Renang Lebih Cepat 10 Detik Per 100 m

Lagi happy banget. Jadi weekend kemarin akhirnya punya budget buat beli peralatan pendukung latihan triathlon. Nyicil dikit-dikit yah, yang penting sesuai kesanggupan gak boleh ngutang. Akhirnya beli lah pakaian renang dan gear latihan renang. Ada beberapa pilihan gear, tapi karena budgetnya terbatas, jadi harus milih. Akhirnya milih hand padle sama pull buoy. Inget dulu pernah latihan sama coach renang beneran, masukannya adalah tangannya kurang power. Beli pull buoy karena biar bisa fokus tangannya tanpa posturnya jadi miring berenangnya.

Seneng banget dapet feel badan ngangkat karena pull buoy ini, dan jadi ngeuh ternyata posisi selama ini masih miring. Awalnya agak kagok make pull buoy, tapi lama-lama jadi nyaman dan paham, oh gini toh rasanya kaki naik. Bener yah jadi lebih cepet. Nah pas make pull buoy ini berasa renangnya jadi effort. Capek bro. Jadi berat ngayuhnya. Untung sempet nonton Youtube dulu fungsinya apa. Ternyata emang ngelatih kekuatan tangan yah. Jadi pas latihan dikasih ini biar berat dan dapetin posisi benernya tangan pas ngayuh di dalam air.

Begitu dilepas, syut, 100 meter bisa lebih cepet 10 detik. Bahagia banget ya Allah. Dari kemarin mentok mulu latihan banyak di 3:30-3:40. Dah ngikutin yang di Youtube masih belum signifikan. Tapi pas benerin kekuatan tangan ini, berasa kayuhan tangannya jadi setrong yah.

Kata orang renang tuh teknik banget. Mari kita eksplor, teknik apa lagi yang harus dipelajari biar renangnya semakin kuat, cepat, dan efisien. Bismillaah.

Siswa Merokok, Kepsek Dinonaktifkan

Postingan kali ini mau bahas soal fenomena salah satu Kepsek di Banten yang dinonaktifkan karena melakukan kekerasan terhadap siswa yang merokok di lingkungan sekolah. Orang tua siswa tersebut melaporkan Kepsek ke kepolisian dan meminta diselesaikan lewat jalur hukum.

Sebagai dosen, saya tidak membenarkan seorang Kepsek melakukan kekerasan kepada siswa saat mendidik. Tapi sebagai siswa, saya akan terima kalau saya dihukum karena melanggar aturan, apalagi terkait merokok di lingkungan sekolah. Masalahnya, hukuman terhadap kepala sekolah ini nyata, dinonaktifkan. Tapi hukuman terhadap anak ini apa setelah melanggar aturan? Ada kah? Atau malah diberikan ruang untuk berontak dan mempengaruhi teman-teman satu sekolah untuk melengserkan Kepsek? Bahkan diundang makan siang ke kantor gubernur layaknya seorang siswa berprestasi? Keterlaluan sih ini. Tidak adil.

Jangan sampai karena kasus ini sekolah jadi lembek terhadap aturan. Karena takut melihat respon orang tua seperti siswa merokok tadi. Bapak Ibu guru. Bapak Ibu adalah pendidik. Siswa/i adalah manusia yang sedang pesat prosesnya dalam belajar. Mereka perlu dibina dan ditunjukan mana yang baik dan mana yang salah. Jangan lelah Bapak/Ibu Guru mendidik anak kami. Bapak/Ibu adalah orang tua anak kami di sekolah.

Di rumah, saya akan tegur anak saya saat berbuat di luar batas. Saya akan mengapresiasi jika anak-anak berbuat baik. Dan saya tetap mencintai anak saya dengan tulus, baik saat dia bertindak di luar batas atau sedang bertindak yang baik. Tapi aturan adalah aturan. Tidak bisa cinta saya terhadap anak membuat saya melindungi anak saya dari konsekuensi jika dia berbuat salah. Saya akan sangat berterima kasih jika ada orang di luar sana, yang membantu anak saya belajar dan memahami mana yang baik dan salah.

Sekali lagi para Bapak/Ibu guru dan pendidik dimana pun berada. Jangan takut dan jangan lelah mendidik anak kami. Mengingatkan anak kami. Yang tidak kalah penting, tetaplah jadi guru yang bisa menjadi teladan. Percayalah, kalau Bapak/Ibu memberikan contoh kendali diri yang baik, insya Allah anak-anak pun bisa meniru. Kalaupun ada yang masih bertindak di luar batas, tegakkan aturan saja tanpa kekerasan.

Mulai Latihan Triathlon

Tahun kemarin, alhamdulillaah bisa merasakan triathlon. Kelasnya masih sprint distance. Masya Allah. Yang bikin ruar biasa adalah sepedaannya karena tanjakannya sungguh melelahkan. Tapi tetep bersyukur, karena bisa finish.

Tahun ini, dibuka lagi pendaftaran. Tapi mikir keras, karena gak punya sepeda. Tahun kemarin kami sekeluarga baru memberikan sepeda 2 buah ke orang karena sudah tidak terawat dan hanya menuhin rumah. Jadi pas lihat-lihat harga sepeda triathlon yang lebih mahal, kayak ragu takut kalau gak bisa rawat juga. Jadi urungkan diri deh daftar triathlon. Akhirnya, daftar Aquathlon saja, berenang 750m dan lari 5 km.

Beberapa hari setelah daftar Aquathlon, suami bilang, ada tuh yang mau minjeminn kamu sepeda. Wah? Siapa? Sebenarnya sudah ada sebelumnya juga yang mau minjemin saya sepeda. Tapi saya tuh rasa gak enak, karena takut kesannya memanfaatkan banget tiap tahun minjem. Tapi kok menggiurkan yah penawaran ini. Masih inget rasa bahagia yang dirasain pas menyentuh garis finish tahun lalu. Setelah nyemplung ke air, mendaki bukit pakai sepeda, dan berlari di bawah panas terik matahari.

Sudah bisa ditebak? Akhirnya saya minjem juga. Daftar lah triathlon. Bismillah. Dan mulai minggu ini mulai masuk menu latihan. Diawali dengan Senin berenang, Selasa gym, Rabu tepar karena puyeng, Kamis lari, dan tadi pagi renang lagi. Perasaan nyaman itu hadir. Ternyata olahraga itu malah bikin tenang dan nyaman yah. Capek sih. Tapi entah ada apa yang bikin saya jadi lebih kalem kl abis olahraga, yak betul, kehabisan energi jd kalem. Wkwkwkwk.

Dah lah. Bismillaaah. Doakan saya bisa latihan dengan konsisten dan finish setrong yah.

Berlatih

Dulu di awal-awal lari, saya hanya kuat berlari 2-3 km. Cukup gak? Cukup. Karena memang kebutuhannya saat itu adalah bergerak minimal 30 menit per hari.

Hari ini, 7 tahun kemudian, saya bisa berlari 21 km, bahkan pernah di 2020 berlari hingga 30 km. Bagaimana caranya? Latihan.

Tubuh kita bisa karena biasa. Semua menu latihan, baik dari jam, dari apps, dari coach, semua mengajarkan untuk latihan. Polanya adalah mengulang-ulang apa yang akan kita lakukan dan kalau perlu ada latihan tambahan seperti strength training atau mungkin juga cross training.

Kalau kita pengen hasilnya lebih cepat, lebih jauh, pengulangan ini kadang juga gak cukup. Kita harus sedikit demi sedikit menaikkan kecepatan dan jarak kita. Ingat, sedikit demi sedikit. Biar apa? Biar tubuh kita gak kaget. Biasanya dibatasin berapa persen kenaikannya baik jarak dan pace di setiap minggu latihan.

Dari latihan lari ini saya belajar. Kita mungkin tahu teori naikin kecepatan dan jarak lari kita dari penjelasan singkat saya di atas. Tapi, apakah dengan mengetahui itu, lantas kita yang membaca tulisan ini dapat langsung menaikkan jarak dan pacenya? Jawabannya belum tentu. Semua teori tadi harus dilakukan. Harus dicoba sendiri. Diulang-ulang sendiri.

Ini adalah hal yang menurut saya sangat sederhana dan tidak perlu berfikir keras. Kalau kata NIKE, just do it. Gak bisa dengan paham teori naikin jarak dan kecepatan berlari tadi, kita lantas bisa berlari cepat dan jauh.

Ini cukup applicable di banyak hal. Termasuk saat mengajarkan anak pelajaran. Dulu, saya suka lupa, anak paham itu tidak cukup. Saya biasanya hanya ngecek, oh dia ngerti konsep perkalian. Oh, dia ngerti konsep penambahan. Oh, dia ngerti konsep pembagian. Masih banyak lagi keterampilan yang perlu dikuasai anak. Tapi sekali lagi, memahami teori perkalian, penambahan dan pembagian, tidak lantas membuat anak kita terampil dalam mengali, menambah, dan membagi. Anak kita perlu mengulang-ulang. Anak kita perlu menambah jam terbang.

Begitu juga di kelas. Ketika kita belajar, masuk ke kelas, kita diberikan penjelasan oleh guru atau dosen. Disitu kita belajar memahami konsep. Tapi apakah memahami konsep lantas membuat kamu terampil? Belum tentu. Maka yang harus dilakukan untuk bisa dapat hasil yang baik, adalah dilatih. Dicoba lagi mengerjakan sendiri. Cari lagi kasus-kasus, atau soal-soal, yang menguji pemahaman kita. Sampai akhirnya kita tidak hanya mengerti konsep, tapi benar-benar bisa mendapatkan solusi yang diminta.

Yuk, latihan. Yuk, tambah jam terbang. Yuk, asah keterampilan diri.

Untuk hidup bahagia, banyak keterampilan, dan mungkin bukan sekedar akademik saja yang dikuasi. Kita perlu terampil membersihkan diri, membersihkan rumah, memasak, mencari uang, berteman, mempertahankan pertemanan, berbicara di depan umum, olah raga, dan masih banyak keterampilan hidup yang perlu kita kuasai. Maka, luangkan waktu untuk berlatih.

Just do it.

4 Tahun Kemudian

Assalamualaikum. Masya Allah. Apa kabar blog ku tersayang?

Sudah lama sekali dianggurin. 4 tahun terakhir bikin postingan. Kayaknya sekarang mau mulai lagi nih bikin postingan. Di era yang serba AI, bahkan tulisan pun bisa digenerate. Kangen tulisan manusia asli? Yuk, kesini baca. Selain itu, pengen lagi ngebiasain mengurai isi pikiran melalui tulisan. Semoga bisa jadi terapi juga. Kadang hidup suka mumet dan gak butuh solusi yang gimana-gimana. Cuman perlu ngobrol sama diri sendiri, mengurai yang kusut. Bismillah.

Apa yang sudah terjadi 4 tahun ke belakang ini? Banyak sekali yah. 4 tahun lalu, Adinda adalah seorang Ibu Rumah Tangga dengan 2 anak kecil-kecil dan baru saja menyelesaikan studi doktoralnya. Hari ini? Sudah menjalani cita-citanya sejak kuliah sarjana dulu, jadi dosen. Yeah. Silahkan kasih saya selamat. 🙂

Masih inget banget dulu lulus S1, IP pas-pasan, tp mimpinya jadi dosen. Pengen kuliah ke luar negeri. Ternyata, bisa yah? Jadi bisa ngomong ke anak-anak ntar, nak, perjuangkan semua mimpi kamu. Gak ada yang gak mungkin kalau Allah ridha dan kita berusaha. Jangan lupa buat selalu berdoa. Selain Allah mendengar, seluruh diri kita juga tanpa sadar bergerak terus menuju arah doa itu.

Selain itu, update anak lanang, yah bayi yang lahir di Korea 13 tahun yang lalu itu, sekarang sudah merantau ke luar kota melanjutkan pendidikannya. Sebagai orang tua, khawatir anak bisa beradaptasi itu ada. Tapi balik lagi, semua itu milik Allah. Curahkan cinta sebesar-besarnya, biarkan anak tumbuh dan berkembang dengan kehendaknya dan ridha Allah. Katanya doa seorang Ibu itu kuat di hadapan Allah. Jadi makin rajin doain anak-anak. Sambil juga berusaha untuk bisa jadi sebaik-baiknya orang tua buat mereka.

Gitu aja dulu deh update setelah 4 tahun ini. Nanti kita lanjut cerita lainnya. Bye.

Maafkan Hamba Ya Allah

Ada masa diri ini merasa sangat beruntung. Allah berikan rezeki yang membuat diri ini merasa lebih dari cukup.

Ada masa diri ini merasa sangat beruntung. Allah berikan anak-anak yang bertumbuh dan berkembang sesuai dengan harapan.

Ada masa diri ini merasa sangat beruntung. Allah berikan suami yang peduli dengan rumah, anak-anak dan bekerja keras setiap hari tanpa lelah.

Ada masa diri ini merasa sangat beruntung. Allah berikan kesehatan yang memampukan diri untuk berlari lebih jauh, lebih cepat.

Ada masa diri ini merasa sangat beruntung. Allah berikan buah dari jatuh bangun menyelesaikan pendidikan doktoral.

Ada masa diri ini merasa sangat beruntung. Allah berikan kesempatan untuk menyampaikan ilmu dengan lidah yang dimudahkan.

Ada masa diri ini merasa sangatberuntung. Allah berikan teman yang membantu meringankan pekerjaan sehari-hari.

Lalu datanglah sebuah ujian yang menurut hamba besar. Lalu hamba merasa hancur, merasa terpuruk, merasa jauh dari bayangan ideal diri.

Lalu datanglah sebuah ujian yang menurut hamba teramat menyakitkan. Amat menyakitkan. Membuat luka yang sangat dalam.

Lalu datanglah sebuah ujian yang menurut hamba sulit untuk diterima. Berat hati. Sesak dada.

Rasanya ingin menghilang. Rasanya ingin tidak ada saja. Ingin membenamkan diri sedalam mungkin.

Lalu hamba mulai mempertanyakan, kemana muara doa-doa di penghujung shalat yang selalu hamba pinta?

Lalu hamba mulai mempertanyakan, apakah Engkau menyayangi hamba-Mu ini ya Allah?

Istighfar. Istighfar. Istighfar. Begitu nasehat seorang sahabat yang Allah kirimkan pada hamba.

Istighfar. Istighfar. Istighfar. Luka ini tidak akan menjadi lebih baik dengan bersikap seperti itu.

Allah maha baik. Takdir Allah selalu baik. Allah sayang sekali dengan hamba-Nya.

Allah ingin hamba-Nya mendekat, maka Allah berikan jalan untuk dekat.

Kembali ke Allah, Adinda. Hanya Allah yang bisa memenuhi relung jiwamu.

Hanya Allah yang memiliki cinta tak terbatas untuk siapa saja dari hamba-Nya yang mendekat.

Allah itu dekat. Allah mendengar siapapun yang meminta.

Berprasangka baik dengan Allah. Karena Allah sungguh sesuai persangkaan hambaNya.

Dengan hati yang merasa sempit, hamba mencoba membuka lembaran mushaf dan membacanya…

يٰٓاَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَىِٕنَّةُۙ

Wahai jiwa yang tenang!

ارْجِعِيْٓ اِلٰى رَبِّكِ رَاضِيَةً مَّرْضِيَّةً ۚ

Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang rida dan diridai-Nya.

فَادْخُلِيْ فِيْ عِبٰدِيْۙ

Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku,

وَادْخُلِيْ جَنَّتِيْ

dan masuklah ke dalam surga-Ku.

Ya Allah, hamba ingin disapa seperti ini.

Membayangkannya saja rasanya masya Allah.

Hamba ingin disapa oleh Allah.

Hamba ingin kembali ke jalan-Mu.

Hamba ingin dimasukan ke dalam golongan hamba-hamba-Mu.

Hamba ingin dimasukan ke dalam surga-Mu.

Ampuni hamba-Mu ini ya Allah.

Robbana dholamna anfusana wailam tagfirlana watarhamana lana kunnana minal khosirin.

Robbii auzidnii an asykura ni’matakallatii an’amta ‘alayya

Wa ‘ala waalidayya wa an a’mala shoolihan tardhoohu wa adkhilnii

Birahmatika fii ibaadikasshaalihiin

Set Your Positive Mind

Pagi ini saya berlari 17 km. Ini sebenarnya bukan lari terjauh saya. Tapi yang menarik adalah pelajaran yang saya dapatkan dari berlari hari ini. Bagaimana saya mampu mengembalikan pikiran positif saya agar saya mampu menghilangkan keraguan yang terkadang, atau malah sering ya, menghampiri pikiran.

Jadi, saya sedang dalam menu latihan menuju UI Ultra 35k bersama senior saya di Elektro. Dan menu long run minggu ini adalah 17k. Namun, di hari yang sama, saya harus menghadiri zoom meeting pukul 07.30 pagi. Dari malam saya meragukan diri saya. Apakah saya bisa bangun shubuh? Apakah saya bisa lari cepat agar cukup waktu untuk istirahat dan bersiap ke agenda berikutnya? Apakah saya akan cukup istirahat agar bisa fit pas larinya? Apakah aman lari shubuh-shubuh?

Yup. Pikiran-pikiran tersebut terus menghantui dan membuat bahu ini terasa berat, nafas jadi lebih pendek. Semalaman berusaha tidur, semakin berusaha, semakin susah tidur. Tapi akhirnya tidur juga dan tidak terlalu malam.

Alhamdulillah juga bisa bangun tepat saat adzan. Bangun, bersiap, dan masih saja pikiran negatif itu datang. 17k gak yah? Apa 10k saja? Malah semakin nambah, nanti water stationnya gimana yah? Duh serem gelap gini.

Akhirnya, pemanasan. Dan setelah pemanasan suami bersiap. Yeay. Suami mau nemenin 10k pertama. Alhamdulillah. Hilang kekhawatiran akan faktor keamanan. Lari lah kami. Saat lari, kok agak sesak yah nafas. Badan lemas. Sampai akhirnya sadar, saat berlari, terlalu banyak pikiran, kekhawatiran.

Saya kemudian mengurangi pace dan menata pikiran. Set positive mind. Saya bisa menyelesaikan 17k ini. Saya sudah berlatih berminggu–minggu sebelumnya untuk menu ini. Saya pasti bisa. Dan ternyata itu berarti banyak. Saya bisa menaikan pace dengan HR yang terjaga. Wow. Badan terasa ringan. Larinya terasa semakin nyaman.

Tidak terasa 4k berlalu dengan bahagia. Menemukan alfamart sudah buka dan bisa cepat membeli minum di water station pertama. Lancar. Lari pun semakin semangat dengan jalur yang nyaman. Jalanan lebih sepi. Dan ditemanin suami. Berasa semangatnya beda.

Akhirnya 10k berlalu. Dan karena memilih jalur puta yang lebih jauh jadi suami nemenin lebih dari 10k. Yes, tinggal nambah dikit di dalam komplek. Sempat merasa berat di km 13. Tapi, ingat cara pas awal. Set positive mind. Ayo Nda, kalau lelah, berhenti dulu, tarik nafas, ambil minum. Dan yes, perasaan negatif itu hilang lagi. Berlari lagi. Ternyata pace juga masih terjaga.

Sampai akhirnya bisa finish 17k dengan HR terjaga dan pace sesuai harapan. Masya Allah tabarakallah. Penting banget yah menjaga pikiran positif. Apalagi berkaitan sama kemampuan diri. Rasanya saat merubah pikiran menjadi positif, tenaga itu hadir.

Bayangkan seberapa sering kita berfikir negatif tentang diri, pasangan, anak, dan lainnya? Bagaimana efeknya ke energi tubuh kita? Ternyata banyak ruginya. Pun kita khawatir tentang sesuatu di depan yang belum pasti, kenapa kita tidak memilih untuk berfikir kemungkinan positif? Kemungkinan terbaik? Toh efeknya lebih baik ke diri kita. Daripada kita memilih untuk ragu dan negatif.

Yuk, keep positive mind. It works!

Catatan Mentoring: Membangun Konsep Diri Positif pada Anak

Konsep diri lagi. Ya. Lagi. Karena sebelumnya saya pernah membahas juga soal konsep diri Ibu. Kali ini giliran konsep diri anak. Kenapa bahas konsep diri itu penting? Karena konsep diri itu memang penting banget dalam hidup seseorang. Kemarin kita sudah membahas bagaimana pentingnya seorang Ibu memiliki konsep diri yang kuat, pada tulisan ini saya ganti judulnya bukan kuat, tapi positif. Nah penting gak pentingnya konsep diri ini akan terjawab dengan sendirinya melalui penjelasan berikutnya. Yuk kita simak.

Pertama, apa sih itu konsep diri? Kita ulang lagi yah. Gapapa. Biar makin nancep. Konsep diri itu adalah pandangan suatu individu terhadap dirinya sendiri. Pernah gak mikirin, gimana sih kita menilai diri kita sendiri? Pernah gak mikirin, gimana sih anak kita menilai dirinya sendiri?

Apakah kita menilai diri kita ini cantik? Baik? Pintar? Kuat? Pemberani? Senang membantu? Senang bergaul? Atau kita menilai diri kita, jelek? Jahat? Bodoh? Lemah? Penakut? Senang menarik diri? Atau seperti apa? Dan kira-kira, apa dampaknya kalau kita menilai diri kita positif atau menilai diri kita negatif dalam kehidupan kita sehari-hari? Pasti bakal beda banget kan yah perilaku orang yang memiliki konsep diri positif atau negatif?

Nah, ternyata benar. Cara kita menilai diri kita akan mempengaruhi banyak hal. Begitu juga anak kita. Bagaimana dia menilai dirinya, akan mempengaruhi banyak hal dalam hidupnya seperti cara berfikir, merasa, bertindak, bergaul dan bahkan bisa mempengaruhi fisiknya.

Anak dengan konsep diri positif, akan berfikir positif, akan merasa bahagia, akan mampu beradaptasi dengan baik, mampu bergaul dengan baik, sehat dan aktif secara fisik. Sebaliknya, anak dengan konsep diri negatif, akan memiliki cara berfikir yang negatif, selalu merasa segala sesuatu adalah ancaman, sulit beradaptasi, lebih senang mengisolasi diri dan cenderung lemah secara fisik.

Sampai sini, kayaknya kita sebagai orang tua sepakat yah, kalau kita semua ingin anak kita memiliki konsep diri yang positif? Nah, kabar baiknya, konsep diri ini bisa dibangun. Caranya?

Beri anak kesempatan untuk mencoba hal baru yang sesuai dengan kemampuan anak. Disini jadi penting bagi kita sebagai orang tua, memahami tahap perkembangan anak. Sehingga kita bisa tahu, anak usia segini, sebaiknya dikasih tugas apa yah yang kira-kira dia mampu. Kenapa tugasnya harus sesuai kemampuan? Agar anak merasakan keberhasilan. Keberhasilan itu akan memperkuat penilaian anak kepada dirinya, bahwa dirinya itu kompeten, bisa melakukannya sendiri dan ini akan membentuk konsep diri yang positif. Ketika anak berhasil, yang tidak kalah penting juga adalah berikan pengakuan yang membuat anak merasa keberhasilannya itu diterima.

Berikutnya, jadilah detektif kebaikan bagi anak. Dalam sehari, tentunya banyak perilaku yang ditunjukan oleh anak kita, baik itu perilaku negatif maupun perilaku positif. Nah, tugas kita sekarang adalah rekam hal-hal positif yang dilakukan oleh anak kita dan kita berikan penguatan atas perilaku itu. Caranya yah macem-macem yang kira-kira dapat membuat anak merasa, “Oh, Bunda senang/Bunda bangga kalau saya melakukan ini.” Contoh sederhana, “Alhamdulillah anak Bunda habis makan langsung menaruh piring ke tempat cuci piring.” Mudah yah? Murah pulak. 🙂

Untuk usia pra sekolah (di bawah 7 tahun) ini menjadi penting juga untuk menanamkan nilai-nilai ke anak-anak apa yang sebenarnya kita harapkan dari perilaku dia. Anak-anak usia ini masih butuh dibimbing tentang apa yang baik dan apa yang buruk. Anak-anak akan cenderung mengulangi hal-hal yang direspon secara positif oleh lingkungannya.

Dari dua bahasan di atas, kita punya kesimpulan yah. Bahwa respon positif dari lingkungan itu sangat amat mempengaruhi konsep diri positif anak. Baik itu saat anak mengerjakan sesuatu dan berhasil atau saat anak menunjukan perilaku yang positif.

Sekarang kita bahas kasus lain, yaitu gimana kalau suatu saat, anak mengalami kegagalan? Padahal tugasnya sudah disesuaikan loh dengan umurnya. Nah, balik lagi ke bahasan sebelumnya itu, bahwa respon lingkungan, bagaimana kita memvalidasi atau memperkuat perilaku positif atau keberhasilannya, itu sangat penting. Bahkan lebih penting daripada keberhasilannya itu sendiri. Bisa loh, anak berhasil, anak berperilaku positif, tapi tanpa pengakuan (validasi), tanpa apresiasi, anak tetap menilai dirinya jadi biasa aja atau cenderung negatif. Jadi disini kita harus garis bawahi pentingnya “pengakuan”.

Hal yang sama juga soal kegagalan anak. Bagaimana orang tua merespon kegagalan anak, akan membedakan akhir penilaian yang akan diberikan anak kepada dirinya sendiri. Ketika gagal, tentunya perasaan negatif pada anak akan muncul seperti kecewa dan marah. Nah sebagai orang tua, kita harus menerima perasaannya. “Kamu sedih yah nak.” “Kamu sepertinya kecewa yah.” “Kamu marah yah”. Terima dulu. Beri label perasaannya. Ini juga sangat membantu anak agar dia tidak bingung dengan perasaannya.

Setelah anak menerima perasaannya, kita bisa membantu anak menormalisasi kegagalannya. Ada masa dimana setiap orang merasakan kegagalan. “Bunda waktu kuliah pernah loh mas, kalah futsal juga….” Ceritakan saja kegagalan yang pernah kita alami juga. Sehingga anak merasa bahwa tidak hanya dia sendiri yang pernah mengalami kegagalan.

Berikutnya, jangan lupa untuk mengizinkan anak mengekspresikan perasaannya terhadap kegagalan tersebut. Biarkan dia menangis kalau memang sedih, biarkan dia cemberut kalau memang merasa kesal, biarkan dia menarik diri dari keramaian kalau dia merasa butuh ruang untuk sendiri.

Setelah itu, perhatikan, dari ekspresi wajah, desahan nafas, ketegangan badan anak, apakah dia sudah mulai merasa lebih baik setelah mengekspresikan perasaannya tersebut. Kalau sudah lebih baik, baru nih kita bisa melakukan reframing. Memberikan sudut pandang lain dalam menghadapi kegagalan. Misalnya fokus dengan usaha yang dilakukan, “Khaleed pasti kecewa yah karena kalah futsal, tapi Bunda bangga loh karena Mas Khaleed sudah berlatih dengan baik.”

Menghargai usaha anak ini menjadi penting bagi anak untuk menyadari keterbatasan diri tanpa merasa dirinya rendah. Kenapa? Karena apapun kondisinya, seburuk apapun hasil yang dicapai, dia tetap merasa aman, diterima dan dicintai orang tuanya.

Dalam kondisi seperti ini juga, jika orang tua sering memberikan penguatan atau apresiasi pada perilaku positif atau keberhasilan anak di bidang lainnya, maka anak akan cenderung merasa tidak terlalu sakit atau pahit dalam menerima kegagalannya. Karena anak jadi tahu bahwa ada kebaikan-kebaikan atau kelebihan-kelebihannya di bidang yang lain.

Terakhir, saya ingin mengajukan pertanyaan kepada diri saya dan juga Ayah/Bunda yang membaca tulisan ini. Apakah cara kita merespon perilaku anak kita selama ini lebih banyak membangun konsep diri positif atau negatif?

Catatan Mentoring: Anak Gak Nurut?

Konon katanya satu dari tiga masalah yang dikeluhkan oleh orang tua adalah “anak gak nurut”. Hmmm. Sounds familiar? 🙂 Saya begitu soalnya. Banyak dari kita menginginkan anak-anak kita untuk nurut sama kita. Salah kah? Tenang, tulisan ini tidak akan menghakimi salah atau benar memiliki keinginan itu. Tapi kita akan bahas sisi lainnya aja. Yaitu, bahwa “nurut” atau kepatuhan itu harus dibangun.

  • Kelekatan itu penting

Sebelum kita mulai, sekarang kita coba bayangkan dulu yah, kalau ada orang yang amat sangat kita cintai, meminta kita melakukan sesuatu, peluang kita untuk memenuhinya besar atau tidak? Gimana kalau yang meminta kita melakukan sesuatu itu adalah orang yang kita benci? Lebih berpeluang mana kita untuk nurut? Sama orang yang kita sayangi atau yang kita benci? Sepertinya semua bisa bersepakat yah, bahwa peluang kita nurut akan lebih besar jika yang memintanya itu adalah orang yang kita amat sangat sayangi. Maka kelekatan itu adalah modal kita untuk menyeleraskan keinginan kita dan anak. Kalau ini tidak ada, maka kita seperti orang lain, tidak penting untuk didengarkan anak kita. Apalagi kalau harapan kita tidak sekedar “asal nurut”, tapi ada tambahan “harus ikhlas”, wah lebih challenging lg. 🙂

  • Tetap hargai anak kita dengan mengijinkan mereka mengeluh atau cemberut dalam kepatuhan

Siap gak sih kita dengan “ke-gak ikhlas-an” anak kita? Misal aja nih, saya meminta Khaleed untuk menaruh semua barang ke tempatnya setelah dia pulang sekolah. Disitu badannya lelah. Pengennya tidur. Lalu dia tetap melakukan seperti yang saya minta, tapi sambil cemberut atau ngedumel. Gimana tuh? Cukup kah untuk saya? Sebaiknya memang saya tetap perlu bersyukur bahwa Khaleed mau memenuhi perintah saya. Perkara mengeluhnya, ini yang nanti bisa kita perbaiki di lain waktu saat suasana hatinya tidak lagi bermasalah. Karena kalau saya semprot pada saat itu juga, “Yang ikhlas dong mas… itu kan juga buat kebaikan mas Khaleed dan bla bla bla…” Anak justru malah merasa kalau sia-sia juga diturutin, tetap aja negatif respon kitanya. Jadi jangan lupa tetap menghargai anak kita yah. Kalau bisa gunakan kata-kata ajaib juga seperti tolong dan terimakasih.

  • Pada dasarnya anak itu ingin menyenangkan hati kita

Yang perlu diingat juga, pada dasarnya, anak-anak itu ingin sekali menyenangkan orang tuanya. Kenapa? Karena mereka butuh untuk disayang oleh kita. Namun, kebutuhan ini akan semakin berkurang ketika anak-anak mulai mandiri. Karena mereka tidak lagi bergantung dengan kita. Itulah kenapa, semakin anak kita besar akan semakin sulit untuk kita berharap anak-anak menuruti semua harapan dan kemauan kita.

  • Pemberontakan kecil wujud kemandirian anak

Sebagai orang tua, kita juga harus siap-siap dengan pemberontakan-pemberontakan kecil. Hal ini wajar ketika anak-anak mulai berkembang kemampuan berfikirnya, sehingga dia memiliki lebih banyak alternatif dalam suatu hal, dibandingkan ketika dia masih kecil. Pilihan-pilihan itu akan semakin terbuka ketika anak-anak semakin megeksplor lingkungannya, seperti sekolah, tetangga, keluarga, dll. Maka pemberontakan ini jangan selalu dianggap negatif, karena sisi positif dari pemberontakan ini adalah wujud kemandirian. Anak yang mandiri, dia mampu menyelesaikan masalahnya tanpa bantuan orang lain.

Nah sampai sini, saya boleh yah bertanya, apakah kita benar-benar yakin bahwa kita mau punya anak yang penurut?

Buat saya sendiri, pertanyaan ini agak sulit dijawab. Karena di satu sisi, saya senang jika anak saya mampu berfikir dan memilih (mandiri), tapi apakah saya siap juga untuk menerima ketidaksetujuan? Nah, akhirnya saya berfikir, at some points, saya pengen anak saya nurut. Tapi, at other points, saya akan membebaskannya memilih. Mungkin ini yang paling bijak, karena kita gak mungkin terus menerus mengontrol hidup anak kita sesuai kemauan kita.

  • Refleksi diri: apakah kita selalu mematuhi orang tua kita?

Hal tesebut akan lebih mudah kita pahami dengan menjawab pertanyaan, apakah kita, sebagai anak, selalu menuruti semua yang orang tua kita mau? Kalau jawabannya tidak selalu, apakah itu membuat kita menjadi anak yang buruk? Kita jawab masing-masing aja. Mungkin dari situ kita bisa lebih bijak dalam hal “nurut-nurutan” ini sama anak-anak kita. Dan kita akhirnya punya fokus, hal-hal apa saja yang benar-benar kita ingin anak kita menurutinya. Karena semakin banyak dan gak fokus, ujung-ujungnya akan menambah tabungan emosi negatif kita dan anak kita, lebih jauh lagi kita jadi kehilangan hal-hal penting yang akan kita ajarkan ke anak kita.

  • Jelaskan hikmah dan berikan alternatif untuk anak

Sekarang mari kita lanjutkan dengan menjawab pertanyaan tersebut dengan, “ya, bahwa di beberapa hal, kita ingin anak kita nurut.” Nah gimana tuh caranya? Yuk kita pelajari bagaimana Al-Qur’an melarang dan menyuruh sesuatu kepada manusia. Dalam Al-Qur’an, semua perintah dan larangan itu memiliki penjelasan. Misal, berzina. Allah melarang kita berzina karena itu adalah perbuatan yang keji. Selain itu hal tersebut dapat merusak nasab, transfer penyakit dan menodai kehormatan.

Berikutnya, ketika Allah melarang berzina, tapi keinginan itu ada, maka Allah berikan alternatifnya, yaitu berpuasa atau kalau ada pasangan yang siap ya menikah. Jadi kalau kita melarang sesuatu, pastikan kita memberikan alternatif yang bolehnya apa? Alternatif ini membuat anak lebih berdaya karena memiliki pilihan yang mungkin lebih dia sukai. Jadi gak sekedar distop keinginannya. Buat anak ini adalah bagian dari proses pendewasaaan. Dimana manusia dewasa itu akan selalu mampu berfikir dan memilih, untuk selanjutnya mengembangkan kemampuan memutuskan dan merelakan.

  • Biarkan anak belajar dari kesalahan

Tapi gimana kalau anak kita memilih hal yang tidak sesuai dengan keinginan kita dan ternyata itu salah? Nah, disini kita bisa menerapkan sejauh apa ketidaksesuaian itu, jika itu melanggar agama yah mungkin kita bisa lebih kuat lagi memberikan alasan atau konsekuensinya. Tapi jika itu masih tolerable, kita dapat memberikan anak kita kesempatan untuk menjalani pilihan yang salah agar dia belajar.

  • Jurus terakhir: Award and Punishment

Tahap terakhir yang dapat kita tempuh saat kita ingin anak kita nurut adalah menerapkan award and punishment. Karena dalam hidup, ada beberapa hal yang kita yakini sebagai kebenaran yang solid dan sangat penting. Sehingga kita ingin anak kita benar-benar melakukannya. Namun yang perlu diketahui dari cara terakhir ini adalah award and punishment ini tidak perlu diterapkan di terlalu banyak hal. Dan pastikan untuk mendiskusikan terlebih dahulu, jangan ujug-ujug menghukum tanpa ada perjanjian atas konsekuensinya dulu. Ketika sudah diskusi, maka eksekusi semua kesepakatan secara konsisten. Jangan kendor atau berlebihan. Selain itu, pastikan hukuman adalah sesuatu yang akan dihindari anak. Karena tujuan kita bukan anak mengambil opsi hukuman, tetapi berusaha menghindari hal tersebut dengan mengikuti aturan.

Dari topik ini sebenernya saya belajar, bahwa kuasa kita pada anak kita itu terbatas. Ada usaha yang dapat kita tempuh, tapi semua itu tetap tidak pasti hasilnya. Karena anak kita adalah manusia dengan kemampuan berfikirnya sendiri. Kita kelak akan sampai pada titik tidak mudah dalam mengatasi keinginan yang berbeda. Tapi saya merasa perlunya berdoa dan bertawakkal kepada Allah. Terutama berdoa agar apapun pilihan yang anak-anak saya pilih, semoga selalu dalam ridho Allah.

Catatan Mentoring: Persaingan Antar Saudara

Bismillaahirrahmaanirrahiim. Tulisan kali ini adalah awal dari tulisan saya bertema “Catatan Mentoring” yang benar-benar merupakan catatan selama saya ikut mentoring bersama bu Yeti Widiati. Disclaimer, karena ini catatan pribadi, mohon untuk tetap kritis dalam membacanya. Jika dirasa benar dan bermanfaat, sila diteruskan. Jika dirasa salah, mohon dikoreksi.

Saya menulis ini dengan tujuan mengikat ilmu. Setelah kurang lebih 1.5 tahun mengikuti mentoring psikologi mingguan, saya merasa perlu menuliskan ulang beberapa catatan penting. Tujuannya adalah agar semakin masuk ke dalam diri saya pemahamannya dan juga semoga bisa bermanfaat bagi banyak orang.

Untuk tema pertama, kita mulai dengan persaingan antar saudara atau sering kita dengar istilah kerennya sibling rivalry. Dalam persaudaraan, tak jarang kita temukan kebencian dan rasa iri muncul. Hal tersebut sebenarnya wajar dan juga diperlukan. Anak yang tidak mengalami konflik antar saudara memungkinkan dia melewatkan kesempatan untuk melatih diri mengatasi masalah.

Sibling rivalry ini  dimulai sejak memiliki saudara baru, yaitu ketika adik lahir. Yang perlu kita ingat sebagai orang tua, kehadiran adik baru ini dapat membuat perasaan yang tidak mudah untuk kakak. Kita sebagai orang tua harus membuat masa transisi ini menjadi lebih mudah untuk anak kita. Caranya? Jangan paksa anak untuk langsung menyukai adik baru.

Kehadiran orang baru dalam hidup itu tidak mudah. Bisa kita bayangkan misalnya, suami mengenalkan kepada kita seorang perempuan yang akan jadi istri barunya. Dia lebih cantik, lebih muda dan semua orang sangat tertarik dengan dia. Lalu suami meminta kita untuk menyayangi calon istri barunya tersebut. Mudahkah? Tentu tidak. Yes. Mungkin itu contoh ekstrimnya. Tapi intinya, kehadiran orang baru itu tidak selalu mudah untuk semua orang.

Kita bisa mengenalkan lebih awal dulu saat kita hamil, tentang kehamilan kita. Bagaimana nanti proses yang terjadi selama kehamilan di diri kita dan 9 bulan kemudian akan hadir adik bayi. Tidak perlu berlebihan untuk langsung bilang, ” kamu harus sayang yah. Gak boleh menyakiti” dan kata-kata lain yang akan menambah kecemasan kepada kakak. Dan tetap berikan perhatian penuh kepada kakak selama kehamilan kita.

Kita tahu, hormon kita ketika hamil itu tidak biasa. Bisa jadi ada perubahan dalam emosi diri kita dan itu dapat berpengaruh terhadap sikap kita kepada orang di sekitar kita, termasuk kakak. Jangan merasa lemah jika harus meminta suami untuk memberikan kita kenyamanan selama proses ini agar bisa bersikap lebih baik kepada kakak. Kelelahan dapat menjadi salah satu sumber perubahan emosi kita. Jadi yuk suami, bantu istri agar dapat lebih nyaman selama kehamilan.

Ketika adik lahir, jangan sampai perubahan ini terasa drastis untuk kakak. Biasanya, semua orang fokus pada adik yang baru lahir. Antusias. Lalu sang kakak akan merasa asing dan tidak diperhatikan. Penuhi kebutuhan bayi sesuai porsinya. Berbagi tugas dengan suami, terutama dalam hal-hal yang tidak memerlukan kita sebagai ibu. Selama adik bayi di-handle ayah atau support system lain, tetap luangkan waktu untuk kakak. Jangan sampai kakak kehilangan banyak momen yang sebelumnya dia dapatkan. Percayalah, semakin kakak merasa nyaman dengan perubahan ini, akan membuka peluang lebih cepat untuk kakak menyukai bahkan mencintai adik baru ini.

Pada proses selanjutnya ketika anak semakin besar, perhatikan hal-hal berikut ini:

  • Mencintai anak dengan unik

Setiap anak memiliki keunikan sendiri-sendiri. Temukan hal yang unik dari setiap diri anak yang kita sukai. Apresiasi anak-anak atas keunikannya itu. Selain anak-anak merekam keunikannya dan merasa penuh, kita juga sebagai orang tua jadi lebih aware terhadap keunikannya dan dijauhkan diri dari memperlakukan semua anak “dengan cara yang sama”.

  • Perlakukan anak dengan adil

Setelah memahami bahwa anak itu unik, maka berikutnya kita harus adil dalam memperlakukan anak. Adil itu tidak sesederhana membagi satu potogan kue menjadi dua dengan sama besar untuk dua anak. Karena belum tentu kakak suka kue tersebut kan? Belum tentu juga dua-duanya sama-sama sedang lapar dan ingin makan kue? Gak sesederhana itu. Ini baru urusan kue. Gimana urusan yang lain yang lebih abstrak, misalnya kasih sayang?

Nah, maka adil itu harus dimulai dari mengenali kebutuhan setiap anak kita. Kakak punya kebutuhan emosi apa yang perlu kita penuhi, adik punya kebtuhan emosi apa yang kita penuhi. Ini harus dilakukan sebagai orang tua dengan pengamatan dan coba-coba. Respon dari mereka yang akan bisa meyakinkan kita apakah yang kita berikan itu sudah tepat atau belum. Sudah sesuai kebutuhannya atau belum.

Dalam konflik misalnya, tidak harus selamanya menjadi kakak itu harus mengalah dengan adik. Ada saatnya adik yang memang harus mundur dan mengakui, bahkan menerima konsekuensi. Gak ada rumus untuk adil, maka kita harus terus berusaha dan memperbaiki perilaku adil kita. Satu hal yang pasti, keadilan itu dapat dirasakan oleh anak.

  • Persiapkan anak untuk menghadapi konflik

Dalam hubungan saudara, ada saatnya segala sesuatu tidak berjalan dengan baik. Pasti akan ada konflik. Makanya kita sebagai orang tua, jangan nambah-nambahin konflik di anak dengan sikap membanding-bandingkan, tidak adil, dll. Nah jika anak konflik, apa yang harus kita lakukan? Kita latih sedikit demi sedikit mereka untuk menyelesaikan masalahnya sendiri. Jangan jadi wasit terus. Kenapa? Karena gak selamanya kita akan bisa hadir menjadi wasit bagi mereka.

Kita bertindak ketika sudah ada yang mulai saling merusak atau berbahaya. Jangan sampai kita hilangkan kesempatan mereka menyelesaikan masalah dengan terus menerus menjadi ratu adil bagi mereka. Apa yang harus kita siapkan? Ajari anak untuk mengenali perasaannya, menerimanya dan menyampaikan kebutuhannya dengan baik. Disitu kita mengajari anak untuk fokus pada perasaan yang dia rasakan. Sehingga konflik lebih terarah.

Anak yang mampu mengenali, menerima dan menyampaikan perasaannya dengan baik maka akan lebih mudah melakukan dialog. Kemampuan anak untuk berdialog menjadi penting dalam menyelesaikan masalah antar mereka. Bangun kedekatan antar anak. Karena dialog tidak akan terjadi kalau anak-anak merasa saling berjauhan.

Tantangan paling besar buat saya sebenernya ketika ada salah satu anak yang mengadu. Karena mau tidak mau mereka melibatkan saya dalam konflik mereka. Disitu kita harus berusaha bersikap adil. Tapi kalau tidak mengadu, biasanya tantangan yang saya rasakan adalah berisik. Yah ketika mereka adu mulut bahkan kalau sampai teriak-teriak dan mencemooh. Nah, untuk berisik ini, saya lebih memilih menyampaikan kepada mereka untuk merendahkan dan memelankan suara, tidak harus terlibat langsung ke permasalahannya.

  • Perlakukan anak secara individual

Jangan biasakan berdialog untuk isu individual anak di depan umum. Umum ini berarti di depan saudaranya juga. Jebakan buat saya itu adalah berbicara sambil ngapa-ngapain, beberes misalnya, untuk mengingatkan Khaleed akan sesuatu. Jadi adiknya bisa dengar. Kalaupun pesan yang akan disampaikannya perlu juga diketahui adik, belum tentu sang kakak nyaman adiknya tahu. Biasakan berdialog secara individual dengan anak. Disitu harga diri anak lebih terjaga. Kondisi sulit yang biasanya saya hadapi itu ketika ingin menasehati. Seringkali menjebak diri menasehati salah satu anak di depan anak lain. Ini perlu dihindari.

  • We-time

Atur waktu, tenaga dan biaya untuk membersamai setiap anak sacara bergantian. Karena anak-anak perlu waktu dengan kita, dimana dia merasa fokus ortunya adalah hanya kepadanya. Perasaan itu akan sangat penting dalam membangun kepercayaan anak bahwa kita sayang sama dia.

Saya bukan tipe yang sudah bisa membuat jadwal untuk we time dengan setiap anak secara rutin. Namun jika ada gejala ke-jealous-an muncul di salah satu anak, seperti “Ah Bunda mah lebih sayang sama Alisha daripada sama Khaleed.” Nah, barulah saya ajak nge-date berdua. Dulu sebelum memahami kebutuhan ini, saya bereaksi dengan ucapan, “Gak lah mas. Bunda sayang sama Khaleed sama dengan sayang sama Alisha bla bla bla.” Intinya membeberkan fakta yang membuktikan kalau itu salah, sayang saya untuk mereka sama. Ternyata gak seefektif langsung memberikan perhatian khusus seperti we-time.

Sebagai penutup, sibling rivalry tidak selalu harus kita pandang buruk yah. Buruk itu ketika itu terjadi tanpa pernah ada solusi sehingga menjadi unfinished bussiness yang mempengaruhi emosi jangka panjang. Sibling rivalry bisa jadi sumber melatih keterampilan anak dalam berinteraksi dengan orang lain. Tidak juga sibling rivalry ini dapat kita hilangkan, karena ini natural terjadi. Maka yang penting bagi kita adalah memanage sibiling rivalry ini. Hal ini menjadi penting karena ada juga orang tua yang berusaha mengihlangkan sama sekali. Contohnya, biar gak berantem, semua dibeliin mainan yang sama, dll. Ya, mungkin anak jadi anteng dan tidak berantem. Tapi anak kehilangan banyak kesempatan untuk belajar berinteraksi dengan baik pada saudaranya.

wallahu’alam bishawab