Hadits ke-16 “Jangan Marah”

Copas lagi.. untuk pengingatan diri sendiri

jangan marah.jp

 

 

 

 

 

 

gambar dari http://bijikuaci.blogspot.com/2013/01/jangan-marah.html

avatar iankusuma2tirtakusuma2

HADITS KEENAM BELAS

JANGAN MARAH

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ رَجُلاً قَالَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَوْصِنِي، قَالَ : لاَ تَغْضَبْ فَرَدَّدَ مِرَاراً، قَالَ: لاَ تَغْضَبْ  [رواه البخاري]

 

Terjemah hadits

Dari Abu Hurairah radhiallahuanhu sesungguhnya seseorang bertanya kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam: (Wahai Rasulullah) nasihatilah saya. Beliau bersabda : Jangan kamu marah. Ia menanyakan hal itu berkali-kali. Maka beliau bersabda : Jangan engkau marah. (Riwayat Bukhori )

Lihat pos aslinya 602 kata lagi

Bosan Jadi Pegawai?

Ini bukan judul reality show yang pernah ngetop di sebuah tivi loh ya. Jaman lagi susah begini memang benar mencari pekerjaan sulit, bahkan sangat sulit buat beberapa orang. Kok bisa2nya yang sudah jadi pegawai merasa bosan. Apa kurang bersyukur? atau kurang tantangan? atau kurang gaji hehehe…

Bukan itu sih, cuma sebagai manusia biasa kadang saya merasa sudah cukup bosan dengan pekerjaan yang sama yang saya kerjakan sejak 2011 (di kantor sekarang). Sama sekali bukannya ngga bersyukur. Bukan juga sombong merasa paling bisa dan mendahului ketentuan Allah. Ngga lah. Cuma kemarin abis baca tulisan di sini kok semua ciri2nya masuk ya hehe.. Ngga bermaksud juga menuntut bos untuk memberikan pekerjaan dan tanggung jawab yang lebih ke saya (walaupun kadang pengen juga sih). Tapi rasanya jenuh ini suliiiit sekali dihilangkan.

Jaman masih kuliah S2, lumayan banget bisa kuliah dan ada tugas2 kuliah yang bisa mengalihkan kejenuhan. Begitu juga dengan ikutan ngisi training programming di weekend yaa lumayan ngalihin bosen. Tapi sekarang begitu udah lulus, hmm kembali jenuh. Mungkin saya butuh liburan. Ya bener juga sih. Liburan terakhir keluar jakarta adalah 2011 :(.

Cuma apa iya dengan liburan masalah bisa terpecahkan? Resign? Pindah kerja? Bisa jadi merupakan solusi. Tapi sebagai orang beretika, rasanya tidak pantas untuk resign saat2 ini. Minta pindah bagian? Jadi bagian HRD mungkin hehe. Sepertinya bos saya menganggap saya aset di bagian programming, sehingga ga pernah dirotasikan ke bidang lain yaaaang seharusnya sudah mampu saya tangani saat ini. Jujur aja, dengan ilmu yang udah didapat di kuliah S2, target yang dibidik sebenarnya adalah level CIO, minimal PMO. Karena semua skillnya udah diberikan. Tapi ya… kembali ke struktur organisasi perusahaan saat ini yang tidak memungkinkan, jadilaah sabar2 dulu sama kondisi sekarang.

Keluar dari pekerjaan sekarang mungkin bukan pilihan, buat saya, apalagi ortu saya. Bagi ortu saya, apalah artinya sekolah tinggi2 kalo tidak bekerja. Sayang titel sarjana kalo ngga dimaksimalin dengan bekerja. Ya walopun pilihan pekerjaannya tentunya harusnya yang bisa tetap punya waktu buat keluarga. Jadi kalo sekarang saya ngajuin ide untuk resign dan ‘beristirahat’ dengan alasan bosan jelaslah sudah pasti ditentang :). Masih banyak cara lain untuk ngatasin bosen, misalnya ganti profesi jadi guru (ups.. lagi2 kembali kesana).

Kembali ke topik. Merasa bosan dengan keadaan ini malah membuat ide2 tercetus. Sebenarnya banyak yang masih pengen dilakukan, misalnya mendalami skill menjahit yang belum sempat, belajar stir mobil yang belum berani2 juga :D, belajar berenang, dan belajar lain2nya. Tapi yang kepikiran justru adalah cita2 lama pengen buka usaha sendiri. Dulu pernah punya cita2 bisa jadi wanita karir sekaligus womenpreneur :D. Pengen punya passive income seperti di sini. Punya niat mulia bisa menciptakan lapangan kerjaan bagi orang lain.

membuka-usahaSo.. berangkat dari itu semua, saat ini lagi matengin ide. Mudah2an dengan ilmu yang udah dimiliki, kemampuan analisis, dan belajar dari pengalaman2 orang lain ide ini bisa terwujud. Aminn.

Gambar dari http://www.asuransinomor1.com/bosan-jadi-karyawan

 

 

Menyempurnakan Separuh Agama

Copas dari http://www.fimadani.com/menyempurnakan-separuh-agama/. Cukup terwakili tanpa harus menulis topik serupa 🙂

jodoh

Gambar dari https://bahterailmu.wordpress.com/2014/02/04/untukmu-yang-galau-menanti-jodoh/jodoh/

Kita sering mendengar istilah menggenapkan separuh din. Istilah yang kadang terdengar sensitif untuk beberapa orang. Padahal sebenarnya hal ini tidak perlu dipikir berat. Sebab Allah sudah menjanjikan bahwa rejeki setiap orang tidak akan pernah tertukar dengan orang lain. Bukankah menggenapkan separuh din juga merupakan rejeki

Kebanyan kita hanya fokus pada sisi penggenapan separuh din, padahal ada hal yang tidak kalah pentingnya dari itu, yaitu penyempurnaan separuh din. Ketika separuh din itu belum genap, maka ada separuh lain yang kini menjadi amanah kita. Separuh din ini yang seharusnya kita syukuri dengan beragam ibadah sebagai wujud syukur kepada Allah.

Banyak orang yang galau tidak jelas hanya karena masih ‘sorangan wae’, hingga akhirnya lupa ada separuh din yang harus disempurnakan. Fokus dengan apa yang belum ditangan dan belum Allah takdirkan dan melupakan hal utama yang tak kunjung dibenahi.

Menikah memang ibadah, namun bagaimana kalau Allah masih ingin kita terus memperbaiki diri? Ada banyak amanah ummat yang tidak boleh kita kesampingkan hanya karena ‘galau’. Amanah dakwah yang tak kunjung selesai hingga akhir hayat.

Sayangnya banyak dari ummat ini yang lantas sibuk menyiapkan diri agar bisa segera menggenapkan din lantas lupa akan amanah dakwah. Parahnya lagi, diantara mereka ada yang memilih untuk melonggarkan apa-apa yang Allah gariskan. Misalnya, menjadi lebih terbuka kepada lawan jenis. Mudah khalwat dan ikhtilat yang salah satu tujuannya adalah ‘melebarkan sayap’.

Kepadamu yang masih separuh,

Allah punya banyak rencana baik untuk masing-masing ummatnya. Tugas kita adalah tetap menjadi baik agar layak mendapatkan surganya. Amanah dakwah tidak menunggu urusan hidup kita selesai. Dia terus bergulir mengikuti waktu. Bila kita lalai dan melepaskannya, Allah akan siapkan orang lain untuk mengganti kita.

Ini bukan perkara siap lebih dulu siapa. Namun siapa yang lebih bisa melihat peluang kebaikan yang Allah berikan kepada dirinya. Siapa yang lebih sadar akan posisi dan manfaat dirinya untuk ummat. Bukan hanya melulu ‘protes’ akan apa-apa yang belum kunjung Allah gariskan.

Ilmu islam begitu luas dan dalam. Apa yang kita pahami sekarang hanya sepersekian dari ilmu yang ada. Dari pada sibuk ‘protes’ dengan takdir Allah, bukankah lebih baik mengisi kekosongan otak agar tidak berkarat.

Menyiapkan diri untuk takdir Allah itu penting, namun itu tidak boleh membuat kita abai akan ikhtiar untuk menyempurnakan din yang sudah diamanahkan kepada kita saat ini. Ada kebutuhan ummat yang harus segera kita penuhi. Ada beragam ilmu yang harus segera kita pahami.

Semoga tulisan ini bermafaat. Wallahu’alam.