Archive for August, 2008
27 Aug
Persiapan Ramadhan
21 Aug
Jauh
Sepi jiwaku sepi kerna kau tiada di sisi
Sunyi hatiku sunyi tanpa kehadiranmu kasih
Doaku semoga dirimu bahagia
Aku yang kini jauh
Damba keampunanmu
Khilaf antara kita
Kan terlerai akhirnya
Bersama kasih kita dan cinta
Moga berbahagia meniti harimu yang indah
Setia kunanti tiba saatnya kitakan bersua
Doaku semoga dirimu sejahtera
Aku yang kini jauh
Damba keampunanmu
Khilaf antara kita
Kan terlerai akhirnya
Jauh kita terpisah dibatasi jarak dan masa
Dirimu tak pernah kulupa
Terus kunanti setia
Saat Indah kita bersama
Bersama kasih kita dan Cinta
Diriku yg kini jauh
Damba keampunan darimu
Semua khilaf antara kita
Kan terlerai jua akhirnya
MIRWANA
20 Aug
Keluarga Sakinah Dakwah Muntijah
Keluarga merupakan medan pertama dakwah sehingga ia harus dijadikan sebagai asas utama dakwah dalam masyarakat, maka seluruh anggota keluarga hendaknya menjadi pendokong pertama bagi kejayaan dan keutuhan dakwah. Setiap aktivis dakwah yang mendapat dokongan penuh dari keluarga, maka dia akan dapat berdakwah secara optimum. Tidak dapat dinafikan, seringkali hambatan bagi seorang dai’e itu sangat dirasakan apabila keluarganya apatah lagi anak dan isterinya tidak mendokong dakwahnya. Inilah yang difahami oleh musuh-musuh Islam tatakala mahu menghentikan dakwah ini berkembang dengan mengembangkan serangan-serangan pemikiran dan hati yang merosakkan batu asas ummat Islam kini.
Ikhwah yang ana kasihi,
Dalam surat At Tahrim telah dijelaskan ada tiga tips keluarga da’wah, yaitu kisah keluarga Nabi Nuh, keluarga Asiah, dan keluarga Maryam.
10. Allah membuat isteri Nuh dan isteri Luth sebagai perumpamaan bagi orang-orang kafir. Keduanya berada di bawah pengawasan dua orang hamba yang saleh di antara hamba-hamba Kami; lalu kedua isteri itu berkhianat[1487] kepada suaminya (masing-masing), maka suaminya itu tiada dapat membantu mereka sedikitpun dari (siksa) Allah; dan dikatakan (kepada keduanya): “Masuklah ke dalam jahannam bersama orang-orang yang masuk (jahannam).”
11. Dan Allah membuat isteri Fir’aun perumpamaan bagi orang-orang yang beriman, ketika ia berkata: “Ya Rabbku, bangunkanlah untukku sebuah rumah di sisi-Mu[1488] dalam firdaus, dan selamatkanlah aku dari Fir’aun dan perbuatannya, dan selamatkanlah aku dari kaum yang zhalim.
12. dan (ingatlah) Maryam binti Imran yang memelihara kehormatannya, maka Kami tiupkan ke dalam rahimnya sebagian dari ruh (ciptaan) Kami, dan dia membenarkan kalimat Rabbnya dan Kitab-KitabNya, dan dia adalah termasuk orang-orang yang taat.
Dari ayat diatas dapat dipahami bahwa keluarga Nabi Nuh menjadi contoh keluarga pertama.
Nabi Nuh tidak mendapatkan dokongan dakwah dari seluruh anggota keluarga kerana istri dan anak beliau menolak seruannya. Penolakan mereka menjadi hujah masyarakat untuk menolak dakwahnya sebab Nabi Nuh tidak berjaya membuat keluarganya menjadi contoh bagi masyarakat yang di dakwahinya.
Hal itu sangat menyedihkan Nabi Nuh. Apalagi ketika Allah menurunkan azab kepada orang-orang yang mengingkarinya, beliau sangat sedih sekali di saat beliau menyaksikan sendiri putra yang dicintainya ikut tenggelam bersama kaum yang durhaka. Nabi Nuh berdo’a seakan menyatakan keprihatinannya dengan kalimat:
“wahai Robku ….”sesungguhnya anakku termasuk keluargaku dan sesungguhnya janji Engkau itulah yang benar. Dan Engkau adalah hakim yang seadil-adilnya.” Allah menjawab, “Hai Nuh, sesengguhnya dia bukanlah termasuk keluargamu, sesungguhnya perbuatannya bukan perbuatan yang baik, sebab itu janganlah kamu memohon kepadaku sesuatu yang kamu tidak mengetahuinya …”(QS..11 ayat 36-48)
Kisah tersebut menjadi pelajaran bagi para aktivis dakwah, jangan sampai isteri dan anak menjadi penghambat kelancaran dakwah.
Sebagai aktivis dakwah hendaknya berusaha membuktikan bahwa dia sudah mampu mengislamisasikan keluarganya sekurang-kurangnya anak dan isterinya. Allah telah mengharuskan setiap individu yang beriman untuk menjaga keluarganya dari api neraka. Dalam firmannya:
“Hai orang-orang yang beriman jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka (QS.66:6)
Adapun contoh keluarga kedua adalah keluarga Asiah, keluarga ini menunjukkan bukan hanya anak dan isteri yang boleh menghambat dakwah bahkan juga suami, seperti Fir’aun kepada Asiah. Pengaruh hambatan suami terhadap dakwah isteri lebih besar kerosakannya daripada hambatan isteri terhadap dakwah suami sebab suami sebagai pemimpin keluarga. Asiah yang tetap istiqomah di jalan dakwah akhirnya disalib oleh suaminya sendiri agar ia dapat menghentikan dakwahnya.
Sedangkan contoh keluarga yang ketiga adalah keluarga Maryam, sekalipun ia sebagai seorang istri tanpa suami namun dia tetap istiqomah dalam menegakkan dakwah bersama anaknya padahal sepanjang hidupnya ia banyak mendapatkan tentangan dari masyarakat.
Ikhwah yang di kasihi,
Keluarga dakwah harus berusaha membina seluruh anggota keluarga sebagai pendokong dakwah. Lebih ideal lagi jika mampu membina mereka sebagai aktivis dakwah. Contohlah keluarga Nabi Ibrahim alaihi salam, beliau mampu membentuk seluruh anggota keluarga sebagai pendukung dan aktivis dakwah sekaligus. Seluruh anggota keluarga baik isteri dan anaknya ikut terlibat aktif dalam menjayakan tugas-tugas dakwah, sekalipun tugas dakwah itu sangat berat.
Dalam rangka memperluas dakwah Nabi Ibrahim menghijrahkan Hajar dan puteranya (Ismail) ke tempat yang sangat jauh, gersang, tanpa keperluan asas yang mencukupi dan tanpa penghuni yang dapat menjadi teman bagi mereka. Demi kelanjutan dakwah dan taat kepada Allah, Hajar rela ditinggalkan oleh Nabi Ibrahim di tempat yang secara logik akal manusia mustahil untuk hidup. Hajar tidak mengeluh, merayu dan memujuk beliau untuk tinggal bersamanya dan tidak melarang Nabi Ibrahim pergi meninggalkannya. Keberanian Hajar bersikap demikian didorong oleh keimanan dan keyakinan yang dalam terhadap kebesaran dan kasih sayang Allah SWT. Hajar yakin bahwa rahmat Allah sangat dekat dengan orang-orang yang taat kepadanya.
Allah berfirman: “Sesungguhnya rahmat Allah sangat dekat dengan orang-orang yang berbuat kebaikan.” (QS.7:56)
Subhanallah …! Betapa keberanian Nabi Ibrahim meninggalkan Hajar atas perintah Allah, keikhlasan dan kesabaran Hajar menghadapi pelbagai ujian ditempat yang sangat gersang itu, tidak disia-siakan Allah SWT. Allah memberikan air Zam-Zam yang ternyata dapat dinikmati seluruh kaum muslimin dari pelbagai negara yang datang beribadah Haji atau Umroh sampai dunia ini berakhir. Air zam-zam tersebut berkhasiat sesuai dengan apa yang diniati oleh yang meminumnya. Juga didirikan ka’bah selanjutnya dibangunlah di sisinya masjidil haram yang apabila setiap orang solat di dalamnya satu kali nilainya lebih utama dari pada seratus ribu kali solat di masjid yang lain dan setiap berdo’a dikabulkan Allah. Selain itu ka’bah dijadikan sebagai kiblat umat Islam sedunia. Begitulah Allah memberikan keberkahan kepada keluarga yang secara bersama-sama aktif terlibat dalam dakwah
Ada beberapa perkara yang dapat kita lakukan untuk menghindari fitnah kehancuran keluarga bahagia.
1. Menjalin komunikasi dengan baik
Komunikasi merupakan salah satu kunci kejayaan keluarga aktivis da’wah. Komunikasi dapat membuat keluarga tetap harmonis seiring dengan kesibukan dakwah. Tanpa komunikasi keharmonisan keluarga sulit dipertahankan sebab mereka akan hidup dalam ketertutupan, kesunyian, prasangka yang buruk, kesalahpahaman saling bermusuhan.
Komunikasi dapat menciptakan syurga duniawi bagi aktifis dakwah sebab dengan komunikasi dapat mengungkapkan rasa cinta, kasih sayang, kegembiraan dan perasaan lainnya.
Komunikasi yang baik juga membantu menjadi sarana bermusyawarah dalam menyelesaikan permasalahan keluarga dan tugas-tugas dakwah. Selain itu komunikasi dapat menjadi sarana pemenuhan hak anggota keluarga sesuai dengan keperluannya bahkan komunikasi pun boleh menjadi sarana dakwah dalam keluarga.
Oleh itu, betapa pun sangat sibuk berdakwah, berkomunikasilah dengan keluarga dengan memanfaatkan berbagai sarana modern yang ada.
Elakkan dari ‘take for granted’ dengan merasakan pasangan anda sepatutnya telah memahami apa yg anda harapkan sedangkan rupa-rupanya dia belum betul-betul memahaminya. Situasi ini seringkali berlaku terutamanya dalam usia perkahwinan yang masih muda. Sekiranya kedua belah pihak tidak dapat berkomunikasi dengan baik kerana ketegangan yang berlaku, mintalah bantuan daripada pihak ketiga yang paling dipercayai untuk membantu.
Hindari dari mencetuskan dan melayan emosi tegang dalam berkomunikasi, kerana emosi yang tegang itu berakarkan nafsu al ammarah bi suu’. Sesungguhnya itu merupakan jalan untuk syaitan menyesatkan kita daripada kebenaran dan menyusup masuk dalam menghancurkan kebahagiaan rumah tangga!
“dan Bahawa Sesungguhnya Inilah jalanKu (ugama Islam) Yang betul lurus, maka hendaklah kamu menurutnya; dan janganlah kamu menurut menurut jalan-jalan (yang lain dari Islam), kerana jalan-jalan (yang lain itu) mencerai-beraikan kamu dari jalan Allah, Dengan Yang demikian itulah Allah perintahkan kamu, supaya kamu bertaqwa.” (6:153)
2. Pembahagian tanggungjawab yang jelas
Kesibukan aktivis dakwah dalam berdakwah tidak menghapus atau mengurangi kewajibannya dalam rumah tangga baik untuk suami ataupun isteri. Maka beban dan tugas yang dipikul aktivis dakwah sangat banyak dan berat, baik ketika aktivis dakwah itu sebagai suami, isteri atau anak. Buatlah tanggung jawab setiap anggota keluarga itu dengan jelas secara ‘give and take’. Adakan pembahagian tugas sesuai dengan kewajiban dan fungsinya. Hidupkan suasana keluarga dakwah yang saling membantu, saling menolong dan saling meringankan beban bukan sebaliknya.
3. Memenuhi hak dan kewajiban
Setiap anggota keluarga berkewajiban memenuhi hak yang lain. Sehingga dia pun layak untuk mendapatkan haknya. Sebagai seorang suami walaupun ia sebagai aktivis dakwah, dia tetap berkewajiban mencari nafkah. Sebagai isteri sekali pun dia sebagai aktivis dakwah dia tetap berkewajiban melaksanakan tugas-tugas rumah tangga. Sebaga anak sekali pun sebagai aktivis dakwah dia tetap berkewajiban untuk berkhidmah kepada kedua orang tuanya. Sebagai orang tua walau pun sebagai aktivis dakwah mereka tetap berkewajiban mendidik anak-anaknya. Jika setiap anggota keluarga melaksanakan kewajiban-kewajibannya, maka pada saat yang sama setiap anggota mendapatkan hak-haknya.
Janganlah sekali-kali kita fokus untuk menuntut hak daripada pasangan kita, sebaliknya kita fokus untuk sentiasa menunaikan tanggungjawab kita dengan penuh kepercayaan begitu juga dengan pasangan kita tidak kira siapa yang harus dulu memulakannya. “Gain Your Trust. Trust Is Hard To Gain But Easy To Lose”
Jadikanlah keluarga kita sebagai batu asas dakwah dalam masyarakat. Sehingga keluarga kita menjadi teladan bagi masyarakat di sekitar kita. Oleh itu, marilah kita bersama-sama istiqomah melaksanakan tugas dakwah sampai ajal menjemput kita.
Semoga rumahtangga yang dibina kekal hingga ke Jannah-Nya, Ameen!!!
Wallahu A’lam Bishshowab.
20 Aug
Apakah nilai hidup ini??
Mujahid Fathi Yakan di dalam kitabnya, Maza Ya’niIntima-i Li al-Islam, telah menyatakan bahawa di dunia terdapat tiga kategorimanusia.
Kategori Pertama
Golongan yang hidup hanya untuk dunia semata-mata. Mereka dinamakan sebagai golongan ad-Dahriyyun. Sikapmereka jelas seperti yang dinyatakan di dalam al-Quran:
“Dan tentu akan mereka katakan: “Hidup hanyalahkehidupan kehidupan kita di dunia sahaja dan kita sekali-kali tidak dibangkitkan” .
– Surah al-An’am: ayat 29
“Dan mereka berkata: “Kehidupan tidak lainhanyalah kehidupan dunia sahaja, kita mati dan kita hidup dan tidak adayang membinasakan kita selain masa. Dan mereka sekali-kali tidakmempunyai pengetahuan tentang itu, mereka tidak lain hanyalah menduga-dugasahaja.” – Al Jatsiyah: ayat 24
Kategori Kedua
Golongan yang telah hilang pedoman, terumbangambing, aqidah bersimpang siur, mereka melakukan kesesatan dan menyimpangdari jalan Allah SWT dalam kehidupan duniawi. Namun mereka masih menyangka mereka membuat kebaikan. Meskipun mereka mempunyai kepercayaan kepada AllahSWT dan Hari Qiyamah tetapi aqidah mereka hanyalah gambaran semata-matayang terputus hubungan dengan aktiviti atau amalan hidup mereka. Merekaitu pada hakikatnya berfahaman kebendaan (meterialis) walaupun kadangkalamereka melakukan kerja-kerja yang berbentuk kerohanian.
Kategori Ketiga
Golongan yang menganggap bahawa dunia ini sebagai ladang tanaman untuk mendapat atau memungut hasilnya di akhirat kelak.Golongan ini benar-benar beriman dengan Allah SWT. Mereka mengetahui hakikat hidup serta memahami nilai dunia berbanding dengan Hari Akhirah.Allah SWT membandingkan mereka seperti dalam FirmanNya:
“Dan tidaklah kehidupan dunia ini selain daripada bermain-main dan bersenda gurau belaka. Dan sungguhnya kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertaqwa. Maka tidaklah kamu memahaminya.”
– Surah al-An’am: ayat 32
Mereka yang benar-benar beriman menganggap duniasebagai medan perlumbaan untuk mentaati Allah SWT dan mencari keredhaanNya. Seluruh bidang hidupnya (ilmu, perniagaan, kekayaan, rumah, masa dan fikiran)diarahkan kepada Jalan Allah SWT.
Bagi menjamin supaya urusan hidup ini terarah menurut lunas-lunas Islam maka sewajarnya difahami dan dihayati beberapakewajipan, iaitu:
1. Mengetahui matlamat hidup.Sebagaimana Firman Allah SWT:
“Dan tidak Aku menciptakan jin dan manusiamelainkan untuk mereka mengabdikan diri (kepadaKu).- Surah az-Zariyat:ayat 56
2. Mamahami nilai dunia berbandingdengan nilai akhirat.
Firman Allah SWT:
“Hai orang-orang yang beriman, apakah sebabnyaapabila dikatakan kepada kamu: “Berangkatlah (untuk berperang) pada jalanAllah, kamu berasa berat dan ingin tinggal di tempat kamu ? Apakah kamu berpuas hati dengan kehidupan dunia sebagai ganti kehidupan akhirat? Padahal kenikmatan hidup di dunia ini (dibandingkan dengan akhirat) hanyalah sedikit.”- Surah at-Taubah: ayat 38
3. Mengetahui hakikat kematian dan mengambil pengajaran daripada kematian yang pasti berlaku kepada setiap manusia sebagaimanaFirman Allah SWT:
“Tiap-tiap yang berjiwa akan menemui mati.”
– Surah Ali ‘Imran: ayat 185
4. Mengetahui benar-benar akan hakikat Dinal-Islam dengan cara mempelajari dan mendalami dasar-dasar dan hukum-hakamnya.
5. Mengetahui hakikat jahiliyyah,iaitu dengan meneliti ciri-ciri pemikiran, aliran dan perancangannya. Disamping itu, mendedahkan akibat serta keburukan Jahiliyah. Dengan memahamiJahiliyyah barulah orang-orang beriman tidak terperangkap ke dalamjaring- jaringnya. Ini selaras dengan sabda Rasulullah S.A.W. yang bermaksud:
“Sesiapa yang mempelajari bahasa sesuatu kaum,ia terselamat dari tipu daya mereka.”
Neraca Dalam Kehidupan
Dalam pegangan hidup manusia, hendaklah diambil neraca dan nilai syara’, dan tidak seharusnya diambil nilai-nilai lain.Kabaikan dan keburukan hendaklah diperhatikan menurut pandangan syara’ berdasarkan kaedah:
“Yang baik ialah apa yang dipandang baik oleh syara’ dan yang buruk ialah apa yang dipandang buruk oleh syara’.”
Terdapat banyak perintah Allah yang memerintahkankita agar mengambil nilai syara’ dan melarang daripada mengambil nilai yang lain daripada syara’. Antaranya Firman Allah SWT :
“Kemudian Kami jadikan kamu berada di atas satu syariat (peraturan) daripaa urusan (agama) itu, maka ikutilah syariat itu dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui.”
– Surah al-Jaatsiyah: ayat 18
Ikutilah apa yang telah diturunkan kepada kamu daripada Tuhanmu dan janganlah kamu mengikuti pemimpin-pemimpin selainNya.Amat sedikitlah kamu mengambil pengajaran (daripadaNya) .- Surah al-A’raf:ayat 3
“Apakah kamu tidak memerhatikan orang-orang yang mengaku dirinya telah beriman kepada apa yang telah diturunkan kepadakamu dan apa yang diturunkan sebelum kamu? Mereka hendak berhakim kepadaTaghut, pada hal mereka telah diperintahkan agar mengingkari taghut itu.Dan syaitan bermaksud menyesatkan mereka sejauh-jauhnya.” – Surah an-Nisa’:ayat 60
Terdapat keterangan yang memberi peringatan bahawamemilih dan berpaut kepada yang lain daripada nilai Islam adalah merupakankesesatan dan menyimpang daripada jalan Allah SWT. Firman Allah SWT:
“Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang di muka bumi ini, nescaya mereka akan menyesatkan kamu dari jalan Allah.Mereka tidak lain hanyalah mengikut sangkaan-sangkaan belaka dan merekatidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah SWT).”- Surah al-An’am: ayat116
“Dan adalah tidak patut bagi lelaki mu’min dan tidak pula patut bagi perempuan mu’min, apabila Allah dan Rasul-Nya menetapkan sesuatu ketetapan akan ada pada mereka suatu pilihan (yang lain)tentang urusan mereka. Sesungguhnya sesiapa yang menderhakai Allah danRasulNya, maka sesungguhnya dia telah sesat dengan kesesatan yang nyata.”
– Surah al-Ahzab: ayat 36
Nilai Yang Tetap
Nilai Islam adalah nilai yang tetap dan tidakberubah- ubah meskipun zaman beredar dan berubah. Dalam hal ini al-’AllamahAbu al’Ala al-Maududi telah menyatakan dalam risalahnya, Ila AyySyai’ Yad’ual-Islam, bahawa Allah SWT tidak semata-mata menurunkan undang-undang tertingi(Supreme Law) melalui Rasul bahkan diturunkan bersama-samanya nilai yang tetap (Thabitah = Permanent Values). Sesuatu yang telah ditetapkan baik di dalam al-Quran dan sunnah Rasul itu adalah baik selama-lamanya. Demikianjuga sebaliknya, sesuatu yang ditetapkan buruk itu maka ia tetap buruk selama-lamanya. Begitu juga yang halal tetap halal dan yang haram tetap haram. Ketetapan tersebut tidak boleh dipinda, ditambah, dikurangkan atau dihapuskan. Hanya yang berani membuat pindaan dan pembatalan itu ialah golongan atau jamaah yang melepaskan dan membebaskan diri daripada Islam.
Hal yang sama juga telah dihuraikan dengan panjang lebar oleh Asy-Syahid Sayyid Qutb dalam kitabnya yang sangat bernilai,Khasais at-Tasawwur al-Islami Wa Muqawamatuha, dalam satu tajuk, Ath-Thabat(Nilai Yang Tetap). Perlu diperingatkan sekiranya ketetapan Allah SWT itu tidak dipatuhi maka akan berlakulah kerosakan demi kerosakan di alam ini.
Firman Allah SWT:
“Andaikata kebenaran itu menurut hawa nafsumereka, pasti binasalah langit dan bumi dan semua yang terdapat di dalamnya.Sebenarnya Kami telah mendatangkan kepada mereka kebanggaan (al-Quran)mereka tetapi mereka berpaling daripada kebanggaan tersebut.” – Surah al-Mu’minun:ayat 71
Nilaian Allah
Islam telah ditetapkan oleh Allah SWT sebagai suatu sistem hidup yang sempurna. Telah ditentukan bahawa penilaian yang tinggi dan keuntungan hanya diberikan kepada mereka yang beriman serta menghayati Islam dalam kehidupan mereka. Hal ini telah ditegaskan olehAllah SWT di dalam FirmanNya:
“Demi masa. Sesunguhnya manusia itu dalam kerugian.Kecuali orang-orang yang beriman dan beramal saleh.”- Surah al-’Asr: ayat1-3
Asy-Syahid Sayyid Qutb ketika menghuraikan ayat ini telah menjelaskan bahawa Iman merupakan dasar hidup yang amat penting bagi membuahkan hasil yang baik dan bernilai dalam seluruh cabang hidup.Mana-mana amalan yang tidak lahir daripada keimanan, maka ia tidak bernilai di sisi Allah SWT. Allah SWT telah membuat perbandingan di dalam FirmanNya:
“Orang-orang yang kafir kepada Tuhannya, amalan-amalanmereka seperti debu yang ditiup angin dengan keras pada suatu hari yangberangin kencang. Mereka tidak dapat mengambil sebarang manfaat dari apayang mereka kerjakan (di dunia). Yang demikian itu adalah kesesatan yangjauh.” – Surah Ibrahim: ayat 18
“Dan orang-orang yang kafir, amalan-amalanmereka adalah seumpama fatamorgana di tanah yang datar, yang disangka airoleh yang dahaga, tetapi bila didatanginya air itu, dia tidak mendapatinyasesuatu apapun.”
– Surah an-Nur: ayat 39
Amalan saleh itu adalah buah Iman. Iman itu hidupdan bergerak melahirkan amalan yang soleh. Inilah Iman Islam. Iman itu bergerak, bekerja dan membangun menuju kepada matlamat Ilahi. Ia tidaksemata- mata tersimpan beku di lubuk hati. Ia juga bukan semata-mata angan-angan atau sekadar niat baik sahaja tanpa diamalkan.
18 Aug
Epilog Perjuangan
Tika senja melabuh layarnya,
Kicauan burung sayup kedengaran,
Terpaku diri mengimbau semula,
Erti sebuah perjuangan..
Arus hidup yg penuh kepalsuan,
Deruan ombak badai kesesatan,
Terdampar diri asing tersisih..
Hakikat hidup bak roda berputar,
Seringkali kita terkeliru,
Oleh dunia yang menipu,
Oh Tuhanku, itulah diriku..
Kumenyedari siapa diri ini,
Mengharap menanti kejayaan di dalam hidup,
Tanpa pengorbanan..
Di kala rembulan mengambang indah,
Cahayanya menerang kegelapan,
Tika itulah kumenangis gundah,
Terkenangkan kesilapan..
Bagaikan musafir kehilangan punca,
Melangkah kaki pasrah dan berserah,
Menyerah diri tawakkal berusaha..
Dan kini kuakur pada hakikat,
Suka dan duka dalam perjuangan,
Perlu ketabahan dan kekuatan,
Keteguhan hati berlandas iman..
Epilog Hidup Seorang Pejuang,
Mengharung mehnah dan ujian,
Berjuanglah dan terus berkorban..
Tika mentari memancar sirna,
Bumi bertuah menyambung usia,
Dalam segala kesuraman untukku terus berjuang..
15 Aug
Botol Kicap
Aku tengok….
Mereka bukannya sibuk mengislah!
Mereka bukannya sibuk menambahkan takungan madu’ mereka!
Tetapi….
Apa yang aku nampak ialah…
Mereka lebih sibuk berbincang, bercerita dan berborak pasal teory pengislahan!
Botol kicap atas meja
Banyak cakap kurang kerja!
Mereka sibuk mengkritik sifat orang lain!
Mereka sibuk mengulas kesilapan orang lain!
Mereka sibuk cakap ini….cakap itu…..!
Namun….memperbanyakkan hasil kerja itu sendiri…mereka tidak pentingkan!
Itulah yang telah aku lihat kenyataannya!
Botol kicap atas meja
Banyak cakap malas kerja!
Kalau tukang cakap memang banyak!
Kalau tukang mengulas memang banyak!
Kalau tukang nak betolkan kesalahan orang lain memang banyak!
TETAPI….
Tukang buat dan turun padang sendiri…AMATLAH sedikit!
Botol kicap atas meja
Jangan dibiarkan masuk angin
Kan nanti ….tak sedap pulak rasanya!
Aku berpendapat…
Apa yang penting ialah muajhadaha untuk diri sendiri!
Yang penting Menghasilkan budaya kerja inspirasi masing2!
Itulah yang lebih penting!
Aku kata…
Bekerjalah dan berusahalah mencuci hati jiwa sendiri sepanjang hayat!
Dan aku kata lagi….
Seni dakwah itu….adalah salah satu alat pencuci hati!
Alat pelembut hati jiwa sendiri…!
Barangkali …kita TIDAK akan berjaya untuk mencuci hati jiwa SEMUA manusia dengan usaha kita!
Barangkali …cara kita TIDAK berjaya memuaskan hati orang lain!
Barangkali …nasihat kita di tuduh terlampau extreme!
Barangkali …program kita dikata…tidak mempunyai nilai mesej yang baik kepada masyarakat!
Barangkali….
Barangkali….
Namun yang pentingnya ialah….
Kita telah berjaya menyentuh perasaan hati jiwa kita sendiri dengan dakwah kita!
Kita telah berjaya bekerja mengilap dan mencuci hati jiwa kita sendiri dengan hasil dakwah kita!
Kita telah berjaya melembutkan kerasnya hati kita sendiri dengan hasil dakwah kita!
ITULAH YANG LEBIH MUSTAHAK!
Kerana itulah…
Saorang daie itu sebenarnya bekerja memperindahkan hati jiwanya sendiri supaya…lebih berjiwa halus, indah, lembut lagi murni!
13 Aug
Air Mata Seorang Naqib
Alhamdulillah, itulah kata paling tepat untuk menggambarkan urusan yang Allah permudahkan bagi kader-kader dakwah.
Kami, ‘main redah’ bertemu dengan junior-junior atas satu alasan, untuk menyebarkan dakwah, untuk memahamkan dan membelai hati-hati ini di jalan dakwah. Teringat kata-kata seorang sahabat, “Allah akan memberikan sesuatu bila mana kita cukup bersedia untuk menanggung bebanannya”.
Subhanallah. Saling tolak menolak pada mulanya, alhamdulillah, aku mulakan, dengan sedikit getar dihujung suara, memutar kembali kehidupan di sini hampir 4 tahun sudah ketika berseorangan.
Rasa, teruja. Musab, Umayr, Hamzah, dan Khlaid, cuba memberikan yang terbaik. Jazakillah Thalhah, yang cuba berusaha untuk contribute bersama. Thalhah jangan risau ye? Aku dan yang lain ada, akan membantu meringankan beban Thalhah. Duit, masa yang dihabiskan tak terasa bila dihabiskan atas nama jemaah.
Ukhwah kerana Allah terasa sangat indah! Solat Maghrib berjemaah di sana, terasa seakan-akan satu bangunan yang kukuh yang berdiri di atas satu saf.
Kami pergi menaiki bas, dan pulang, dengan menaiki teksi dengan berhimpit-himpit. Sekembali pulang, ‘black out’! Kesian Musab dan Hamzah, esok ada tutor ye? InshaAllah, Allah sahaja Ilah yang akan menggantikan segala-segalanya yang kita keluarkan dengan sebaik-baik ganjaran.
Esok, lusa, tulat, kami masih ada kerja. Target-target, strategi telah disusun hanya kerana Lillah. Dalam hati, ada bisikan yang ingin melihat, apabila keluar dari sini, pulang ke tanah air, dakwah akan terus berkembang dan berjalan, walaupun sudah hampir untuk ‘practical’, berharap agar kudrat tenaga ini dapat disumbangkan semaksima mungkin.
Lantas di kamar ini, digeledah, apakah pengisian terbaik untuk adik-adik ini?
Petunjuk Sepanjang Jalan?
Tafsir Zilal?
Hadith Arbain Imam Nawawi?
Kepentingan Tarbiyyah?
Apa Erti Saya Menganut Islam?
Pening-pening.
Perlu bermusyawwarah dan perlunya bermula dari bawah.
Dalam kesibukan mencari, terjumpa satu artikel, bukan cerpen, bukan novel, tetapi kisah benar. Sedih bertandang di hati. Ada kemelut menguasai diri. Beginilah jalan dakwah mengajarku. Terima kasih buat seorang junior ana yang mengingatkan ana tentang artikel ini dalam komennya di www.mengemiskasih.wordpress.com Ku bentangkan kisah ini buat ‘anak-anak’ ku dulu dan kini. Moga air mata ku tidak menitis sepanjang aku menyediakan kisah ini.
AIRMATA SEORANG NAQIB….
Kita sama-sama masih teringat ketika kita mula-mula bertemu. Tidak ada yang lebih berbahagia di dalam hati ini selain melihat wajah-wajah ceria pelajar-pelajar baru yang begitu bersih dapat menjejakkan kaki ke sebuah pusat pengajian Islam. Memang ayah bonda menginginkan suatu yang terbaik buat mu. Mahukan engkau menjadi orang yang terpelajar dan berguna kepada mereka, kepada agama dan kepada negara. Ketika hari pendaftaran, kami sama-sama menjengah diri melihat muka-muka kalian. Kalian adalah ibarat rahmat kepada kami kerana dari kaliannya kami mendapat ketenangan dan kesejukan hati. Bagaimana..? akan kami ceritakan segala-galanya nanti! Kemudiannya kalian di heret ke sana kemari dengan minggu pengenalan. Kalian didedahkan dengan apa yang ada ditempat belajar yang baru ini. Moga kalian dapat berta’aruf dengan cepat di alam baru ini. Kalian bersolat jamaah dan berma’thurat sama-sama. Kalian di dudukkan di dalam LDK dan kalian akhirnya menjejakkan kaki ke malam terakhir pengenalan.
Kami masih mengintai-ngintai kalian. Bukan wajah dan gaya… tetapi watak dan budi. Manakah di antara kalian yang akan bersama kami? Manakah di kalangan kalian yang akan mewarisi jejak kami? Memang kami mengentahui dan menyedari.. kalian datang dengan keinginan yang berbeza. Ada yang ingin mendapat segulung sijil yang nantinya akan dipersembahkan kepada ibu dan ayah. Ada yang tertolak kerana ayah dan ibu menghendaki demikian. Kami faham itu semua… dan itu semua tidak langsung penting bagi kami. Kalian didudukkan di dalam usrah-usrah akhirnya. Kita sama-sama saling mengenal, mendengar dan memberi. Bercerita dan membaca. Berbincang dan bermesra. Bukankah itu satu titik permulaan yang indah dalam
pengalaman hidup kita? Kita kemudian bertemu lagi dalam tamrin dan dauroh. Duduk dan mendengar.. makan dalam dulang bertemu kepala. Kemudiannya tidur diatas lantar tanpa hamparan. Kesemuanya menjadi detik manis dan kenangan yang mungkin sukar dilupakan.
Dari situlah kesemuanya bermula… Kami memerhati dan cuba mengenal. Siapakah dari kalangan kalian yang sudi untuk bersama lebih memahami apa yang sedang kami fikirkan?
Kami hanya ingin mengongsi beban yang sedang kami cuba pikulkan selama ini. Kami faham ianya begitu berat dan tidak mampu ditanggung oleh hanya dua tiga kerat manusia yang lemah seperti kami. Bebannya berat dan perjalanannya panjang. Hasilnya belum tentu diperolehi di masa terdekat. Kami berfikir dan berfikir … bagaimanakah cara terbaik untuk mengenali siapa dari kalian yang berminat. Kami adakan usrah… kami adakah tamrin dan kami adakan dauroh.. kami adakan mukhayyam… dan entah apa lagi. Semuanya adalah kerana cuba mengenali kalian.. disamping untuk memberi sedikit sebanyak kesedaran dan ilmu.
Akhirnya …
Kami telah dikurniakan Allah dengan kalian. Kalian menampilkan diri dengan semangat dan kesediaan untuk bersama. Kami begitu gembira. Kami tidak meminta kalian berbuat demikian. Sedikitpun tidak ingin memaksa. Kami hanya membuka jalan dan peluang setelah memberi kesedaran sedikit sebanyak. Alhamdulillah atas segala nikmat dan rahmatNya kepada kita.
Bermulalah satu episod baru dalam hidup kita. Mungkin kita masih ingat kita mula menjejakkan kaki ke alam baru.. fikrah baru dan ikatan baru. Kalian telah berjaya memujuk hati kalian untuk bersama dalam gerombolan ini. Gerombolan yang ingin untuk melihat dunia berubah ke arah Islam. Kita mula tangkas melayari perjalanan yang sengit ini. Kita cuba menumpaskan nafsu yang kadangkala mengganggu dengan cerita indahnya hidup relaks dan seronok. Tapi kalian telah berjaya menolak itu semua. Walaupun kawan dan teman lain telah lama dibuai mimpi, kalian kadangkala masih termangu di hadapan kami.. menadah buku dan sedikit risalah.
Segalanya hanya untuk memahami Islam yang masih banyak yang perlu dipelajari. Kadangkala teman seronok dihadapan cerita TV dan VCD, tetapi kita menolaknya itu semua.. kerana masa amat berharga bagi kita untuk dibazirkan pada itu semua. Kadangkala kawan-kawan enak tidur ditilam empuk asrama, tetapi kita terpaksa berjaga malam di mukhayyam hanya semata-mata untuk melatih diri bagaimana indahnya dapat berkorban untuk sahabat yang sedang tidur di lantai bumi. Betapa banyaknya pengalaman yang kalian telah lalui bersama kami ! Kami cuba memberi apa yang kami terdaya. Segala-galanya adalah untuk menjadikan kalian orang yang bermanfaat untuk Islam. Kami merasa kasihan kepada Islam yang masih menagih cinta dan pengorbanan dari penganutnya. Islam masih terumbang ambing dicampak dan diheret oleh manusia liar. Islam yang sepatutnya tinggi masih digilis-gilis dan dipijak ganas untuk manusia zalim. Siapa yang ingin membelanya? Siapa yang akan meletakkannya ke tempat paling tinggi yang sepatutnya.
Inilah yang kami cuba lakukan. Alhamdulillah, kalian mula sedikit demi sedikit memahami apa yang kami ingin kongsikan. Walaupun kami kadangkala tidak dapat berehat sebagaimana orang lain… tetapi ketenangan mula menjenguk.. ketika melihat kalian mula faham dan mula melangkah. Denyut nadi perjuangan kalian yang mula bergerak-gerak sudah cukup menggembirakan kami… lebih gembira dari sang musafir yang terjumpa kembali untanya yang hilang di padang pasir ! Tentu kalian masih ingat itu semua. Kalian bagi kami adalah lebih mahal dari dunia dan isinya. Kalianlah sumber pahala kami di zaman ketandusan pahala dan
bermaharajanya dosa dan maksiat. Bukankah ‘Allah memberi petunjuk seorang manusia dengan hasil usahamu adalah lebih baik dari dunia dan isinya’?. Kerana itu kalian semua lebih mahal bagi kami dari segala harta. Mungkin dari situlah kalian dapat faham, bagaimana susahnya kami kerana menjaga kalian. Betapa banyaknya harta yang kami curahkan kerana kalian. Betapa kami terpaksa melupakan masa rehat dan hujung minggu untuk kalian. Betapa kami sudah tidak mempunyai apa-apa lagi yang dapat kami berikan kepada kalian semua… semuanya telah diberikan. Mungkin sekarang kalian telah dapat fahami. Kerana kalian lebih berharga dari dunia dan isinya !
Sukar kami menceritakan ini semua… terpaksa dan semoga ianya menjadi pedoman untuk kalian juga. Bahawa hidup seorang yang tahu di mana Islam berada sekarang tidak memungkinkannya sempat membina istana dan mahligai. Tidak memungkinkannya bergembira di setiap hujung minggu dengan anak isteri. Tidak mungkin berpeluang untuk menikmati hari-hari perlancongan dan santai tanpa matlamat dakwah. Tidak mungkin berenak dengan kenderaan besar dan mewah. Bagaimana ia boleh berbuat demikian sedangkan Islam masih menunggu pendokong yang akan menyelamatkannya? Kerana memahami itu semua, kami wakafkan diri kami untuk kalian. Biarlah manusia lain dengan dunianya.. namun kita tenang dan gembira dalam alam kita sendiri. Walaupun orang lain melihat kita dalam kesukaran dan
kesusahan hidup, namum itulah kebahagian kita ! Matlamat kami.. melahirkan kader-kader yang akan bekerja untuk Islam. Keinginan kami.. apabila kalian telah melangkah keluar dari sini.. kalian telah menjadi manusia muslim baru yang membawa bersama-sama obor yang akan menyuluh tempat-tempat yang masih gelap di pelusuk sana. Itulah sahaja matlamat dan cita-cita
kami.
Kami tidak mampu memberi kalian kerja yang bergaji mahal. Kami tidak sanggup menjanjikan jawatan selepas kalian keluar. Itu semua adalah suatu yang kerdil bagi kami. Ianya mampu dicari oleh sesiapa walau bagaimana keadaannya sekalipun. Yang lebih penting dari itu semua ialah kami tidak mahu kalian tenggelam di dalam kancah dunia yang sedang bergelumang dengan materialisma yang tidak mampu diharungi oleh manusia biasa. Kerana itulah kami cuba bekalkan kepada kalian dengan kekuatan dan kefahaman. Lebih dari itu, kami mahukan kalian menjadi manusia yang akan membawa manusia lain untuk bersama-sama dalam perjuangan kita
yang masih panjang. Kami cuba sedaya upaya untuk mengajak kalian memahami bahawa apa yang kita buat ini bukan kerana tempat belajar kita. Bukan kerana wajib atau ingin menjaga hubungan dengan pensyarah. Bukan kerana markah atau prestasi. Kami cuba memotong tali-tali yang mengikat kalian dengan itu semua. Kami membawa kalian ke luar sana berjumpa dengan mereka yang telah mendahului kita di atas jalan ini. Melangkah ke luar negara.. berjumpa dan mengambil pengalaman mereka. Mereka semua adalah se jalan dengan kita.. berjuang menegakkan fikrah yang sama!
Perit letih kami tidak sia-sia. Kalian mula melangkah ke garisan-garisan akhir bersama kami dengan sabar dan tekun. Kalian langsung tidak menunjukkan rasa jemu dan bosan. Walaupun telah ada dikalangan kalian yang telah kecundang setelah beberapa lama, namum kalian masih thabat teguh. Kalian mula faham bahawa kerja kita perlukan disiplin yang tinggi. Kerja kita perlukan jamaah dan ketaatan. Kerja kita perlukan syura dan perbincangan dengan naqib/naqibah yang telah begitu lama memimpin tangan kita sejak kita masih bertatih-tatih di permulaan perjalanan. Kerja kita memerlukan kita tidak putus dan bersama dengan jamaah
di mana saja kita berada. Di saat berpisah, itulah harapan kami. Gembiranya hati kami melepaskan kalian menuju ke destinasi masing-masing. Betapa inginnya hati kami untuk
mendengar deringan telefon dari kalian.. menceritakan pengalaman baru kalian di kampung dan kawasan masing-masing.. setelah mendapat title baru bergelar ‘DA’I’. Betapa tak sabarnya kami ingin menatap tulisan dari kalian .. bercerita bagaimana kalian telah mula mengumpul mad’u-mad’u baru ditempat kalian. Betapa gembiranya kami nantinya mendengar kalian mula ke sana-kemari mengikuti program bersama ikhwah dan akhawat di tempat baru kalian. Kami tidak dapat bayangkan bagaimana gembiranya hati kami bila mendengar naqib/naqibah baru kalian begitu memuji kesungguhan dan semangat yang kalian tunjukkan. Ketika itulah kami akan mengurut dada gembira… airmata kami berlinangan kegembiraan.. betapa tanaman kami telah menghasilkan buah. Usaha kami selama 3 tahun kalian bersama tidak sia-sia !
Hari berganti hari.. kami di sini terus dengan kesibukkan melayan adik-adik kalian yang terus tiba semester demi semester dan cuba untuk menjadi pelapis kepada kalian. Mereka bersemangat untuk meneruskan apa yang telah dilakukan oleh kalian. Mereka masih ingat ketika kalian bersama-sama mereka di usrah, tamrin, dauroh dan mukhayyam. Mereka masih ingat.. kalianlah yang mendidik mereka dan mengasuh mereka sedikit sebanyak. Kami terus membantu mereka sekadar kemampuan kami ini.. agar mereka menjadi seperti kakak-kakak dan
abang yang telah tamat belajar. Hari terus berganti… kami masih menunggu sepucuk warkah atau sedering telefon… atau sepatah salam dari musafir yang pulang. Namum bayangan masih kelam. Hari berganti minggu dan minggu berganti bulan. Hati kami mula bimbang. Apakah yang telah terjadi kepada anak-anak kami yang telah pergi? Kami mula bertanya kepada musafir yang lalu… atau kepada ikhwah dan akhawat yang berjiran.. dimana anak-anak kami.. pernah terdengar ke si anu dan si anu? Jawapan negatif membimbangkan kami tentunya.
Kini beberapa bulan berlalu sepi tanpa berita. Bagi kami.. cukuplah tempoh yang bernama bulan untuk menghancurkan sedikit semangat dan pegangan kita. Hati kita sentiasa di intai syaitan. Tidak ada manusia yang boleh mendakwa dia akan kuat tanpa jamaah. Tidak akan ada kambing yang tidak keseorangan yang tidak di makan serigala bila keseorangan.. kerana memang serigala ada di mana-mana. Paling kurang kita akan mula hilang ketajaman sensitif terhadap matlamat kita. Kita sudah boleh mulai lupa tujuan dan halatuju hidup dan perjuangan kita. Suatu yang begitu membara di dalam hati kita ketika kita bersama dulu mula pudar dan tinggal dingin. Satu demi satu berita kami terima mengenai hal kalian… jika ketika berpisah kami menjangkakan kami akan menitiskan airmata kegembiraan mendengar ketangkasan dan keaktifan kalian… tetapi … titisan sebaliknya mula mengalir..
Apa yang telah terjadi kepada kalian? Apa yang telah kalian lakukan? Kami mula sebak… ketika huruf-huruf ini disusun, kami tidak dapat menahan air mata lagi. Bersama baris-baris yang keluar… kami iringi dengan cucuran yang tidak dapat ditahan..! Ianya bukan satu buatan. Ianya bukan rekaan satu cerita dan cerpen. Ia adalah satu kenyataan yang telah berlaku beberapa ketika lalu dan… air mata ini masih panas. Ianya adalah perasaan sayu kami bila harapan telah mulai berkecai. Satu demi satu harapan bangunan yang kami bina dan kami atur batu bata negara Islam
dan khalifah yang kami inginkan berantapan jatuh di hadapan kami. Kalau dahulu kami harapkan kalian akan menjadi tangan-tangan yang akan bersama-sama mengangkat batu batu yang lebih berat dan menjadi pembina bangunan ini… kini segalanya hampa. Tanpa kami sedari, ada di kalangan kalian yang mungkin terasa amat gembira terlepas dari alam kita. Ada yang merasakan dunia dakwah suatu yang menghimpitnya.. suatu yang mengurungnya. Barulah kami sedari rupanya selama ini, itu semua adalah sebuah lakunan. Ada antara kalian rupanya sudah tidak ingin lagi bertemu muka dengan kami. Rupanya dulu kami adalah penyibuk yang mengganggu hidupnya. Sekarang dia telah bebas.
Kami mula kecewa… kami mula berfikir.. apakah dosa kami. Kami hanya menghulurkan tangan untuk memimpin kalian mengenal sedikit tanggungjawab kita semua.. tanggungjawab dakwah dan amal Islam. Kami gembira kerana sebelum kalian keluar.. kalian telah memahami itu semua.. tetapi sekarang kenapa ini semua tiba-tiba berlaku? Kalian datang ke sini… tetapi muka kamilah orang yang paling tidak ingin di lihat dan ditemui. Apakah kalian telah mencampakkan kasih sayang yang telah kami berikan selama ini. Apakah muka kami begitu buruk untuk dilihat? Apakah suara kami begitu menyakitkan untuk disapa?. Jika kalian datang dari jauh kerana sesuatu subjek dan untuk mengutip markah bagi sekeping sijil, apakah pelajaran-pelajaran yang sama-sama kita pelajari di usrah dan dauroh sudah tidak bernilai dan tidak berharga? Atau apakah kalian telah melayakkan diri untuk dipanggil anak derhaka? Kalian segera berlepas pulang. Kami hanya mendengar si anu telah datang. Tanpa sepatah salam kami terima, mungkin ia terlalu mahal untuk dikirim. Tiada helaian kertas ditinggalkan.. mungkin dakwat pena terlalu
berharga untuk dicoretkan.. Kami hanya mendengar dengan hiba dan air mata mengalir lagi.
Masa berlalu… dan kami mula berfikir sendirian. Mereka terlalu sibuk. Mereka ada urusan sendiri. Mereka sedang masuk ke alam kerja. Walau ada di kalangan mereka kami bantu untuk meneruskan kehidupan mereka… mencarikan mereka kerja dan tempat pengalaman. Namum
setelah berjaya .. sepatah perkataan pun tidak didengari. Mungkin terlalu sibuk dengan pekerjaan.
Alhamdulillah. Kami sekali lagi menjadi hampas yang dicampakkan ke tong sampah! Kami tidak inginkan pembalasan. Kami tidak pahala dari kalian. Cukuplah Allah sebaik-baik pembalas. Apa yang ada di sisi Allah adalah lebih baik dan kekal. Kami akan tetap begini hingga ke akhir hayat.. selagi Allah masih memberikan kekuatan. Kerja kami ialah mengumpul tenaga-tenaga orang seperti kalian, memberi sedikit sebanyak ilmu dan kefahaman, mendidik apa yang terdaya
agar ada tenaga baru untuk Islam. Kami tidak inginkan harta kalian, tidak perlu kepada pujian dan sanjungan kalian. Tidak berhajat ingatan dari kalian, tetapi kami hanya mahu mendengar kalian telah menyambung dan menjadikan kerja Islam sebagai sebesar-besar tugas. Kami hanya mahukan dari kalian menghidupkan jiwa-jiwa manusia yang telah mati. Itulah tanda kesetiaan kalian terhadap kami. Sebenarnya itu adalah janji kalian kepada Allah bila kalian berjanji untuk bersama kami. Allahlah yang akan menuntut janjiNya dari kalian. Ketika kami mendengar ada di antara kalian mula terlupa atau melupai tugas ini, maka kamilah orang yang mula-mula menangis. Kalian tentu faham bahawa tanda awal ialah bila kalian tidak lagi bersambung dengan jamaah. Bila ada antara kalian yang merasakan kalian mampu hidup sendiri, kalian sebenarnya kalian telah silap. Hidup sehari tanpa jamaah dan tanpa kerja Islam bermakna kalian telah meranapkan harapan kerja besar kita. Dan tanda awal putusnya kalian dengan jamaah ialah bila kalian sudah tidak mempunyai naqib dan usrah. Tanda awalnya apabila kalian telah mula
membelakangkan naqib/naqibah dalam membuat keputusan dalam hidup kalian. Apakah kalian merelakan diri kalian untuk menjadi peranap kepada cita-cita Islam kita.? Apakah kalian tidak takut kepada balasan Allah bagi mereka yang meninggalkan tugas ini?
Biarlah kami berhempas pulas di sini.. berhujan berpanas dan berembun. Mengorbankan masa rehat dan wang ringgit kami demi melahirkan orang seperti kalian. Biarlah kami terus begini…walaupun kami tahu mereka semua juga mungkin akan menjadi seperti kalian. Biarlah kami terus berusaha .. melahirkan anak-anak yang akan menderhakai dakwah dan tanggungjawab Islam! Ingatlah.. kerja ini bukan hanya dengan angan-angan dan azam semata. Cukuplah kalian layak dipanggil anak derhaka bila dakwah dan amal Islam hanya menjadi angan
dan azam. Betapa ramainya orang yang mampu berangan dan berazam seperti kalian ! Tapi dimana usaha dan curahan tenaga? Siapa yang akan ke medan, menarik tangan-tangan manusia yang sedang hanyut jika semua hanya berangan dan berazam untuk menarik? Alangkah mudah berangan dan berazam! Bebanan perasaan yang kami pikul sebenarnya lebih berat dari bebanan tugas ke sana ke mari mengendali program dan mendidik kalian. Apa sangat berat berjaga malam, membelanjakan ringgit dan berceramah dan mendengar masalah kalian jika hati kami gembira melihat hasilnya. Apa sangat itu semua jika hati bahagia melihat kalian menjadi orang yang akan mewarisi kerja yang telah kami buat. Kesemua berat dan beban hilang dan tak mungkin terasa setelah melihat kalian telah menerangkan bumi yang gelap seluruh pelusuk bumi.
TETAPI… sekarang kami telah kehilangan segala-galanya. Ketenangan yang kami ingin cari melalui pengorbanan ini telah juga hancur. Bahkan ianya lebih berat dari bebanan fizikal danmaterial. Kami telah melalui beberapa generasi kalian. Pengalaman akhirnya menyimpulkan kepada kami bahawa kami hanyalah manusia tak berguna dan pengganggu dalam hidup kalian.
Ketenangan hati yang kami ingin hirup dari usaha mentarbiyyah kalian hanya menambah luka yang telah ada… Apakah kalian sedar?
Kami iringi kalian dengan doa dan airmata. Pergilah kalian dengan sijil yang telah diperolehi dari sini untuk menjenguk dunia yang tiada bertepi. Harungilah hidup demi mencari ketenangan dan kebahagiaan melalui jalan yang kalian pilih sendiri. Kami tetap memilih ketenangan dan kebahagian melalui jalan kami sendiri. Walaupun kalian telah melukai hati kami… kami hanya akan menyalahkan diri kami sendiri. Mungkin kamilah yang menyebabkan kalian jadi begitu. Mungkin kami belum memberikan yang terbaik untuk kalian. Mungkin kami belum mengorbankan apa yang sepatutnya kami korbankan. Mungkin.. kami lah yang bersalah.! Kini segalanya hanya tinggal kenangan. Kami tidak mengharapkan kepada kalian lagi. Jika kalian mahu terus hidup sebagaimana manusia lain… teruskanlah. Bahkan jika kalian mahu menjadi manusia yang jauh berlainan dari kami… teruskan. Moga Allah mengampunkan kami dan kalian. TAPI ingat ! Dakwah tidak memerlukan kalian untuk hidup. Dakwah adalah satu yang kuat dan
kukuh kerana ia berhubung dengan Allah Yang Maha Perkasa. Kitalah yang memerlukan dakwah. Dakwah boleh bersama orang lain jika kita enggan. Tatapi apa ertinya hidup kita tanpa dakwah? Dakwah adalah nyawa dan roh kita. Jika kita berpisah darinya…. Kita sebenarnya telah mati ! Kita akan terkulai layu ibarat bunga yang telah dipetik dari pokoknya !
Tinggalkanlah kami menangisi anak-anak yang telah pergi. Anak-anak yang telah mencampakkan kasih sayang yang cuba kami hulurkan. Mungkin cinta kami tidak seindah dunia yang menunggu diluar sana. Biarlah cinta itu dikutip oleh manusia lain yang tahu menilainya. Apakah kalian tidak mengerti ini semua… apakah cinta kami tidak bermakna untuk kalian. Adakah ianya terlalu murah. Kami berkorban untuk kalian lebih dari anak dan saudara kami sendiri, kerana bagi kami tali akidah dan fikrah lebih kukuh dan erat dari tali kekeluargaan. Kalian lebih kami sayangi dari saudara sedarah daging dengan kami. Kami berikan apa yang terbaik apa yang kami ada. Kerana kami tahu.. kalian adalah penerus generasi da’I yang hampir pupus. Apakah kalian tidak merasainya? Memang kami tidak memberikan makanan yang mahal-mahal untuk kalian. Kami tidak membelikan pakaian indah untuk kalian. Tetapi apa erti makanan dan pakaian jika kalian hanyut di alam sesat jahiliyyah..?
Hayatilah kata-kata Imam al-Syafie: “manusia sebenarnya ialah yang merasai kecintaan yang diberikan kepadanya walaupun sebentar”.
Berapa lamakah kecintaan yang telah kami berikan kepada kalian… apakah kalian tidak merasainya? Kalian melihat kami tersenyum… ye.. senyuman yang kami buat-buat untuk mengubat rindu kepada kedamaian semalam yang telah tiada lagi. Senyuman untuk menandakan kami masih mampu berlakun dengan hati yang telah disiat-siat. Berilah senyuman kepada kami, hulurkan tangan kalian untuk kami salami…. Tetapi hati ini tidak mungkin terubat tanpa penghayatan dan penunaian janji yang telah sama-sama kita buat semasa kita di sini! Cukuplah… kami hanya akan bersama dengan yang memahami dan merasai cinta kami. Bagi mereka yang mempunyai kekasih lain… pergilah.. semoga kekasihnya akan memberi kebahagian dan ketenangan untuknya. Bagi kami… di jalan dakwahlah kasih awal dan akhir kami. Jika kami sendiri futur akibat apa yang telah kalian lakukan, maka bersedia kalian untuk menerima sahamnya.
Kalian telah mengecewakan kami sedikit sebanyak. Kalian telah menyebabkan kami tidak percaya lagi kepada manusia… hingga sampai satu ketika.. kami merasakan sudah tidak wujud lagi harapan di dunia ini. Apa tidaknya.. keseluruhan anak-anak kami tidak dapat meneruskan usaha kami? Jika itu yang berlaku kepada yang awal… maka bukankah sama pada yang akhirnya? Tolong … jangan jadikan kami futur.. berilah harapan. Moga adik-adik kita di sini dan di luar sana dapat menghirup sedikit dari limpahan cahaya Ilahi yang kita sama-sama tidak ingin padam.
Wassalamu’alaikum.
CATATAN SEORANG NAQIB YANG HINA.
Dan air mata ini turut bercucuran membasahi keyboard laptop….masih belum ada kekuatan untukaku menahan sebak membaca kisah ini. Moga member pedoman kepadaku dan ‘anak-anak’ku dan bekas ‘anak-anak’ ku.
7 Aug
Bukti-Bukti Penguat Ikhlas 1
Fit-Thariq Ilallah: An-Niyyah wal-Ikhlas, Dr. Yusuf al-Qaradhawi
Ikhlas itu mempunyai bukti penguat dan tanda-tanda yg banyak sekali, cthnya dlm kehidupan orang yg mukhlis; dlm tindak-tanduknya, dlm pandangan terhadap dirinya dan juga orang lain. Di antaranya adalah:
Pertama: Takut Kemasyuran
Takut kemasyhuran dan menyebarnya kemasyhuran ke atas dirinya, lebih-lebih lagi jika dia termasuk orang yg mempunyai pangkat tertentu. Dia perlu yakin bhw penerimaan amal di sisi Allah hanya dgn cara sembunyi-sembunyi, tdk secara terang-terangan dan didedahkan. Sbb andaikata kemasyhuran seseorang memenuhi seluruh angkasa, lalu ada niat tdk baik yg masuk ke dlm dirinya, maka sedikit pun manusia tdk memerlukan kemasyhuran itu di sisi Allah.
Maka dr itu zuhud dlm masalah kedudukan, kemasyhuran, penampilan dan hal-hal yg serba gemerlap lbh besar drp zuhud dlm masalah harta, syahwat perut dan kemaluan. Al-Imam Ibn Syihab az-Zuhri berkata: “Kami tdk melihat zuhud dlm hal tertentu yg lbh sedikit drp zuhud dlm kedudukan. Engkau melihat seseorang berzuhud dlm masalah makanan, minuman dan harta. Namun jika kami membahagi-bahagikan kedudukan, tentu mereka akan berebut dan meminta lbh banyak lagi.”
Inilah yg membuat para ulama salaf dan orang-orang shaleh antara mereka mengkhuatirkan dan menyangsikan hatinya dr ujian kemasyhuran, penipuan dan kedudukan. Oleh krn itu mereka memperingatkan hal ini kpd murid-muridnya. Para pengarang buku tlh meriwayatkan dlm pelbagai gambaran ttg tingkah laku ini, spt Abu Qasim a-Qusyairi dlm ar-Risalah, Abu Thalib al-Makky dlm Qutul-Qulub, dan al-Ghazali di dlm al-Ihya’.[i]
Begitu pula yg dikatakan seorang zuhud yg terkenal, Ibrahim bin Adham, “Allah tdk membenarkan orang yg suka kemasyhuran.”
Beliau juga berkata, “Tdk sehari pun aku berasa gembira di dunia kecuali hanya sekali. Pd suatu mlm aku berada di dlm masjid salah satu desa di Syam, dan ketika itu aku sdg sakit perut. Lalu muazzin dtg dan menyeret kakiku hingga keluar dr masjid.”
Beliau berasa senang krn muazzin tersebut tdk mengenalinya. Maka dr itu beliau diperlakukan secara kasar, kakinya diseret spt seorang pesakit. Beliau meninggalkan kedudukan dan kekayaannya krn Allah. Sebenarnya ketika itu beliau tdk ingin keluar jika tdk sakit.
Seorang zuhud yg terkenal, Bisyr al-Hafy berkata, “Saya tdk mengenal orang yg suka kemasyhuran melainkan agama menjadi sirna dan dia menjadi hina.”
Beliau juga berkata, “Tdk akan merasakan manisnya kehidupan akhirat orang yg suka terkenal di tgh manusia.”
Seseorang prnh menyertai perjalanan Ibn Muhairiz. Ketika hendak berpisah, orang itu berkata, “Berilah aku nasihat.”
Ibn Muhairiz berkata, “Jika boleh hendaklah engkau mengenal tetapi tdk dikenal, berjalanlah sendiri dan jgn mahu diikuti, bertanyalah dan jgn ditanya. Lakukanlah hal ini.”
Ayyub as-Sakhtiyani berkata, “Seseorang tdk berniat secara benar krn Allah kecuali jika dia suka tdk merasakan kedudukannya.”
Khalid bin Mi’dan adalah seorang ahli ibadah yg dipercayai. Jika semakin ramai orang-orang yg berkumpul di sekelilingnya, maka beliau pun beranjak pergi krg takut dirinya menjadi terkenal.
Salim bin Handzalah menceritakan, “Ketika kami berjalan secara beramai-ramai di blkg Ubay bin Ka’ab, tiba-tiba Umar melihatnya lalu melemparkan susu ke arahnya.”
Ubay bin Ka’ab lalu bertanya, “Wahai Amirul Mu’minin, apakah yg tlh engkau lakukan?”
Jawab Umar, “Sesungguhnya kejadian ini merupakan kehinaan bg yg mengikuti dan ujian bg yg diikuti.”
Ini merupakan perhatian Umar bin al-Khattab secara psikologi terhadap fenomena yg pd permulaannya boleh menimbulkan kesan dan pengaruh yg jauh terhadap kejiwaan orang-orang yg mengikuti dan sekaligus orang yg diikuti.
Diriwayatkan dr al-Hasan, beliau berkata, “Pd suatu hari Ibn Mas’ud keluar dr rumahnya, lalu diikuti beberapa orang. Maka beliau berpaling ke arah mereka dan berkata: “Ada apa kamu mengikutiku? Demi Allah, andaikata kamu tahu alasanku menutup pintu rumahku, dua orang antara kamu pun tdk akan dpt mengikutiku.”
Pd suatu hari al-Hasan keluar rumah lalu diikuti beberapa orang. Beliau bertanya, “Apakah kamu ada keperluan kpdku? Jika tdk, mengapa kejadian spt ini masih tersemat dlm hati orang Mu’min?”
Ayyub as-Sakhtiyani melakukan suatu perjalanan, lalu ada beberapa orang yg mengalu-alukan kedatangannya. Beliau berkata, “Andaikata tdk krn aku tahu bhw Allah mengetahi isi hatiku ttg ketidaksukaan aku terhadap hal ini, tentu aku takut kebencian dr Allah.”
Ibn Mas’ud berkata, “Jadilah kamu sbg sumber ilmu, pelita petunjuk, penerang rumah, obor pd waktu mlm dan pembaharu hati yg diketahui penduduk langit, namun tdk dikenal penduduk bumi.”
Al-Fudhayl ibn Iyadh berkata, “Jika engkau sanggup utk tdk dikenal, maka lakukanlah. Apa sukarnya engkau tdk dikenal? Apa sukarnya engkau tdk disanjung-sanjung? Tdk mengapalah engkau tercela di hadapan manusia selagi engkau terpuji di sisi Allah.”
Athar-athar ini tdk mengajak kpd pengasingan atau uzlah. Orang-orang yg menjadi sumber riwayat ini adalah para imam dan da’ie. Mereka memiliki pengaruh yg amat baik dlm menyeru masyarakat, mengarahkan dan memperbaiki keadaan manusia. Tetapi yg dpt difahami dr sejumlah penyataan mereka adalah kebangkitan dr naluri jiwa yg tersembunyi, kewaspadaan terhadap tipudaya yg disusupkan syaitan ke dlm hati manusia, jika hati mereka dicampuri hal-hal yg serba gemerlap dan dikelilingi orang-orang yg mengikutinya.
Kemasyhuran itu sendiri bknlah suatu yg tercela. Tiada yg lbh masyhur drp para Anbia’, al-Khulafa’ ar-Rasyidin, dan imam-imam mujtahidin. Tetapi yg tercela adalah mencari kemasyhuran, takhta dan kedudukan, serta sgt bercita-cita mendapatkannya. Kemasyhuran tanpa cita-cita ini tdklah menjadi masalah, sekali pun ia ttp menjadi ujian bg orang-orang yg lemah, spt yg dikatakan oleh Imam al-Ghazali.
Sejajar dgn pengertian ini yg tlh disebutkan dlm hadith Abu Dzar drp Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, bhw Baginda prnh ditanya ttg seorang lelaki yg melakukan suatu amal kebajikan krn Allah, lalu orang ramai menyanjungnya.
Maka Baginda menjawab, “Itu kurnia yg didahulukan, sekaligus khabar gembira bg orang Mu’min.” (HR Imam Muslim, Ibn Majah dan Ahmad)
Ada pula lafaz lain, “Seseorang melakukan amal krn Allah lalu orang-orang pun menyukainya..”
Pengertian spt inilah yg ditafsirkan oleh al-Imam Ahmad, Ishaq bin Rahawaih, Ibn Jarir at-Thabary dan alin-lainnya.
Begitu pula hadith yg ditakhrij Imam at-Tirmidzi dan Ibn Majah, dr hadith Abu Hurairah, bhw ada seorang lelaki berkata, “Wahai Rasulullah, ada seorang melakukan suatu amal dan dia pun senang melakukannya. Setiap kali dia melakukannya kembali, maka dia pun berasa takjub kpdnya.”
Baginda bersabda, “Dia mempunyai dua pahala, pahala krn merahsiakan dan pahala memperlihatkan.”
[i] Lihat apa yg dihuraikan oleh al-Ghazali di dlm Dzammusy-Syuhrah wa Intisyarushshit, dan Bayanu Fadhilatil-Khumul, dr kitab Dzamjul-Jah war-Riya’, dr kitab al-Ihya’, yg disyarahkan al-Allamah Murtadha az-Zubaidi, 8/232-238