PADA dua hari permulaan puasa ini saya bisa merasakan gairah beribadah jamaah yang membuncah. Ada hawa bahagia menyelimuti batin saya. Saya saksikan para tetangga yang selama ini jarang terlihat hadir di masjid, alhamdulillah pada awal Ramadhan ini mereka datang dengan semangat yang hanya Allah yang tahu kadarnya. Kebahagiaan saya timbul karena kami bisa saling berucap salam seraya bersalaman dengan senyum yang beradu.
Dalam liputan kebahagiaan seperti itu saya berdoa, mudah-mudahan suasana indah itu dapat berlangsung lama. Saya ingin terus melihat pemandangan semarak di masjid. Saya ingin merasakan siraman cahaya yang memancar dari dahi-dahi para peshalat tarawih. Dari doa-doa yang mereka panjatkan, saya ingin merasakan hawa kesejukannya mengalir teduh.
Semoga memang bukan hanya di bulan Ramadhan pemandangan itu ada. Bulan suci ini hanya sebuah training yang amat singkat. Setelah Ramadhan lewat, medan perang terbentang. Tantangan untuk membuktikan bahwa kita telah memiliki bekal selama berpuasa akan nyata.
Sanggupkah kita membuktikan? Kita harus punya gairah sebesar yang kita punya selama berpuasa. Jika selama bulan Ramadhan masjid penuh sesak, selepas itu keadaan mestinya tak berubah. Kesibukan kita sama antara bulan puasa dan bulan-bulan lainnya. Maka, kalau selama Ramadhan kita bisa, kenapa pada bulan-bulan lainnya tidak? Buktikan!
Ahad, 23-08-2009