepohonan rindang. Menurut informasi dari seorang bapak yang berpapasan dengan saya di dekat pintu masuk, waktu tempuh menuju air terjun sekitar 30 menit.

Kuning1

Jalan Masuk menuju Air Terjun Kuning

Udara sejuk dan bunyi-bunyi serangga hutan menyambut saya siang itu. Karena hujan yang mengguyur beberapa hari sebelumnya, jalanan menjadi sedikit licin. Bahkan ada beberapa bagian tanah yang longsor dan batang pohon roboh yang menghalangi jalan. Setelah berjalan sekitar sepuluh menit, jalan setapak yang semula landai berubah menjadi jalan menurun yang agak curam.

Kuning2

Batang Pohon yang Roboh Menghalangi Jalan menuju Air Terjun Kuning

Di kejauhan mulai terdengar suara gemuruh air terjun yang membuat saya semakin semangat untuk segera tiba. Ternyata, jalan yang menanti di hadapan saya yaitu jalan turun berupa batu-batu yang dipahat membentuk tangga di tebing yang sangat curam. Ada juga beberapa bagian yang berupa tanah yang licin. Dengan berpegangan pada akar-akar pohon di kanan-kiri jalan, saya mengendap pelan dengan sangat hati-hati agar tidak terperosok. “Kalau sampai jatuh sendiri di hutan begini, siapa yang menolong?” Pikir saya saat itu.

Suara air terjun terdengar semakin jelas. Setelah melalui semak-semak pepohonan, akhirnya saya melihat air yang mengguyur deras pada tebing vertikal dengan tinggi sekitar 20 meter. Di bawahnya terdapat kolam kecil alami yang menampung air dan mengalirkannya ke sungai. Untuk mencapai bibir kolam, kira harus menuruni batu besar yang cukup licin hingga membuat saya hampir terpeleset. Di tepi kolam itu kita bisa berendam sambil menikmati kesejukan air sambil memandang dinding air terjun yang menjulang.

Kuning3

Air Terjun Kuning

Berada di tengah alam yang sunyi dengan udara segar memang menenangkan. Kita dapat merasakan sensasi menyatu dengan alam, jauh dari hiruk pikuk, dan sejenak melupakan rutinitas kerja. Selain saya, saat itu hanya ada dua orang turis asing perempuan asal Jerman yang sedang menikmati bekal makan siang sambil menikmati indahnya air terjun. Mereka mengaku mengetahui keberadaan air terjun tersebut melalui internet sehingga memutuskan untuk singgah saat perjalanan pulang menjelajah Danau Batur.

Meskipun betah berlama-lama di sana, saya memutuskan untuk segera beranjak karena mendung mulai mengepung. Saya khawatir jalan akan semakin licin atau malah longsor saat hujan. Setelah ngos-ngosan melalui medan terjal, akhirnya saya tiba di tempat memarkir sepeda motor dengan aman.

Penjelajahan ke Air Terjun Kuning ini bisa saya rekomendasikan kepada teman-teman saya yang akan berkunjung ke Bali. Sekarang saatnya mengeksplorasi surga tersembunyi lain di Bali yang tidak kalah indahnya dengan tempat lain yang sudah lebih dulu populer. Rasakan sensasi menjelajahi pelosok bali dan bertemu penduduk setempat dengan sapaan yang hangat sambil mencicip kuliner lokal. Jika ada kesempatan liburan panjang atau akhir pekan, maka jangan membuang kesempatan berlibur ke Pulau Seribu Pura ini. Terbang ke Bali hanya semudah mengunjungi website tiket.com dan pesan tiketnya melalui website tersebut, selanjutnya petualangan ke Bali akan menjadi momen liburan yang tidak terlupakan.

 

 

 

 

Pengalaman Tes CPNS

Beberapa hari terakhir, linimasa saya di Facebook dibanjiri informasi mengenai Penerimaan CPNS Tahun 2017. Bahkan ada juga pesan berantai yang dikirim melalui group WhatsApp yang ternyata hoaks. Bagi teman-teman yang sedang mencari informasi yang faktual, autentik, dan terpercaya terkait Penerimaan CPNS 2017, maka sebaiknya hanya mengacu pada kedua link berikut ini: https://www.menpan.go.id/ dan https://sscn.bkn.go.id/.

Karena adanya pertanyaan seorang teman melalui whatsapp yang menanyakan tip untuk lolos tes CPNS, maka saya membuat tulisan ini untuk berbagi pengalaman saat saya ikut seleksi CPNS sepuluh tahun lalu sekaligus mencoba menaikkan traffic pengunjung blog yang tidak kunjung meningkat.

Ilustrasi Tes Tulis CPNS. Sumber: google

Berikut ini adalah beberapa hal yang saya siapkan saat mendaftar CPNS pada akhir tahun 2007 lalu yang mungkin juga dapat menjadi masukan bagi teman-teman yang akan mendaftar CPNS tahun ini:

1. Siapkan Dana

Jika ada yang mengatakan bahwa mendaftar CPNS tidak memerlukan biaya, maka jangan percaya! Eiits, biaya disini bukan berarti suap ya! Sekali lagi, jangan terkecoh dengan iming-iming oknum yang menjanjikan posisi tertentu. Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi sudah menjamin bahwa penerimaan CPNS tahun ini bersih dan bebas suap.

Biaya yang diperlukan mencakup  biaya transportasi saat pengurusan dokumen dan biaya untuk keperluan pribadi selama mengikuti tes CPNS. Saat itu, saya harus wira-wiri mengurus legalisir ijazah dan transkrip ke kampus di Bandung, mengurus Surat Keterangan Catatan Kepolisian (SKCK) di Polsek dan Polres di kota asal, mengurus Kartu Pencari Kerja (Kartu Kuning) di Dinas Tenaga Kerja, serta hijrah dan menumpang di kost teman saya di Bandung dan Jakarta untuk ikut seleksi di lima Kementerian/Lembaga.

Selain itu ada juga biaya-biaya sedikit yang jika dikumpulkan bisa menjadi bukit, misalnya cetak foto, printing dan scanning, fotokopi dokumen, dan biaya nongkrong di warnet (saat itu belum menggunakan paket data internet di handphone) demi mengupdate informasi.

2. Ikuti Syarat dan Ketentuan

Kriteria, persyaratan, dan tata cara pendaftaran CPNS adalah ketentuan mutlak yang wajib diikuti oleh pelamar. Jangan pernah mencoba-coba mengurangi syarat yang telah ditetapkan oleh panitia penerimaan CPNS. Jika syarat umur maksimal adalah 30 tahun, maka yang berumur lebih dari 30 tahun jangan melamar. Jika diminta membawa ijazah asli, maka jangan hanya mengumpulkan fotokopi ijazah. Jika diminta mengumpulkan fotokopi SKCK yang telah dilegalisir, maka jangan menyerahkan fotokopi SKCK yang sudah tidak berlaku. Jika ditentukan syarat TOEFL minimal 550, maka yang nilai TOEFL-nya di bawah syarat tersebut sebaiknya tidak mendaftar. Pelajari seluruh persyaratan di masing-masing instansi dan sebaiknya disiapkan jauh hari supaya tidak ada yang tertinggal atau malah terlambat mendaftar. Sekali lagi, kriteria, persyaratan, dan tata cara pendaftaran masing-masing instansi dapat dilihat di laman ini: https://www.menpan.go.id/ dan https://sscn.bkn.go.id/.

3. Belajar

Saya pernah sangat kecewa karena gagal lolos tes uji kemampuan bahasa inggris di salah satu instansi yang sangat saya impikan. Saat itu saya sama sekali tidak menyiapkan diri untuk tes bahasa inggris padahal saya sadar kemampuan bahasa inggris saya masih kurang.

Siapkan dan bekali diri dengan pengetahuan terkait dengan tes yang akan diikuti. Walaupun background pendidikan saya IT, saya juga mempelajari sedikit tentang tata negara dan perundang-undangan serta membaca berita-berita faktual untuk mengetahui isu-isu terkini. Selain itu tidak ada salahnya untuk membuka kembali materi kuliah sebagai bahan saat menghadapi tes kompetensi bidang. Sebelum tes wawancara, sebaiknya gali informasi sebanyak mungkin mengenai instansi bersangkutan supaya tidak blank saat dites. Jika instansi yang dilamar mensyaratkan tes fisik, maka ada baiknya sedini mungkin menyiapkan diri agar bugar saat pelaksanaan tes.

4. Siapkan Fisik dan Mental

Pendaftaran CPNS 2017 jauh lebih memudahkan bagi pelamar dibandingkan dengan saat saya mendaftar sepuluh tahun lalu. Saat ini pelamar hanya perlu mendaftar dan mengunggah persyaratan pendaftaran secara online dan tidak perlu antre lama hanya untuk sekadar mengambil kartu ujian.

Saya masih ingat ketika harus antre selama dua hari berturut-turut sampai dengan sekitar pukul 19.00 demi mendapatkan selembar kartu ujian di salah satu kementerian yang melakukan seleksi administrasi di bilangan Gede Bage, Bandung. Saya juga ingat pernah menunggu berjam-jam di ruangan kecil dan pengap demi menunggu dua orang pegawai yang menyeleksi kelengkapan berkas ratusan pelamar di instansi yang berkantor tidak jauh dari Tugu Tani, Jakarta.

Tantangan fisik dan mental tidak hanya berhenti saat pendaftaran saja, namun juga saat pelaksanaan tes. Saya pernah kesal gara-gara panitia tes tidak menyiapkan tes tulis dengan baik. Ruangan untuk tes tulis yang dilaksanakan di sebuah kampus di Jatinangor, tidak dilengkapi dengan keterangan nomor ujian. Sehingga peserta kebingungan dan akhirnya asal masuk ke suatu ruangan dan berpindah ke ruangan sebelahnya jika ruangan sudah penuh. Persis seperti angkot! Selain itu saya juga pernah mendapat pengalaman kurang menyenangkan saat nyasar menggunakan Kopaja menuju lokasi tes wawancara di instansi yang terletak di Cilandak, Jakarta. Untung saja saya sudah menyiapkan waktu lebih awal sehingga tidak sampai terlambat.

Kesiapan mental juga diperlukan saat pengumuman hasil kelulusan. Saya yang mendaftar di tujuh instansi, hanya lolos seleksi administrasi di lima instansi. Dari lima tes tulis di instansi yang saya ikuti tersebut, saya hanya berhasil lolos ke tahap wawancara di dua instansi. Hingga akhirnya Alhamdulillah saya berhasil lolos hingga tahap akhir di satu instansi.

 

Selamat menyiapkan diri untuk tes CPNS. Semoga mendapatkan hasil menggembirakan dan dapat menjadi aparatur sipil negara teladan demi mewujudkan tata kelola pemerintahan yang semakin baik!

 

(Berpura-pura) Bahagia ala Saya

Bagaimana komentarmu jika melihat gambar berikut ini muncul di linimasa Facebook dari akun saya?

WhatsApp Image 2017-05-20 at 20.28.40

 

 

 

 

 

 

 

Jika kamu berkomentar “Waah indah ya. Ini di Bali sebelah mana?” atau “Kalau aku ke Bali, ajak ke sana dong!” maka komentarmu mirip dengan komentar beberapa teman Facebook saya.

Faktanya, foto kebun bunga yang cantik itu berada cukup jauh di pelosok banjar berjarak beberapa ratus meter dari kantor saya yang saat itu terletak di Jalan Raya Denpasar-Singaraja. Tidak jauh dari kebun bunga itu terdapat sungai kecil, dan di sungai kecil itulah saya sedang menemani rekan-rekan saya yang sedang memperbaiki pipa air yang seharusnya mengaliri perumahan pegawai. Karena hujan deras pada malam sebelumnya, saya yang saat itu bertugas di General Affair Department harus ikut serta memperbaiki saluran air dari mata air tersebut. Iya, saya sedang bekerja. Bukan sedang liburan. Berikut ini adalah behind the scene foto kebun bunga tersebut.

WhatsApp Image 2017-05-20 at 20.28.40 (1)

Kemudian, kalau saya mengunggah gambar berikut ini di Instagram saya, bagaimana menurutmu?

Untitled2

Kalau kamu berkomentar “Sunsetnya bagus! Di Bali enak ya, bisa jalan-jalan terus.” , maka komentarmu serupa dengan komentar beberapa teman Instagram saya.

Kantor saya saat ini memang hanya berjarak sekitar 2 kilometer saja dari pantai di kawasan Legian. Saat suntuk dengan pekerjaan di kantor yang menumpuk, saya bisa kabur ke pantai saat jam istirahat atau menanti sunset sepulang jam kerja. Tapi bukan berarti pekerjaan saya hanya jalan-jalan saja. Kenyataannya, beberapa puluh menit sebelum saya mengunggah foto sunset tersebut, saya sedang berjibaku dengan tugas-tugas kantor.

WhatsApp Image 2017-05-20 at 20.29.47

Mengapa saya memilih mengunggah foto kebun bunga dan foto sunset di media sosial dibanding foto pekerjaan? Karena saya sedang (berpura-pura) bahagia! Untuk apa? Karena saya tidak ingin mengganggu timeline teman-teman saya dengan mengunggah foto-foto pekerjaan sambil berujar:

“Haduh. Panas-panas begini di tengah sawah dari tadi belum kelar juga. Mending diam di kantor deh”

“Bosen banget. Kerjaan nggak habis-habis! Yang bener aja dong boss…”

Saya percaya kalau kita melakukan hal-hal negatif, maka lingkungan akan mengembalikannya kepada kita. Ibarat kata pepatah: siapa menabur angin, akan menuai badai. Termasuk juga dengan hal-hal kecil yang kita lakukan di media sosial. Dari laman Facebook, YouTube, Instagram, atau Twitter kita bisa memilih untuk mengungkapkan hal-hal baik atau malah mengeluarkan sindiran, hujatan, makian, dan komentar negatif lainnya. Bagi saya, jika memang ada masalah yang perlu diselesaikan, maka tuntaskanlah di dunia nyata. Kalau kita mengumbarnya di media sosial, bukannya menyelesaikan masalah, malah semakin memperumit.

Lalu, apakah harus berpura-pura bahagia terus? Tentu tidak! Kita bisa mengupayakan kebahagiaan dengan beberapa hal berikut ini

  1. Berdoa

Walaupun mungkin cara ini terdengar sepele. Tapi, bisa jadi cara yang paling ampuh! Dengan kita mendekatkan diri kepada Tuhan dan mencurahkan segala uneg-uneg kepadaNya, kita bisa lebih tenang dan yakin dalam menghadapi persoalan hidup. Coba bandingkan dengan curhat di media sosial. Bukannya tenang, terkadang malah mendapat komentar “Cieee galau nih?”.

2. Bergaul dengan teman-teman yang menyenangkan saja

Bagi saya, cara ini juga penting. Kamu nggak mau kan kalau sepanjang waktumu di media sosial dihabiskan dengan membaca keluhan dan makian teman-teman saja? Dari pada ikut tertular galau, lebih baik unfollow saja!

3. Traveling

Pernah dengar celetukan “kurang piknik” bagi galauers kan? Menurut saya, hal itu ada benarnya. Dengan traveling, kita bisa melihat tempat-tempat indah, mencoba kuliner suatu daerah, atau mengenal budaya baru. Setelah traveling, pikiran kita bisa lebih terbuka dan lebih fresh dalam menjalani hari-hari berikutnya.

4. Olahraga secara teratur

Awalnya tidak perlu muluk-muluk harus lari marathon, berkuda, atau panjat tebing. Mulailah dengan olahraga ringan, misalnya berjalan kaki setiap pagi selama setidaknya 30 menit. Dengan berolahraga, kita dapat membuang perasaaan-perasaan negatif, menghilangkan bad mood, suntuk, murung, sedih, dan menjadikan tubuh lebih segar. Untuk mencukupi kebutuhan cairan tubuh selama berolah raga, pastikan kita cukup minum. Herbadrink Sari Temulawak yang diolah dari ekstrak murni bahan pilihan dan tanpa pengawet bisa menjadi pilihan yang sesuai! Minuman herbal alami yang dibuat berdasarkan resep tradisional Indonesia ini baik untuk menjaga kesehatan fungsi hati dan membantu memperbaiki nafsu makan.

WhatsApp Image 2017-05-20 at 20.29.18

WhatsApp Image 2017-05-21 at 00.31.15

Jadi, mau (berpura-pura) bahagia?

Herbadrink Blog Compeition: Life Style Story with Sari Temulawak

Ke Jawa Tengah, Kami selalu Kembali

​Cerita mudik masa kecil saya dijejali dengan kenangan akan perjalanan dua puluh jam dari rumah di Bondowoso menuju rumah nenek di Cilacap. Menunggu bus dini hari di Terminal Tirtonadi Surakarta, tiba pagi buta di tepi jalan raya Kebumen-Banyumas, naik becak berkilo-kilo meter ke rumah nenek di Desa Nusawangkal, hingga naik andong menuju Stasiun Kereta Api Kroya untuk pulang lagi. Setelah absen mudik selama delapan tahun sejak nenek berpulang, akhir tahun lalu kami sekeluarga berkesempatan lagi mengunjugi kampung halaman dimana Ayah saya lahir dan dibesarkan tersebut.

Setelah beristirahat sejenak di rumah budhe di Kroya, kami mengunjungi keluarga lain yang tinggal di Kota Purwokerto. Momen silaturahim tersebut jadi sangat berkesan karena kami sudah lama sekali tidak bertemu. Semangkuk soto sokaraja dan berpiring-piring tempe mendoan hangat menemani obrolan seru kami yang juga rindu kuliner legendaris tanah ngapak itu.

Lokawisata Baturaden

Selepas tengah hari, rombongan kami yang terdiri dari saya, ayah, pakdhe, kakak beserta dua keponakan, menuju Lokawisata Baturaden. Jendela mobil sengaja kami buka lebar untuk merasakan sejuknya udara di jalanan menuju Baturaden yang sedang dipayungi mendung. Dengan waktu tempuh kurang dari setengah jam saja, kami sudah tiba di gerbang objek wisata yang terletak di lereng Gunung Slamet tersebut.

Pengunjung Baturaden siang itu sangat ramai, karena sedang musim liburan akhir tahun bagi anak sekolah. Dari plat mobil yang terparkir terlihat bahwa pengunjung Baturaden tidak hanya berasal dari Kota Purwokerto dan sekitarnya saja, tetapi juga banyak dari kota lain seperti Semarang, Jakarta, dan Bandung. Untungnya area parkir yang disediakan cukup memadai, sehingga kami tidak perlu kesulitan mencari tempat memarkir kendaraan.

Gambar 1. Air Mancur menyambut Pengunjung Baturaden

Saya langsung terkesan saat pertama kali memasuki gerbang Baturaden. Karena jujur saja, awalnya saya agak skeptis mengingat pengalaman saya ke beberapa wisata alam di tempat lain di negeri ini yang tidak dirawat dengan baik. Tapi kesan itu langsung hilang setelah saya memasuki gerbang lokawisata yang terletak di ketinggian 600 mdpl ini. Pengelola Baturaden menata kawasan ini dengan rapi dan menarik, menjaga kebersihannya, dan memberi fasilitas yang cukup lengkap bagi pengunjung.

Gambar 2. Keponakan Saya sedang Mencoba Wahana Flying Fox di Baturaden.

Karena waktu yang sangat terbatas, siang itu tidak banyak yang dapat kami explore. Setelah menikmati jajanan sambil bersantai di sungai berbatu yang berair jernih, kami memutuskan pulang. Pada kesempatan yang lain, mungkin kami akan berkunjung ke teater unik berwujud pesawat foker, menikmati mandi air panas di Pancuran Pitu, mandi di Telaga Sunyi, atau berkemah di camping ground yang telah disediakan di Baturaden.

Goa Jatijajar

Di hari berikutnya, setelah ziarah ke makam kakek-nenek di pelosok Cilacap, kami melanjutkan perjalanan ke arah timur. Melalui jalur tepi pantai Karang Pakis, melaju hingga Jetis, menyeberangi jembatan Kali Bodo, ke utara melintasi Goa Petruk, hingga tiba di Goa Jatijajar.

Samar-samar masih saya ingat, saat masa kecil dulu sekeluarga piknik ke goa yang jadi kebanggaan masyarakat Kebumen ini. Ingatan saya adalah goa yang gelap dan licin, patung-patung berwarna putih, dan aliran sungai di dalam Goa. Dan kini, 20 tahun kemudian, ternyata saya mendapati Goa Jatijajar agak berbeda dengan memori di otak saya.

Gambar 3. Patung Kepala Dinosaurus

Di depan Goa Jatijajar masih terdapat patung kepala Dinosaurus yang mulutnya mengeluarkan air dari Sendang Kanthil dan Sendang Mawar yang konon airnya tidak pernah kering. Yang berbeda adalah, saat ini goa sudah tidak segelap dulu lagi karena diterangi dengan cahaya lampu listrik. Cahaya lampu juga menyorot patung-patung yang dipajang di sepanjang dinding goa sehingga tampak lebih menarik. Selain itu, jalan dan tangga beton di dalam goa dapat lebih memudahkan pengunjung sehingga tidak khawatir terpeleset saat menikmati keindahan stalagtit dan stalagnit.

Gambar 4. Ayah, Kakak, dan Keponakan Saya di Pintu Keluar Goa Jatijajar

Setelah keluar dari goa, kami langsung disuguhi deretan warung yang menjajakan beraneka makanan dan minuman serta beragam souvenir khas Jatijajar. Rasa lapar dapat segera diatasi dengan menu ketupat pecel dan tempe mendoan yang disajikan saat masih panas. Setelah sejenak melepas lelah, kami pun beranjak ke tujuan berikutnya.

Pantai Ayah

Delapan kilometer ke arah selatan dari Goa Jatijajar, kami tiba di Pantai Ayah atau yang lebih dikenal dengan nama Pantai Logending. Pantai yang juga menjadi andalan Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah ini memiliki pemandangan alam yang indah dengan hamparan pasir luas dan landai.

Sambil meneguk es kelapa muda, kita bisa merasakan hembusan semilir angin dan udara segar pantai. Selain itu, kita juga bisa menyewa perahu yang dikelola oleh nelayan untuk menyeberang muara Kali Bodo. Tetapi sore itu kami memilih untuk menikmati suasana pantai saja sambil memandang perahu yang hilir mudik ke seberang sungai yang merupakan wilayah Kabupaten Cilacap itu. Setelah puas leyeh-leyeh di pantai, kami segera berkemas untuk pulang.

Bagi kami, liburan kali ini tidak hanya merekatkan silaturahim dengan keluarga yang jarang berjumpa karena terpisah jarak. Tetapi juga dapat membawa kami kepada kenangan akan kearifan masyarakat ngapak dan keindahan tanah leluhur. Setuju karo inyong apa ora? Ayo dolan Jawa Tengah!    

 

Ganasnya Silk Market Beijing

Saya jarang sekali bawa banyak oleh-oleh traveling. Kadang hanya membeli sedikit pernak-pernik ringan atau makanan khas untuk beberapa teman dan keluarga. Alasannya karena saya tidak jago menawar barang, malas bawa barang terlalu banyak, dan juga karena budget saya terbatas. Hehe.

Saat ikut pelatihan di Beijing pada akhir tahun 2012, saya berencana membeli oleh-oleh agak banyak dan kebetulan ada jadwal belanja yang telah disiapkan oleh panitia di sana. Pada sore hari yang beku sekitar pukul empat sore waktu Beijing, kami diantar ke Silk Market. Tidak seperti biasanya saat traveling mandiri yang mengharuskan saya mencari alamat sendiri, rajin googling, sering buka peta, tersesat, bertanya ke banyak orang tentang transportasi, maka saat itu saya dan teman-teman hanya perlu duduk santai di mobil nyaman. Dalam waktu tidak lebih dari setengah jam dari hotel tempat kami menginap, kami sudah tiba di depan lobi Silk Market.

image

Silk Market Tampak Depan

Pengunjung Silk Market adalah pelancong dari berbagai negara. Wajah Asia Timur terlihat mendominasi, kemudian bule, dan tidak sedikit juga yang berwajah melayu. Tampaknya pengunjung dari Asia lebih banyak membawa tentengan tas belanja dibanding para bule. Silk Market, yang semula saya kira seperti pasar seni outdoor, ternyata terletak di gedung berlantai empat. Pasar ini tidak sebesar pusat perbelanjaan di Indonesia tapi cukup modern dan bersih, kecuali toiletnya. Ada apa dengan toiletnya? Di lain kesempatan mungkin akan saya ceritakan tentang pengalaman toiletnya, atau kita bisa bersama-sama googling tentang toilet di Daratan China yang melegenda itu.

“Petualangan Belanja” kami sore itu didalangi oleh guide yang tidak bisa menemani kami selama belanja. Dia mengatakan akan menemui kami di lobi pasar dua jam kemudian. Okay! Sudah terbayang di jidat saya bagaimana susahnya pilah-pilih dan tawar-menawar dalam bahasa tarzan, mengingat tidak ada satu orang pun dari kami bertiga yang bisa berbahasa mandarin. Tanpa kehadiran guide, saya jadi makin penasaran dengan cerita singkat seorang teman yang mengabarkan “keunikan” pasar tersebut. 

image

Wajah Tegang Berbelanja di Silk Market

Baru beberapa meter melangkah, saya agak kaget dengan sambutan beberapa pelayan toko yang berjajar di depan gerainya.
“Belanja, belanja. Murah, murah.” Seru mereka.
Waah, mereka bisa Bahasa Indonesia! Kok mereka tau ya kami dari Indonesia? Ya taulah. Muka lo kan Jawa banget gitu! Batin saya bertanya dan menjawab sendiri. Hmm, saya jadi agak tenang karena setidaknya kami tidak perlu jumpalitan berbahasa tarzan.
“Come, come!” Kata mereka lagi, menawarkan dagangannya.

Saya pun masuk ke salah satu gerai kaos. Percobaan pertama. Percakapan selanjutnya antara saya dan pelayan toko berlangsung dalam Bahasa Inggris karena ternyata mereka hanya bisa berbahasa melayu sangat sedikit.
“Yang ini berapaan?” Saya menunjuk ke kaos yang digantung di dinding.
Salah satu pelayan mengambil kalkulator, menekannya dengan cepat, lalu menunjukkan angka yang tertera ke saya tanpa sepatah kata pun. Harga dalam yuan itu kalau dirupiahkan hampir Rp.400.000, untuk satu buah kaos berkualitas biasa saja!
“Nggak boleh kurang, Mbak?” Tanya saya pelan.
“Mau ambil berapa biji?” Wajah Si Mbak berubah jadi tampak bengis. “Satu saja sih,” kata saya defensif.
Tanpa menjawab boleh atau tidak, Si Mbak Pelayan melempar kalkulatornya ke tumpukan kaos sambil memandang saya benci. Sedangkan saya bengong, melangkah mundur ke luar gerai. 

Saya menenangkan diri sebentar. Saat saya menceritakan kejadian tersebut ke kedua teman saya, mereka memilih pasrah dan menyerahkan urusan belanja sore itu pada saya.
Apa barang-barang disini nggak boleh ditawar ya? Tapi kalau nggak ditawar, harganya kok ya parah gitu. Saya mencoba masuk ke gerai lain yang agak jauh dari gerai pertama yang saya datangi. Mungkin sebelumnya saya hanya sedang kurang beruntung dengan datang ke gerai yang salah. Setelah coba menawar, saya mendapat kejutan berikutnya.
“Are you crazy?” Kata Mbak Pelayan di gerai kedua sambil melengos dan mengisyaratkan saya untuk hengkang dari gerainya.
Saya pun mundur teratur. Mending gila aja! Masa kaos begitu doang harganya 300 ribu? Bener-bener deh nih pasar. Pelayan-pelayannya nggak sopan banget! Saya mulai memaki dalam hati, tapi tetap bertekad akan menawar seperti harga di Pusat Grosir Cililitan.

Percobaan ketiga, saya datangi lagi gerai lain yang tampak lebih ramai. Kalau memang bisa murah, saya akan beli lebih dari lima kaos. Ditambah dengan kedua teman saya, jadinya bisa belasan kaos. Tapi kalau tetap mahal, saya sudah siap dengan konsekuensi omelannya. Hehe.
“Boleh harga segini nggak?” Saya menawar sambil menekan kalkulator yang dibawa Si Mbak Pelayan.
“Are you crazy?” Nah, kan. Kata crazy populer sekali di pasar ini! 
“Yes, I’m crazy!” Kali ini saya jawab sambil nyengir. Saya sudah bisa menguasai diri.
“Mau ambil berapa?” Tanyanya, masih dengan raut wajah angkuh. “Nihh segini,” katanya, sambil menyodorkan kalkulator, setelah saya menyebut lima belas kaos.
“Segini deh Mbak,” kata saya mencoba lagi. Masih dengan menunjukkan angka di kalkulator. Dan ternyata, dia setuju! Dari harga yang semula sekitar Rp. 300.000 bisa jadi 35ribu! TUH KANNN untung ditawar. Kedua teman saya juga sepakat di harga sekian, dan kami mulai memilih-milih motif kaosnya.
“Mau yang mana aja?” Si Mbak Pelayan masih saja bermuka tegang. “Cepat, cepat!” Serunya ketus sambil memukul-mukulkan tongkat pengait kaos ke arah tumpukan kaos. PARAHHH.
Sambil menunggu Si Mbak Pelayan Pertama membereskan belanjaan kami, saya iseng mendekati Mbak Pelayan yang lain sambil bertanya, “Mbak, ini boleh 30ribu nggak sih?”
Tapi apa yang terjadi?
“ELO TUH YA! Tadi lo bilang ke temen gw 35 ribu. Sekarang lo bilang 30ribu. Lo cowok macam apa? LOSER!!” Si Mbak Pelayan Kedua merepet panjang pada saya.
BUSEEETTT!! Galak bener si mbaknya! Baru kali ini sepanjang hidup saya dimaki-maki penjual. Saya segera pergi setelah membayar belanjaan saya. FYUUHH!!

Rasanya saya tidak ingin berlama-lama di pasar ini. Sebenarnya saya masih perlu beli beberapa barang lagi, tapi kejadian di tiga gerai tadi membuat nyali saya ciut. Jangankan menanyakan harga, memegang barang saja saya khawatir dibentak. Bagaimanapun, saya sedang di negara orang. Kalau saya membuat sedikit kegaduhan saja, bisa-bisa mereka serempak mengusir saya. Wajah-wajah galak itu tidak hanya saya lihat di satu-dua gerai saja, tapi hampir di seluruh tempat di pasar ini! Saya tidak habis pikir apa yang ada di pikiran para pelayan toko tersebut. Kalau sekadar cuek, mungkin masih bisa dimaklumi. Tapi ini mengintimidasi pembeli! Parahnya lagi, mereka membuka harga sangat jauh di atas harga normal. Bayangkan betapa ruginya pembeli seandainya tidak bisa menawar. Saya jadi menduga-duga, mungkin mereka terbiasa menjual dengan harga mahal kepada para bule yang nerimo. Jadi saat berhadapan dengan kami yang ngeyel begini, mereka melayani dengan malas-malasan sambil sesekali mengumpat.  

Walaupun sudah kehilangan minat, kami bertiga menuju lantai dua dan tiga Silk Market. Kami iseng-iseng cuci mata sambil menunggu jam kesepakatan bertemu guide yang masih satu jam kemudian. Saat sedang mengamati pembeli di di lantai dua, saya mendengar percakapan yang terdengar tidak asing. Ya, ini pasti Bahasa Indonesia! Benar saja. Rombongan mas-mas yang kami temui itu ternyata orang Indonesia. Dan, salah satu dari mereka bisa lancar berbahasa mandarin. Waah, senangnya! Saya pun tanpa sungkan-sungkan minta tolong ke Mas -yang tidak saya tanya namanya- itu untuk nego harga pernak-pernik berupa magnet kulkas, gantungan kunci, dan pulpen. Walaupun Mas itu akhirnya pergi, saya pede lagi menawar pernak-pernik lain pada Mbak Pelayan. Kali ini lumayan tidak ada makian, hanya ada sedikit percakapan absurd setelah saya membayar belanjaan saya.
“Elo dari mana?” tanyanya. “Bagi duit dari negara lo dong buat kenang-kenangan.”
“Nggak ada,” kata saya.
“Gak percaya! Ya udah kalo nggak dikasih, ini kembaliannya buat gw!” Ujarnya dengan santai. “Coba tunjukin dompet lo!”
LAHHH!! KOK ADA ORANG KAYAK GINI! Anehnya, saya pun membuka dompet yang memang tidak ada uang rupiah sepeserpun dan menunjukkan ke dia. Demi keamanan, semua uang rupiah memang saya tinggal di hotel.
“Mana duit kembalian gw?” Kata saya mencoba sedikit tegas.
“Nih. Dasar cheaper!” katanya sambil tersenyum sinis dan menjulurkan uang kembalian saya yang jumlahnya tidak sedikit. “Ternyata lo gigih juga ya kalo nawar!”.
AAARRGGHH!!

Saya benar-benar kapok pada pasar aneh ini. Seandainya ada di Indonesia, bisa dipastikan tidak akan laku. Kalau suatu saat kembali lagi ke Beijing, saya akan berpikir puluhan kali untuk belanja di Silk Market lagi. Di hari terakhir kunjungan kami ke China, kami diajak ke Kota Tianjin dan mampir ke pasar seninya. Duh, barang-barang di Pasar Seni Tianjin bagus-bagus dan harganya lebih murah dari pada di Beijing. Penjual-penjualnya pun tidak menjengkelkan. Nyesel nggak sih?

Bermetamorfosis bersama AirAsia

Hall Terminal 3 Bandara Internasional Soekarno – Hatta, 13 Juli 2011

Satu kotak donat mini, rasanya belum cukup untuk mengganti makan siang kami berenam siang itu. Aroma berbagai masakan dari salah satu gerai makanan membuat rasa lapar semakin menjadi-jadi. Salah kami sendiri karena tidak menyempatkan makan siang dan berangkat terlalu mepet, sementara waktu kami untuk boarding tidak banyak lagi. Setelah membekali diri masing-masing dengan air minum kemasan, kami pun melangkah ke imigrasi. Salut kepada AirAsia yang menjadi salah satu pelopor fasilitas web check in sehingga penumpang bisa lebih menghemat waktu. Selepas dari pemeriksaan imigrasi, kami hanya bisa pasrah saat botol-botol air minum kami diamankan petugas. Ternyata, kami tidak diperkenankan membawa cairan melebih ukuran tertentu ke kabin pesawat.

Ruang Keberangkatan Internasional pada Jumat siang ini cukup sesak. Warga Jakarta yang lain mungkin akan menghabiskan akhir pekannya di Bangkok, Phuket, Singapura, atau mungkin juga seperti kami ke Kuala Lumpur. Dalam beberapa menit lagi, pesawat AirAsia akan membawa kami – enam orang yang hanya mengenal piknik ke Puncak, Lembang, dan Pangandaran – menuju ke tempat yang sebelumnya terdengar sangat megah dan jauh: luar negeri. Jangan tanya lagi perasaan kami saat ini yang dibalut gugup dan penasaran. Dengan harga tiket AirAsia pergi pulang sebesar   Rp. 225.000, Kuala Lumpur terasa hanya sekali rengkuhan saja di hadapan kami. Walaupun hanya dua hari di Semenanjung Malaya, kami yakin bahwa perjalanan ini akan melontarkan kami ke tempat-tempat yang lebih jauh lagi suatu saat nanti.

Perjalanan Perdana ke Luar Negeri :)

Perjalanan perdana ke luar negeri 🙂

—————————————-

Apron Bandara Internasional Phnom Penh, 13 Oktober 2013

Lega! Itulah perasaan saya yang saat ini duduk di kabin pesawat AirAsia yang akan menerbangkan saya dari Phnom Penh ke Kuala Lumpur. Lega karena sudah menuntaskan solo traveling saya yang pertama ke luar negeri. Rasa khawatir yang sempat muncul sebelum keberangkatan, sudah tidak ada lagi. Trip Kamboja ini berawal dari penasaran pada situs Angkor Wat di Siem Reap yang mendunia, ditambah dengan keisengan saya mencari tiket promo. Kalau di setiap perjalanan sebelumnya saya bisa berbagi tugas dengan teman-teman, maka dalam trip ini saya melakukannya sendiri. Saya menyusun itinerary sendiri, menukar rupiah dengan US dollar, mencari hostel murah, menawar tuk-tuk, berkenalan dengan penduduk lokal, hingga menjelajah sendiri situs Angkor yang sangat luas. Hari ini, setelah check out dari sebuah hostel murah tidak jauh dari Preah Norodom Boulevard, saya menyewa tuk-tuk ke Tuol Sleng Genocide Museum yang mengerikan. Selanjutnya saya berjibaku di jalanan macet, panas, dan berdebu ke Choeung Ek Killing Filed di pinggiran kota Phnom Penh, kembali lagi ke pusat kota untuk membeli oleh-oleh di Russian Market, hingga akhirnya saya diantar ke Bandara Internasional Phnom Penh.

Ttuk-tuk menyelinap di tengah kemacetan kota Phnom Penh

Tuk-tuk menyelinap di tengah kemacetan kota Phnom Penh

Stempel Kamboja

Stempel Kamboja

Saya larut mengamati pramugari yang hilir mudik membantu mengatur tas penumpang di kompartemen kabin. Sesekali, saya membolak-balik inflight magazine yang menawarkan menu khas AirAsia semisal Tomato Rice with Ayam Percik dan Mee Goreng Mamak yang terlihat menggiurkan. Di luar sana, tampak petugas darat AirAsia sibuk menata dan memasukkan barang-barang penumpang ke dalam lambung pesawat. Di kabin pesawat Airbus A320 yang hampir seluruh kursinya terisi penuh ini, saya duduk di samping pasangan bule yang sedang sibuk dengan buku lonely planetnya. Sementara itu di depan saya ada rombongan keluarga asal Malaysia yang membawa banyak oleh-oleh khas Negeri Khmer. Di sisi yang lain, mungkin juga ada penumpang asal Indonesia seperti saya. Tampaknya, kemudahan yang ditawarkan AirAsia telah sukses meningkatkan minat para pelancong untuk menjangkau  banyak penjuru Asia Tenggara ini dengan Kuala Lumpur sebagai hub-nya.

—————————————-

Sidoarjo, 23 Juni 2014

Saya membuka inbox email dan mendapat kabar bahwa uang tiket AirAsia saya sudah dikembalikan. Sekitar tiga bulan lalu, saya mendapat email kurang menyenangkan dari AirAsia. Penerbangan Surabaya – Bangkok QZ 302 dan Bangkok – Surabaya QZ 303 yang saya pesan tahun lalu, ternyata ditiadakan. Airasia menawarkan opsi pengembalian uang secara penuh, credit shell atau dana deposit senilai harga tiket, atau penjadwalan ulang penerbangan sebelum 1 Juni 2014 tanpa dikenakan biaya tambahan. Saya memilih opsi pertama yaitu refund yang prosesnya sangat mudah. Saya hanya perlu mengisi formulir, menunggu selama 30 hari kerja, lalu dana pun sudah masuk kembali ke rekening. Sebenarnya saya kecewa karena ini adalah satu-satunya trip tahun ini, dan juga sedih karena tidak ada lagi penerbangan langsung ke Bangkok. Mungkin AirAsia menghentikan rute tersebut karena sepi penumpang. Tapi saya sangat berharap suatu saat nanti AirAsia bisa membuka kembali rute yang dihentikan serta menambah banyak rute baru.

Status refund: approved

Status refund: approved

Menurut saya, AirAsia sangat layak diganjar dengan predikat The World’s Best Low-Cost Airlines. Walaupun sering mengobral promo tiket, perusahaan ini tidak menurunkan kualitas layanannya. Layanan pemesanan tiket, check in, cabin service, dan baggage handling sangat memuaskan. Bahkan hingga layanan pembatalan tiketnya, sangat memudahkan calon penumpang. Semoga AirAsia bisa terus mewujudkan mimpi setiap orang: TERBANG.

—————————————-

El Nido: Pesona Pantai Barat Filipina

Enam Jam Perjalanan Darat

Bandara Puerto Princesa tidak besar, tapi cukup rapi dan bersih. Ruang kedatangannya langsung terisi padat setiap rombongan penumpang tiba. Siang itu, penumpang didominasi warga Manila yang akan berlibur atau pulang kampung ke Palawan.

Ada belasan penerbangan dalam sehari yang melayani rute Manila – Puerto Princesa. Di saat-saat tertentu, beberapa maskapai penerbangan menawarkan tiket promo yang cukup murah untuk menyedot minat wisatawan ke destinasi wisata unggulan Filipina ini.

Dari Puerto Princesa yang merupakan ibu kota Provinsi Palawan ini, saya dan lima orang teman seperjalanan akan menuju El Nido melalui jalur darat. Berbekal informasi dari internet sebelumnya, pilihan transportasi yang sesuai dengan budget kami yaitu minivan atau bus.

Saat kami ke luar bangunan bandara bermaksud mencari tricycle -sejenis becak bermotor-  tujuan Terminal San Jose, ternyata ada yang menawari angkutan dengan minivan langsung ke El Nido. Harga yang ditawarkan memang sedikit lebih mahal dari harga tiket bus ekonomi. Setelah sedikit tawar menawar, kami akhirnya sepakat. Kelebihan minivan yaitu waktu tempuh yang lebih singkat dan kami tidak perlu naik tricycle lagi ke Terminal San Jose.

Puerto Princesa – El Nido yang jaraknya sekitar 230 km harus kami tempuh selama lebih dari lima jam ditambah waktu istirahat. Kami tidak tahu apakah jalur yang dilalui minivan tersebut adalah jalur utama atau alternatif, karena sangat jarang berpapasan dengan kendaraan lain.

Selepas Kota Puerto Princesa, masih nampak pusat keramaian dan pedesaan. Tapi beberapa belas kilometer sesudahnya, pemandangan yang mendominasi yaitu ladang tandus dan perbukitan gersang. Kondisi jalanannya mulus, tapi ada beberapa bagian yang aspalnya setengah hancur.

Setelah sekitar tiga jam perjalanan, kami singgah di warung makan di sebuah wilayah yang jarang permukiman. Kesempatan itu kami gunakan untuk makan siang dan memanfaatkan toilet. Perjalanan pun dilanjutkan lagi melalui medan yang masih monoton. Sebelum gelap, kami sudah tiba di Terminal El Nido yang sepi.

Kota Tepi Pantai

Beberapa tricycle mendatangi kami, dan dalam waktu tidak lebih dari lima menit kami pun diantar ke guest house murah yang sudah kami pesan sebelumnya melalui internet. Ternyata, kami mendapat tawaran menarik dari bapak pemilik guest house! Mungkin karena saat itu tidak sedang peak season, kami diajak ke guest house lain miliknya yang lebih nyaman. Tanpa biaya tambahan! Kamarnya berdinding bambu, ber-AC, tempat tidurnya nyaman, toiletnya bersih, dan dekat pantai. Wah syukurlah!

Guest House Murah

Guest House Murah

Ada satu momen yang tidak boleh ditinggalkan. Jika cuaca sedang cerah, kita bisa menyaksikan saat-saat matahari tersungkur di kejauhan di celah perbukitan Kepulauan Bacuit sembari menyesap minuman hangat di tepi pantai.

Sepanjang pantai di El Nido adalah tempat terbaik menikmati sunset karena memang berada di pesisir barat Pulau Palawan. Sayangnya, pantai di dekat guest house kami kurang cocok untuk berenang karena banyak perahu bersandar, penuh ganggang, dan anjing yang hilir mudik.

Petang di El Nido kami habiskan untuk bersantai saja karena menghemat energi untuk aktivitas keesokan harinya. Kami memutuskan untuk makan malam di sebuah restoran sederhana dengan sajian menu khas Filipina yang ternyata cita rasanya kurang pas di lidah saya.

Island Hopping di Kepulauan Bacuit

Kami membeli paket island hopping kombinasi A dan C yang banyak direkomendasikan para tour agent. Dari foto-foto di brosurnya, sebenarnya setiap paket terlihat sangat menarik. Seluruh paket menawarkan keindahan pulau, pantai, laguna, goa, atau air terjun. Sayangnya kami hanya punya waktu satu hari di El Nido dan harus memilih salah satu paket saja.

El Nido Tour Map

El Nido Tour Map

Langit pagi itu terlihat cukup cerah, walaupun beberapa hari sebelumnya El Nido disiram hujan deras. Setelah menikmati sarapan berupa nasi dan telor matasapi, kami bersiap mengeksplorasi Kepulauan Bacuit. Perjalanan kami ditemani dua orang boatman merangkap koki yang akan menyiapkan makan siang untuk kami berenam.

Tujuan kami yang pertama yaitu Balanghai Island yang dikelola oleh suatu resort. Sebagian pulau itu dipagari kawat berduri, tapi kami masih bisa menikmati sisi pantainya yang lain yang bersih. Tiga puluh menit di pulau itu kami habiskan dengan berfoto sambil jungkir balik dan berguling-guling.

Pantai di Balanghai Island

Pantai di Balanghai Island

Perjalanan berlanjut menuju spot berikutnya yaitu Helicopter Island, Hidden Beach, dan Talisay Beach. Di Hidden Beach kami menikmati pantai yang memikat dan masih alami karena berlatar belakang batuan karst yang ditumbuhi pepohonan hijau. Pantainya berair sangat jernih dan tidak berarus, sehingga sangat nyaman untuk berenang.

Menjelang tengah hari, kami merapat di Talisay Beach, sebuah pantai kecil yang cantik. Rasanya seperti pulau pribadi karena hanya ada perahu kami saja!  Sambil berenang dan sesekali berfoto, kami menunggu boatman menyiapkan makan siang kami yang istimewa berupa nasi, ikan bakar, dan ayam bakar.

Perjalanan berlanjut ke Matinloc Island. Di sana kami bisa memanjat ke atap bangunan bekas hotel lalu naik sedikit ke bukit karang untuk melihat pemandangan berupa deretan batu karst memeluk air laut yang warnanya bergradasi.

Setiap tempat memiliki keindahan masing-masing. Secret Beach, Secret Lagoon, Shimizu, Small Lagoon, dan Big Lagoon siap menyambut kami. Jika spot lain menawarkan pesona pantai, maka di Shimizu kami bisa snorkling di tengah laut. Aktivitas kami hari itu adalah berenang, berfoto-foto di pantai, snorkling, merapat ke pantai, menceburkan diri ke laut, berulang kali.

Talisay Beach: Pantai Cantik yang Sepi

Talisay Beach: Pantai Cantik yang Sepi

Melewati Labirin Batuan Karst

Melewati Labirin Batuan Karst

Pasir Putih dan Tebing Karst di Secret Beach

Pasir Putih dan Tebing Karst di Secret Beach

Berenang Sepuasnya :)

Berenang Sepuasnya 🙂

Pemandangan dari Atas Bukit di Matinloc

Pemandangan dari Atas Bukit di Matinloc

Airnya Jernih! Siap Nyebur?

Airnya Jernih! Siap Nyebur?

Salah satu pengalaman luar biasa yang mendebarkan bagi kami adalah saat harus nyebur di laut yang cukup dalam dan berarus kencang, lalu berenang melalui celah karang yang sempit menuju sebuah laguna tersembunyi di dalamnya. Kami berenam menggunakan life vest dan berenang dipandu oleh seorang boatman. Jika lengah, kami bisa saja terbentur karang-karang tajam karena terhempas arus. Celah karang tersebut akan tertutup bila air pasang dan tentunya memerlukan usaha yang lebih keras lagi untuk melewatinya. Karena itu kami tidak bisa berlama-lama di dalam laguna karena khawatir air akan menutup jalan masuk.

Berenang Melalui Celah Karang

Berenang Melalui Celah Karang

Petualangan pantai hari itu diakhiri di Big Lagoon, sebuah laguna cukup luas yang juga berdinding batu karst di kanan kirinya. Sejumlah perahu juga mengakhiri perjalanannya di laguna cantik berair hijau dan tenang itu. Sayangnya kami cukup kesulitan mengabadikan gambar di lokasi itu karena gerimis.

Menjelang senja, gerimis reda dan perahu kami merapat ke pantai El Nido di dekat penginapan kami. Kami segera berbenah untuk menyiapkan diri kembali ke Puerto Princesa malam itu.

Sunset Saat Perjalanan Pulang dari Island Hopping

Sunset Saat Perjalanan Pulang dari Island Hopping

Sambil menunggu jam keberangkatan Roro Bus, kami singgah sebentar ke pusat Kota El Nido. Kotanya cukup “hidup” karena terdapat banyak restoran, hotel, bar, minimarket, dan berbagai layanan yang diperlukan wisatawan. El Nido memang belum setenar Boracay di Filipina atau Phuket di Thailand. Karena itu, biaya penginapan, makanan, dan transportasi masih tergolong murah.

Pengalaman trip ke Kepulauan Bacuit di El Nido ini sangat berkesan bagi kami. Segala “secret” dan “hidden” yang dijanjikan oleh promosi tour agent bisa menghadirkan sensasi penasaran pada setiap spot yang dikunjungi. Dari pemandangan batu karst, saat-saat perahu melalui labirin, menemukan banyak pantai berpasir putih di balik tebing, dan kemudian bisa menceburkan diri di airnya yang bening. El Nido sangat cocok bagi yang menginginkan wisata pantai yang indah tapi tidak terlalu hiruk pikuk.

Resign PNS: Belajar Menentukan Pilihan

Sumber gambar: kompas.com

Sumber gambar: kompas.com

Sejak 1 April 2014, saya tidak lagi berstatus sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS) di salah satu Lembaga Pemerintah NonKementerian di Republik ini. Alhamdulillah, akhirnya saya berani memutuskan memilih jalan resign ini. Untuk sebagian orang, mencari pekerjaan atau berhenti bekerja bukanlah perkara yang sulit dan perlu dipikirkan terlalu rumit. Tapi bagi saya, masalah resign ini mengharuskan saya bertempur sekaligus berdamai dengan diri saya sendiri. Bagaimanapun, enam tahun sudah sukses membentuk mental dan pola pikir saya menjadi “sangat PNS”.

Saya salut luar biasa kepada teman-teman PNS yang masih berpendirian teguh menjadi bagian dalam perbaikan sistem pemerintahan negara dan memberikan pelayanan terbaik untuk masyarakat. Kualitas PNS Indonesia sudah semakin membaik. Tudingan-tudingan negatif yang memojokkan PNS, tidak sepenuhnya benar. Mungkin ada yang menjadi PNS karena “sogokan” atau “titipan”, tapi banyak teman saya yang sangat brillian, lulusan universitas termuka, atau jebolan perusahaan ternama. Kalau PNS dituduh pemalas dan sering membolos, teman saya rela berangkat dari rumah sejak pagi buta dan berdesakan di kereta demi masuk kantor tepat waktu. Memang ada PNS yang punya rekening buncit, tapi juga banyak rekan kerja saya yang masih mencicil sepeda motor dan setia hidup sederhana di rumahnya yang jauh di pinggiran kota. Kalau PNS dianggap menggerogoti APBN, teman saya malah ada yang mengerjakan tugas-tugasnya sampai petang dan bahkan hari libur tanpa uang lembur.

Keputusan untuk resign tidak saya ambil dengan gegabah dalam waktu satu atau dua malam. Saya harus bertukar pikiran denganBapak, Kakak, dan dengan banyak teman tentang pilihan ini. Banyak yang mendukung, tapi juga ada berondongan komentar negatif dari beberapa teman. Bahkan ada beberapa yang melabeli saya aneh, pecundang, kufur nikmat, atau disorientasi masa depan.

Sebut saja saya aneh.

Saat ratusan ribu atau jutaan orang lain mendambakan menjadi PNS, saya malah menyia-nyiakannya dengan alasan yang menurut mereka mengada-ada. Image PNS masih lekat dengan pekerjaan yang nyaman dan bergengsi. Bergaji pasti setiap bulan, tidak mudah diberhentikan, tunjangan kesehatan yang mencukupi, dan jaminan uang pensiun di hari tua sampai mati. Apapun jenis pekerjaan dan pangkatnya, yang penting jadi PNS.

Sebut saja saya pecundang.

Karena saat menjadi bagian dari sistem dan memiliki kesempatan bekerja konkret memperbaiki lubang di sana sini, saya malah “menyerah”. Lalu, apa bedanya saya dengan mereka di luar sana yang hanya bisa mengeluh dan mengkritik kinerja penyelenggara negara?

Sebut saja saya kufur nikmat.

Karena dengan gaji dan tunjangan yang lumayan, perjalanan dinas dalam dan luar negri dengan fasilitas pesawat dan hotel yang nyaman, kesempatan kuliah dengan bantuan biaya pendidikan, serta peluang masa depan menjadi pejabat dengan mobil dinas baru, ternyata saya masih mencari yang “lain”.

Sebut saja saya disorientasi masa depan.

Saat PNS lain sedang berlayar dengan bahtera keluarganya di lautan tenang, saya malah memilih kembali bersandar di pelabuhan dan merombak kapal. Mereka sedang meniti karir gemilang di kantor, membangun rumah tinggal, membeli kendaraan, dan melihat anak-anaknya bertumbuh. Sedangkan saya?

Enam tahun digaji dengan pajak dari masyarakat, sudah cukup mengubah saya menjadi orang yang “berbeda”. Saya ingat saat wawancara penerimaan CPNS dulu, saya berujar mantap bahwa saya akan memberikan tenaga dan pikiran untuk kemajuan instansi. Begitu pula saat pengambilan sumpah jabatan, saya berjanji untuk tidak mengkhianati amanah yang ditanggungkan pada saya. Tapi kenyataannya? Saya sudah terlena dan menyimpang begitu jauh dari jalan lurus PNS. Tidak ada lagi ide-ide hasil pemikiran, karya nyata dan kreativitas, serta udara pengabdian yang saya hembuskan. Hari-hari kerja monoton saya habiskan dengan menunggu tanggal gajian sambil membuat laporan kerja sekedarnya, menghitung tunjangan kinerja sambil mengerjakan tugas harian yang itu-itu saja, juga tidak lupa mengharap perjalanan dinas yang bisa saya manfaatkan untuk jalan-jalan dan tidur di hotel berbintang. Kemajuan negara semacam apa yang diharapkan dari pegawainya yang hanya sibuk memikirkan saldo rekening tabungan? Kreativitas saya lumpuh dan nurani saya mati perlahan. Kalau enam tahun lalu saya masih sanggup menakar putih dan hitam, enam tahun kemudian saya tidak mampu mengartikan abu-abu.

Menjadi abdi negara, sejatinya bukan pekerjaan yang mudah. Sampai kapan pun, abdi berarti menjadi pelayan masyarakat. Karena dari setiap waktu kerja, lembar kertas, data internet, daya listrik, dan setiap rupiah yang disia-siakan, disana ada tuntutan para pembayar pajak dan Tuhannya. Saya memilih resign bukan berarti sok idealis. Saya hanya ingin menjaga lentera yang meredup ini untuk tetap menyala. Saya tidak ingin lentera itu berhenti berpendar dan hanya menyisakan penyesalan suatu saat nanti. Walaupun mungkin dianggap terlambat, tapi biarlah saya mencoba kesempatan menempa diri dengan pekerjaan lain. Kembali ke pelabuhan dan merombak kapal, bagi saya itu bukan persoalan menjadi ksatria atau pecundang. Bukankah hidup tidak hanya tentang status dan apa yang bisa kita dapatkan? Selama bisa selalu setia memperjuangkan hidup, bukankah tidak pernah ada pilihan yang konyol dan keliru?

Terima kasih kepada rekan-rekan yang telah banyak menginspirasi dan menjadi benderang jalan, juga kepada Bapak yang telah merelakan saya untuk memilih jalan yang lain.

Saya mengucapkan terima kasih kepada teman-teman yang sudah mampir dan berbagi di blog ini. Tulisan ini hanya curhatan iseng saya beberapa bulan yang lalu. Tidak menyangka akan mendapat perhatian sebesar ini. Mohon maaf jika tidak bisa saya balas satu per satu.
Semoga kita semua sukses dengan pilihannya masing-masing 🙂

Belitung dan Kenangan Batavia Air

Sebagai pegawai-biasa-yang-merindukan-traveling-hemat-dan-cermat, saya sering ngubek-ngubek website maskapai penerbangan dalam maupun luar negeri demi mereguk manisnya tiket promo. Bisa dikatakan, jarang dalam sehari saya melewatkan kebiasaan nista tapi membahagiakan itu.

Pada Desember 2012, saat saya sedang sinting-sintingnya terobsesi tiket murah, Batavia Air hadir membawa secercah harapan. Sebenarnya, tarif yang ditawarkan tidak sangat murah. Tapi mengingat hasrat traveling yang membuncah tumpah ruah, saat itu yang terpikir hanya bisa jalan-jalan saat weekend. Maka, dapatlah tiket Jakarta-Tanjung Pandan yang tak lain adalah gerbang menuju Pulau Belitung yang sudah sangat tenar karena Laskar Pelangi. Belitung adalah destinasi favorit banyak orang, dan Tanjung Pandan bukanlah rute “murahan”. Jadi, dapat tiket seharga 600ribuan pp adalah sebuah prestasi yang patut membuat kami bangga dan sedikit congkak. Hehe.. Saya berhasil menggeret tiga orang teman untuk ikut, lalu ada juga yang mengajak teman dan suaminya. Kami jadi berangkat bertujuh.

Berangkat nih???

Di Bandara Soekarno-Hatta. Mau kemanaaa??

Tanggal 24 Januari 2013, kami para penumpang yang budiman siap diterbangkan dengan armada Batavia Air yang tampak sehat walafiat tidak kekurangan suatu apapun kecuali snack penghibur. Mbak-mbak pramugari juga tidak henti-hentinya menyemangati kami agar kuat dan tabah selama penerbangan 50 menit bersama mereka. Saya lupa tipe pesawat yang digunakan, tapi mungkin jenis boeing 737-300 yang tampak dari sayapnya yang tanpa lengkungan dan jumlah seat-nya yang tidak banyak. Kami dapat seat paling belakang. Tak apalah, yang penting sampai tujuan!

Cuaca cerah, langit biru, awan putih, dan pramugari cantik.

Brumm..brum… pesawat mundur teratur dari apron.

Kami bersukacita sambil meneriakkan yel-yel.

Trektektektektek…. pesawat menikung menuju runway.

Kami tertawa girang dan berpegangan tangan.

Grooonggronggrong… pilot tancap gas di runway yang mulus tapi terasa seperti sprint di kumpulan polisi tidur. Terbang!

Kami tersenyum senang saling menatap sembari berpegangan kursi.

Sekitar 30 menit terbang, cuaca masih cerah, langit masih biru, awan masih putih, dan pramugari masih cantik. Grekgrekgrekgrek… kursi-kursi dan jendela pesawat terasa bergetar karena turbulence yang cukup lama. Kami berenam tidak sanggup lagi bertatapan dan nyali kami ciut dalam sekejap. Dua puluh menit berikutnya, kami dihadapkan pada pilihan bersyahadat, berdzikir, atau membaca sholawat. Alhamdulillaaah…. pesawat kami mendarat dengan bugar dan sehat di Bandara Hanandjoeddin Tanjung Pandan. Kami tertawa lega, melupakan sholawat, dan berfoto bahagia di pintu kedatangan bandara. Kami pun memaafkan pesawat tua yang telah “berkhianat” sepanjang 20 menit perjalanan itu.

Di Bandara Hanandjoeddin. Girang nah!

Di Bandara Hanandjoeddin. Girang nah!

Tiga malam berikutnya, kami benar-benar telah melupakan Batavia Air. Landscape Belitung memang aduhai. View pantai berpasir putih lembut, langit biru, dan bebatuan raksasa yang sering kita nikmati di foto-foto, memang seperti itu cantiknya! Ditambah jalanan sepi dan mulus, penduduk yang ramah, oksigen melimpah, serta harga makanan yang tergolong murah, jadi alasan kami untuk mencintai pulau kaya timah itu dengan sepenuh jiwa. Dengan mobil sewaan dan sopir sekaligus guide yang menguasai seluk beluk Belitung, kami menghabiskan empat hari dengan menyisir Pantai Tanjung Tinggi, Danau Kaolin, Rumah Adat Belitung, Vihara Dewi Kwan In, Replika SD Muhammadiyah Gantong, Bendungan Pice, pantai-pantai-cantik-yang-lupa-namanya di Belitung Timur, serta tidak lupa mencicipi kuliner khas Belitung dan warung kopinya. Juga, satu agenda highlight: island hopping ke Pulau Lengkuas dengan mercusuarnya berikut pulau-pulau di sekitarnya.

Pantai Tanjung Tinggi

Pantai Tanjung Tinggi

Pulau Lengkuas

Pulau Lengkuas

Replika SD Muhammadiyah Gantong

Replika SD Muhammadiyah Gantong

Sebenarnya, Januari bukan waktu yang paling tepat untuk mengunjungi Belitung karena sedang musim hujan. Saat hari kedua disana, kami terpaksa menghabiskan waktu setengah hari di penginapan karena hujan turun dengan gemasnya dan air laut terlihat bergolak. Bahkan saat island hopping, perahu kami sempat dihadang gelombang laut yang cukup tinggi dan membuat saya mual terkapar. Untungnya, pak tukang perahu bisa membaca gelagat cuaca dengan cermat, sehingga kami “dikembalikan” ke darat dengan selamat sebelum cuaca memburuk menjelang sore hari. Padahal, kami sempat berburuk sangka kepada pak tukang perahu dengan mendiskon waktu trip kami. Hehe…maaf pak. Katanya, saat musim kemarau, laut Belitung akan jauh lebih indah dengan air laut yang lebih tenang dan jernih. Sehingga bukan hanya di atas lautnya saja yang bisa dinikmati, tapi panorama bawah lautnya juga memikat.

View dari atas mercusuar di Pulau Lengkuas

View dari atas mercusuar di Pulau Lengkuas

Empat hari berlalu, kami pun siap kembali ke Jakarta. Bawaan kami jadi berkembang biak karena masing-masing membawa tentengan oleh-oleh untuk teman, anak, mertua, selingkuhan, ibu kos, pacar, boss, tetangga, atau orang tua. Bandara Hanandjoeddin terlihat sesak. Walaupun penerbangan kesana sedikit, tapi di saat-saat tertentu akan sangat penuh karena memang area keberangkatan yang tidak luas. Suasana antrian yang sumpek, membuat kami tega memasrahkan barang bawaan yang banyak itu kepada salah seorang teman untuk check in. Setelah meletakkan ransel besar dan boks oleh-oleh di depan counter check in, saya dengan santai dan tanpa rasa berdosa pun melenggang menuju area tunggu.

Cuaca cerah lagi, langit biru lagi, awan putih lagi, pramugari lebih cantik lagi, pesawat tidak “berkhianat” lagi, dan kami lupa bersholawat lagi. Di area pengambilan barang Bandara Soekarno-Hatta, kami menyergap barang bawaan masing-masing. Saya sempat bercanda, jangan-jangan ada barang yang tertinggal. Dan ternyataaaa, dugaan itu benar adanya! saya dihadapkan pada conveyor belt yang berhenti, dan barang saya tidak ada! Ransel besar dan boks oleh-oleh itu! Saya melongok ke mulut conveyor belt dan hanya disambut gelengan kepala petugas penyusun barang. Kami mencocokkan kertas bukti bagasi ke barang-barang satu per satu, dan jumlahnya pas! Kok bisaa??? Berarti dua barang saya itu belum di-check in! Jadi, teman saya yang kebagian check in di Bandara Tanjung Pandan, tidak ngeh ada tas saya. Sedangkan saya, dengan bodohnya tidak meletakkan tas saya di timbangan check in. OMG!

Dengan pucat, saya bergegas ke counter klaim bagasi. Saat ditanya bukti bagasinya, saya semakin pucat karena memang tidak ada! Kami menelpon guide kami di Tanjung Pandan, dan dia memberi nomor telepon salah satu kenalannya yang bekerja di Batavia Air Bandara Hanandjoeddin. Alhamdulillaaah… Mas itu menemukan ransel dan boks saya dalam kondisi utuh dan masih teronggok di depan counter check in. Ihhhiiiy…. saya sedikit lega. Tapi bagaimana cara mengambilnya? Haruskah saya balik ke Belitung demi ransel berisi baju kotor dan boks berisi pempek itu? Batavia Air bersedia mengirimkan barang-barang saya itu keesokan harinya, sehingga saya bisa mengambilnya di Bandara Soekarno-Hatta. GRATIS!!! Ohhh so sweet… 🙂   

Dua hari kemudian, terdengar kabar Batavia Air dipailitkan. Artinya, tidak akan ada lagi penerbangan dengan Batavia Air, dan penerbangan kami itu adalah yang terakhir bagi kami. Saya menerima sms dari Mas-yang-menemukan-tas-saya-di-Bandara-Hanandjoedin: “Mas, Batavia sudah bangkrut, saya tidak bekerja lagi. Kalau ada teman yang akan ke Belitung dan memerlukan guide, hubungi saya ya.” Oucchhhhh… 😦

Sihir Trawangan

Saya jarang tertarik mengunjungi suatu tempat lebih dari sekali. Tapi Gili Trawangan rasanya spesial. Dua kali kesana, saya selalu ingin kembali lagi. Kenapa? Saya menyebutnya, karena sihir Trawangan!

Gugusan tiga pulau kecil di Lombok Utara ini sedang naik daun. Pesonanya yang jelita ditambah aksesnya yang mudah, membuat Gili Trawangan, Gili Meno, dan Gili Air digandrungi banyak pejalan domestik maupun asing. Dari Kota Mataram, Gili Trawangan bisa dijangkau lewat dua jalur dengan view yang keduanya keren! Jalur pertama yaitu lewat perbukitan Hutan Pusuk yang berkelok-kelok dan sejuk, sedangkan jalur lainnya melalui Senggigi dengan pemandangan tepi pantai yang spektakuler.

Saat kesana pada tahun 2010, saya memilih lewat jalur Hutan Pusuk menggunakan angkutan umum. Dari kawasan Sweta di Kota Mataram, angkutan melaju ke utara melalui Rembiga lalu membelah persawahan dan perbukitan. Kalau menggunakan kendaraan pribadi, pengendara bisa lebih leluasa singgah menikmati udara segar, berfoto, memberi makan monyet, atau sekedar melepas lelah sambil memandang bukit dan lembah yang hijau. Tapi karena saat itu menggunakan angkutan umum, maka saya hanya bisa melihat kawanan monyet yang sesekali menyeberang jalan raya. Saat trip kedua tahun 2012, saya yang saat itu bersama teman-teman menggunakan kendaraan pribadi, memilih lewat jalur Pantai Senggigi yang terkenal dengan senjanya yang cantik. Selepas Pantai Senggigi, mata dimanjakan dengan pemandangan indah sepanjang perjalanan yang didominasi perbukitan hijau di sisi kanan dan deretan pohon kelapa yang berderet rapi memeluk pantai berpasir putih di kiri jalan. Di Malimbu, kita bisa berhenti sejenak menikmati es kelapa muda sambil memandang teluk dengan deburan laut biru dan gili-gili yang terlihat dari kejauhanan.

Hutan Pusuk, dari Kaca Jendela Angkutan Umum

Hutan Pusuk, dari Kaca Jendela Angkutan Umum

Malimbu

Malimbu

Jalur Pusuk dan Senggigi, keduanya bertemu di Pemenang. Selanjutnya, kendaraan pribadi bisa langsung ke Pelabuhan Bangsal yang merupakan tempat pengeberangan menuju gili-gili. Sedangkan kalau menggunakan angkutan umum, penumpang bisa turun di Pasar Pemenang lalu naik cidomo (sejenis andong) ke Pelabuhan Bangsal. Di Pelabuhan Bangsal tersedia public boat yang beroperasi dari pukul 8 pagi sampai dengan 3 sore yang siap mengantar penumpang menuju Gili Trawangan, Gili Meno, atau Gili Air dan sebaliknya. Gili Trawangan adalah gili terjauh dari Pelabuhan Bangsal yang memakan waktu tempuh sekitar 30 menit dengan tarif sepuluh ribu rupiah saja.

Public Boat Pelabuhan Bangsal - Gili Trawangan

Public Boat Pelabuhan Bangsal – Gili Trawangan

Setibanya di Gili Trawangan, langsung disambut pantai berpasir putih yang tidak berkarang, air yang jernih, dan ombak yang tenang. Rasanya ingin langsung nyebur! Sayangnya, di pantai yang dekat dermaga ini banyak boat yang bersandar maupun yang hilir mudik sehingga tidak bisa leluasa berenang disitu. Bagi pejalan one day trip, bisa langsung menyewa boat untuk snorkeling atau island hopping ke dua gili lain yang lebih sepi yaitu Gili Meno dan Gili Air. Jika ingin menikmati alam bawah laut sekitar Gili Trawangan, beberapa dive operator akan siap sedia! Pilihan aktivitas lainnya yaitu berkeliling Gili Trawangan dengan menyewa sepeda atau cidomo di jalan yang nyaman dan bersih. Ya, hanya kedua alat transportasi itu yang diijinkan beroperasi di pulau kecil ini sehingga terasa masih alami dan tidak terganggu polusi.

Public Boat Pelabuhan Bangsal - Gili Trawangan

Welcome!

Cidomo

Cidomo

Penginapan di Gili Trawangan bervariasi dengan tarif sekitar 100 ribu rupiah per malam dengan fasilitas kipas angin hingga resort mewah dengan harga di atas satu juta yang menawarkan kolam renang pribadi. Saat musim liburan tiba, harus memesan penginapan jauh-jauh hari karena seringkali fully booked. Kita bisa memilih penginapan yang dekat dengan pusat keramaian, atau agak menjauh ke sisi lain pulau. Semakin eksklusif, harganya tentu semakin tinggi.

Salah satu daya tarik utama Gili Trawangan adalah kehidupan malamnya. Saat petang tiba, pulau ini akan berubah menjadi gemerlap dan lebih “hidup” dengan dentuman musik yang bersahutan dari belasan café. Sebagian orang mengibaratkan kehidupan malam di Gili Trawangan seperti suasana Legian di Bali. Pengunjung yang sebagian besar adalah orang asing, bisa “berpesta” sampai pagi. Beragam hiburan khas pantai tersaji seperti live music, bioskop mini, pijat refleksi, atau dinner romantis dengan menu spesial di tepi pantai. Bagi yang berkantong pas-pasan seperti saya, tidak perlu khawatir. Tidak jauh dari dermaga, kita bisa menemukan pasar malam tradisional yang menawarkan banyak menu makan malam dengan harga yang tentunya jauh lebih murah daripada di restoran. Tidak perlu berkecil hati, karena juga banyak turis asing yang dinner di tempat ekonomis itu. Dan seperti halnya Bali, kebanyakan penduduk Gili Trawangan juga mahir berbahasa asing terutama Inggris. Tidak heran bila pulau ini diberi julukan “Desa Dunia” dan terasa bukan sedang di Indonesia karena sering terdengar beragam bahasa dari berbagai sudut dunia.

Jalanan Gili Trawangan, setelah Hujan

Jalanan Gili Trawangan, setelah Hujan

Puas berpesta malam hari, jangan sampai melewatkan pagi di pantai sekitar dermaga! Sinar matahari yang pelan-pelan menyeruak dari balik Gunung Rinjani di kejauhan bisa membuat kita betah berlama-lama di pantai berpasir lembut dan air laut yang surut. Jika ingin sarapan murah, nasi bungkus dengan lauk telor atau ayam yang dijajakan ibu-ibu bisa jadi pilihan. Walaupun secara keseluruhan biaya hidup di Gili Trawangan terbilang tidak murah, tetapi kita bisa menyiasatinya dengan mencari warung-warung tradisonal yang lokasinya agak ke tengah pulau. Pulau cantik, tidak harus selalu mahal. Datanglah ke Gili Trawangan, dan rasakan sihirnya!

Sunrise di Dermaga

Sunrise di Dermaga

Jalanan Gili Trawangan yang Bersih

Jalanan Gili Trawangan yang Bersih

Lombok, Selalu Candu

Saya ke Lombok pertama kali pada tahun 2009. Sejak itu, saya menyatakan diri sebagai pemuja tanah surga di barat Sumbawa itu. Orang lain boleh cerita tentang liburan kemana saja. Tapi saat ada yang menyebut Lombok, tiba-tiba saya merasa seperti demam :).

Seperti cinta pada pandangan pertama yang tidak bisa ditepis, demikian halnya dengan kesan pertama saya pada Lombok. Saat itu saya hanya mencicipi kota Mataram, Taman Narmada, dan Pantai Senggigi karena waktu yang tersedia sangat terbatas. Sebagai ibu kota Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB), Mataram memang masih kalah gemerlap dari kota-kota besar di Jawa atau Sumatera. Tapi justru disitulah letak daya pikat kota ini. Saya belum banyak mengunjungi kota-kota di Indonesia yang luas ini. Dari yang sedikit itu, separuh hati saya terpikat pada Balikpapan, sedangkan setengahnya lagi pada Mataram. Saya menyukai Balikpapan karena kotanya yang tertata rapi dan bersih, sedangkan Mataram memukau saya karena dikelilingi banyak objek menawan.

Setelah perjalanan pertama itu, saya berjanji pada diri sendiri akan kembali ke Lombok lagi dan lagi. Setahun berikutnya, saat orang sedang hilir mudik bersilaturahmi selepas lebaran, saya memilih solo trip ke Lombok demi merengkuh Gili Trawangan. Saya ngeteng naik bis umum dari rumah di Bondowoso ke Pelabuhan Ketapang, ferry menyeberangi Selat Bali, minibus ke Terminal Ubung di Denpasar, angkot ke Pelabuhan Padang Bai, ferry menyeberangi Selat Lombok, dan voilaaa tiba di Lombok! Dua tahun berikutnya lagi, saya tergiur pada Gili Nanggu. Saya mencoba cara lain yaitu dengan pesawat dari Jakarta ke Denpasar, lalu bersama teman-teman menggunakan mobil menuju Lombok. Suatu saat, saya ingin ke Lombok lagi menikmati suguhan yang lain!

View di Perjalanan Senggigi - Bangsal

View di Perjalanan Senggigi – Bangsal

Mungkin tidak salah rasanya kalau ada yang mengatakan “Kita bisa melihat Bali di Lombok, tapi tidak bisa melihat Lombok di Bali”. Maksudnya, pesona Bali berupa pantai-pantai yang indah dan kepingan kekayaan budayanya dapat kita rasakan juga di Lombok. Tetapi, ada aura Lombok yang tidak dapat kita temukan di Bali. Lombok juga dikaruniai keindahan dari puncak gunung, di atas daratan, hingga dasar lautnya. Siapa yang tidak kenal kecantikan Rinjani! Puncak Dewi Anjani dan Segara Anakan-nya itu menjadikan gunung dengan ketinggian 3.726 mdpl itu sebagai salah satu gunung terindah di nusantara. Air terjun Sendang Gile, Tiu Kelep, dan Desa Adat Sade adalah objek favorit di daratan Lombok. Belum lagi, banyaknya pantai rupawan yang tersebar di sekujur Lombok, diantaranya yaitu Pantai Kuta, Tanjung Aan, atau Tanjung Ringgit. Sedangkan di dasar lautnya, Lombok menawarkan banyak spot snorkeling dan diving misalnya di sekitar Gili Trawangan di Lombok Utara atau Gili Lawang dan Gili Sulat di Lombok Timur. Objek-objek tersebut masih perlu dikelola dan dikemas lebih baik sehingga bisa menjadi destinasi wisata favorit dunia, selain Bali.

Kalau Bali, pulau tetangganya itu sudah merasakan gempita pariwisata sejak lama, maka pariwisata Lombok sedang bertumbuh. Untuk meningkatkan kunjungan wisatawan, Lombok terus berbenah yang salah satunya dengan meningkatkan kemudahan akses transportasi. Saat ini Lombok memiliki Bandar Udara Internasional Lombok yang berada di Praya, menggantikan Bandara Selaparang di Mataram. Lombok juga bisa dijangkau dengan ferry dari Pelabuhan Lembar yang terhubung dengan pelabuhan Padang Bai di Bali. Selain itu, wisatawan juga langsung bisa menggunakan speedboat dari Bali ke pulau-pulau kecil di sekitar Lombok. Sedangkan untuk transportasi di dalam pulau, wisatawan bisa menggunakan transportasi umum yang jumlahnya memang belum banyak, atau sewa kendaraan pribadi untuk lebih memudahkan eksplorasi Lombok.

Kapal yang Bersandar di Pelabuhan Lembar, Lombok

Kapal yang Bersandar di Pelabuhan Lembar, Lombok

Pemandangan Selepas Pelabuhan Lembar

Pemandangan Selepas Pelabuhan Lembar

Selain pembangunan insfrastruktur, yang tidak kalah penting sebenarnya yaitu mempersiapkan sumber daya manusia yang siap menghadapi laju pertumbuhan pariwisata. Karena akan sangat mengganggu bila objek wisata yang menarik tetapi tidak didukung oleh sikap pelaku pariwisata. Sebelum menjadi sangat touristy, mental pelaku pariwisata tersebut perlu dibentuk sedini mungkin sehingga tidak akan ada perilaku negatif seperti penjual yang memaksakan barang dagangannya, agen wisata yang mematok harga terlalu tinggi, atau gangguan keamanan bagi perjalanan wisatawan. Semoga Lombok bisa menjaga citra positifnya dan menjadi candu bagi lebih banyak orang!

Beijing: Terpana di Salju Pertama

Pergi ke Beijing awal bulan November, saya mengira tidak akan bertemu salju. Tapi ternyata…

Hari masih gelap saat saya dan dua orang teman kantor akan mendarat di Beijing Capital International Airport. Garuda Indonesia pagi itu tidak telat, dan kami disambut hujan yang bisa saya lihat dari jendela pesawat. Tampak seperti hujan biasa saja. Saya tidak bisa menyaksikan momen landing, karena memang tidak duduk di window seat. Saya mengambil ransel kecil di kabin, merapatkan lagi jaket yang sudah dipakai sejak semalaman di pesawat, lalu menyongsong Beijing! Rasa antusias berbalut gugup pagi itu ditambah dengan lagu “Tanah Air” dari kabin, yang jadi terdengar sangat heroik dan sentimentil bagi saya yang akan berpisah dengan tanah air selama 6 hari. Halah…

Welcome to China! Setelah dapat cap paspor dari petugas imigrasi yang lupa cara tersenyum itu, kami segera mengambil bagasi yang untungnya tidak perlu menunggu lama seperti di bandara di Indonesia. Setelah sekitar 45 menit di ruang tunggu, akhirnya kami bertemu dua orang teman penjemput (sekaligus guide yang akan menjadi translator kami selama disana) yang membawa beberapa lembar kertas bertuliskan nama kami dan nama instansi. Kami diantar ke tempat parkir mobil, dan saat keluar dari ruang bandara, BRRRR dingin buaanget!!

“Maafkan kami terlambat. Lalu lintasnya tersendat karena salju mulai turun” kata guide kami dalam Bahasa Inggris.

*saya bengong

“Apa? Salju?” Tanya saya setelah sadar.

“Ya, salju pertama di musim ini” Jelasnya.

Aaargh…saya langsung speechless.

Ternyata benar. Di jalanan ke luar Bandara, butiran hujan salju bisa saya lihat jelas di kaca mobil. Putih, putih, dan putih tampak membukit di tepi jalan, di atap-atap rumah, dan di mobil yang berlalu lalang. Saya takjub luar biasa!! Berarti hujan yang saya intip dari jendela pesawat tadi, hujan salju. Bukan hujan biasa!

“Ini salju pertama dalam hidup saya” Kata saya ke mereka. Jujur.

“Ya, saya tahu Indonesia negara tropis dan tidak punya salju” Katanya menimpali.

Perjalanan dari bandara ke hotel selama sekitar 1 jam itu terasa sangat singkat. Saya tidak berhenti terpana pada hujan kapas itu. Sebagai orang yang mbrojol dan hidup di daerah tropis, tentu wajar kalau saya berangan-angan suatu saat bisa melihat salju. Tapi bukan saat itu dan bukan di China! Karena saat saya browsing sebelum berangkat, perkiraan suhu terendah Beijing di awal November kemungkinan hanya 4 derajat celcius, dan Beijing baru akan dirundung salju pada akhir November atau awal Desember. Ternyata, saya tidak perlu menjemput salju ke Eropa, Amerika, atau Australia sekian tahun lagi. Alhamdulillah… Allah memberikan kesempatan yang ajaib itu.

View dari Teras Hotel, di Pagi yang Bersalju

View dari Teras Hotel, di Pagi yang Bersalju

Taman yang Diselimuti Salju Tipis

Taman yang Diselimuti Salju Tipis

Penjelasan dari guide yang menerangkan tentang tempat-tempat yang sedang kami lalui, tidak terlalu saya gubris karena saya terlalu asyik mengagumi pemandangan langka itu. Sampai di hotel dan check in, kami bertiga keluar lagi untuk menikmati salju dari teras hotel. Mungkin orang-orang disitu mengamati tingkah aneh kami. Karena saat yang lain memilih masuk ke lobby hotel, kami malah berfoto-foto di tempat parkir mobil di bawah guyuran hujan salju. Saya mencomot salju di kaca mobil dan di taman hotel. Ternyata tekstur salju mirip es serut, sedangkan salju yang sudah dilindas mobil atau diinjak sepatu mirip es serut cappuccino. Untunglah, saya masih bisa menahan diri untuk tidak salto di taman karena khawatir akan dikarungin satpam. Hahhaa. Tapi kami tidak bisa meng-eksplore lingkungan sekitar hotel saat itu juga karena hujannya cukup deras dan makin lama tangan dan telinga terasa beku. Saya menduga suhu udara saat itu mencapai 0 derajat celcius atau bahkan mungkin lebih rendah. Pada malam hari kami mencoba keluar hotel lagi menikmati sisa-sisa salju, walaupun tidak bertahan lama juga karena hembusan angin yang super dingin. Esok harinya, di hari kedua, saya kecewa karena tidak menemukan salju lagi. Demikian juga di hari ketiga dan keempat. Walaupun suhu udara sangat dingin, tapi tidak ada secuil pun hujan salju lagi yang jatuh! Menurut guide kami, cuaca menghangat dan entah kapan lagi akan turun salju. Saya jadi menyesal bukan main karena belum banyak berfoto dengan salju. Rrrrrr.

Di hari kelima, cuaca di pusat kota Beijing juga cerah dengan sinar matahari yang terik. Hari itu kami akan diajak ke Great Wall. Dengan menggunakan mobil travel, kami diantar ke Badaling (baca: Pataling) yang merupakan salah satu gerbang Great Wall yang terkenal. Di perjalanan, si sopir travel mengatakan kalau gerbang Badaling sedang ditutup karena salju yang turun bisa mengakibatkan jalanan menjadi sangat licin. Tapi guide kami tetap meminta sopir mencoba ke arah Badaling untuk melihat kemungkinan kami bisa kesana. Perjalanan ke Badaling cukup lancar awalnya. Setelah melewati jalan tol, jalan berbukit, lalu nampaklah bukit-bukit berbungkus salju dengan ketebalan melebihi yang saya lihat di hari pertama di Beijing. Salju yang luas menghampar sejauh mata memandang membuat saya berdecak kagum lagi. Wowow! Tampak juga alat-alat berat dikerahkan untuk menyingkirkan salju dari jalanan. Saya yang semula duduk di kursi belakang, jadi pindah ke samping sopir untuk mendapatkan view yang lebih jelas :). Gambaran dataran putih yang selama ini hanya ada di impian saya, saat itu benar-benar tersaji di depan mata!

Perjalanan Menuju Pataling

Perjalanan Menuju Badaling

Bukit Bersalju, Tidak Jauh dari Pataling

Bukit Bersalju, Tampak dari Kaca Mobil

Salju Dimana-mana

Salju Dimana-mana

Alat Berat Menyingkirkan Salju dari Jalanan

Alat Berat Menyingkirkan Salju dari Jalanan

Mobil yang kami tumpangi sempat wira-wiri di sekitar gerbang Badaling untuk mencari jalan yang mungkin bisa dilalui. Kami juga sempat turun dari mobil untuk merasakan atmosfer di luar. Ternyata, walaupun matahari terlihat cerah, tapi tidak  bisa serta merta mencairkan tumpukan salju itu. Karena antrian mobil yang akan masuk ke gerbang Badaling sangat panjang, akhirnya kami memutuskan untuk berbalik arah dan mencari gerbang lain yang tidak tertutup salju. Kami menuruni jalanan di celah perbukitan bersalju itu, dan menuju gerbang Juyong yang posisinya lebih rendah dari Badaling. Walaupun tidak bisa ke Great Wall melalui Badaling yang katanya view-nya paling indah, tapi saya masih sangat bersyukur karena bisa melihat keindahan lain yaitu gunung-gunung bersalju. Kekecewaan saya kehilangan salju di Beijing, ternyata mendapatkan gantinya di Badaling :).

Antrian kendaraan yang Mengular Menuju Gerbang Pataling

Bersama Antrian Kendaraan yang Mengular Menuju Gerbang Badaling

Perjalanan Pulang dari Pataling

Perjalanan Pulang dari Badaling

Body Rafting di Green Canyon

Pernah tahu Green Canyon kan? Terdengar mirip Grand Canyon yang di Colorado, Amerika Serikat. Tapi yang ini ada di Jawa Barat, tepatnya di Cijulang, sekitar 30 km dari Pantai Pangandaran.

Trip ke Green Canyon cukup berkesan untuk saya, salah satunya karena berangkat tanpa persiapan cukup sebelumnya. Saat pagi hari bengong di kosan baca status facebook seorang teman di Bandung yang hari itu akan ke Pangandaran plus ke Green Canyon, sedangkan saya belum punya istri dan kapal pesiar mewah rencana mengisi long weekend, jadi berangkaattt deh! Setelah dapat contact person ketua rombongan, saat itu juga saya packing seadanya dan segera cabut ke Kalibata Mall ketemu temannya teman saya: si ketua rombongan dan peserta trip yang lain. Teman-teman baru yang rame! Dengan dua mobil, kami pun menuju Pangandaran via Bandung dan menjemput teman saya di gerbang tol Cileunyi (bukan, dia bukan penjaga pintu tol kok).

Kami bermalam di guest house yang tidak jauh dari Pantai Pangandaran. Oh ya! Keunikan Pantai Pangandaran ini, pantainya berbentuk daratan yang menjorok ke laut. Jadi, kita bisa melihat sunrise di sisi pantai yang menghadap ke timur dan menikmati sunset di sisi pantai yang menghadap ke barat. Jarak pantai timur dan barat tidak jauh dan bisa ditempuh dengan jalan kaki. Bedanya, di pantai timur dipenuhi bebatuan besar sebagai penahan ombak, sedangkan di pantai barat berpasir putih yang bisa dinikmati untuk bersantai dan olah raga air. Tapi sebagaimana khasnya pantai selatan Pulau Jawa, Pantai Pangandaran ombaknya cukup besar sehingga pengunjung perlu waspada saat berenang. Pantai yang sangat populer di Jawa Barat ini, saat musim liburan akan dijubeli pengunjung dari seantero Jawa Barat maupun daerah lain.

Pantai Timur Pangandaran

Pantai Timur Pangandaran

Perjalanan dari Pantai Pangandaran ke Green Canyon kami tempuh dalam waktu kurang dari sejam. Kalau mau mampir, ada beberapa objek keren yang dekat dari Green Canyon seperti Pantai Batu Karas yang terkenal dengan sea food dan surfing, atau Pantai Batu Hiu yang kondang berkat lagu Doel Sumbang. Kebanyakan pengunjung Green Canyon memulai trip dari Dermaga Ciseureuh, selanjutnya mereka akan naik perahu bermotor ke bagian hilir Green Canyon untuk menikmati goa dan air terjun yang bertebaran di tebing. Karena tujuan kami body rafting, maka kami diangkut lagi dengan truk sampah mobil pick up menuju bagian Green Canyon yang agak ke hulu. Kami harus melewati jalan kecil beraspal, dilanjutkan dengan jalan tanah yang berbukit-bukit, lalu menuruni tebing curam yang licin untuk sampai ke titik tolak body rafting.

Rock On!

Rock On!

Pose sebelum Nyemplung

Pose sebelum Nyemplung

Tentang body rafting, awalnya yang terbayang sebenarnya mirip rafting dengan perahu karet. Dari breefing singkat yang kami dapat, ternyata body rafting ya rafting yang pakai body. What?!! Saya sangat amatir di dunia per-air-an, saya selalu bolos saat pelajaran renang di SD, dan ini adalah pengalaman berpelampung saya pertama kali di air! Membayangkan kenyataan harus nyemplung byur langsung di derasnya sungai, sebenarnya bikin agak jiper juga sih. Ditambah lagi dengan tidak disediakannya helm pengaman (iya, helm yang di kepala. Jangan banyangin pengaman yang lain). Tapi karena banyak teman yang katanya siap menolong kalau ada yang hanyut (what? hanyut?) dan ada 2 orang guide yang mendampingi, okelah. Bismillah…

Beberapa puluh meter pertama, aliran sungai masih bersahabat dan kami bersepuluh masih kegirangan berfoto ala putra-putri mandi di kali. Kalau debit air cukup, kami mulai harus berani untuk menghanyutkan diri ke arus sungai dengan tetap mengontrol diri agar tidak terbentur batu atau hanyut terlampau jauh. Tapi kalau arus sungai terlalu deras dan jeramnya berbahaya, maka kami akan berubah menjadi sekawanan makhluk berpelampung yang melata di tebing-tebing sungai kemudian turun lagi ke sungai saat jeramnya bisa dilalui. Sepanjang hari itu, kami pun diasikkan dengan aktivitas renang-jalan-renang-jalan-merayap di tebing-jalan-menghanyutkan diri-jalan-merayap di tebing-renang dan seterusnya. Tak jarang kami harus renang sambil berpegangan erat pada tali tambang yang sudah disiapkan guide, agar tidak hanyut.

Byurrr

Byurrr

Batu Karang di Dekat Lokasi Saya Hanyut :)

Batu Karang di Dekat Lokasi Saya Hanyut 🙂

Daaan, kekhawatiran saya pun terjadi! Saat semua harus menghanyutkan diri dari satu sisi sungai ke sisi lainnya, saya gugup bukan main. Tangan guide yang sudah standby di seberang sungai, gagal saya gapai. Akibatnya, saya hanyut beneran ke jeram sungai yang agak dalam dan berbatu. Saya berusaha menggapai batu-batu besar, tapi tidak berhasil karena arusnya terlalu kuat. Hal itu diperburuk karena saya beristighfar sambil membuka mulut yang bikin saya kemasukan air lewat mulut dan hidung. Walaupun berpelampung, saya panik luar biasa karena takut terseret ke pusaran palung sungai atau semacamnya. Alhamdulillah, akhirnya saya bisa menjangkau batu yang kesekian, merayap naik, dan melambaikan tangan ke teman-teman yang masih menunggu di atas dengan was-was. Parahnya, kejadian hanyut itu tidak cuma terjadi sekali, tapi tiga kali!

Secara keseluruhan, body rafting selama hampir 6 jam di Green Canyon sangat seru. Sepanjang perjalanan dari hulu ke hilir, kami bisa menikmati sejuknya aliran sungai, gemercik air yang tempias dari dinding-dinding sungai yang berwarna hijau seperti permata, dan disuguhi beberapa goa stalaktit dan stalaknit. Kalau mau, kita juga bisa merasakan sensasi melompat dari tebing ke sungai. Wow! Sebelum menuju tempat istirahat, kami masih harus berenang sejauh 200 meter di sungai yang lebaaar. Para pengunjung berperahu motor memandang kami dengan wajah iba, tapi kami bahagia. Hhaaaa…

Petualangan hari itu diakhiri dengan suguhan air kelapa muda yang terasa seperti air kelapa terenak di dunia!!!

Menikmati "Gerimis" dari Tebing

Menikmati “Gerimis” dari Tebing

Merayap di Dinding

Merayap di Dinding

Green Canyon

Green Canyon

Baluran Tak Horor Lagi

Saya kenal kawasan Baluran sejak usia anak-anak. Rumah orang tua saya tidak terlalu jauh dari sana, dan dulu kami sering lewat Baluran saat ke Kota Banyuwangi. Kesan saya saat itu sih, Baluran sangat horor. Sebenarnya jalan yang melintasi Baluran adalah jalan raya utama yang dilalui banyak kendaraan dari Pulau Jawa yang akan menyeberang ke Pulau Bali. Tapi, hutan jati lebat di kanan-kiri jalan raya, gelap, sepi dan berkelok-kelok, sukses membuat saya parno setiap melintasi kawasan itu. Jalanan di Baluran juga sering jadi “tempat pembuangan” orang-orang dengan kelainan jiwa yang entah dikirim dari kota mana. Belum lagi ditambah cerita mistis tentang adanya penampakan yang kadang  menyeberang jalan di spot tertentu. Hiiiyy!

Saat sudah “melek pariwisata”, saya baru ngeh bahwa ternyata Taman Nasional Baluran adalah salah satu objek menarik yang banyak diidamkan para pejalan. Bukan di jalanan yang saya bilang horror itu, tapi masuk lagi ke “jantung” taman nasionalnya. Libur lebaran tahun 2012, saya sempatkan ngesot bersepeda motor ke Baluran bareng Bapak saya satu-satunya (iyalah!). Suasananya sudah tidak seseram yang dulu ada di pikiran saya sih. Sekitar satu jam perjalanan, kami sudah tiba di gerbang Taman Nasional. Saat itu, ada beberapa rombongan yang juga baru tiba atau yang baru pulang. OK, rasnya agak tentram karena banyak teman seperjalanan. Kenapa? Kalau kami harus menghadapi kenyataan disapa banteng di jalan, setidaknya kami tidak perlu risau berlebihan. Saya belum pernah jadi Matador, dan saya tahu persis bahwa Bapak saya tidak berani menyembelih banteng.

Jalanan Baluran

Kondisi Jalanan Baluran yang Rusak

Kata penjaga pos, jalanan yang akan dilalui sepanjang 12 km kondisinya agak rusak. Oh… mungkin semacam jalanan di desa lah.. pikir saya. Possitive feeling itu masih berlanjut sampai beberapa kilometer dari pintu gerbang Taman Nasional Baluran. Jalanan yang bisa digunakan mobil berpapasan itu cukup nyaman, cuma sesekali ada lubang. Tapi itu tidak berlangsung lama. Lubang di aspal yang tadinya sedikit lalu beranak-pinak, makin besar, makin mengelupas, lama kelamaan makin habis sampai menyisakan jalanan berbatu saja. Aaarghh! Motor saya yang bukan motor off road, dihajar habis-habisan di jalanan itu. Saya sempat merasa durhaka karena tetap nangkring di boncengan sambil cekrak-cekrek membidik pemandangan dan membiarkan Bapak nyetir di kondisi jalanan yang jahim itu. Jarak 9km itu kami tempuh tiga kali lebih lama dari waktu normal di jalan biasa. Zzzz

Savanna Bekol

Savana Bekol

Savana Bekol

Savana Bekol

Ok, lupakan jalanan yang nista. Sekitar hampir 1 jam, akhirnya kami menjejak Savana Bekol. Baluran yang digambarkan orang-orang sebagai Afrika-nya Jawa, mungkin memang benar. Saya sih belum pernah lihat afrika secara live, tapi gambaran padang savana gersang-tandus-kering-luas-panas adalah nyata! Sayangnya, saya tidak menemukan satwa khas padang savana satupun:(. Walaupun sudah dibela-belain manjat gardu pandang di atas bukit yang konon untuk mengamati banteng itu, tidak nampak juga tuh hidung Bapak-bapak, Ibu-ibu, maupun remaja-remaja bantengnya.

Pemandangan dari Gardu Pandang

View dari Gardu Pandang

Savana Bekol

Savana Bekol, dengan Background Gunung Baluran

Savana Bekol kelar, lanjut ke Pantai Bama dengan jalanan yang tidak kalah aduhai ancurnya. Selain padang gersang dan pepohonan yang meranggas, ternyata sejak dari Savana Bekol sampai dengan pantai Bama, kami mencumbui menemui kawanan monyet yang jumlahnya lumayan banyak. Mereka cukup jinak dan tidak iseng mengganggu pengunjung. Yang bikin heran, entah mereka makan apa di kawasan segersang itu. Jangankan pohon pisang, pohon buah khuldi pun enggan hidup disana. Mungkin mereka bertahan hidup dengan makanan yang dilempar pengunjung sepanjang perjalanan.

Setelah melewati siksaan (lagi) sejauh 3 km, kami sampai di Pantai Bama! Awalnya, saya pikir pantai in-the-middle-of-nowhere itu sunyi sepi gitu. Ternyata pengunjungnya banyak cuy! Motor, pick up, minibus, truk pun ada. Kalau yang kendaraan terbuka, mungkin masih seru ya. Tapi kalau naik mobil kecil umplek-umplekan di perjalanan seperti itu, saya sih tidak mau. Karena momennya sedang lebaran, piknik di tepi pantai sama keluarga seperti itu memang asik mungkin ya. Tentang pantainya, sebenarnya bagus dan cukup nyaman. Pepohonannya rindang, pantainya putih, ombaknya kalem, dan fasilitas kamar mandinya bersih. Kalau lapar dan haus, penjual jajanan juga ada dan harganya saya yakin tidak mahal. Tapi area pantainya kurang luas jadi bikin cepet bosen saja. Kalau mau mengeksplore, mungkin bisa snorkeling atau menjelajah hutan bakau. Tapi karena tujuan utama saya kesana untuk melihat savana, jadi kurang tertarik menikmati lautnya.

Pantai Bama

Pantai Bama

Menurut saya, taman nasional baluran ini bisa lebih menarik kalau dikelola lebih serius lagi. Infrastruktur jalan diperbaiki, penginapan yang saat ini sudah ada dibuat lebih bagus, fasilitas umum diperbanyak, promosi wisatanya ditingkatkan, wuihh pasti bisa lebih mantap! Dengan ditunjang lokasinya yang strategis, bukan tidak mungkin akan lebih banyak wisatawan yang dari atau menuju Pulau Bali, mampir dulu ke Baluran. Musim terbaik untuk berkunjung adalah saat puncak kemarau, karena pemandangan yang tersaji akan lebih eksotis. Bagi penikmat fotografi atau petualang alam bebas, tempat ini bisa jadi objek idola.

Ekologi Savana Bekol

Ekologi Savana Bekol

Silahkan berkunjung ke Taman Nasional Baluran, menikmati sensasi afrika di bagian timur Pulau Jawa! Kalau ingin info tentang Baluran, bisa memantau website ini http://balurannationalpark.web.id/

Rencana Traveling 2013

Calendar_0

Sedikit cerita dulu tentang rencana traveling tahun 2013 nih. Dari pertengahan tahun 2012, saya sudah mengkhatamkan kalender 2013 dengan sangat gemilang. Tanggal hari besar nasional saya hafalkan, serta tidak lupa cuti bersama yang saya asumsikan terjadi di hari kejepit sebagaimana tahun-tahun sebelumnya. Rasanya, file kalender 2013 di desktop laptop jadi file yang paling sering diakses. Frekuensinya berbanding lurus dengan kegemaran saya mengunjungi website maskapai penerbangan.

Hingga sampailah pada berita buruk pertama. Ternyata, keputusan bersama antara Menteri Agama, Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi, serta Menteri Pendagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi menyatakan bahwa cuti bersama hanya ada di sekitar Idul Fitri, Idul Adha, dan Natal. What the…!!! OK, saya masih coba berbesar perut hati menerima kenyataan asin (bosen pahit) itu. Saya susun rencana traveling lagi, terutama di long weekend. Walaupun tidak cuti bersama, toh saya masih bisa cuti di hari kejepitnya kan…. (positive feeling).

Hingga saya dihadapkan pada berita buruk kedua. Kantor saya menerapkan kebijakan baru tapi lama, bahwa cuti tahunan cuma boleh diambil minimal tiga hari. Hah?!! Padahal kan jatah cuti tahunan abdi dalem ini cuma tujuh hari kerja saja. Iya, t.u.j.u.h h.a.r.i. Lalu gimana kabar dengan rencana traveling saya? Sebagai orang yang ber-IQ 120 (segitu saja bangga? penting disebut?), saya pun memutar dengkul otak merombak jadwal lagi. Dan, inilah rencana trip tahun 2013 (separuh pertama) yang saya susun menggunakan segenap tenaga, pikiran, dan cinta, yang selalu saya saya tempelkan 5 cm di depan kening boss saya:

24 – 27 Januari –> Belitung

9 – 12 Maret –> Karimun Jawa (belum beli tiket)

29 – 31 Maret –> Makassar – Bulukumba – Maros (belum beli tiket)

20 – 21 April –> Padang

16 – 19 Mei –> Manila – Puerto Princesa

25 – 26 Mei –> Yogyakarta – Magelang (belum beli tiket)

Hhaaa… yang dipikir sampe mbulet ternyata cuma sedikit, itupun ada tiga trip yang belum dapat tiket *tertunduk malu*. yaah…namanya juga pengen, boleh kan boiii…

Di separuh yang kedua, atau di sela-sela separuh pertama itu, sebenarnya saya ingin sekali ke Rinjani, Derawan, Raja Ampat, Krabi, Singapura dan Bali. Untuk destinasi terakhir yang saya sebut itu, ingin saya kunjungi minimal setahun sekali! Duite sopo le??? Cutine sopo le???

Eh ya. Kalau ada teman-teman cantik (Bercanda. Lumayan saja tidak apa-apa kok. hehe) yang punya rencana seru di tahun ini, boleh dong di-share. Kalau budget dan jadwalnya pas, siapa tahu bisa ke penghulu trip bareng.

Selamat jalan-jalan!!!