Arsip untuk HIV/AIDS

Circumcisi

Posted in HIV/AIDS, Kesehatan with tags , , on Agustus 10, 2011 by Handari Yektiwi Alchosih

MC Leaflet 4

Circumcisi

Posted in HIV/AIDS, Kesehatan with tags , , on Agustus 8, 2011 by Handari Yektiwi Alchosih

MC Leaflet 3

Self Care

Posted in Handari Berbagi, HIV/AIDS, Kesehatan with tags , , on Maret 28, 2011 by Handari Yektiwi Alchosih

Living With AIDS

Self Care

Posted in Handari Berbagi, HIV/AIDS, Kesehatan with tags , on Maret 25, 2011 by Handari Yektiwi Alchosih

Living Healthy

Penanggulangan AIDS dengan Kondom atau Moral Agama?

Posted in HIV/AIDS, Kesehatan, Perilaku with tags on Desember 4, 2007 by Handari Yektiwi Alchosih

Tanggal 1 Desember 2007 kemarin adalah masa 20 tahun setelah kasus AIDS pertama ditemukan di Pulau Bali. Kasus pertama ini ‘untung’ saja bukan pribumi, jadi masyarakat bisa bernapas lega. ‘Belanda’ masih jauh…istilah jaman sebelum kemerdekaan RI. Tetapi tidak demikian dengan pemerintah pusat dan departemen terkait yang untuk sementara AIDS dianggap sebagai penyakit tanpa mempertimbangkan faktor penyebab perluasan kasus.
Langkah awal pemerintah pusat adalah membentuk tim penanggulangan yang anggota terbanyak didominasi oleh unsur ‘sakit’ yaitu rumah sakit dan jajaran departemen kesehatan yang membawahi rumah sakit. Kemudian diikuti dengan pembentukan tim penanggulangan AIDS Propinsi. Pada saat itu Propinsi Jawa Timur yang pertamakali berhasil membentuk tim sekaligus menetapkan kebijakan.
Pada awal merebaknya kasus AIDS di Amerika Serikat, kaum homoseks lah yang dianggap sebagai penyebab munculnya virus HIV yang akhirnya bisa menyebabkan penurunan kekebalan pada tubuh manusia dan disebut dengan Acquired Immuno Deficiency Syndrome (AIDS). Tetapi kasus selanjutnya muncul dikelompok pelacur dan ternyata fenomena penyebaran dari homoseks ke pelacur dan kelompok yang lain termasuk ke kelompok rumah tangga terjadi di beberapa negara termasuk Indonesia.
Saat ini kasus HIV/AIDS sudah mengena pada ibu rumah tangga dan pada keluarga. Gambaran kasus ini akhirnya memunculkan suatu pendapat bahwa sudah saatnya dilakukan kampanye penggunaan kondom yang dilakukan secara terbuka artinya untuk semua lapisan masyarakat tidak hanya ditempat pelacuran. Pemikiran ini mendapat tentangan oleh kelompok agamis yang berkeyakinan bahwa ‘barrier’ moral agama ditambah dengan peningkatan pengetahuan tentang proses penularan HIV akan mampu membendung penyebaran di masyarakat.
Menurut saya pribadi, pendapat yang meyakini bahwa moral agama ditambah dengan pengetahuan tentang HIV akan mampu menjadi ‘barrier’ penyebaran dan penularan. Kampanye kondom pada remaja kadang membuat mereka bingung dan justru yang tertanam dalam benak mereka adalah keingintahuan untuk ‘mencoba’ kondom seperti yang diajarkan.
Mengapa kita selalu mengedepankan HAM untuk pengidap HIV dan penderita AIDS? Lalu bagaimana dengan hak yang masih sehat dan selalu berhati-hati dalam menjalani hidupnya?
Mengapa kita tidak melakukan penanggulangan dengan cara yg sesuai dengan situasi ‘pasar’? Tetapi seperti yang kita semua tahu, yang kita semua bisa rasakan, semua sektor yang berhubungan dengan hak yang hidup pada saat ini sudah menjadi lahan bisnis. Dan semua sektor ekonomi dan bisnis tidak bisa lepas dari pengaruh politik luar negeri dan dalam negeri.
Pemerintah pusat yang seharusnya sebagai penetap kebijakan belum pernah konsisten terhadap apa yang sudah menjadi ketetapan. Jadi bagaimana? Sebaiknya kita masing2 bertanggungjawab atas diri kita sendiri karena pada ‘saat’nya nanti kita akan sendirian mempertanggungjawabkan segala amal perbuatan yang telah kita perbuat di dunia.

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai