“Minggu depan mau ke Bali nih! Enaknya kemana ya?”
Saya sering mendapat pertanyaan demikian dari teman-teman saya yang akan berlibur ke Bali. Kalau saya menyebutkan: Kuta, Bedugul, Ubud, Sanur, atau Tanah Lot, maka sebagian besar mereka sudah pernah mengunjunginya. Sedangkan saya sendiri yang sudah tinggal cukup lama di Pulau Bali, ternyata belum menjelajah banyak tempat selain spot yang sudah terkenal dan seringkali dijejali para pelancong. Padahal masih banyak daya tarik wisata di Pulau Dewata ini yang sangat indah tetapi masih relatif sepi pengunjung. Misalnya Air Terjun Kuning yang baru sempat saya kunjungi beberapa bulan yang lalu.
Dari tempat tinggal saya di wilayah Mengwi, jalur terpendek menuju Air Terjun Kuning yaitu melalui kawasan Ubud. Selanjutnya google maps menyarankan saya menuju arah Jalan Raya Goa Gajah, Jalan Mahendradata, terus hingga belok kiri di Jalan Raya Samplangan ke arah Kintamani. Saat tiba di Jalan Merdeka, Bangli, ternyata sinyal GPS di handphone saya kacau hingga membawa saya ke pusat Kota Bangli. Saya memutuskan kembali ke Jalan Merdeka dan bertanya kepada penjaga minimarket yang ternyata tidak mengetahui lokasi air terjun tersebut. Saya kembali mengandalkan google maps dan bertanya kepada dua orang anak sekolah yang saya temui hingga akhirnya saya berhasil menemukan plang kecil penanda jalan menuju air terjun.
Air terjun ini diberi nama Air Terjun Kuning karena terletak di Dusun Kuning, Desa Tamanbali, Kecamatan Bangli, Kabupaten Bangli. Tempat tersebut mungkin baru dibuka untuk umum dan saat ini hanya dikelola oleh penduduk banjar setempat, sehingga belum memiliki fasilitas umum penunjang. Tidak ada tiket masuk resmi ke Air Terjun Kuning. Kita hanya perlu membayar seikhlasnya dan mengisi buku registrasi yang dijaga oleh beberapa anak di gubuk kecil. Tidak ada area parkir khusus bagi pengunjung. Kita dapat memarkir kendaraan di tepi jalan agar tidak mengganggu kendaraan lain yang melintas dan pastikan kendaraan terkunci dengan baik.
Saat saya tiba di sana, hanya ada satu sepeda motor yang terparkir di depan jalan masuk. Penanda jalan masuk hanya berupa kertas berlaminating yang dipaku ke pohon. Jalan masuknya yaitu jalan setapak yang dipagari pepohonan rindang. Menurut informasi dari seorang bapak yang berpapasan dengan saya di dekat pintu masuk, waktu tempuh menuju air terjun sekitar 30 menit.

Jalan Masuk menuju Air Terjun Kuning
Udara sejuk dan bunyi-bunyi serangga hutan menyambut saya siang itu. Karena hujan yang mengguyur beberapa hari sebelumnya, jalanan menjadi sedikit licin. Bahkan ada beberapa bagian tanah yang longsor dan batang pohon roboh yang menghalangi jalan. Setelah berjalan sekitar sepuluh menit, jalan setapak yang semula landai berubah menjadi jalan menurun yang agak curam.

Batang Pohon yang Roboh Menghalangi Jalan menuju Air Terjun Kuning
Di kejauhan mulai terdengar suara gemuruh air terjun yang membuat saya semakin semangat untuk segera tiba. Ternyata, jalan yang menanti di hadapan saya yaitu jalan turun berupa batu-batu yang dipahat membentuk tangga di tebing yang sangat curam. Ada juga beberapa bagian yang berupa tanah yang licin. Dengan berpegangan pada akar-akar pohon di kanan-kiri jalan, saya mengendap pelan dengan sangat hati-hati agar tidak terperosok. “Kalau sampai jatuh sendiri di hutan begini, siapa yang menolong?” Pikir saya saat itu.
Suara air terjun terdengar semakin jelas. Setelah melalui semak-semak pepohonan, akhirnya saya melihat air yang mengguyur deras pada tebing vertikal dengan tinggi sekitar 20 meter. Di bawahnya terdapat kolam kecil alami yang menampung air dan mengalirkannya ke sungai. Untuk mencapai bibir kolam, kira harus menuruni batu besar yang cukup licin hingga membuat saya hampir terpeleset. Di tepi kolam itu kita bisa berendam sambil menikmati kesejukan air sambil memandang dinding air terjun yang menjulang.

Air Terjun Kuning
Berada di tengah alam yang sunyi dengan udara segar memang menenangkan. Kita dapat merasakan sensasi menyatu dengan alam, jauh dari hiruk pikuk, dan sejenak melupakan rutinitas kerja. Selain saya, saat itu hanya ada dua orang turis asing perempuan asal Jerman yang sedang menikmati bekal makan siang sambil menikmati indahnya air terjun. Mereka mengaku mengetahui keberadaan air terjun tersebut melalui internet sehingga memutuskan untuk singgah saat perjalanan pulang menjelajah Danau Batur.
Meskipun betah berlama-lama di sana, saya memutuskan untuk segera beranjak karena mendung mulai mengepung. Saya khawatir jalan akan semakin licin atau malah longsor saat hujan. Setelah ngos-ngosan melalui medan terjal, akhirnya saya tiba di tempat memarkir sepeda motor dengan aman.
Penjelajahan ke Air Terjun Kuning ini bisa saya rekomendasikan kepada teman-teman saya yang akan berkunjung ke Bali. Sekarang saatnya mengeksplorasi surga tersembunyi lain di Bali yang tidak kalah indahnya dengan tempat lain yang sudah lebih dulu populer. Rasakan sensasi menjelajahi pelosok bali dan bertemu penduduk setempat dengan sapaan yang hangat sambil mencicip kuliner lokal. Jika ada kesempatan liburan panjang atau akhir pekan, maka jangan membuang kesempatan berlibur ke Pulau Seribu Pura ini. Terbang ke Bali hanya semudah mengunjungi website tiket.com dan pesan tiketnya melalui website tersebut, selanjutnya petualangan ke Bali akan menjadi momen liburan yang tidak terlupakan.






































































