Upik,
Kudengar kotamu kini tengah merah membara.
Dengan decak semangat merubah bangsa.
Dan kadang,
orang-orang lupa bahwa di sana pernah terhimpun kehidupan bagi manusia.
Masih samakah pantaimu yang dulu, Dek?
Tempat kita meruntuhkan derai bahagia – lelarian di atas pasir hitamnya.
Berserak rindu lalu rebah.
Ada buih ombak yang menyalami tumitmu, dan sesekali mengecipakkan ujung jilbab biru kesukaanmu.
Dek,
Adakah kau pernah menghitung
tiap butir padi yang tumpah di musim panen raya?
Saat sebagian penduduk bersukacita,
Kita tengah tersenyum malu-malu – melahap rebusan ubi kayu di pondok bambu.
Aku tahu, Dek.
Senja yang kau amati di menara Masjid Nurdin Hasanah,
Sama indahnya dengan celupan oranye di pantai Air Hitam Laut.
Aku ingat, Dek.
Dahulu kau tertawa saat kuceritakan
tanah ini dijuluki ‘tanah pilih pusako betuah’.
Cangkir demi cangkir yang kusesap hanya untuk melebur perih semata.
Namun bertemu senyummu membuatku menyadari, ada hal kedua yang membuatku tak bisa memejam mata setelah kopi AA.
Upik,
Kapan kita bersepeda lagi, sayang?
Menyusuri jejak pepohonan cemara di tepi Pantai Remau .
Menggenangi kaus bergambar rumah adat Jambi pemberianmu dengan peluh yang meraja.
Dan kau akan menyekanya penuh kasih sepulang nanti.
Sambil menyuapiku semangkuk sayur pucuk ubi buatanmu.
Kapan-kapan, Dek.
Aku pasti turut sertakan engkau lagi menyusuri lebatnya hutan di Taman Nasional Berbak
Atau kau masih ingin bermain-main ke air hitam dalam melihat lebatnya amazon van Jambi?
Nanti kita rajut simpul perjalanan.
Kelak yang melewatinya akan tahu cinta kita nyata.
Upik yang berkulit sawo matang,
Terimakasih,
untuk setiap rintik hujan
yang jatuh dari bola mata berkabutmu – saat mendo’aku.
Untuk begitu pandai menyimpan manik-manik luka menjadi potongan perca bahagia di rumah kita.
Kau didik anak kita dalam buaian dengan shalawat nabi dan doa tak henti.
Terimakasih.
Ah, mungkin kau belum mengetahui.
Rawa di belakang rumah kita tak lagi ada.
Dan kini tiap kali si belang itu singgah di sana dengan sebelah kakinya yang pincang,
aku menyeka airmata, Dek..
Sebab aku tahu
sepasang kakinya pernah melihat pergimu di kabung asap dari kebakaran hutan di berbak dua bulan lalu.
Dan sekarang si belang tak lagi terlihat perkasa Dek,
Sama halnya seperti aku yang tak lagi seceria dahulu ketika asap ini belum menutup usia mu.
____ Syarif Hidayatullah ____
___Air Hitam Laut, Tanjung Jabung Timur ___