Lagi.
Pasien datang dengan cedera kepala berat ( kesadaran menurun, patah tulang tengkorak dan leher, perdarahan dalam kepala, dan memar paru).
Kami menyebutnya pasien “terminal”. kondisi yang serba sangat sulit bahkan utk di rumah sakit besar sekalipun (apalagi utk ditangani di rsud kabupaten sekecil ini).
Segera kami, tim dokter, mencoba menyelamatkan tanda vital pasien, sebelum kami rujuk ke rumah sakit yang lebih besar tentunya. Kami suction jalan napasnya, keluar lah darah kurang lebih 1 liter. Terus menerus ku pantau jalan napasnya, berulang kali ku suction. Teman ku yang lain menangani perdarahan d kepala pasien. awalnya kondisi pasien masih baik, namun kelamaan kondisi pasien drop; nadi melemah, tensi turun, pucat, akral mulai dingin, dan paru-paru sudah penuh dengan cairan (yang kemungkiann besar adalah darah). syok!
Segera datang dokter spesialis bedah rsud ini, pertama kali melihat kondisi pasien, beliau hanya menghela napas dan bilang bahwa kondisi pasiennya sudah sangat jelek, tinggal menunggu saja. 😦
Semangat kami yang awalnya masih besar utk menyelamatkan pasien mulai redup. Ingin rasanya segera merujuk namun sepertinya tidak mungkin. Perjalanan ke kab sebelah menempuh kurang lebih 2 jam, belum lagi “gojrok2” ambulan saat perjalanan.
Kami segera mencari keluarga pasien. Sayang sekali, pasien adalah seorang perantau dr p. jawa. Tak ada sanak. Hanya teman kerja disini. Kami jelaskan kondisi pasien, dan mereka hanya diam.
Aku pun ikut terrdiam.
Bingung juga harus merespon apa.
Sambil menunggu “akhir” pasien ini, aku melihat sekeliling. Perawat dan dokter lain tampak biasa saja, mereka makan sore seperti biasa, mengobrol, dan duduk-duduk di meja regis. Memang tak ada lagi yang bisa kami lakukan, melainkan melihat napas pasien yang sudah mulai “satu-satu”. Bahkan aku pun sempat-sempatnya menulis artikel ini.
Tahu kah teman, bahwa menjadi dokter itu justru semakin lama menumpulkan rasa iba dan belas kasian terhadap kondisi pasien terminal? apalagi dengan banyaknya pasien yang tak tertangani krn kondisinya sudah buruk dan tak mungkin lagi diselamatkan. Bahkan untuk dokter yang baru hitungan bulan sepertiku. Mungkin itu lah hukum alam.
Dan.
…….
Akhirnya Pasien itu meninggal.
Balangan, selasa 14022014 pk 18.28