Ordinary Girl – Chapter 1 – Part 6

Aku masuk ke kelas dengan perasaan yang apa adanya. Rasa senangku menguap begitu cepatnya. Sekarang malah berubah menjadi masalah. Kuharap ini yang terakhir.

“Halow Vira yang cantik, imut, lucu dan nyebelin, gimana rasanya?” tanya Aldi yang berdiri di samping mejaku.

“Gak ngerti,” jawabku singkat.

“Suka pura-pura. Rasa lama?” tanyanya lagi.

“Berarti udah basi,” jawabku.

Continue reading

Ordinary Girl – Chapter 1 – Part 5

Masuk sekolah hari senin memang menyebalkan. Aku bahkan harus mengikuti upacara pengibaran bendera terlebih dahulu padahal tahun ajaran baru. Yang membuatku sebal bukan upacaranya, tapi kalau tahun ajaran baru kayak begini, upacaranya sambil bawa tas—kan berat—belum lagi pembagian kelas yang lama. Tapi rasa letihku akan segera punah ketika tahu aku tidak sekelas lagi dengan orang brengsek  di sebelahku. Aku sudah bosan sekelas dengan dia. Sejak kelas empat SD aku selalu satu kelas dengan dia. Masa kali ini sekelas lagi.

“Sekelas lagi, sekelas lagi,” kata Aldi yang berdoa seakan tak ada orang di sekelilingnya, “please sekelas lagi. Jangan pisahin aku sama dia. Kumohon, sekelas lagi.”

“Ngomongnya kok pelan amat Di?” sindirku.

“Ngapain protes? Mulut-mulut aku,” jawab Aldi.

Continue reading

Ordinary Girl – Chapter 1 – Part 4

Uke membawaku  jalan-jalan ke mall untuk melihat-lihat sepatu. Rupanya Uke belum punya uang untuk membeli sepatu. Sudah tiga toko yang kujelajahi bersama Uke. Banyak sekali yang sudah dilihatnya, tapi dia tampak tidak tertarik pada satu sepatupun.

“Butuh sepatu apa sih?” tanyaku.

“Sepatu buat main basket,” jawabnya pendek.

“Bentar lagi juga lulus, ngapain beli sepatu olahraga?”

Continue reading

Ordinary Girl – Chapter 1 – Part 3

Aku masih bisa melihat Uke manyun di dapur dari depan kamar kak Nicky. Kulihat piring kak Nicky masih penuh. Kak Nicky mungkin lebih suka menyantap pekerjaannya yang ada di notebook dari pada makanan yang ada di piringnya.

Aku masuk ke kamarku dan kukunci pintu. Kusembunyikan CD yang kupinjam tanpa izin itu di bawah kasur. Kak Nicky tidak akan menemukannya. Lagi pula kasetnya berjajar tak terhitung. Mungkin ia tidak akan tahu CD mana yang kuambil. Sekalipun dia sudah menyusunnya agar tahu kalau ada yang hilang, aku tidak peduli. Kak Nicky memang akan marah. Tapi setidaknya aku sudah tahu apa yang membuat kak Nicky marah.

“VIRA!” teriak kak Nicky.

Cepet amat marahnya?

Continue reading

After Later – Chapter 15 – Part 2

Pukul tiga sore aku dan teman-teman seangkatanku berdiri di lapangan. Kami berbaris membentuk tujuh barisan. Satu baris hanya  terdiri dari empat orang. Kakak kelas sembilan mengelilingi kami sambil duduk di lapangan tanpa alas. Beberapa melepas sepatunya dan duduk diatas sepatu.

Ternyata Uke tidak datang. Kalau ada latihan seperti ini aku ingin dia datang sekalipun dia tidak ikut melatih bersama kak Dan. Aku hanya mau perlindungan dari dia. Setidaknya aku tahu kalau kakak kelasku tidak akan meyiksaku. Dan sekarang terbukti—mereka menyakitiku. Mereka seperti menganggapku berbohong. Padahal tanganku memang sedang sakit. Tapi tidak satupun dari mereka yang membiarkanku istirahat.

Continue reading

After Later – Chapter 15 – Part 1

Kupandangi makan siangku. Kemenangan dari kelas 8-C menguap begitu cepat karena kelasku dikalahkan kelas 8-A. Tanganku sudah tidak bisa digerakkan lagi untuk mendribble bola. Jadi aku tidak ikut pertandingan. Eka melarang aku turun. Dia mengancam Ica kalau aku ikut bertanding dia tidak akan ikut main dan akan melaporkan Ica ke kepala sekolah. Dan sebagai gantinya Ica yang bermain dan hasilnya kalah tiga puluh angka.

Hal itu malah membuatku tersenyum. Ica bukannya main malah marah-marah. Kerjaannya hanya memberi instruksi. Dan dalam pertandingan seperti itu mana ada yang mau mendengarkan. Dia cocoknya jadi pelatih saja. Dari pada merintah gak jelas di lapangan, lebih baik dia berteriak dari pinggir lapangan sekalian.

Akhirnya tanganku sedikit bisa diajak kompromi. Walaupun pelan aku bisa menyuapkan nasi goreng ke dalam mulutku. Aku tidak mungkin tidak makan siang karena tenagaku akan terkuras selama dua jam untuk latihan. Kantin penuh dengan anak eskul basket. Tapi segini belum apa-apa. Yang datang hanya anak kelas delapan dan beberapa anak kelas tiga. Anak kelas tujuh hanya latihan setiap minggu sore. Itu juga hanya sebulan dua kali. Tapi saat kelas tujuh kemampuanku tetap berkembang karena aku punya pelatih pribadi di rumah yang bisa mengajariku tanpa harus dibayar.

“Vira, aku suapin ya?” kata Anita yang duduk di depanku. “Aku aja udah udah abis sepiring. Kamu setengah juga belum. Aku suapin ya?”

“Gak usah. Aku bisa makan sendiri kok,” jawabku.

“Tapi kapan beresnya?” tanya Ziqri yang kebetulan lewat di belakang Anita. “Keburu kak Dan teriak ‘semuanya kumpul’.”

“Ya makannya terpaksa bersambung,” kataku pada Ziqri.

“Emangnya tangan kamu kenapa?” tanya Anita sambil makan gorengan yang ada di depannya.

“Nonjok pohon,” jawab Eka lalu meminum es jeruknya yang ke dua.

Ya ampun! Si Eka tukang minum. Si Anita tukang makan. Padahal dua-duanya jagoan.

Mita yang sedang asik minum es kelapa tiba-tiba batuk. Dia menekan dadanya sambil berusaha untuk bernafas lagi. Kukira dia sedang menikmati tenggorokannya yang terbasahi. Rupanya nguping juga, padahal dari tadi dia diam saja.

“Kayak gak ada yang bisa ditonjok aja,” kata Mita setelah berhenti batuk.

“Aku gak punya pelampiasan,” kataku.

“Tonjok aja anak kelas 8-E. Ada yang malakin aku kemaren. Untung ada Adam.”

Kulanjutkan makan lebih cepat. Sebentar lagi jam satu dan itu berarti kak Dan akan segera teriak-teriak. Sepertinya akan ada kejutan untukku dan teman-temanku. Jarang sekali kakak kelas yang hadir sebanyak itu—padahal tadi hanya sedikit. Mungkin acara hukuman. Karena biasanya kalau banyak yang hadir itu pertanda buruk.

Aku melihat kak Anissina—adik kak Dan—datang bersama kak Lola. Alumni juga hadir. Ini lebih dari sekedar pertanda buruk. Tapi aku tidak melihat malaikat pelindungku.

Uke mana ya?

After Later – Chapter 14 – Part 3

Tapi kak Dan tidak melihat adanya pelanggaran—memang tidak ada, tidak mungkin Stevie sengaja menubrukku. Bola yang menggelinding di lapangan diambil oleh Anita yang dengan cepat membuat bola itu melayang di udara dan masuk ke ring. Seperti melihat petir, Anita melakukannya dengan cepat. Aku sempat tidak percaya pada diriku sendiri kalau dia melakukannya. Tapi nilai di papan skornya berubah.

Tembakan Anitalah yang membuat pertandingan ini berjalan lebih cepat. Maksudku skornya berubah begitu cepat. Teman-temanku sudah mulai serius. Itu berarti aku juga tidak boleh lengah. Tapi tanganku sedang kacau. Kalau aku kidal mungkin akan lain ceritanya.

Continue reading