>>>> Basic Mentality, Soft Skills, Journaling, HumanFactory, FreeWriting, Leadership, Resiliency, Agile, Agility, Leader, Free Writing, Journaling, Basic Mentality, Soft Skills <<<<
Dokumen itu hendak diambil olehnya. Refleks, secepat yang saya mampu, saya tarik dokumen itu dari tangan dia.
“ Maksudnya apa ini ?”, nada tinggi. Dari mulut saya. Saya bangkit dari kursi. Berdiri
“ Anda mau meeting baik-baik atau apa ?”, dia bengong masih sambil duduk
“Kalau Anda tidak mau ikut aturan dan maunya cara liar, ayo kita selesaikan di luar saja”
Lho koq jadi begini
Aneh ? bingung ?
Wajar jika pembaca bingung. Anda bingung tentang apa ini. Bisa juga tidak paham konteksnya. Atau sekedar gak mengerti apa ini rekaan atau kenyataan.
Anggap saja ini rekaan. Maka yang terjadi adalah ekspresi emosi yang bisa jadi pelajaran bersama. Paling tidak ini pelajaran untuk saya. Saya bagi kepada Anda untuk menjadi cermin bersama. Kalau ada yang mau berkaca ya monggo. Gratis koq. Kalau tidak ada yang bercermin juga ndak apa. Sudah gugur kewajiban untuk pengakuan dosa. Setelah ini in syaa Allah lebih baik. Karena ada pelajaran
Soal emosi di atas adalah soal asumsi. Ada asumsi yang bermain bahkan menguasaii diri sang pelaku. Karena basisnya asumsi, maka makin mudah dikuasi emosi. Kalau pakai data, biasanya cenderung otak yang bermain. Analisa dan ekplorasi. Kalau asumsi, yang terjadi mudah sekali otak tunduk dan tersandera
Asumsi apa yang dimaksud? Sang pelaku A berasumsi bahwa si B hendak mempermainkannya. Hendak meeting dengan tidak baik-baik. Terlihat dari tuduhan dan kata-katanya. Dia menuduh si B mau meeting dengan liar.
Jadi asumsi karena tidak ada klarifikasi, Tidak ada kesabaran menunggu jawaban. Pertanyaan yang disampaikan hanya ekspresi, yang juga emosional. Bukan pertanyaan yang diungkap untuk menggali. Mendengar. Tidak ada kemauan mendengar. BUktinya langsung disambung tuduhan lain dan mengajak tawuran
Wis ngawur !!!
Terlihat. Dengan asumsi dibuat keputusan. Keputusan lemah karena tidak ada basis data. Yang ada adalah permainan ego. Usaha menyelamatkan ego semata. Hebat ? Tidak juga. Tidak!!
Mengerikan ketika pakai asumsi sebagai dasar tindakan. Tanpa evidence based. Tanpa sensory based. Yang ada ngawur based. Emotional based.
Lalu mau berkilah tidak terkontrol ? Refleks ?
Pemanjaan atas alibi ini hanya akan mempertontonkan kekurangan diri yang kesekian kalinya. Ini bukan tiba-tiba yang tiba-tiba. Ini bisa jadi bukan tidak ada control. Sangat mungkin ini soal tidak adanya kemauan untuk control. Tidak mau control yang berkombinasi dengan ketidak mampuan mengontrol diri. Makin parah kekurangannya !!!
Lalu alasan ini adalah Reflex ? Saya bayangkan reflex adalah kumpulan kebiasaan. Kebiasaan bermula dari tindakan yang terus diulang hingga mencapai unconscious competence. Alhasil kebiasaan buruk membentuk reflex buruk, reflex tidak efektif berakar dari Kebiasaan yang juga tidak efektif. Nothing special. Nothing new. Only common sense
Jadi, jika kembali ke drama singkat di atas, ada pertanyaan mendasar : Mengapa memilih membentuk kebiasaan buruk ? Buktinya yang muncul adalah reflex buruk !
Koq solusinya ngajak keluar, ngajak tawuran ? Lihat betapa ngawur kan
Soal kantor dan pekerjaan koq ditanggapi dengan ajakan ribut. Bisa jadi ini justru tanda ketidak mampuan mengelola diri. Kalau menganggap orang lain tidak tahu tata karma, lalu mengapa disikapi dengan arogansi ? Arogansi apakah jadi representasi punya tata krama ? Marah, ngajak bertengkar bisa jadi adalah usaha menutupi ketidak mampuan dalam relasi yang damai. Marah bisa jadi adalah kebodohan yang pakai topeng arogansi
Selamat berkaca.
>>>> Terus menyelam ke dalam diri, temukan kesejatian untuk bekal revolusi diri. Terus mengambil tanggung jawab, terus menjadi solusi
SoftSkills, BasicMentality, Journaling, HumanFactory, FreeWriting, Leadership, Resiliency, Agile
#Soft Skills
#BasicMentality
#Journaling
#HumanFactory
#FreeWriting
#Leadership
#Resiliency
#Agile
#Soft Skills
>>>>> Subang / 07 Oktober 2020 <<<<<<