Lelaki dan Perempuan di Stasiun
Ah. Rasanya baru kemarin aku melihatmu pulang di terik siang dengan seragam putih-biru. Bercerita tentang gurumu yang galak atau mendiskusikan PR Matematika bersama teman-temanmu di teras depan. Sekarang kamu menjelma perempuan dewasa yang mandiri dan bicara mengenai hal-hal yang tidak aku mengerti—politik, tuhan, agama, penindasan kaum buruh—dengan mata berapi-api di balik sepasang lensa minus yang bertengger di hidung pesekmu yang lucu.
Dari pertama melihatmu aku tahu kau akan jadi orang yang menantang dunia dengan prinsipmu sendiri. Aku sudah menduga kamu akan jadi pejuang tangguh dengan kengototanmu menjadi lain dengan sekitar. Kamu berjibaku di setiap detik hidupmu hanya untuk bisa diterima sekeliling, memperjuangkan perbedaan yang tidak bisa kamu rubah. Dan kamu berhasil. Meski tertatih dan hancur sendirian. Tapi tidak seorang manusia pun kau biarkan melihatnya. Aku tahu, kamu terlalu sombong untuk itu dan selalu membiarkan cengiran konyol memancar dari bibir tipis yang mulai menghitam karena dihajar nikotin tiap hari. Walaupun perasaanmu babak-bundas menahan kecewa.
Atau mungkin namamu terlalu berat, Banyuagni? Karena ketika elemen Air dan Api yang saling mematikan bergabung menjadi sesosok manusia maka dia tidak akan bisa tenang? Salahku, salahku.
Kamu, perempuanku…Yang membuat malam-malamku tanpa tidur dengan tangismu. Memaksaku bekerja keras demi permintaanmu—dan kulakukan dengan kerelaan seorang budak. Mencerahkan hari-hari beratku dengan senyuman, dan membuatku pulang tergesa demi melihat wajah mungilmu.
Kadang aku ingin mendekapmu seperti dulu, ketika kau kelelahan dan mengantuk. Mendengar ocehanmu pukul tiga pagi ketika kelaparan dini hari dan menunggumu lelap sampai adzan Subuh berkumandang. Lalu kupanjatkan doa-doa berisi harapan dan permohonan baik dalam tiap sembahyangku. Untukmu. Saat pagi menjelang, kukais rupiah dengan motor butut, pergi ke kantor dengan mata merah akibat begadang di penghujung malam. Hanya untuk kamu, Permataku…
Sekarang kamu akan pergi, kembali ke tempatmu mengejar mimpi, ke Utopia yang kamu ciptakan di kepalamu. Apa itu, aku tidak pernah bisa mengerti. Karena bertahun-tahun sudah kamu bagai anak panah yang diluncurkan busur tak terlihat. Cepat, melesat, jauh meninggalkanku dan sekelilingmu.
Keputusan sesepuhmu di akhir hayat untuk mengirimmu ke tempat yang jauh dariku kau terima dengan wajah sumringah. Mungkin kau tidak peduli dengan aku dan orang-orang yang mencintaimu disini, karena kamu jarang datang lagi. Kamu memang petualang, dan selalu mencari celah untuk bisa berkelana. Dan melihatmu pulang dengan tubuh mengurus, penampilan lusuh acak-acakan, kulit bertambah gelap tapi mata menyala bersemangat, aku tahu keputusan itu tepat. Kamu jadi manusia, yang sering tidak aku pahami. Dan kamu buktikan bahwa kamu memang pejuang tangguh.
Kamu mudah sekali tertawa, Sayang. Kadangkala hanya melihat hal-hal kecil yang luput dari perhatian orang lain membuat bibirmu melengkung menyenangkan. Seperti bocah yang riang menemukan mainan ketika dia bosan. Dan kutemukan bocah dalam seulas senyum samarmu, meski kamu telah dewasa.
Sempat aku berpikir jahat: semoga kereta itu tidak akan pernah datang dan membawamu pergi dari sisiku. Tapi keterlambatan yang baru sepuluh menit ini sudah membuatmu resah. Dengan gelisah kamu mainkan rokok—yang entah sudah keberapa batang—di jemari tangan kirimu, tanpa mengindahkan laranganku, sementara kamu berusaha menutupinya dengan cerita-cerita lucu yang kau tuturkan padaku. Di lantai peron dekat kaki kursi yang kau duduki, puntung-puntung berserakan di dekat ransel. Kau kumpulkan tebaran puntung itu menjadi satu gundukan dengan kakimu yang berbalut sneaker. “Biar pemulung gampang ngambilnya,” ujarmu sambil tersenyum nakal. Dan aku hanya melihat tanpa komentar, sambil terus menghisap nikotin dari bungkus yang kau tawarkan tadi. Menghitung menit dan detik yang terlewat dengan cemas…
***
Gile ye, ni kereta! Udah hampir setengah jam gini nggak juga nongol! Besok bakal telat dateng nih, kalo gini caranya… Untung dia sabar banget mau nungguin. Padahal gue pengennya dia langsung balik aja, jadi gue bisa bebas ngerokok dan baca buku sambil nunggu. Jadi terkesan intelek gitu, padahal naeknya kereta ekonomi. Kalo begini kan gue nggak bisa ngecengin cowok-cowok gondrong dan tinggi.
Phew! Untung aja dia bisa gue speak-speakin ampe bisa ngerokok bareng. Tumben banget. Biasanya liat gue baru pegang rokok aja matanya udah melotot segede nonong Louhan. Lha? Katanya kalo udah bisa cari duit sendiri boleh ngapa-ngapain aja?! Gimana sih?! Lumayan lah, meskipun sebungkus jatah rokok gratis dari Mas Bagus, untuk di kereta nanti jadi berkurang karena dibantai disini.
Tapi…
Kasian juga dia, ya. Bela-belain nganterin gue malem-malem gini naek motor sering ngadat. Udah gitu duit duapuluhribuan yang cuma selembar tadi udah gue palak buat beli rokok lagi. Terus tadi parkir motor juga, keluar dua ribu. Udah deh, sekarang Jamila. Jadi miskin lagi. Hehehe… Emang duit duapuluh ribu bisa kaya dan beli pulau, gitu?! Nggak pa-pa kali ye, sekali-sekali buat gue.
Denger-denger sih, dia sering banget nanyain gue waktu gue nggak ada. Kadang kalo dia lagi makan makanan kesukaan gue, dia suka manggil nama gue. Biar gue berasa makan enak juga, katanya. Konyol.
Liat dia. Masih sama kayak dulu meskipun sekarang tambah botak dan mulai banyak kerutan baru di mukanya yang dulu ganteng. Tapi mata itu masih tetap sama. Teduh. Tenang. Lingkar pinggangnya selalu tambah gede hampir tiap tahun, meskipun nggak bikin dia terlihat gendut. Gue sering kuatir sama kesehatannya. Mana dia nggak pernah check-up, lagi. Gue kan nggak tau, apa dia kena darah tinggi, kolestrolnya mencemaskan, diabetes, atau apa lah. Untung aja dia selalu merasa sehat. Untung aja dia bisa ngurus dirinya sendiri. Untung aja dia selalu positif dan nyantai ngadepin semuanya. Dia memang beruntung.
Kadang gue suka nggak enak kalo mau pulang ke dia. Abisan, di tempatnya nggak ada apapun yang bikin gue berkembang. Membosankan, hari-hari barengan dia. Cuma makan, tidur, nonton tivi, ngobrol, ngumpul, bikin guyonan basi, nanya-nanya kuliah atau kerjaan. Halah! Gue kan harus bohong terus jadinya. Mana berani gue bilang kalo kuliah gue udah ambruk beberapa tahun yang lalu?! Bisa digorok berkali-kali, deh!
Gue suka bingung kalo ngobrol ama dia. Yah… gimana ya? Di kampus dulu kan gue suka diskusi. Bacaan gue berat. Kalo gue ngobrol sama temen-temen juga pasti ngebahas tentang issue-issue terbaru yang dihadapin dunia. Gue tuh mikirin bumi dan segala isinya yang terus dieksploitasi tanpa kenal ampun, gimana perempuan dan tenaga kerja diperjualbelikan seperti barang dagangan, gimana anak-anak ngalamin kekerasan dalam keluarga mereka, dan lain-lain lah! Gue kan kuliah, gitu loh. Punya komunitas dan sadar sekeliling. Gue nggak mau egois, hanya mikirin diri sendiri. Tapi gue tinggalin kampus karena kuliah itu cuma ngabisin duit dan nggak ada hasilnya kecuali jadi intelek-intelek keminter yang jago ngebodohin orang-orang desa yang nggak sekolah. Lagipula gue sadar kalo pembelajaran itu nggak hanya di institusi formal, tapi dari bertahan hidup pun gue belajar. Keren lah, pokoknya. Dibandingin sama anak-anak yang pada doyan ngeceng di Mall. Apaan tuh mereka?! Huh! Dasar konsumtif!
Kadang matanya sering menilai gaya pakaian gue. Gue tau, meskipun dia nggak pernah ngomong tapi matanya udah kebaca. Gue juga tau, gue perempuan. Tapi gue nggak suka pake rok, blus atau pakaian cewek modis gitu. Apaan tuh, cuman nonjolin dada dan paha aja. Gue kan nggak mau jadi objek gratisan untuk laki-laki dan ditelanjangi dengan pandangan mereka atas badan yang gue pake di dunia ini. Untung dia mau ngerti, meskipun kadang suka rada protes juga (walaupun dengan bahasa sehalus mungkin). Dia pengen liat gue jadi perempuan pada umumnya, katanya. Yah, elah… Susah banget dibilanginnya, sih?!
Sering gue ngerasa kalo dia nggak peduli sama gue. Abis… mau kemana dan pulang jam berapa aja, gue nggak pernah dicariin. Kalo gue lagi ‘diadili’ ama Ibu, gue nggak pernah dibela. Gue mau makan apa nggak, dia nggak ngurus. Gue mau melakukan hal jelek atau bagus pun dia nggak pernah komentar. Mukanya tetep sama. Datar, nggak ada ekspresi. Tapi dia partner in crime yang baik saat kami ngrasani Ibu, tetangga atau iklan di televisi. Hahaha…
Setelah lima hari barengan, gue udah harus balik lagi. Diiringi tatapan matanya yang nggak rela. Heran. Ternyata dia bisa juga kehilangan gue. Sebelum berangkat ke stasiun tadi, gue peluk dan tepuk-tepuk punggungnya, dan mastiin kalo gue bakal balik lagi bulan depan. Dia diam. Ah, dasar jaim!
Mbak-mbak tukang kopi yang kita tongkrongin ngeliatin dengan tatapan curiga. Cuek wae. Peduli setan dia nganggap kami apa, wong setan aja nggak peduli ama gue. Omongan Si Mbak itu udah mulai menjurus ke yang nggak-nggak, mengindikasikan kalo kami pasangan aneh, sementara dia cuma diam dengan ekspresi datar. Gue yang sebel. Maksudnya Si Mbak apa sih?!
Udah, lah. Gue mau nikmatin masa-masa penantian ini dengan nikmat bareng lelaki yang paling gue sayang ditemani nikotin jahanam dan kopi menyebalkan.
***
Suara seorang lelaki setengah mengantuk terdengar dari speaker stasiun, mengabarkan kereta ekonomi jurusan Jogja akan datang di Peron 3. Perempuan itu menegang dalam duduknya. Lehernya dipanjangkan, berusaha mendengar dengan wajah serius. Anak rambut yang menjuntai diselipkan ke balik telinganya, seolah dengan begitu dia akan lebih bebas mendengar pengumuman dari bagian informasi. Penjaga warung kopi menghentikan cerita demi melihat lambaian tangan Si Perempuan yang menyuruhnya diam.
Si Lelaki hanya menatap Perempuan di hadapannya yang membuang rokok ke lantai, kemudian dia injak agar bara di ujungnya padam. Sejurus, Si Perempuan memandang Si Lelaki dari balik sepasang kacamata minus, lalu diambilnya ransel berat berwarna hitam yang senada dengan celana selutut dan kaos yang dia kenakan. Setelah ransel tersandang di bahunya, Perempuan itu merogoh saku dan selembar uang sepuluh ribu keluar dari sana.
“Berapa, Mbak?”
“Kopi dua, brownies dua dan Aqua gelas satu… Jadi tujuh ribu…”
Kembalian diangsurkan penjaja warung dan Si Perempuan menerimanya, langsung dimasukkan ke saku celana tanpa dihitung. Si Lelaki hanya menatap Perempuannya tanpa berkomentar.
Mereka kemudian berdiri dan beranjak dari warung setelah mengucap terima kasih, diiringi tatapan mata mengejek dari penjaga warung yang menghunjam punggung mereka. Cahaya lampu sudah terlihat benderang di ujung sana, makin lama semakin dekat. Mereka berdiri, berkumpul di tepi peron stasiun bersama calon penumpang dan pengantar lainnya, menunggu kereta yang sebentar lagi akan lewat.
“Keretanya udah dateng, Yah. Anyu berangkat…”
Mata mereka bertatapan di tengah kerumunan orang yang saling berpamitan dan berlalu-lalang. Si Lelaki murung.
“Kalau sudah sampai, kabarin. Telpon kek. Atau SMS. Jangan pelit. Kan udah Ayah isi pulsanya kemarin…”
Anyu tertawa renyah menutupi salah tingkahnya.
“Ah, Ayah. Jadi malu. Udah kerja tapi masih diisiin pulsa aja. Iya… Ntar Anyu telpon Adek, terus nanti Anyu suruh Adek kasih telponnya ke Ayah. Kan providernya sama, jadi lebih murah. Ayah nggak usah khawatir.”
“Kamu baik-baik ya, Nak. Selesaikan apa yang sudah kamu mulai di Jogja. Ingat… Kamu anak Ayah yang paling besar, harus jadi contoh untuk Adek. Kamu juga yang bertanggungjawab nanti kalo Ayah dan Ibu udah nggak ada.”
Anyu menunduk, sekilas memperhatikan betapa kotor lantai peron stasiun ini dan sejenak menemukan pengalih perhatian dari wejangan yang seakan menghantam ulu hatinya. Meski hanya sesaat, tapi rasanya nyeri sekali.
Saat mendongak, didapati sepasang mata tua ayahnya yang tenang menatap penuh harap dan bangga ke wajahnya. Anyu hanya tersenyum kikuk.
“Iya, Yah. Anyu ngerti. Doain Anyu, ya.”
Anyu meraih tangan kanan Ayahnya, mencium punggung tangan itu dan memeluk tubuh sang ayah, erat. Sang Ayah membalas pelukan Anyu, kemudian mengelus kepala anak perempuannya dengan sayang. Beberapa saat kemudian pelukan dilepaskan dan Anyu melangkah ke pintu kereta yang berhenti tepat di belakangnya. Tubuh dan tas punggung Anyu segera hilang ditelan gerombolan penumpang yang bergegas masuk. Peluit melengking. Kereta tersentak ketika lokomotif di ujung menarik gerbong-gerbong di belakangnya untuk bergerak. Dari balik jendela, Anyu miris melihat wajah Ayahnya yang segera hilang saat kereta melaju bertambah cepat.
About this entry
You’re currently reading “Lelaki dan Perempuan di Stasiun,” an entry on The Bitch Goes Lit
- Published:
- May 12, 2008 / 12:10 pm
- Category:
- Piece of Puzzle
- Tags:
17 Comments
Jump to comment form | comment rss [?] | trackback uri [?]