“Apakah gerangan yang akan terjadi, Rama?” kepala desa yang duduk agak di belakang orang tua itu bertanya.
“Bulan purnama begini. Semua indah. Hanya anjing-anjing pada menangis. Bulan itu takkan menanggapi mereka. Sejak dahulu pun tidak. Tapi bulan penuh, menua dan hilang. Bulan purnama sekarang, tapi bukan bulan purnama untuk kalian. Untuk kita. Kita sedang tenggelam.”
“Kita belum pernah tenggelam, Rama,” protes seorang gadis di tengah-tengah hadirin.
“Kau belum pernah tenggelam, gadis. Kau pun belum pernah terbit. Kita-kita pernah terbit, dan sekarang sedang tenggelam. Lihat, sebagai bayi aku dilahirkan di sini. Kalian semua belum lagi lahir. Hutan dan alang-alang masih berjabat-jabatan. Sawah belum ada. Hanya huma, gadis. …..”
Potongan pembicaraan Rama Cluring dengan rakyat awis krambil dalam novel sejarah yang ditulis pramoedya berjudul Arus Balik.
Sejenak terhenyak kata-kata “Kau belum pernah tenggelam”. Baca lebih lanjut