Archive for November, 2007

Mimpi yang Mati

By : Nindy 

 

Seorang gadis memincingkan matanya, melihat sebuah taman yang indah. Entah apa yang dia rasa saat ini. Hatinya peluh, menjerit kesakitan. Kebahagiannya runtuh, mencabik sang angkara murka. Air matanya Menghiasi taman taman langit, sehingga menjulangkan sebuah pertanya. Mengapa dia begini???

            Dia berharap, disana akan ada hati yang bisa di sirami dengan dahaga kerinduan sang Rembulan……

“ah,,,,,,,” selalu……selalu setiap beberapa hela menit dia menghelakan nafasnya.

Dia mungkin merasa bodoh, anganya begitu tinggi. Angan tentangnya, yah….angan memiliki suatu yang lemah. Manusia yang tak pernah luput dari dosa, manusia yang hanya bisa bersandar pada Sang Pencipta. Dia merasa terkutuk, seketika dia mengerutkan keningnya.

“kenapa aku bisa begini?” selalu,,,pertanyaan itu yang ada diotaknya.

Tak henti bertanya pada dirinya sendiri, begitu bodoh pikirnya. Sejenak dia menghentikan tetesan air matanya yang tak terbendung lagi untuk tak jatuh dia taman mimpi. Karena keramaian kota membuatnya menahan itu semua. Lalu lalangnya manusia manusia dihadapanya, membuat dia kelu untuk menampilkan beberapa secercah kehidupanya. Sungguh dramatis.

            Sepoyan angin ditaman langit itu, membawa dia bersemayam pada mimpinya,

“ah,,,cinta, kasih saying, belahan jiwa dan belahan hati ku fikir hanya mimpi” gumamnya. Tak jauh, ya kebodohan itulah yang membuat dia semakin terpuruk.

            Cintanya hilang, sang kumbang berkhianat, dia telah pergi,,,,,cintanya musnah. Sungguh tak tau apa yang dia rasa. Setelah sang kumbang pergi, kehidupanya liar. Obat-obatan haram menjadi santapan setiap hari. Bersenggama dan bersetubuh dengan pria lain dijadikan kegiatan rutin setiap hari demi untuk sebuah materi. Dia sejenak berfikir, air matanya mulai mengalir, dan tak tahan dia bendung. Tak dihiraukan pula manusia-manusia yang sibuk dengan dirinya sendiri berlalu lalang dihadapanya. Dia mulai tersengguk, dia mulai menangis. Kebahagian adalah hal mustahil baginya. Baca entri selengkapnya »

Comments (4) »

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai